LOGINKeenan melepaskan ciumannya sejenak, hanya untuk memberikan gigitan kecil di leher Aruna, tepat di nadi yang berdenyut cepat. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukan hal berbahaya seperti itu lagi tanpa aku di sampingmu. Kamu nyawaku, Aruna. Kalau kamu mati, aku akan menghancurkan dunia ini." Tangan Keenan yang besar mulai bergerak dengan berani. Ia mengangkat gaun tidur tipis Aruna, membiarkan tangannya merasakan kulit paha Aruna yang halus. Ia menarik Aruna lebih rapat, membiarkan Aruna merasakan 'naga' miliknya yang sudah menegang sempurna, menekan perut Aruna. "Keenan... Kita harus fokus pada Mama," bisik Aruna lemah, meski tubuhnya sendiri mulai mengkhianatinya dengan memberikan reaksi hangat di bagian bawah sana. "Aku sedang fokus," Keenan mengangkat Aruna, membuat Aruna harus melingkarkan kakinya di pinggang Keenan agar tidak terjatuh. Ia membawa Aruna menuju sofa besar di sudut kamar. "Fokus untuk memastikan bahwa setela
"Aruna, ini berbahaya. Mama sedang tidak sadar," Keenan menahan lengan Aruna, namun Aruna menggeleng. ”Mama Stella mengingat Mamaku. Kamu ingat kata dokter? Aku mungkin satu-satunya jembatan ke ingatannya sekarang," Aruna melepaskan kaitan tangan Keenan, namun sebelum melangkah, ia berjinjit dan membisikkan sesuatu di telinga Keenan. "Percaya padaku, sekarang telepon Dokter Danis. Dan jangan lepaskan pandanganmu dariku. Aku butuh kamu menjagaku juga dari belakang." Aruna melangkah sangat perlahan ke arah Stella. Suara langkah kakinya di atas lantai kayu terdengar mendebarkan. Aruna memanggil dengan nada yang sangat rendah. “Mama Stella... Ini Aruna. Anak Mama Mona." Stella tersentak. Bahunya yang tegang perlahan mulai sedikit rileks saat mendengar nama itu. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Aruna dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Mona? Kamu bukan Mona... Tapi mata dan wajah kamu sangat mirip dengannya..."
"Aku gagal, Aruna... Aku tinggal bersama wanita itu selama bertahun-tahun, tapi aku tidak tahu kalau Mama kandungku ada di sini, hidup seperti bayangan," rintih Keenan. Tangannya merayap ke pinggang Aruna, menarik tubuh istrinya hingga tidak ada celah di antara mereka. "Melihatnya menatapku seperti orang asing... itu menghancurkanku lebih dari peluru mana pun." Keenan mulai menciumi leher Aruna dengan liar, namun penuh dengan kepedihan. Ciumannya terasa panas dan basah, meninggalkan jejak hasrat yang bercampur dengan air mata. Aruna mendesah pelan, tangannya meremas rambut di tengkuk Keenan, mencoba memberikan ketenangan yang sangat dibutuhkan suaminya. "Aku di sini, Keenan... Aku tidak akan kemana-mana," bisik Aruna. Keenan mengangkat wajahnya, menatap mata Aruna dengan tatapan elang yang kini dipenuhi gairah gelap. "Aku butuh kamu, Aruna. Tolong... Buat aku lupa pada rasa sakit ini, walau hanya untuk malam ini." Tanp
Keenan yang tidak sabar mendengar jawaban Dokter Danis mengulang pertanyaannya dengan nada sedikit tinggi. “Pa, kenapa diam saja?! Bagaimana kondisi Mama sekarang?! Cepat katakan! Apa sebelumnya Papa tau kondisi Mama seperti ini?! Dia hilang ingatan selama puluhan tahun tapi Papa diam saja malah memilih membiarkan wanita ular itu tinggal di rumah kita?!” Aruna yang melihat emosi Keenan mulai tidak stabil segera memeluknya, “Keenan, sabar.. Dokter baru memeriksa Mama..” “Bagaimana aku bisa sabar Aruna, kondisi Mama seperti itu selama puluhan tahun tapi Papa justru memelihara ular dirumah dan membiarkan Mama kandungku menderita sendirian disini!” Keenan menatap Aruna dengan tatapan nanar. “Aku tau, tapi sekarang semua sudah terjadi.. Yang terpenting Mama kamu masih selamat, sementara aku.. Aku kehilangan mereka semua.. Aku lebih hancur darimu, Keenan..” Kini Aruna yang tadinya kuat jadi sedih mengingat ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi..
