LOGINKeenan melangkah dengan penuh amarah menuruni tangga menuju ruang bawah tanah rumah sakit pusat Arkana yang telah di ubah menjadi ruang interogasi kedap suara. Mantelnya ia sampirkan di bahu, menutupi kemeja putihnya yang kusut dan bernoda debu dari gudang pelabuhan tadi. Di belakangnya, Nando berjalan dengan tablet di tangan, wajahnya kaku, menyadari bahwa ‘Singa Arkana’ sedang berada dalam mode berburu yang paling mengerikan.
"Buka pintunya," perintah Keenan dingin."Sial! Ada apalagi ini?!" geram Keenan dengan napas memburu. Ia terpaksa menjauhkan wajahnya dari leher Aruna, meski tangannya masih betah meremas pinggang istrinya yang sensitif. Gairah yang hampir semakin memuncak itu menguap seketika, digantikan oleh ketegangan yang menyesakkan dada."Keenan, kita pulang sekarang! Aku tidak mau terjadi apa-apa pada Kenzo... Aku merindukannya, Keenan!" rengekan Aruna terdengar sangat pilu. Wajah pucatnya kini dipenuhi kecemasan yang luar biasa. Ia segera merapikan kancing pakaian rumah sakitnya dengan tangan gemetar.Keenan beranjak dari tempatnya. Ia menyugar rambutnya dengan kasar, mencoba mengatur kembali emosinya yang berantakan. Ia merapikan kemejanya yang kusut dan memakai jasnya kembali, berusaha mengembalikan wibawa sang CEO Arkana meskipun hatinya sendiri sedang bergejolak.Tok.. Tok.. Tok..Ketukan di pintu semakin tidak sabar. Keenan melangkah lebar, membuka pintu Suite dengan sentakan kasar. "Na
Keenan melangkah keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang campur aduk. ‘Aku tidak menyangka, otak Aruna bisa secerdas itu sampai menjadi target profesornya yang gila itu!’ Di satu sisi, Keenan sangat muak dengan kegilaan Profesor dan Adrian. Namun di sisi lain, ia merasa takjub sekaligus cemas. Ia tidak pernah menyangka bahwa kecerdasan Aruna begitu luar biasa hingga mampu menciptakan sesuatu yang ditakuti dan juga di incar oleh para ilmuwan sekaliber Profesor. Keenan berjalan dengan langkah lebar menuju lift, tujuannya hanya satu, Suite VIP di lantai atas. Ia harus melihat Aruna. Ia harus memastikan istrinya itu tahu bahwa ia tidak peduli seberapa berbahaya otaknya, baginya Aruna tetaplah wanita yang ia cintai. Setibanya di depan Suite VIP, penjagaan tampak sangat ketat. Empat pengawal berseragam hitam berdiri tegap di depan pintu. Begitu melihat Keenan, mereka serentak menunduk dan membuka pintu. Keenan masuk ke da
Keenan melangkah dengan penuh amarah menuruni tangga menuju ruang bawah tanah rumah sakit pusat Arkana yang telah di ubah menjadi ruang interogasi kedap suara. Mantelnya ia sampirkan di bahu, menutupi kemeja putihnya yang kusut dan bernoda debu dari gudang pelabuhan tadi. Di belakangnya, Nando berjalan dengan tablet di tangan, wajahnya kaku, menyadari bahwa ‘Singa Arkana’ sedang berada dalam mode berburu yang paling mengerikan. "Buka pintunya," perintah Keenan dingin. Nando menempelkan kartu aksesnya pada alat pemindai. Pintu baja itu berdesis dan terbuka, memperlihatkan pemandangan yang suram di dalam ruangan yang hanya diterangi satu lampu gantung temaram. Adrian dan Profesor diikat di kursi yang berbeda, dipisahkan oleh sebuah meja besi. Adrian tampak mengenaskan dengan wajah yang bengkak, sementara Profesor duduk diam dengan tatapan kosong namun menyimpan kilatan kegilaan di balik wajahnya yang penuh luka bakar. Keenan menarik seb
