Home / Romansa / Dirty Office / Bab 4 Luka yang Membakar

Share

Bab 4 Luka yang Membakar

Author: Cynta
last update publish date: 2026-01-09 10:02:41

​Aruna melangkah cepat meninggalkan pantry, mengabaikan panggilan Keenan yang suaranya menggema di ruangan itu. Rasa perih di pergelangan tangannya tidak sebanding dengan gejolak di dadanya. Ia butuh ruang, butuh napas, dan yang terpenting, ia butuh menjauh dari Keenan.

Aruna memutuskan menuju ruang medis kantor. Di sana, seorang dokter muda bernama dr. Andra sedang merapikan peralatan. Andra adalah tipe pria yang ‘aman’, ramah, cerdas, dan memiliki senyum yang menenangkan. Pria itu menoleh begitu ada yang masuk kedalam ruangan, ia langsung memperhatikan Aruna.

​"Aruna? Ada apa? Wajahmu pucat sekali," Andra menghampiri dengan langkah cepat.

​"Tumpahan kopi, Dokter. Sepertinya sedikit melepuh," Aruna menunjukkan pergelangan tangannya yang kini mulai menampakkan warna kemerahan yang kontras dengan kulit putihnya.

​"Astaga, mari duduk di sini. Ini pasti sakit sekali." Andra menuntun Aruna ke ranjang periksa. Dengan sangat lembut, ia meraih tangan Aruna untuk memeriksa lukanya. "Untungnya tidak sampai melepuh parah. Aku akan membersihkannya dan memberikan kompres dingin."

Andra mulai bekerja dengan telaten. Gerakannya sangat profesional dan sangat hati-hati. "Bagaimana bisa terkena kopi panas? Terburu-buru karena pekerjaan?"

​Aruna menghela napas panjang, mencoba merilekskan bahunya yang tegang. "Hanya... Sedikit terkejut karena suara keras saat di pantry.”

​"Suara keras?" Andra tertawa kecil sambil mengoleskan salep dingin. "Atau mungkin suara Pak Keenan yang sedang mengamuk? Aku dengar hari ini suasana di lantai atas agak mendung."

​Aruna tersenyum kecut. "Bisa dibilang begitu. Dia naga yang sedang marah-marah, eh bukan naga tapi singa."

Andra menatap Aruna dengan tatapan hangat. "Kamu tahu, Aruna? Kamu adalah salah satu karyawan yang paling tahan banting menghadapi Pak Keenan. Kalau itu karyawan lain, mungkin mereka sudah menangis di hari pertama. Tapi kamu? Kamu justru terlihat semakin bersinar setiap kali dia menunjukkan otoritasnya."

​"Mungkin karena saya sudah terbiasa menghadapinya," gumam Aruna tanpa sadar.

Adrian menaikkan sebelah alisnya, jemarinya masih mengusap lembut pinggiran luka Aruna agar salepnya merata. Sentuhan itu sangat menenangkan, jauh berbeda dengan cengkeraman Keenan yang selalu penuh tuntutan. "Kalian bicara seolah sudah saling mengenal sejak lama."

​Aruna tersentak. Ia hampir saja membocorkan rahasia masa lalu mereka. "Maksud saya... Terbiasa dengan gaya kepemimpinannya yang diktator."

​Tanpa mereka sadari, di balik celah pintu yang tidak tertutup rapat, sepasang mata kelam sedang mengawasi setiap gerak-gerik di dalam ruangan itu.

​Keenan berdiri mematung di koridor yang sepi. Dadanya terasa sesak menahan amarah yang tidak masuk akal. 

Ia melihat bagaimana Adrian tersenyum pada Aruna, bagaimana tangan dokter itu menggenggam lembut jemari Aruna, dan bagaimana Aruna, wanita yang selalu memasang tembok tinggi di depannya justru terlihat begitu santai dan nyaman mengobrol dengan pria lain.

