LOGINKeenan yang melihat dokter masih terdiam sambil menghela nafas berat seakan tidak sabar. Ia maju satu langkah dengan tatapan semakin tajam dan mengulang kembali pertanyaannya.
“Dia selamat, kan? Apa dia sudah sadar, Dokter?! Katakan!” suaranya berat, penuh penekanan. "Pendarahannya berhasil kami kendalikan. Kondisinya sekarang stabil, namun sangat kritis. Dia telah melewati masa paling berbahaya, tapi tubuhnya mengalami trauma yang luar biasa hebat," jelas dokKepercayaan diri Keenan di depan Aruna ternyata tidak sebanding dengan kelincahan Kenzo pagi itu. Begitu Aruna menghilang di balik pintu, Kenzo mulai beraksi. Ia merangkak kencang di atas karpet, menghindari tangan Keenan yang mencoba menangkapnya. "Kenzo, kemari! Pakai popoknya dulu, Jagoan!" seru Keenan. Keenan berhasil menangkap Kenzo, namun karena ia sambil mencoba menjawab pesan singkat dari Nando di ponselnya, konsentrasinya terpecah. Ia memasangkan popok dengan terburu-buru, lalu membiarkan Kenzo bermain dengan tumpukan berkas dan bantal yang berserakan di lantai. Sepuluh menit kemudian, Aruna keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya. Rambutnya basah dan wajahnya segar. Namun, matanya seketika membelalak melihat keadaan kamar. Bantal-bantal kursi berserakan di lantai, beberapa dokumen penting dari tas kerja Keenan sudah lecek karena ditarik-tarik Kenzo, dan yang paling parah, Kenzo sedang duduk di tengah karpet sambil tertawa, mengenakan popok yang je
Tok... Tok... Tok... "Keenan? Aruna? Apa kalian di dalam?" Itu suara Pak Alexander. Suaranya terdengar cemas. Keenan dan Aruna tersentak bangun bersamaan. Aruna langsung terduduk dengan napas memburu, mengira ada ancaman lain yang datang kembali. "Ada apa Keenan?! Siapa lagi kali ini?!" tanya Aruna panik, matanya liar menatap sekeliling. Keenan melihat jam dinding di kamar. Matanya membelalak. Pukul 09.30 pagi. "Sial, kita bangun kesiangan," umpat Keenan rendah. Ia segera bangkit dan meraih jubah mandinya. "Keenan! Ini Papa," suara Pak Alex kembali terdengar dari balik pintu. "Kalian tidak apa-apa? Pintu tidak dikunci dari dalam tapi Papa tidak enak mau masuk. Tim keamanan bilang kamu belum keluar kamar sejak semalam. Sopir sudah menunggu di bawah sejak dua jam lalu. Tidak biasanya kamu terlambat untuk rapat penting perusahaan, Keenan." Keenan dan Aruna saling pandang. Wajah Aruna merona merah padam saat menyadari bahwa seluruh orang di mansion, termasuk mertuanya, m
"Pa-pa! Pa-pa-pa!" Suara ocehan mungil itu terasa seperti siraman air es di tengah api gairah yang baru saja padam. Keenan dan Aruna membeku seketika. Mereka saling berpandangan dengan mata terbelalak. Rasa panik langsung menyerang keduanya. Dengan gerakan kilat seolah sedang tertangkap basah melakukan sesuatu, Keenan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, sementara Aruna berusaha mencari jubah mandinya yang terlempar ke lantai. "Dia bangun?" bisik Aruna panik, mencoba merapikan rambutnya yang berantakan. Tangannya meraba-raba lantai di pinggir ranjang, mencari jubah mandi sutranya yang tadi terlempar entah ke mana. "Papapa! Mamama!" suara Kenzo terdengar lebih keras sekarang, diikuti suara tawa kecil seolah dia tahu bahwa orang tuanya baru saja melakukan sesuatu yang rahasia di bawah selimut. Suara pagar boks bayi yang digoyang-goyangkan terdengar berisik di keheningan kamar. Keenan mengusap wajahnya dengan frustrasi, meski sebuah senyum geli tak bisa ia sembuny
