Share

Bab 88 Teror Pesan Singkat Rian

Author: Irbapiko
last update publish date: 2026-09-30 08:05:28

Tama melangkah keluar dari ruang kerja Wina dengan hati-hati, memastikan pintu kayu mahoni itu tertutup tanpa menimbulkan suara gaduh. Baru saja pemuda tegap itu menginjakkan kaki di anak tangga menuju lantai atas, sosok Weni sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah cemas dan gelisah.

Gadis berparas Bidadari Kampus itu mengenakan piyama tidur bahan sutra tipis berwarna merah muda yang membentuk lekuk tubuhnya dengan sangat menggoda. Kedua tangan lentiknya merema

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Diperebutkan Ibu dan Tiga Saudari Tiriku   Bab 179 Surat Somasi Misterius

    Sinar matahari pagi menyinari kawasan perkantoran Jakarta Selatan dengan cerah, menandai hari pertama pembukaan cabang baru restoran kuliner Wanda.Sejak pukul sepuluh pagi, antrean panjang para pegawai kantor dan mahasiswa tampak memenuhi bagian depan ruko dua lantai tersebut.Wanda berdiri di dekat meja kasir dengan senyuman ramah, melayani para pelanggan yang memesan menu andalan restoran kulinernya.Di lantai dasar, aroma harum bumbu masakan nusantara mengepul menggugah selera, berpadu dengan kesibukan para koki yang bekerja cekatan sesuai tata letak efisien buatan Tama.Tama berdiri di dekat pintu masuk mengenakan kemeja kasual rapi, mengawasi alur keluar masuk pelanggan dan memastikan keamanan ruko berjalan tanpa kendala.'Ngecek alur antrean pengunjung ruko baru di hari pertama rasanya udah kayak ngawal jalannya festival kuliner internasional yang diserbu ribuan pengunjung

  • Diperebutkan Ibu dan Tiga Saudari Tiriku   Bab 178 Ledakan Gairah Bareng Weni dan Wina

    Hembusan angin malam di atas balkon lantai dua terasa sejuk, membawa aroma wangi mawar dan hangatnya keheningan malam Jakarta.Dekapan jemari lentik Weni di pinggang tegap Tama terasa makin erat dan penuh kehangatan yang membara.Gaun malam sutra merah backless yang membalut tubuh molek Weni memamerkan punggung mulus dan keindahan lekuk tubuhnya yang sangat ranum di bawah pendar bintang.Tama membalikkan tubuh tegapnya secara perlahan, menatap lekat manik mata cantik sang primadona kampus yang berkilat penuh gairah muda."Weni... Kamu beneran mau selebrasi di area balkon terbuka begini?" bisik Tama dengan suara berat nan hangat, memegang pinggul ramping Weni."Iya, Mas Ganteng! Suasananya romantis banget di bawah bintang malam begini... Cuma ada kita berdua di sini," jawab Weni berbisik liar mendongakkan wajah cantiknya.Tanpa menunggu balasan kata l

  • Diperebutkan Ibu dan Tiga Saudari Tiriku   Bab 177 Ambang Pesta Syukuran

    Lembayung senja memancar indah di langit Jakarta, membiaskan pendar jingga yang hangat di atas area balkon terbuka lantai dua rumah megah.Suasana di lantai dua sore itu dipenuhi aroma harum gurih marinasi daging sapi impor dan sosis yang disiapkan untuk pesta panggangan barbeque.Bi Surti sibuk menata piring-piring saji dan mangkuk saus racikan di atas meja kayu outdoor berukuran panjang."Aduh Mas Tama, tolong bantu Bibik nyalakan pemanggang gas ini dong! Bibik agak takut sama selangnya," panggil Bi Surti menunjuk panggangan barbeque di sudut balkon.Tama yang baru saja selesai merapikan tiang payung hias langsung melangkah mendekati panggangan tersebut.Pemuda tegap itu memeriksa katup pengatur tekanan gas, memastikan tidak ada bau kebocoran atau desisan berbahaya sebelum memutar pemantik api.Ctek... Whusss...Api bi

  • Diperebutkan Ibu dan Tiga Saudari Tiriku   Bab 176 Kemenangan Proyek Wina

    Sinar matahari sore yang hangat memancar lembut menyinari pelataran parkir rumah megah di Jakarta.Suara deru mobil sedan putih milik Wina terdengar berhenti dengan cepat di depan teras utama.Pintu sedan terbuka lebar, memperlihatkan sosok Wina yang melangkah turun dengan raut wajah sangat berseri-seri.Eksekutif muda berusia dua puluh tiga tahun itu memegang sebuah amplop cokelat tebal berstempel resmi direksi perusahaan di tangan kanannya.Dengan langkah kaki berbalut sepatu tumit tinggi yang berdetak nyaring, Wina berlari kecil melintasi pintu depan rumah megah."Mama! Mbak Wanda! Weni! Mas Ganteng!" teriak Wina melengking gembira di ruang keluarga lantai satu.Diana yang sedang menyeduh teh di kounter dapur seketika menoleh terkejut, begitu juga Wanda dan Weni yang sedang menonton televisi di sofa.Tama yang baru saja melangkah turun

  • Diperebutkan Ibu dan Tiga Saudari Tiriku   Bab 175 Pematangan Cabang Kuliner

    Sinar matahari pagi menyinari jalanan ibu kota saat mobil MPV mewah yang dikendarai Tama memasuki pelataran parkir ruko cabang baru Wanda di Jakarta Selatan.Wanda melangkah turun membawa kotak peralatan kecil dan lembar daftar periksa kebersihan.Wanita berumur dua puluh lima tahun itu mengenakan kemeja kerja kasual berwarna pastel yang memancarkan aura keibuan yang sangat anggun.Tama menyusul turun dari balik kemudi, menghampiri Wanda dengan langkah kaki yang tegap dan pasti."Pagi, Mbak Wanda... Semua persiapan akhir ruko sudah siap kita cek?" sapa Tama tersenyum hangat."Sudah siap, Tama sayang... Hari ini tukang pembersih terakhir sudah selesai mengepel lantai," jawab Wanda tersenyum manis menyambut lengan Tama."Baguslah kalau begitu. Mari kita masuk ke dalam buat pastikan semua sistem beroperasi sempurna," ajak Tama membukakan pintu kaca ruko.

  • Diperebutkan Ibu dan Tiga Saudari Tiriku   Bab 174 Pelatihan Manajemen Finansial Rumah Tangga

    Suasana malam di ruang makan lantai dasar rumah megah Jakarta terasa sangat hangat dan dipenuhi tawa renyah seluruh anggota keluarga.Aroma harum ayam bakar bumbu kecap dan sup iga hangat buatan Bi Surti menggugah selera makan semua orang di atas meja kayu jati panjang tersebut.Diana yang duduk di ujung meja tersenyum anggun, memandangi Tama, Wanda, Wina, dan Weni yang sedang menikmati hidangan malam bersama.Diana mengetuk pelan sendok kristalnya di tepi gelas, menarik perhatian seluruh bidadarinya yang berada di meja makan."Anak-anak... Sebelum kita lanjut makan buah, Mama mau menyampaikan pengumuman penting buat rumah kita," tutur Diana dengan suara yang sangat lembut.Wanda meletakkan garpunya, sementara Wina memalingkan wajah cantiknya menatap sang mama dengan penasaran."Ada pengumuman apa, Ma? Soal acara syukuran Weni ya?" tanya Wina merapikan tatana

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status