LOGINKeenan melangkah keluar dari lift pribadi, masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Di sampingnya, Aruna melangkah dengan anggun mengenakan dress sutra berwarna merah marun yang mencetak jelas lekukan tubuhnya dengan sempurna. "Keenan, ini... Kapan kamu menyiapkan semua ini?" tanya Aruna takjub. Matanya berbinar menatap dekorasi yang begitu romantis. Rooftop yang biasanya kosong itu kini telah disulap menjadi area makan malam pribadi yang sangat mewah. Hanya ada satu meja bundar dengan taplak putih, lilin-lilin kecil yang menari ditiup angin, dan pemandangan lampu kota yang membentang seperti hamparan permata. Keenan tidak menjawab. Ia hanya menarik pinggang Aruna, membawa istrinya mendekat ke arah pagar pembatas kaca. Dari sana, mereka bisa melihat seluruh kota. "Aku sudah bilang, kan? Kita akan merayakan kesuksesanmu di sini. Tidak ada Nando, tidak ada Papa, dan tidak ada gangguan bisnis... Dan tidak ada Kenzo untuk beberapa jam kedepan." Keenan me
Keenan bangkit dari duduknya. Ia melangkah mendekati Aruna, berdiri tepat di belakang istrinya hingga aroma parfum maskulinnya mengepung indra penciuman Aruna. Keenan meletakkan tangannya di bahu Aruna, meremasnya lembut. "Istriku sudah menjelaskan semuanya dengan sangat detail, bukan?" suara berat Keenan terdengar begitu dingin dan tegas. "Jadi, Dr. Hans, pilihannya sekarang ada di tangan Anda. Tetap pada ancaman pembatalan yang konyol ini, atau kita bicara soal masa depan yang jauh lebih besar?" Dr. Hans menghela napas panjang, bahunya yang kaku perlahan merosot. Ia menutup dokumennya dengan kasar. "Luar biasa. Penjelasan Mrs. Aruna benar-benar di luar ekspektasi kami. Data adaptasi termal itu... Itu adalah revolusi." Ia menatap Aruna dengan tatapan takjub yang tulus. "Sejujurnya, Tuan Arkana, ancaman pembatalan ini hanyalah prosedur uji kelayakan terakhir dari dewan direksi kami. Kami tidak ingin memberikan lisensi berharga pada perusahaan yang hanya mengandalkan keberuntung
Aruna membalas ciuman itu dengan keberanian yang sama. Ia melingkarkan tangannya di leher Keenan, memperdalam pagutan mereka sejenak sebelum akhirnya ia melepaskannya dengan senyum penuh kemenangan. "Kesepakatan diterima, Pak Keenan. Sekarang, mari kita tunjukkan pada Global Healthy siapa Arkana Global Medika yang sebenarnya." “Bagus, kamu semakin berani, Aruna.. Aku suka itu..” Mereka berdua melangkah keluar dari ruangan dengan langkah kompak dan penuh wibawa. Di koridor menuju ruang meeting, tangan Keenan terus memeluk pinggang Aruna, menunjukkan pada setiap staf kalau wanita di sampingnya istri tercinta pemilik Arkana. Saat sampai di depan ruang meeting VIP, Nando sudah menunggu dengan wajah tegang. "Mereka sudah di dalam. Suasananya dingin sekali, sepertinya mereka benar-benar berniat melakukan pembatalan." “Oh ya, kita lihat saja..” Keenan tersenyum tipis. Ia menggenggam tangan Aruna erat sebelum membuka pintu itu dengan gerakan elegan. Di dalam ruangan, tiga or
Aruna tercengang. Matanya yang jernih membelalak menatap Keenan, lalu beralih ke Nando dan Pak Alexander secara bergantian. Keheningan sempat menyelimuti ruangan kerja CEO itu selama beberapa detik sebelum Aruna akhirnya bersuara dengan nada yang sedikit meninggi karena terkejut. "Apa?! Kontrasepsi... bergerigi?" ulang Aruna. Suaranya sedikit bergetar. Entah mengapa, meskipun mereka sedang membahas inovasi medis, pikiran liar Aruna mendadak 'traveling'. Otaknya yang cerdas dengan cepat memvisualisasikan bentuk alat medis tersebut, dan bayangan tentang bagaimana 'naga' Keenan memakainya membuat bulu halusnya meremang seketika. Ada sensasi panas yang menjalar di perut bawahnya hanya dengan membayangkan tekstur tersebut bersentuhan dengan dalamnya goa nanti. ‘Astaga.. Apa yang aku pikirkan.. Sial! Otakku ketularan mesum, ini gara-gara Keenan!’ gumamnya dalam hati. Nando, yang biasanya serius jika ada Pak Alexander, justru