Keenan melangkah mendekat memeluk Stella dengan perasaan yang campur aduk, bahagia dan juga sedih. “Mama.. Maafkan Keenan baru mengetahui keberadaan mu.. Maafkan aku telah mengabaikanmu tanpa sengaja..” Ia membenamkan wajahnya di bahu ibunya, menghirup aroma bunga lili yang lekat pada tubuh Stella. Stella terdiam dalam pelukan itu. Awalnya tubuhnya kaku, namun perlahan tangannya yang kurus terangkat, mengusap punggung Keenan dengan gerakan naluriah seorang ibu. "Kenapa... Kenapa tubuhmu begitu hangat? Dan kenapa hatiku terasa sangat perih saat kamu menangis?" gumam Stella lirih. Alexander, yang masih berlutut di tanah, hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Penyesalan itu seperti sembilu yang menyayat hatinya. Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar, menekan nomor dokter pribadi yang menangani Stella selama ini. [Halo, Dokter Danis? Ini Alexander Arkana. Datanglah ke villa sekarang juga. Bawa semua peralatan mu. Istriku...
“Mama..” Keenan menyusul dengan suara parau. Ia berdiri di samping Alexander, keinginannya bertemu Mama kandungnya membuat tubuhnya nyaris bergetar. Di sampingnya Aruna memeluk lengannya. Wanita itu menghentikan goresan kuasnya. Ia berbalik perlahan, menatap Alexander, lalu beralih pada Keenan dan Aruna yang berdiri di samping Alexander. Ada binar kebingungan di matanya yang biru jernih. Keenan melangkah maju, dadanya terasa sesak. "Mama... Ini aku, Keenan." Stella menatap Keenan cukup lama, matanya menyipit seolah mencoba mengingat sesuatu yang sangat jauh. Namun, bukannya pelukan hangat atau tangis haru, ia justru memiringkan kepalanya dengan tatapan polos. "Kalian siapa?" tanya Stella dengan suara yang sangat lembut namun terasa seperti petir bagi Keenan. "Marie, apa mereka tamu dari kota? Kenapa pria tua ini menangis?" Ia menoleh ke arah pelayan yang berjalan perlahan mendekatinya. Alexander jatuh
Keenan menarik lengan Aruna dengan langkah kaki lebar, menyusuri koridor samping mansion yang remang-remang. Aruna terseok-seok mengikuti, tangannya sibuk memegang kancing kemejanya yang belum sempat dikaitkan sempurna. "Keenan, berhenti! Kita mau ke mana? Ini bukan jalan keluar
Keenan terdiam sejenak. Pelukannya mengerat, bukan lagi pelukan penuh nafsu, tapi pelukan yang penuh kerinduan terpendam. Ia memutar tubuh Aruna kembali, menatap matanya dalam-dalam. ”Karena luka beberapa tahun lalu itu terlalu dalam, Aruna,” suara Keenan melembut namun tetap berat. “Dan satu-s
Keenan berdiri di koridor rumah sakit dengan kemeja hitam yang masih lembap, tidak lama Nando datang membawakannya pakaian ganti untuknya. Di tangannya, Keenan memegang ponsel yang berisi bukti-bukti baru tentang upaya sabotase perusahaan dan pelecehan pada Aruna. "Nando, pastik
Suasana mendadak hening. Keenan menarik napas dalam. Ia menatap Aruna sejenak, seolah meminta izin. Aruna hanya mengangguk pelan, wajahnya merona merah, perpaduan antara malu dan haru bahagia. Yosua, yang tadinya sibuk dengan ponselnya, kini ikut menoleh dengan rasa penasaran."Aruna tidak hanya







