MasukAruna menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Keenan, aku mau pulang sekarang juga!" bisiknya sangat malu.
"Baiklah, baiklah. Kalian pulanglah. Papa juga mau istirahat," kata Alexandro sambil menepuk pundak Keenan. "Tapi satu hal, Keenan... Pastikan kamu menjaga 'aset' berhargamu ini dengan baik. Jangan biarkan dia lari lagi karena kecerobohan mu." "Tidak akan pernah lagi, Pa," janji Keenan sungguh-sungguh. Keenan menuntun Aruna keluar dari mansSuara napas Keenan menderu di ceruk leher Aruna, panas dan penuh dengan keputusasaan. Aruna bisa merasakan degup jantung suaminya yang berpacu liar, menghantam dadanya sendiri. Punggung Aruna yang bersentuhan langsung dengan tumpukan berkas Silk-Graphene terasa sensitif, apalagi kemejanya sudah terbuka sepenuhnya akibat ulah Keenan."Keenan... Sshhh... Berhenti tenanglah, Sayang," bisik Aruna sambil merangkup wajah tegas Keenan dengan kedua tangannya. Ia menatap mata biru yang biasanya sedingin es itu, kini tampak retak dan dipenuhi kabut luka masa lalu.Mendengar nama Mamanya disebut dalam nada lembut Aruna, tubuh kaku Keenan perlahan mulai melunak. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menyandarkan keningnya di bahu putih Aruna. Tangannya yang tadinya meremas paha Aruna dengan tuntutan sensual kini beralih menjadi pelukan yang sangat erat, seolah ia sedang berpegangan pada satu-satunya tiang penyangga dalam hidupnya."Aku membencinya, Aruna. Aku membenci setiap kebohongan Papa selama i
Suara mesin mobil Rolls-Royce yang dikemudikan Nando membelah jalanan menuju Mansion Arkana dengan kecepatan di atas rata-rata. Di kursi belakang, suasana yang tadinya panas karena kemenangan bisnis kini berubah menjadi dingin dan mencekam. Keenan menggenggam tangan Aruna begitu erat, kuku jarinya tampak memutih."Tenang, Keenan. Mama Stella pasti baik-baik saja," bisik Aruna, mencoba mengusap lengan suaminya yang menegang hebat.Keenan tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Setiap kali menyangkut kesehatan mental Mama kandungnya, sisi protektifnya yang gelap selalu bangkit. Begitu mobil berhenti di depan lobi mansion, Keenan langsung keluar dan menarik Aruna masuk tanpa menunggu pintu dibukakan.Di dalam mansion, suara isak tangis Stella terdengar dari arah ruang keluarga yang luas. Zaskia berdiri dengan wajah pucat, sementara Marie mencoba menenangkan Stella yang duduk bersimpuh di lantai. Di depan Stella, sebuah bingkai foto tua yang kacanya sudah pecah
Aruna menyesap air mineralnya, mencoba menormalkan detak jantungnya sambil menatap tablet yang berisi data teknis."Bagaimana Aruna?" tanya Keenan, suaranya rendah namun terdengar menuntut. Ia masih menyandarkan tubuhnya di sofa, satu tangannya merangkul bahu Aruna sementara jemarinya bermain di tengkuk istrinya, memberikan sensasi yang sulit diabaikan. "Inovasi alat kontrasepsi mana yang menurutmu paling mendesak untuk mendapatkan suntikan dana dari investor luar ini? Aku tidak ingin mereka hanya sekadar menaruh uang tanpa mengerti nilai dari inovasi istriku."Aruna meletakkan gelasnya, matanya menatap tajam ke arah layar. "Inovasi Silk-Graphene Protection, Keenan. Ini bukan sekadar alat kontrasepsi biasa. Kita mengembangkan bahan Graphene setipis sutra yang memiliki ketahanan sepuluh kali lipat dari lateks biasa, namun dengan sensasi skin-to-skin yang hampir 100% nyata. Masalahnya ada pada suplai polimer organik khusus dari Asia Tenggara untuk lapisan pelumas a
