MasukMata Aruna terbelalak mendengar kata-kata Keenan. Sebuah kata ‘permainan peran’ kembali mengingatkannya pada permainan perannya di malam jumat sebelumnya. Ia membayangkan bagaimana liarnya Keenan yang langsung menyerangnya saat itu. “Tidak Keenan! Tidak ada permainan peran lagi,” Aruna membalas bisikan Keenan. “Kalau begitu, aku yang akan bermain peran..” Keenan menoleh ke arah papanya. “Pa, kalau sudah tidak ada yang dibahas, alu dan arun pulang dulu..” Suasana di ruang tamu mansion itu terasa sedikit tegang setelah ultimatum keras Alexander. Sofia masih tampak mematung dengan wajah pucat, sementara Chelsea menatap lantai dengan tangan gemetar. Alexander melirik jam tangan lalu kembali menatap Keenan. ”Tidak bisa Keenan! Sekarang juga pergilah ke gedung Penthouse itu. Asistenku sudah di sana bersama pihak manajemen. Aku sudah meminta mereka menyiapkan dua pilihan unit penthouse terbaik di lantai teratas untuk kamu pilih," kata Alexander dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Mobil sport pribadi Keenan segera meluncur menuju Mansion keluarga Arkana dengan kecepatan yang cukup tinggi. Di sampingnya, Aruna duduk dengan jarinya yang saling bertautan erat di atas pangkuan. Wajahnya tampak jelas menunjukkan kegelisahannya. Keenan yang menyadari hal itu, ia melepaskan satu tangannya dari kemudi dan menggenggam tangan Aruna, membawanya ke depan bibir lalu menciumnya dengan cukup lama. "Tenanglah, Sayang. Ada aku. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, termasuk Mama atau Chelsea sekalipun," bisik Keenan menenangkan. Aruna hanya mengangguk pelan, meski hatinya masih bergelar cepat. Ia tahu, masuk ke rumah itu berarti siap menghadapi masalah apapun. Begitu mobil berhenti didepan pintu mansion, Keenan segera mengulurkan tangan, membantunya untuk turun. “Ayo Aruna, jangan takut..” Aruna turun dan melangkah disamping Keenan. Saat pintu besar mansion terbuka, pemandangan di ruang tamu utama langsung membuat langkah Aruna tertahan. Aruna melihat Sofia
“Sial! Harusnya aku tidak membiarkan Chelsea bersikap manja seperti dulu..!” kesal Keenan sambil mengumpat berkali-kali di balik kemudi mobilnya. Pikiran Keenan benar-benar kacau. Bayangan wajah Aruna yang berkaca-kaca tadi terus terlintas dalam pikirannya. Ia merasa sangat bodoh karena membiarkan Chelsea, si sepupu manjanya itu, menyentuhnya di saat hubungannya dengan Aruna sedang sangat sensitif. Saat Keenan sedang menyisir jalanan dengan kecepatan rendah, ponselnya bergetar di atas dashboard. Sebuah pesan masuk dari Nando. [Nando: Keenan, aku melihat Aruna di Taman Kota. Dia duduk sendirian di bangku taman dekat air mancur. Kelihatannya sedang menangis.] Tidak lama Nando mengirimkan sebuah foto. Hati Keenan seolah diremas melihat Aruna yang duduk meringkuk dengan bahu yang sedikit bergetar. Wanita itu terlihat sangat rapuh di balik blazer biru navy-nya. [Sial! Nando, awasi dia dari jauh! Jangan biarkan dia pergi sampai aku datang kesana. Kalau dia sampai hilang lagi,
Keheningan di dalam mobil pagi ini begitu terasa, Keenan sesekali melirik Aruna yang duduk di sampingnya, namun wanita itu hanya membuang muka ke luar jendela, menatap jalanan yang mulai padat dengan pandangan kosong. Aruna mengenakan setelan kerja yang sangat tertutup hari ini, seolah sedang membangun benteng pertahanan diri. Tidak ada rok mini, tidak ada belahan tinggi. Hanya celana kain formal dan blazer yang dikancing rapat hingga ke leher. "Aruna, tentang telepon semalam... Chelsea itu hanya sepupu jauh dari Mama. Dia baru pulang dari luar negeri," Keenan mencoba menjelaskan sambil memecah kesunyian. Aruna tidak menoleh sedikitpun. "Aku tidak bertanya, Pak Keenan." "Jangan panggil aku seperti lagi kalau kita sedang berdua, Aruna. Aku tahu kamu marah," geram Keenan sambil menoleh ke arah Aruna dengan tatapan tajam. ”Kita sedang menuju perusahaan, Pak Keenan dan disana saya hanya staf Anda yang sedang bersiap untuk bekerja. Jadi silahkan fokus pada pekerjaan anda nan
Gaun marun itu merosot jatuh, basah kuyup di dekat kaki Aruna. Kini ia hanya mengenakan pakaian dalam tipis yang menutupi aset berharganya. Keenan mematikan air dingin dan menggantinya dengan guyuran air hangat yang mulai mengepulkan uap di ruangan itu. Suasana berubah drastis menjadi sangat sensual dan pengap oleh uap panas. Keenan menarik Aruna ke dalam pelukannya, menyatukan dada telanjangnya dengan tubuh Aruna yang bergetar. Ia mulai menciumi leher Aruna, menghisap air yang mengalir di sana, dan memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuat Aruna mengerang keras. "Aku sangat benci melihat mereka menatapmu, Aruna," geram Keenan di sela hisapannya. "Aku ingin setiap inci tubuhmu hanya mengenali sentuhanku." Tangan Keenan mengangkat satu kaki Aruna, melingkarkan di pinggangnya sementara punggung Aruna tetap menempel pada dinding marmer yang licin. Tanpa aba-aba lagi, ia membebaskan naganya yang sudah menegang hebat dan mengarahkannya pada pintu goa Aruna yang sudah merinduka
Tangan Keenan yang besar mulai bergerilya nakal di balik gaun Aruna. Ia meraba setiap inci kulit Aruna. Saat jarinya menyentuh pintu goa, ia merasa ruangan hangat itu sudah sangat basah karena godaannya sendiri tadi, Aruna mendongak dan mendesah keras. "Kamu sudah sangat siap, Sayang. Ternyata kamu juga tidak sabar, kan?" goda Keenan sambil terus mempermainkan Aruna. "Kamu... Benar-benar nakal, Keenan... Aaahhh!" Aruna meremas rambut Keenan, menariknya agar ciuman mereka semakin dalam. Keenan membuka resleting celananya dengan terburu-buru. Naganya yang sudah tegang sempurna sejak di podium tadi akhirnya terbebas. Dengan satu gerakan yang sangat presisi dan kuat, Keenan memposisikan tubuh Aruna dan menghujam masuk ke dalam goa hangat milik Aruna dalam satu hentakan. "AARRGGHHH!" Aruna menjerit tertahan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Keenan. Rasa penuh dan nikmat yang luar biasa menyapu kesadarannya.