​Keenan mengepalkan tangannya hingga kukunya memutih. Amarahnya memuncak bukan karena Aruna mengabaikan perintahnya, tapi karena ia membenci kenyataan bahwa ada pria lain yang bisa menyentuh kulit Aruna tanpa mendapatkan penolakan.

Keenan berbalik dan melangkah pergi, namun pikirannya tetap tertuju di ruangan medis.

​Hampir empat puluh lima menit berlalu. Aruna masih berada di ruang medis. Ia merasa enggan untuk kembali ke mejanya, apalagi ke ruangan Keenan. 

Mengobrol dengan dokter Andra terasa seperti obat penenang yang mujarab baginya. Dokter Andra sedang menceritakan pengalamannya saat bertugas di pelosok, tiba-tiba ponsel Aruna yang tergeletak di meja periksa bergetar hebat.

​Nama "KEENAN - CEO" berkedip di layar dengan nada dering yang mendesak.

​Aruna menelan ludah. Ia melirik Adrian yang juga menatap ponsel itu. "Sepertinya naga itu sudah kehilangan kesabaran," ujar dokter Andra, meski wajahnya menunjukkan sedikit kekhawatiran.

​Aruna menarik napas panjang dan menggeser tombol hijau.

[Ya, Pak Keenan?]

​[Apa ruang medis sekarang beralih fungsi menjadi kafe untuk bersantai?] suara Keenan terdengar begitu rendah, dingin, dan sarat akan ancaman.

[Atau kamu sedang melakukan riset mendalam tentang seberapa tampan dokter jaga di sana sampai kamu lupa ada pekerjaan yang menunggumu?]

​[Saya sedang merawat luka saya, Pak Keenan. Dokter Adrian bilang luka ini butuh observasi agar tidak infeksi,] jawab Aruna dengan nada sesopan mungkin, meski hatinya bersorak karena tahu Keenan pasti sedang kesal.

​[Observasi atau kencan terselubung, Aruna?] Keenan mendesis.

[Lima menit. Kalau dalam lima menit kamu tidak datang ke ruangan ini, aku akan menganggapmu tidak lagi membutuhkan pekerjaan di sini. Dan jangan lupa... Aku memegang langsung kontrakmu!]

Klik!

Sambungan diputus sepihak.

Aruna menatap layar ponselnya dengan geram. "Benar-benar diktator!"

​"Ada apa?" tanya Adrian lembut.

​"Saya harus kembali ke kandang singa, Dokter. Terima kasih untuk pengobatannya," Aruna berdiri dan merapikan blazernya.

​"Hati-hati, Aruna. Kalau singanya terlalu galak, kamu tahu di mana harus mencari perlindungan," Adrian mengedipkan sebelah matanya, membuat Aruna tersenyum tipis sebelum melangkah keluar.

“Saya tahu, Dokter. Permisi..” Aruna berjalan menuju lift dengan perasaan campur aduk.

Aruna menyentuh saku blazernya, merasakan bentuk keras dari alat medis silikon yang ia ‘sita’ kemarin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dirty Office   Bab 506 Rencana yang Tersusun Rapi

    ​Keenan langsung menghampiri Nando di tengah koridor saat mengantar Aruna keluar kamar menuju kamar sebelah, auranya yang dominan kembali memuncak. Ia mencengkeram bahu Nando dengan kuat. "Apa yang kamu temukan di kantor?" ​Nando mengatur napasnya. "Aku membawa rekaman CCTV rahasia dari ruang kerja Om Alexander, dan hasil penyelidikan tim IT bayangan Anda, Keenan." ​Keenan menarik Nando masuk ke dalam ruang ICU. Di depan ranjang Alexander yang kini sudah terjaga sepenuhnya, Keenan meminta Nando mengeluarkan bukti itu. "Buka sekarang. Papa juga ingin melihat siapa bajingan itu." ​Nando melirik Alexander, yang memberikan anggukan lemah tanda setuju. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena kelelahan, Nando membuka laptopnya dan memutar sebuah rekaman video hitam putih dari sudut yang sangat tersembunyi, kamera yang bahkan tidak diketahui oleh tim keamanan gedung. ​Dalam rekaman itu, terlihat suasana ruang kerja Alexander yan

  • Dirty Office   Bab 505 Nando Musuh Dalam Selimut..

