Home / Romansa / Dirty Office / Bab 3 Aroma Kopi Rasa Cemburu?!

Share

Bab 3 Aroma Kopi Rasa Cemburu?!

Author: Cynta
last update Last Updated: 2026-01-09 10:02:37

​Aruna melangkah keluar dari ruang rapat dengan senyum kemenangan yang masih tampak jelas. Namun, pemandangan di ujung koridor menghapus senyum di bibirnya. 

Di sana, Keenan sedang berdiri tegak, berbicara dengan Siska, manajer pemasaran yang semua orang tahu sangat terobsesi untuk menjadi ‘Nyonya Arkana’.

​Siska tertawa kecil sambil menyentuh lengan jas Keenan dengan gerakan yang disengaja. Keenan tidak menepisnya, meski wajahnya tetap sedatar papan kayu.

​"Cih, dasar pria bermasalah. Masih saja tebar pesona," gumam Aruna sinis. Ia yang awalnya hendak menuju ruangan CEO sesuai perintah Keenan, tiba-tiba merasa muak. Ia memutar tumitnya 180 derajat, memilih berbelok menuju pantry di ujung koridor. 

“Aku tidak peduli dengan perintah ‘sekarang juga’, toh dia masih asyik tebar pesona. Biarkan saja dia menunggu sampai lumutan.”

​Di dalam pantry Aruna mencium aroma biji kopi yang baru digiling. Ia menghampiri mesin kopi, namun ternyata sudah ada seseorang di sana yang melihat kehadirannya.

​"Butuh bantuan, Aruna?"

​Aruna memperhatikan Nando, asisten pribadi Keenan sekaligus sahabat pria itu sejak kuliah sedang tersenyum ramah. Berbeda dengan Keenan yang kaku dan dingin, Nando selalu punya aura hangat yang menyenangkan. Ketampanannya yang santai sering kali menjadi oase bagi para staf wanita di kantor ini.

​"Oh, hai Pak Nando. Iya, aku butuh asupan kafein dosis tinggi setelah menghadapi 'naga' di ruang rapat tadi," gurau Aruna, ia tampak lebih santai mengobrol dengan pria itu.

​Nando tertawa renyah, sebuah suara yang entah kenapa terdengar sangat akrab di telinga Aruna. "Naga? Hati-hati, naga itu punya telinga di mana-mana. Tapi aku setuju, presentasimu tadi memang sedikit... Berani. Aku hampir tidak bisa menahan tawa melihat wajah Keenan yang memerah."

​Aruna ikut tertawa, merasa nyaman dengan kejujuran Nando. "Dia pantas mendapatkannya, Pak Nando. Dia terlalu menargetkanku, dia selalu menyalahkan bawahannya tapi tidak pernah sadar kesalahannya.” 

​"Yah, begitulah Keenan. Tapi dia sebenarnya sangat menghargai kinerjamu, Aruna. Apa kamu tahu?" Nando bersandar pada lemari, matanya menatap Aruna dengan binar jenaka. Mereka mulai terlibat obrolan seru, membahas proyek lama hingga hobi Nando yang baru, diselingi tawa Aruna yang lepas.

​Aruna tidak sadar bahwa di balik pintu kaca pantry yang transparan, sesosok bayangan tinggi sedang memperhatikan mereka dengan tangan mengepal.

​"Sejak kapan kantor memperbolehkan berpacaran di ruangan?”

​Suara bariton yang berat dan dingin itu menggelegar, memecah keceriaan di ruangan kecil tersebut. Aruna sangat terkejut. Tangannya yang baru saja hendak mengangkat gelas kopi panas yang penuh seketika gemetar dan..

​PRANG!

​Gelas itu terlepas dari genggamannya, pecah berkeping-keping di lantai. Cairan kopi yang mengepul panas menciprat ke mana-mana, mengenai tangan dan sedikit bagian kaki Aruna.

Aruna meringis, rasa panas yang menyengat segera menjalar di kulitnya yang putih.

​"Aruna! Kamu baik-baik saja?" Nando bergerak cepat, hendak meraih tangan Aruna yang terkena tumpahan.

​Namun, sebelum jari Nando sempat menyentuh kulit Aruna, sebuah tangan yang lebih besar dan kuat menyentak bahu Nando menjauh. Dengan gerakan yang sangat protektif sekaligus posesif, Keenan tiba-tiba menarik Aruna ke dalam dekapannya.

​"Minggir.” bentak Keenan dengan nada yang tidak bisa dibantah.

​Keenan segera menarik tangan Aruna ke bawah aliran air keran wastafel yang dingin. Aruna hanya bisa terdiam membeku, terkejut bukan karena air dinginnya, melainkan karena napas Keenan yang memburu di lehernya. 

Tubuh Keenan merapat sepenuhnya di punggung Aruna, mengurungnya di antara wastafel dan dada bidang pria itu.

​"Apa kamu bodoh? Kenapa tidak hati-hati!" desis Keenan di telinga Aruna. Suaranya terdengar marah, namun ada getaran kekhawatiran yang sangat nyata di sana.

