LOGIN“Katakan, Aruna..” Keenan menatap Aruna dengan serius karena amarah dan cemas yang membuncah.
"Bagaimana kalau kita melakukan restrukturisasi divisi riset? Jadikan laboratorium itu sebagai entitas mandiri di bawah Arkana Group, tapi dengan kendali mutlak di tanganku. Dengan begitu, Papa atau siapa pun tidak bisa menyentuh bahan baku atau formulanya." Keenan menatap istrinya dengan kagum. "Ratu inovasi perusahaan ku memang cerdas. Kamu benar-benar tahu cara meliKeenan dan Aruna seketika terdiam mendengar suara teriakan Nando, mereka berdua saling berpandangan dengan penuh tanya dan rasa penasaran. Gairah dan kebahagiaan yang baru saja terjadi di atas meja kerja itu seketika membuat keduanya merasa cemas. Karena suara ketukan pintu dari Nando bukan sekadar ketukan biasa, melainkan ketukan darurat yang mampu menjungkirbalikkan fokus Keenan dalam sekejap. Keenan masih memegang ponsel di telinganya. Di seberang sana, suara Yosua, dari Global Corporation, terdengar jelas dan penuh selidik. [Halo? Keenan? Kenapa diam saja? Penawaran apa yang kamu maksud?] suara Yosua terdengar menuntut di speaker telepon. Keenan masih membeku. Matanya yang biru melebar dan menatap Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara kemarahan yang belum tuntas, kecemasan alami seorang anak, dan tanggung jawab bisnis yang sedang dipertaruhkan. "Keenan! Papa kamu pingsan! Cepat buka pintunya!" teriak Na
"Karena produk inovasi terbaru kita adalah Silk-Graphene, Keenan," Aruna menjelaskan dengan mata yang berbinar cerdas. "Global Corporation sedang berjuang menembus pasar kesehatan di Eropa dengan inovasi baru. Kalau kita menawarkan mereka hak distribusi eksklusif tahap pertama melalui jaringan logistik mereka yang sudah mapan, mereka tidak perlu waktu lama untuk 'meloloskan' sertifikasi itu. Mereka punya jalur hijau di bea cukai internasional dan badan kesehatan dunia." Aruna menarik napas dalam, wajahnya kini sangat dekat dengan wajah Keenan hingga ujung hidung mereka bersentuhan. "Global Corporation butuh produk revolusioner untuk menaikkan harga saham mereka di kuartal ini, dan kita butuh jalur cepat. Ini simbiosis mutualisme. Kalau Yosua setuju, peluncuran tiga puluh hari bukan lagi mimpi, tapi kepastian." Keenan menatap Aruna dengan tatapan kagum yang dalam. Ia tidak menyangka Aruna memperhatikan struktur kepemilikan Global Corporation hingga se
“Katakan syaratnya..” Keenan menyipitkan mata, menatap curiga ke arah Alexander. “Syaratnya, Aruna harus berhasil meluncurkan produk Silk-Graphene dalam waktu tiga puluh hari ke pasar internasional, atau seluruh kendali laboratorium akan tetap kembali ke tangan ku,” kata Alexander dengan nada serius. “Pa! Ini namanya menekan Aruna! Papa keterlaluan!” geram Keenan. Namun diluar dugaan, Aruna justru setuju. “Baiklah, saya setuju..” Keenan menoleh ke arah Aruna dengan sentakan kepala yang kasar, “Aruna, jangan main-main! Kita hanya punya waktu tiga bulan!” “Aku tau, Keenan.. Percayalah, kita bisa melakukannya..” kata Aruna dengan yakin. “Baiklah! Kalau setuju, biar Nando membuat surat perjanjiannya..” Pak Alexander menoleh ke arah Nando, “Ikut denganku sekarang, Nando!” Nando menoleh ke arah Keenan karena bagaimanapun juga dia bekerja dibawah Keenan. Ia tampak ragu mendapat peri