    ​Keenan membeku. "Nando? Kenapa dengan dia?" ​Aruna baru saja akan mengeluarkan foto itu dari sakunya, namun suara dokter kembali menginterupsi, meminta mereka memberikan ruang karena Alexander harus menjalani tes motorik lanjutan. “Maaf Tuan Keenan dan Nyonya Aruna, saya akan memeriksa kondisi Pak Alexander secara berkala..” “Oh ya, silahkan dokter..” ​Keenan memberikan ruang pada dokter dan perawat untuk memeriksa Alexander, ia kemudian menarik Aruna ke sudut ruangan yang gelap, menjauh dari jangkauan pandangan perawat. Ia mengunci tubuh Aruna di antara dinding dan tubuh kekarnya, memberikan ciuman yang mendalam dan penuh tekanan di bibir istrinya, seolah ingin meyakinkan istrinya apapun yang dikatakan, semua akan baik-baik saja. . ​"Katakan padaku, Aruna," gumam Keenan di sela ciumannya yang panas. "Apa yang terjadi di mansion tadi? Ada apa dengan Nando" ​Aruna terengah-engah, tangannya menc

  • Dirty Office   Bab 504 Di Baik Pintu Kamar

    ​Aruna masih mematung di depan meja riasnya. Kenzo, yang baru saja tenang setelah menyusu, bersandar lemas di bahunya, sementara tangan kiri Aruna masih menggenggam erat amplop coklat yang baru saja ia buka. Ia menoleh ke arah Zakia, berpikir mungkin saja sahabatnya itu tahu sesuatu. ​"Zaskia!" panggil Aruna dengan suara yang ditekan, mencoba tidak mengejutkan bayinya. ​Zaskia, yang baru saja meletakkan botol susu kosong milik Kenzie di atas nakas, menoleh dengan wajah lelah yang seketika berubah waspada melihat ekspresi sahabatnya. "Ada apa, Aruna? Kenapa wajahmu seperti itu?" ​Aruna menyodorkan amplop dan isinya ke arah Zaskia. "Dari mana amplop ini berasal? Siapa yang meletakkannya di meja riasku?" ​Zaskia mengambil foto itu dengan dahi berkerut. Namun, sedetik kemudian, matanya melebar dan tangannya gemetar. "Ini... ini Nando? Dan pria ini... aku tidak mengenalnya. Aruna, aku bersumpah, aku tidak tahu ada amplop ini di

  • Dirty Office   Bab 503 Apa yang Terjadi Di Sana

    ​[Halo, Zaskia? Ada apa?] ​Di seberang telepon, suara Zaskia terdengar sangat panik dan lelah. Di belakangnya, terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang dan bersahutan. ​[A-Aruna! Syukurlah kamu angkat! Aduh, Aruna... Kenzo dan Kenzie rewel sekali!] teriak Zaskia di telepon. [Sepertinya mereka merasakannya kalau kamu tidak ada di mansion. Sejak tadi mereka tidak mau minum susu, tidak mau digendong suster, mereka terus berteriak mencari 'Mamama'!] ​Aruna seketika merasa dadanya sesak mendengar tangisan kedua buah hatinya. [Astaga... Kenzo, Kenzie…] ​[Aku sudah mencoba segala cara, Aruna! Bahkan mainan kesukaan mereka tidak mempan. Mereka mulai agak demam karena terus menangis. Kamu dimana? Bisa pulang sebentar?] tanya Zaskia penuh harap. ​Aruna menoleh ke arah Keenan yang juga bisa mendengar suara tangisan itu melalui speaker telepon. Wajah Keenan yang tadi keras karena am

  • Dirty Office   Bab 502 Boleh Saya Masuk? 