​Tangan Keenan yang besar memegang pergelangan tangan Aruna yang mungil, membiarkan air dingin membasuh kulit yang memerah. 

Di belakang mereka, Nando berdiri terpaku, menatap punggung sahabatnya dengan pandangan penuh tanda tanya. Ia belum pernah melihat Keenan se-impulsif ini hanya karena seorang karyawan.

​Keenan seolah tidak peduli dengan kehadiran Nando. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya, membiarkan Aruna merasakan detak jantungnya yang berpacu liar.

​"Lain kali, kalau kamu ingin tertawa dengan pria lain, pastikan kamu tidak mencelakai dirimu sendiri," bisik Keenan pelan, hanya untuk didengar Aruna. Ibu jarinya mengusap lembut pergelangan tangan Aruna di bawah aliran air, sebuah sentuhan yang terasa lebih panas daripada kopi yang baru saja mengenai tangannya.

‘Apa dia kerasukan?!’ ​Aruna mendongak, matanya bertemu dengan mata kelam Keenan yang kini menatapnya dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan pertahanannya.

Di tengah aroma kopi yang tumpah dan sisa rasa perih, ada sesuatu yang jauh lebih membara mulai menjalar di antara mereka, sebuah ketegangan sensual yang membuat Aruna lupa caranya bernapas.

​"Nando, keluar. Panggil petugas kebersihan ke sini," perintah Keenan tanpa mengalihkan pandangan dari mata Aruna. "Dan kamu, Aruna... ikut aku ke ruangan sekarang. Ada 'luka' yang harus aku obati secara pribadi."

​Keenan menarik tangan Aruna yang masih basah, menggenggam jemari Aruna begitu erat, seolah jika ia melepasnya sedetik saja, wanita itu akan kembali tertawa bersama pria lain.

“Tidak perlu Pak Keenan..” Aruna melepaskan tangan Keenan dari tangannya, “Saya bisa melakukannya sendiri, luka di tangan saya tidak seberapa sakit dibandingkan luka dihati dan masa lalu saya! Permisi..” Ia melewati Keenan, pria itu hendak menghentikan Aruna tapi terlambat, wanita itu telah keluar pantry dengan langkah cepat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dirty Office   Bab 10 Sisa Gairah

    Tangan Aruna sibuk merapikan syal sutra untuk menutupi jejak kissmark di lehernya, sesekali ia melihat ke arah cermin kecil diatas meja. Aruna berusaha mengatur nafasnya, memastikan tidak ada sisa-sisa gairah yang tertinggal di wajahnya. ‘Sudah lama tidak bertemu, Keenan semakin ganas..’ batinnya. ​”Aruna?” ​Panggilan itu membuat Aruna sedikit terlonjak. Ia menoleh dan menemukan Nando berdiri di samping mejanya dengan beberapa berkas di tangannya. Asisten CEO itu menatapnya dengan dahi berkerut. ​”Astaga, Pak Nando. Kamu muncul tiba-tiba seperti penampakan. Ada apa?” Aruna berusaha tersenyum senormal mungkin. ​”Wajahmu terlihat sangat merah. Kamu yakin luka di tanganmu tadi sudah diobati dokter Andra dengan benar? Atau... Suhu ruangan di lantai ini sedang naik?” Nando bertanya dengan tatapan menyelidik, tapi tetap terdengar ramah karena senyumnya selalu mengembang di bibirnya. ​Aruna tertawa kaku, tangannya refleks meraba pipinya yang memang terasa panas. “Tangan ku sudah

  • Dirty Office   Bab 9 ‘Panasnya’ Meja CEO

    ​Aruna menatap mata Keenan tanpa rasa bersalah. “Anda yang terlalu mudah terpancing, Pak Keenan. Apa benar hanya karena saya pergi dulu, Anda sampai harus membawa alat bantu itu di saku Anda? Apa saya sehebat itu sampai merusak fungsi tubuh Anda?” bisik Aruna, sebuah senyum terukir di sudut bibirnya.. ​Wajah Keenan mengeras. Ia menarik syal yang melilit leher Aruna dengan satu hentakan kasar, memperhatikan tanda merah yang ia buat tadi. ​”Jangan pernah bertanya tentang kemampuanku kalau kamu tidak siap untuk menerima konsekuensinya, Aruna,” kata Keenan. Ia menekan tubuh Aruna lebih rapat, membiarkan Aruna merasakan ‘aset’ miliknya yang kembali dalam keadaan tegang sempurna di balik celana kainnya. “Kamu bisa merasakannya? Apa ini terasa seperti pria yang rusak fungsi tubuhnya?” ​”Kalau begitu, jelaskan padaku... Kenapa benda itu ada padamu?” Aruna menuntut, suaranya mulai bergetar karena emosi dan juga rasa penasaran. “Kenapa kamu membawa alat untuk penderita disfungsi pria kal