Keenan melangkah di koridor mansion dengan jantung yang berdebar kencang, bukan karena sisa adrenalin dari interogasinya pada Randi, melainkan karena bayangan wanita yang menunggunya di balik pintu kamar utama. Ia membuka pintu dengan sangat perlahan, gerakannya begitu hati-hati hingga nyaris tidak menimbulkan suara gesekan sedikit pun. Pandangan pertamanya langsung tertuju pada boks bayi di sudut ruangan, Kenzo masih terlelap dalam posisi menungging yang lucu, nafasnya teratur dan tenang. Keenan menghela nafas lega. ‘Aman,’ pikirnya nakal. Ia kemudian mengalihkan tatapannya ke ranjang king size di tengah ruangan. Di sana, Aruna tampak terlelap dengan posisi miring, jubah mandi sutranya sedikit tersingkap menampilkan lekuk bahu dan paha yang putih bersih di bawah cahaya lampu tidur yang redup. Pemandangan itu seketika membangkitkan gairah Keenan yang sudah tertahan sejak tadi. Tanpa suara, Keenan melepaskan jas, jam tangan, dan kemejanya, membiarkan pakaian mahal itu jatuh begi
Dengan satu gerakan terlatih, Keenan menerjang pria itu dari samping. Kekuatan fisik Keenan yang jauh di atas rata-rata membuat si penyusup terkapar di lantai dengan suara tulang yang berderak saat Keenan mengunci lengannya ke belakang. "Buka penutup kepalanya," perintah Keenan dingin. Nando menyentak hoodie pria itu. Aruna, yang ternyata nekat menyusul ke depan pintu karena rasa khawatir yang tak tertahankan, menutup mulutnya dengan tangan bebasnya. Matanya membelalak lebar. "R-Randi?" suara Aruna pecah karena tidak percaya. Pria itu adalah Randi, salah satu rekan satu angkatan Aruna saat di universitas dulu. Pria yang dikenal pendiam namun sangat cerdas di laboratorium. "Bajingan," desis Keenan. Ia menekan wajah Randi ke lantai dengan lututnya. "Jadi kamu orang keempat yang memiliki akses frekuensi ini? Bagaimana bisa?" Randi hanya meringis kesakitan, matanya menatap Aruna dengan kilatan kebencian yang dalam. "Aruna selalu menjadi emas, sementara kami hanya sampah di ma
Keenan ikut menoleh ke arah papanya, wajahnya kembali mengeras, menuntut jawaban. "Iya, Pa. Kenapa semua orang tidak bisa dihubungi setelah kalian menelpon? Kami sampai panik dan terburu-buru saat perjalanan, sekarang katakan apa yang terjadi Pa?" Pak Alex menghela napas panjang, ia melirik ke arah petugas polisi yang sedang berbicara dengan tim keamanan mansion di sudut ruangan. "Seseorang menyabotase gardu listrik utama mansion setengah jam yang lalu, Keenan. Bersamaan dengan itu, sinyal komunikasi di seluruh area ini tiba-tiba diputus dengan alat pelacak frekuensi tingkat tinggi. Polisi datang karena alarm darurat cadangan yang langsung terhubung ke markas besar berbunyi otomatis saat ada percobaan masuk paksa ke gerbang belakang," jelas Pak Alex dengan wajah serius. "Masuk paksa?" Keenan mengepalkan tangannya. "Siapa?" "Pria berbaju hitam, tapi mereka kabur begitu polisi sampai. Namun, di tengah kegelapan dan kepan
Keenan masih berusaha mengatur napasnya yang memburu saat menempelkan ponsel ke telinga. Di sampingnya, Aruna masih terbaring lemas dengan tubuh yang berkeringat, namun matanya yang sayu kini berubah menjadi cemas. Suasana kamar apartemen yang tadinya panas oleh gairah seketika berubah menjadi din
Pintu apartemen baru saja tertutup saat Keenan langsung menyudutkan Aruna ke dinding. Wajahnya merah padam karena cemburu yang membakar jajak tadi. "Keenan, lepaskan! Kamu menyakitiku!" protes Aruna saat pergelangan tangannya dicengkram kuat pria itu. "Menyakitimu? Lalu apa yang dilakukan Rio t
Keenan memberi isyarat dengan anggukan kepala agar Aruna menyetujuinya. Aruna pun mengangguk kecil.[Boleh, Rio. Aku juga sedang butuh teman bicara. Kita akan bertemu dimana?] Mata Aruna terus melihat ke arah Keenan, ia bisa melihat pria disampingnya itu menahan amarahnya. [Restoran biasanya, j
Aruna menelan ludah. Tantangan Keenan membangkitkan sisi liar yang selama ini ia sembunyikan. Perlahan, Aruna turun dari sofa, ia berlutut di antara kedua kaki Keenan yang terbuka lebar. Dari posisi itu, Aruna bisa melihat dengan jelas bagaimana gundukan di balik celana kain Keenan sudah menegang