“Katakan, Aruna..” Keenan menatap Aruna dengan serius karena amarah dan cemas yang membuncah. "Bagaimana kalau kita melakukan restrukturisasi divisi riset? Jadikan laboratorium itu sebagai entitas mandiri di bawah Arkana Group, tapi dengan kendali mutlak di tanganku. Dengan begitu, Papa atau siapa pun tidak bisa menyentuh bahan baku atau formulanya." Keenan menatap istrinya dengan kagum. "Ratu inovasi perusahaan ku memang cerdas. Kamu benar-benar tahu cara melindungi asetmu." "Bukan hanya asetku, Keenan... Tapi masa depan anak-anak kita," balas Aruna. Sentuhan Keenan kini semakin dalam dan menuntut. Ia mengangkat tubuh Aruna, mendudukkannya di pagar balkon seperti malam sebelumnya, namun kali ini dengan gerakan yang lebih penuh cinta meskipun tetap diliputi gairah. "Keenan, ini kamu masih terlalu emosional, sebaiknya kita istirahat lebih awal.." desah Aruna saat bibir Keenan mulai menjelajahi bahunya yan
Suara napas Keenan menderu di ceruk leher Aruna, panas dan penuh dengan keputusasaan. Aruna bisa merasakan degup jantung suaminya yang berpacu liar, menghantam dadanya sendiri. Punggung Aruna yang bersentuhan langsung dengan tumpukan berkas Silk-Graphene terasa sensitif, apalagi kemejanya sudah terbuka sepenuhnya akibat ulah Keenan."Keenan... Sshhh... Berhenti tenanglah, Sayang," bisik Aruna sambil merangkup wajah tegas Keenan dengan kedua tangannya. Ia menatap mata biru yang biasanya sedingin es itu, kini tampak retak dan dipenuhi kabut luka masa lalu.Mendengar nama Mamanya disebut dalam nada lembut Aruna, tubuh kaku Keenan perlahan mulai melunak. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menyandarkan keningnya di bahu putih Aruna. Tangannya yang tadinya meremas paha Aruna dengan tuntutan sensual kini beralih menjadi pelukan yang sangat erat, seolah ia sedang berpegangan pada satu-satunya tiang penyangga dalam hidupnya."Aku membencinya, Aruna. Aku membenci setiap kebohongan Papa selama i
Suara mesin mobil Rolls-Royce yang dikemudikan Nando membelah jalanan menuju Mansion Arkana dengan kecepatan di atas rata-rata. Di kursi belakang, suasana yang tadinya panas karena kemenangan bisnis kini berubah menjadi dingin dan mencekam. Keenan menggenggam tangan Aruna begitu erat, kuku jarinya tampak memutih."Tenang, Keenan. Mama Stella pasti baik-baik saja," bisik Aruna, mencoba mengusap lengan suaminya yang menegang hebat.Keenan tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Setiap kali menyangkut kesehatan mental Mama kandungnya, sisi protektifnya yang gelap selalu bangkit. Begitu mobil berhenti di depan lobi mansion, Keenan langsung keluar dan menarik Aruna masuk tanpa menunggu pintu dibukakan.Di dalam mansion, suara isak tangis Stella terdengar dari arah ruang keluarga yang luas. Zaskia berdiri dengan wajah pucat, sementara Marie mencoba menenangkan Stella yang duduk bersimpuh di lantai. Di depan Stella, sebuah bingkai foto tua yang kacanya sudah pecah
Keenan menarik lengan Aruna dengan langkah kaki lebar, menyusuri koridor samping mansion yang remang-remang. Aruna terseok-seok mengikuti, tangannya sibuk memegang kancing kemejanya yang belum sempat dikaitkan sempurna. "Keenan, berhenti! Kita mau ke mana? Ini bukan jalan keluar
Keenan terdiam sejenak. Pelukannya mengerat, bukan lagi pelukan penuh nafsu, tapi pelukan yang penuh kerinduan terpendam. Ia memutar tubuh Aruna kembali, menatap matanya dalam-dalam. ”Karena luka beberapa tahun lalu itu terlalu dalam, Aruna,” suara Keenan melembut namun tetap berat. “Dan satu-s
Keenan berdiri di koridor rumah sakit dengan kemeja hitam yang masih lembap, tidak lama Nando datang membawakannya pakaian ganti untuknya. Di tangannya, Keenan memegang ponsel yang berisi bukti-bukti baru tentang upaya sabotase perusahaan dan pelecehan pada Aruna. "Nando, pastik
Suasana mendadak hening. Keenan menarik napas dalam. Ia menatap Aruna sejenak, seolah meminta izin. Aruna hanya mengangguk pelan, wajahnya merona merah, perpaduan antara malu dan haru bahagia. Yosua, yang tadinya sibuk dengan ponselnya, kini ikut menoleh dengan rasa penasaran."Aruna tidak hanya