Keenan menyudutkan Aruna ke meja laboratorium yang penuh dengan peralatan kaca. Tangannya langsung merayap masuk ke balik jas lab Aruna, meremas pinggangnya dengan kuat."Keenan... Ini tempat kerja. Bahan-bahan di sini berbahaya," bisik Aruna panik, namun tubuhnya justru bereaksi mengkhianati ucapannya."Bahaya sudah jadi makananku, Sayang," gumam Keenan. Ia mengangkat Aruna dan mendudukkannya di atas meja lab, tepat di samping mikroskop.Keenan membuka kancing jas lab Aruna satu per satu dengan gerakan lambat namun pasti. Matanya menatap lapar pada pemandangan kemeja sutra Aruna yang kini mulai terbuka kembali."Kamu tahu, Aruna? Melihatmu begitu fokus dengan mikroskop tadi membuatku semakin ingin merusak konsentrasimu," bisik Keenan sambil mulai menciumi leher Aruna. "Aku benci saat kamu memberikan perhatian lebih pada pekerjaan daripada padaku.""Aahhh... Keenan... Berhenti bersikap cemburu pada bahan kimia," desah Aruna saat bib
Begitu pintu mobil mewah itu tertutup rapat dan sekat privasi dinaikkan, Keenan langsung menarik Aruna ke dalam pelukannya. Ia tidak memberikan ruang bagi Aruna untuk bernapas. "Keenan! Sopir bisa mendengar!" bisik Aruna panik. "Sekat ini kedap suara, Sayang," geram Keenan. Ia mulai menciumi bibir Aruna dengan penuh hasrat. Tangannya tidak tinggal diam, ia membuka dua kancing atas kemeja Aruna, memperlihatkan keindahan kulit yang selalu ia puja. "Kamu... Kamu bilang ini perjalanan bisnis," desah Aruna saat tangan Keenan mulai merayap masuk ke dalam pakaian dalamnya, memilin ujung dadanya dengan gerakan yang sangat berani. "Ini pemanasan sebelum rapat besar, Asisten Aruna," bisik Keenan di telinga Aruna, hembusan napasnya membuat Aruna gemetar. "Aku ingin kamu tetap merasakan kehadiranku di dalam tubuhmu, bahkan saat kamu sedang meneliti bahan kimia di lab nanti." Keenan mengangkat tubuh Aruna agar duduk
Suasana kamar utama berangsur tenang setelah kesibukan pagi yang manis. Aruna berdiri di depan cermin besar, merapikan blazer kerja berwarna krem yang membungkus kemeja sutra tipisnya. Ia memoleskan lipstik merah muda lembut, namun matanya tak lepas dari pantulan Keenan yang sedang memakai jam tangan mewah di belakangnya. "Keenan, bantu aku mengancingkan ini," pinta Aruna sambil menunjuk kancing lengan blazernya yang sedikit sulit dijangkau. Keenan melangkah mendekat. Bukannya langsung mengancingkan, ia justru kembali melingkarkan lengannya di pinggang Aruna, menarik punggung wanita itu agar menempel erat pada dada bidangnya yang sudah terbalut kemeja mahal. Keenan membenamkan wajahnya di ceruk leher Aruna, menghirup aroma parfum melati yang selalu membuatnya kehilangan fokus. "Kamu yakin ingin ke kantor sekarang? Aku bisa merasakan detak jantungmu masih memburu karena 'latihan' kita tadi, Sayang," bisik Keenan parau, bibirnya menyent
Keenan menarik lengan Aruna dengan langkah kaki lebar, menyusuri koridor samping mansion yang remang-remang. Aruna terseok-seok mengikuti, tangannya sibuk memegang kancing kemejanya yang belum sempat dikaitkan sempurna. "Keenan, berhenti! Kita mau ke mana? Ini bukan jalan keluar
Keenan terdiam sejenak. Pelukannya mengerat, bukan lagi pelukan penuh nafsu, tapi pelukan yang penuh kerinduan terpendam. Ia memutar tubuh Aruna kembali, menatap matanya dalam-dalam. ”Karena luka beberapa tahun lalu itu terlalu dalam, Aruna,” suara Keenan melembut namun tetap berat. “Dan satu-s
Keenan berdiri di koridor rumah sakit dengan kemeja hitam yang masih lembap, tidak lama Nando datang membawakannya pakaian ganti untuknya. Di tangannya, Keenan memegang ponsel yang berisi bukti-bukti baru tentang upaya sabotase perusahaan dan pelecehan pada Aruna. "Nando, pastik
Suasana mendadak hening. Keenan menarik napas dalam. Ia menatap Aruna sejenak, seolah meminta izin. Aruna hanya mengangguk pelan, wajahnya merona merah, perpaduan antara malu dan haru bahagia. Yosua, yang tadinya sibuk dengan ponselnya, kini ikut menoleh dengan rasa penasaran."Aruna tidak hanya