Tepat saat itu, Aruna memberikan hisapan paling kuat dan dalam. Tubuh Keenan menghentak hebat ke depan, kepalanya mendongak ke belakang dengan rahang yang mengeras. "AARRGGHHHH! ARUNA!" Keenan mengerang panjang, suara penuh dengan gairah yang memuncak tak bisa tertahan, cairan hangat biru menyembur hingga tak bersisa di tangan dan mulut Aruna. Napasnya tersengal-sengal hebat, membiarkan ponselnya masih dalam keadaan tersambung. Di seberang sana, keheningan menyelimuti selama beberapa detik sebelum Nando akhirnya bersuara dengan nada yang sangat datar namun penuh dengan kejengkelan. [Sialan kamu, Keenan Ignazio Arkana! Jadi kamu memintaku membacakan kontrak bisnis yang bernilai jutaan dolar sementara kamu sedang... Agh! Dasar CEO mesum! Kamu benar-benar tidak punya urat malu, Keenan! Menyebalkan!] Keenan masih mencoba mengatur napasnya. Ia menatap Aruna yang sedang membersihkan sudut bibirnya dengan tisu
Aruna memperhatikan mata Keenan yang menatapnya dengan penuh hasrat. Ada keraguan di hati Aruna untuk menuruti keinginan Keenan mengingat mereka masih berada di gedung kantor dan luka operasinya yang belum pulih seratus persen. Namun, melihat betapa posesif dan frustrasinya sang suami setelah seharian berbagi perhatian dengan pekerjaan dan Kenzo, hati Aruna akhirnya kembali melunak. "Hanya dengan bibir dan tanganku, oke?" bisik Aruna dengan nada menggoda yang membuat jakun Keenan naik turun. "Apapun, Aruna... Asalkan naga ini bisa 'menikmatinya' sekarang juga," jawab Keenan, suaranya semakin serak. Aruna tersenyum miring, senyum yang menunjukkan perubahan dari direktur inovasi dengan ide cemerlang menjadi wanita yang memegang kendali atas suaminya. Ia meraih tangan besar Keenan, menariknya lembut ke arah sofa kulit yang luas di ruangan rahasia. Tangan Aruna mendorong bahu Keenan dengan lembut, membuat pria itu duduk bersandar dengan k
Aruna tampil memukau dengan gaun malam berwarna merah marun dengan belahan tinggi di bagian samping, pilihan yang ia ambil secara sengaja untuk membalas dendam pada Keenan. Gaun itu melekat ditubuhnya dengan sempurna, memperlihatkan lekukan indah yang akan membuat pria manapun menelan ludah saat
Tangan Keenan yang besar mulai bergerilya nakal di balik gaun Aruna. Ia meraba setiap inci kulit Aruna. Saat jarinya menyentuh pintu goa, ia merasa ruangan hangat itu sudah sangat basah karena godaannya sendiri tadi, Aruna mendongak dan mendesah keras. "Kamu sudah sangat siap, Sa
Aruna mendelik mendengar kata-kata Keenan, apalagi melihat raut wajahnya pria itu yang masih diliputi gairah. Aruna mencubit pinggangnya. “Cukup Keenan jangan keterlaluan! Penthouse ini bahkan belum serah terima, kamu sudah mencicipi ranjangnya!” Keenan tersenyum geli melihat rona wajah Aruna, ia
"Aruna... Sshhh... Aku tidak kuat lagi..." gumam Keenan di telinga Aruna, suaranya terdengar oleh semua orang di meja itu. "Lihat!" Alexander menunjuk ke arah Keenan. "Lihat apa yang kamu lakukan pada putramu sendiri! Demi ambisi murahanmu, Sofia, kamu tega merusak masa depan Kee