  • Dirty Office   Bab 8 ‘Jejak' yang Disengaja

    ​Keenan terdiam sejenak. Pelukannya mengerat, bukan lagi pelukan penuh nafsu, tapi pelukan yang penuh kerinduan terpendam. Ia memutar tubuh Aruna kembali, menatap matanya dalam-dalam. ​”Karena luka beberapa tahun lalu itu terlalu dalam, Aruna,” suara Keenan melembut namun tetap berat. “Dan satu-satunya cara untuk menyembuhkannya adalah dengan menghancurkan satu sama lain sampai tidak ada lagi yang tersisa selain kita.” “Kamu egois Pak Keenan! Kamu yang mengabaikan ku.. Tapi kenapa kamu juga yang ingin menyiksaku?!” lirih Aruna, ia menatap Keenan tajam “Kamu yang meninggalkan aku, Aruna! Jangan membalikkan fakta! Atau bibirmu sekarang sudah terlalu pandai bicara.. Biar aku menghukummu!” ​Keenan kembali mencium Aruna, kali ini dengan kelembutan yang menyakitkan. Sebuah ciuman yang membawa pesan kerinduan sekaligus janji akan penderitaan yang manis. Aruna yang awalnya menolak, tanpa sadar membalasnya, menenggelamkan dirinya dalam gairah yang menyesakkan. ​Tiba-tiba, telepon di

  • Dirty Office   Bab 7 Lihatlah Milikku ‘Berdiri’

    ​Tepat saat itu, pintu lift terbuka. Keenan keluar bersama beberapa manajer pria dan sekretarisnya. Suasana seketika hening. Aura dingin Keenan langsung membekukan keceriaan di pantry. Mata Keenan yang tajam langsung memperhatikan seisi ruangan, dan berhenti tepat pada sosok Aruna. ​Keenan menyadari apa yang dilakukan Aruna dalam sekejap. Wanita itu tidak menutupi tandanya. Aruna justru sedang memamerkan ‘hasil karyanya’ sebagai senjata untuk memicu kekacauan. ​"Semuanya kembali bekerja," suara Keenan rendah namun menggelegar. ​Para staf membubarkan diri dengan cepat, namun bisik-bisik sudah mulai terdengar samar. Keenan melangkah mendekati Aruna yang juga kembali kemejanya, sementara manajer lainnya terus berjalan menuju ruang rapat. ​"Ke ruanganku. Sekarang," desis Keenan saat ia melewati meja Aruna. ​"Maaf, Pak Keenan, saya sedang menyelesaikan revisi yang Bapak minta. Bukankah Bapak bilang harus selesai sebelum jam pulang?" jawab Aruna tanpa menatapnya, jarinya dengan lincah

  • Dirty Office   Bab 6 Jejak Tanda

    ​Tangan Keenan meraba saku blazer Aruna, tempat benda itu disimpan. Aruna mencoba menghalanginya, namun Keenan mengunci kedua tangan Aruna di atas kepala dengan satu tangan besarnya. ​"Kamu kalah, Aruna," bisik Keenan, suaranya kini lebih lembut namun tetap dominan. Ia mengambil kembali alat medisnya dari saku Aruna. "Tapi aku belum selesai membuat perhitungan denganmu." ​Keenan tidak melepaskan Aruna. Ia justru memeluk wanita itu erat-erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher Aruna, menghirup aroma vanila yang selalu menghantuinya setiap malam. Ada keheningan dramatis yang menyelimuti mereka, sebuah momen di mana kebencian beberapa tahun lalu seakan luruh karena kontak fisik yang begitu intim. ​"Kenapa kamu kembali, Aruna?" tanya Keenan pelan, ada nada emosional yang terselip di balik suara CEO yang dingin. "Kenapa kamu harus muncul lagi dan mengacaukan hidupku?" ​Aruna terdiam, merasakan detak jantung Keenan yang berpacu di dadanya. "Saya butuh pekerjaan, Pak Keenan. Hanya i

  • Dirty Office   Bab 5 Negosiasi ‘Panas’ di Ruang CEO

    ​Langkah kaki Aruna terdengar seirama dengan detak jantungnya. Ia masuk ke ruangan CEO, dan detik itu juga suara kunci elektrik berbunyi.KLIK!​Keenan berdiri membelakanginya di depan jendela kaca besar. Suasana begitu mencekam.​"Kamu terlambat dua menit, Aruna Zevania Louisa," suara Keenan memecah kesunyian, lebih dingin dari hembusan AC di ruangan itu.​"Saya sedang mengobati luka saya, Pak Keenan." balas Aruna sambil meletakkan map laporan di meja dengan suara keras.​Keenan berbalik dengan cepat. Langkahnya lebar seperti predator. Sebelum Aruna sempat menghindar, Keenan sudah berada di hadapannya, mencengkeram kedua sisi meja dan mengurung Aruna di antaranya.​"Kamu pikir saya tidak tahu?" desis Keenan. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Aruna. "Saya lihat bagaimana dia menyentuhmu. “​"Itu karena dia dokter—dan dia sopan! tidak kasar seperti bapak!" sahut Aruna dengan nada tegas.​"Sopan?" Keenan tertawa gelap. Ia meraih pinggang Aruna, menariknya kuat hingga tubuh mere

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status