Keenan menggenggam erat ponselnya, melampiaskan rasa takut dan khawatirnya hingga urat tangannya tampak menonjol. [Katakan, Nando!] [Aruna.. Dia.. Baik-baik saja, hanya..] [Cukup! Jaga dia aku akan segera sampai!] Keenan tidak ingin mendengar kata-kata selanjutnya, dia hanya ingin memastikan Aruna baik-baik saja. Untuk saat ini, itulah yang terpenting. Mobil Keenan melaju semakin kencang, kecepatannya nyaris mencapai titik maksimal pada speedometernya. Dia mengemudi seperti orang kerasukan tanpa menginjak rem sedikitpun, menyalip kanan kiri mengabaikannya rambu di jalanan. Begitu sampai di rumah sakit, Keenan tidak memarkir mobilnya dengan benar. Ia menghentikan kendaraannya tepat di depan pintu lobi, lalu meloncat keluar begitu saja sebelum akhirnya berlari menuju lift khusus. Pintu lift terbuka di lantai perawatan intensif. Keenan berlari menyusuri lorong, mengabaikan tatapan
Layar monitor di dinding gudang itu mendadak mati. Hitam pekat. Suara tawa Adrian dan bisikan mengerikan Profesor pun lenyap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Namun, bagi Keenan, kesunyian itu jauh lebih menyiksa daripada raungan alarm sekalipun. Bayangan jarum suntik berisi cairan biru yang mengarah ke perut buncit Aruna terus berputar-putar di kepalanya seperti mimpi buruk yang menjadi nyata. "TIDAAKKK! ARUNAAA!" Keenan meraung, suaranya pecah memenuhi ruang gudang yang lembap. Ia menerjang pintu besi yang terkunci otomatis itu, menghantamnya dengan bahu hingga terdengar bunyi tulang yang bergeser. Rasa perih di punggungnya akibat zat asam tadi pagi seolah tak ada artinya dibanding rasa sakit yang menghujam jantungnya saat ini. Ia kembali menendang pintu itu dengan kalap. "ADRIAN! JANGAN SENTUH ISTRIDU! AKU AKAN MEMBUNUHMU!" Napas Keenan memburu, keringat dingin membanjiri kemeja putihnya yang sudah berantaka
Keenan mulai menciumi leher Aruna, menghisap kulit halusnya dengan intensitas yang membuat Aruna meremang. Tangan Keenan masuk ke bawah baju rumah sakit yang dikenakan Aruna, mengusap punggungnya yang mulus dengan telapak tangan yang panas. "Ahhh... Keenan..." Aruna mendesah, kepalanya terkulai ke belakang, memberikan akses lebih luas bagi Keenan. Meskipun dalam kondisi emosional yang kacau, gairah di antara mereka selalu menjadi pelarian paling nyata. Keenan melumat bibir Aruna dengan lapar, seolah-olah sedang menyerap semua keraguan istrinya ke dalam dirinya. Sentuhan-sentuhan itu menjadi bahasa bisu bahwa apapun yang terjadi di masa lalu, Aruna tetap miliknya sekarang. "Kamu hanya milikku, Aruna. Masa lalumu, rahasiamu, bahkan luka-lukamu... Semuanya tanggung jawabku," gumam Keenan di sela ciumannya. Keenan melepaskan ciumannya saat ponselnya bergetar di saku celana. Ia melihat nama Nando di layar. [Y
Keenan tiba-tiba merasa gelisah setelah membaca kertas yang diberikan papanya. Ia mengambil ponsel untuk menghubungi Aruna. “Kenapa ponselnya mati?!” gamenya cemas. Keenan mencoba menelpon Nando dan Zaskia tapi tidak ada satupun jeng menjawab. “Sial! Kenapa ponsel mereka semua?! Tidak mungkin aku
Di dalam ruang mobil ambulan yang sempit dan berbau antiseptik itu, Aruna duduk bersimpuh di lantai ambulans, ia terus menggenggam tangan Keenan yang sedingin es. "Keenan, kumohon... Jangan seperti ini. Buka matamu!" tangis Aruna pecah. Suara bising sirine begitu memekakkan telinganya, disaat ja
Aruna merasa wajahnya kini mungkin tidak lagi merah merona, tapi sudah putih pucat karena sangat malu. Sementara Keenan hanya bisa terbatuk-batuk kecil, kehilangan kata-kata untuk pertama kalinya. "Papa pergi dulu. Nando, urus sisanya," Alexander berbalik pergi dengan langkah gagah, meninggalkan
Aruna yang awalnya memohon untuk istirahat karena kelelahan, kini hanya bisa mendesah pasrah di bawah kungkungan tubuh Keenan. Sentuhan pria itu seolah memiliki daya magic yang mampu membangkitkan kembali gairah yang sempat meredup karena lelah. Keenan tidak membiarkan satu inci pun kulit mulus A