    ​Keenan berdiri mematung di koridor rumah sakit, mencerna setiap kata yang diucapkan dokter mengenai adanya residu zat kimia dalam tubuh Papanya. Rahangnya mengeras, otot-otot di lengannya mulai menegang. Ia menoleh ke arah Nando dengan tatapan tajam. ​“Nando,” suara Keenan rendah namun penuh penekanan. “Katakan padaku sekarang... Apa kamu sudah mengantongi nama pelaku? Siapa bajingan yang berani melakukan ini?” ​Nando tampak sedikit gemetar, ia segera menetralkan ekspresinya. “Belum, Keenan. Aku belum bisa memastikan siapa pelakunya. Tapi satu hal yang pasti, orang ini adalah orang dalam yang tahu rutinitas Om Alexander dengan sangat detail.” ​“Brengsek!” Keenan mendesis, tangannya mengepal kuat. “Cari tahu sekarang juga! Aku tidak peduli berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk menangkap pelakunya, lacak siapapun yang mendekati meja Papa hari ini!” ​Nando mengangguk cepat. “Aku akan segera ke kantor pusat sekarang

  • Dirty Office   Bab 501 Musuh Dalam Selimut

    ​Keenan mendekap Aruna erat, tangannya yang melingkar di pinggang istrinya itu kini bergetar karena amarah yang tertahan. Tak lama kemudian ia akhirnya melepaskan pelukannya perlahan, kini pandangannya kembali ke arah Nando. ​"Seseorang mencoba mengaksesnya file itu, Nando..." suara Keenan rendah, namun setiap kata yang keluar terdengar seperti geraman predator. "Dan kamu masih bersikeras merahasiakan isinya dariku? Di saat ada bajingan yang mencoba mencurinya di bawah hidung kita?!" ​Nando menatap layar ponselnya dengan wajah yang semakin pucat. Cahaya dari layar itu memantulkan kecemasan yang mendalam di matanya. "Keenan, tolong mengertilah. Enkripsi draf ini sangat berlapis. Akses ilegal itu baru mencapai lapisan pertama, belum menyentuh inti drafnya. Om Alexander sudah memprediksi hal ini akan terjadi." ​"Memprediksi?" Aruna menyela, matanya yang cerdas menyipit waspada. Ia menyentuh lengan Keenan, mencoba menjadi p

  • Dirty Office   Bab 136 'Hukuman' di Ruang Arsip

    ​Keenan menarik lengan Aruna dengan langkah kaki lebar, menyusuri koridor samping mansion yang remang-remang. Aruna terseok-seok mengikuti, tangannya sibuk memegang kancing kemejanya yang belum sempat dikaitkan sempurna. ​"Keenan, berhenti! Kita mau ke mana? Ini bukan jalan keluar

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Dirty Office   Bab 8 ‘Jejak' yang Disengaja

    ​Keenan terdiam sejenak. Pelukannya mengerat, bukan lagi pelukan penuh nafsu, tapi pelukan yang penuh kerinduan terpendam. Ia memutar tubuh Aruna kembali, menatap matanya dalam-dalam. ​”Karena luka beberapa tahun lalu itu terlalu dalam, Aruna,” suara Keenan melembut namun tetap berat. “Dan satu-s

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Dirty Office   Bab 299 Pengumpulan Bukti di Rumah Sakit

    ​Keenan berdiri di koridor rumah sakit dengan kemeja hitam yang masih lembap, tidak lama Nando datang membawakannya pakaian ganti untuknya. Di tangannya, Keenan memegang ponsel yang berisi bukti-bukti baru tentang upaya sabotase perusahaan dan pelecehan pada Aruna. ​"Nando, pastik

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Dirty Office   Bab 302 Pewaris Arkana

    ​Suasana mendadak hening. ​Keenan menarik napas dalam. Ia menatap Aruna sejenak, seolah meminta izin. Aruna hanya mengangguk pelan, wajahnya merona merah, perpaduan antara malu dan haru bahagia. Yosua, yang tadinya sibuk dengan ponselnya, kini ikut menoleh dengan rasa penasaran.​"Aruna tidak hanya

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status