LOGINAruna melangkah keluar dari ruang rapat dengan senyum kemenangan yang masih tampak jelas. Namun, pemandangan di ujung koridor menghapus senyum di bibirnya.
Di sana, Keenan sedang berdiri tegak, berbicara dengan Siska, manajer pemasaran yang semua orang tahu sangat terobsesi untuk menjadi ‘Nyonya Arkana’.
Siska tertawa kecil sambil menyentuh lengan jas Keenan dengan gerakan yang disengaja. Keenan tidak menepisnya, meski wajahnya tetap sedatar papan kayu.
"Cih, dasar pria bermasalah. Masih saja tebar pesona," gumam Aruna sinis. Ia yang awalnya hendak menuju ruangan CEO sesuai perintah Keenan, tiba-tiba merasa muak. Ia memutar tumitnya 180 derajat, memilih berbelok menuju pantry di ujung koridor.
“Aku tidak peduli dengan perintah ‘sekarang juga’, toh dia masih asyik tebar pesona. Biarkan saja dia menunggu sampai lumutan.”
Di dalam pantry Aruna mencium aroma biji kopi yang baru digiling. Ia menghampiri mesin kopi, namun ternyata sudah ada seseorang di sana yang melihat kehadirannya.
"Butuh bantuan, Aruna?"
Aruna memperhatikan Nando, asisten pribadi Keenan sekaligus sahabat pria itu sejak kuliah sedang tersenyum ramah. Berbeda dengan Keenan yang kaku dan dingin, Nando selalu punya aura hangat yang menyenangkan. Ketampanannya yang santai sering kali menjadi oase bagi para staf wanita di kantor ini.
"Oh, hai Pak Nando. Iya, aku butuh asupan kafein dosis tinggi setelah menghadapi 'naga' di ruang rapat tadi," gurau Aruna, ia tampak lebih santai mengobrol dengan pria itu.
Nando tertawa renyah, sebuah suara yang entah kenapa terdengar sangat akrab di telinga Aruna. "Naga? Hati-hati, naga itu punya telinga di mana-mana. Tapi aku setuju, presentasimu tadi memang sedikit... Berani. Aku hampir tidak bisa menahan tawa melihat wajah Keenan yang memerah."
Aruna ikut tertawa, merasa nyaman dengan kejujuran Nando. "Dia pantas mendapatkannya, Pak Nando. Dia terlalu menargetkanku, dia selalu menyalahkan bawahannya tapi tidak pernah sadar kesalahannya.”
"Yah, begitulah Keenan. Tapi dia sebenarnya sangat menghargai kinerjamu, Aruna. Apa kamu tahu?" Nando bersandar pada lemari, matanya menatap Aruna dengan binar jenaka. Mereka mulai terlibat obrolan seru, membahas proyek lama hingga hobi Nando yang baru, diselingi tawa Aruna yang lepas.
Aruna tidak sadar bahwa di balik pintu kaca pantry yang transparan, sesosok bayangan tinggi sedang memperhatikan mereka dengan tangan mengepal.
"Sejak kapan kantor memperbolehkan berpacaran di ruangan?”
Suara bariton yang berat dan dingin itu menggelegar, memecah keceriaan di ruangan kecil tersebut. Aruna sangat terkejut. Tangannya yang baru saja hendak mengangkat gelas kopi panas yang penuh seketika gemetar dan..
PRANG!
Gelas itu terlepas dari genggamannya, pecah berkeping-keping di lantai. Cairan kopi yang mengepul panas menciprat ke mana-mana, mengenai tangan dan sedikit bagian kaki Aruna.
Aruna meringis, rasa panas yang menyengat segera menjalar di kulitnya yang putih.
"Aruna! Kamu baik-baik saja?" Nando bergerak cepat, hendak meraih tangan Aruna yang terkena tumpahan.
Namun, sebelum jari Nando sempat menyentuh kulit Aruna, sebuah tangan yang lebih besar dan kuat menyentak bahu Nando menjauh. Dengan gerakan yang sangat protektif sekaligus posesif, Keenan tiba-tiba menarik Aruna ke dalam dekapannya.
"Minggir.” bentak Keenan dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Keenan segera menarik tangan Aruna ke bawah aliran air keran wastafel yang dingin. Aruna hanya bisa terdiam membeku, terkejut bukan karena air dinginnya, melainkan karena napas Keenan yang memburu di lehernya.
Tubuh Keenan merapat sepenuhnya di punggung Aruna, mengurungnya di antara wastafel dan dada bidang pria itu.
"Apa kamu bodoh? Kenapa tidak hati-hati!" desis Keenan di telinga Aruna. Suaranya terdengar marah, namun ada getaran kekhawatiran yang sangat nyata di sana.
Tangan Keenan yang besar memegang pergelangan tangan Aruna yang mungil, membiarkan air dingin membasuh kulit yang memerah.
Di belakang mereka, Nando berdiri terpaku, menatap punggung sahabatnya dengan pandangan penuh tanda tanya. Ia belum pernah melihat Keenan se-impulsif ini hanya karena seorang karyawan.
Keenan seolah tidak peduli dengan kehadiran Nando. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya, membiarkan Aruna merasakan detak jantungnya yang berpacu liar.
"Lain kali, kalau kamu ingin tertawa dengan pria lain, pastikan kamu tidak mencelakai dirimu sendiri," bisik Keenan pelan, hanya untuk didengar Aruna. Ibu jarinya mengusap lembut pergelangan tangan Aruna di bawah aliran air, sebuah sentuhan yang terasa lebih panas daripada kopi yang baru saja mengenai tangannya.
‘Apa dia kerasukan?!’ Aruna mendongak, matanya bertemu dengan mata kelam Keenan yang kini menatapnya dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan pertahanannya.
Di tengah aroma kopi yang tumpah dan sisa rasa perih, ada sesuatu yang jauh lebih membara mulai menjalar di antara mereka, sebuah ketegangan sensual yang membuat Aruna lupa caranya bernapas.
"Nando, keluar. Panggil petugas kebersihan ke sini," perintah Keenan tanpa mengalihkan pandangan dari mata Aruna. "Dan kamu, Aruna... ikut aku ke ruangan sekarang. Ada 'luka' yang harus aku obati secara pribadi."
Keenan menarik tangan Aruna yang masih basah, menggenggam jemari Aruna begitu erat, seolah jika ia melepasnya sedetik saja, wanita itu akan kembali tertawa bersama pria lain.
“Tidak perlu Pak Keenan..” Aruna melepaskan tangan Keenan dari tangannya, “Saya bisa melakukannya sendiri, luka di tangan saya tidak seberapa sakit dibandingkan luka dihati dan masa lalu saya! Permisi..” Ia melewati Keenan, pria itu hendak menghentikan Aruna tapi terlambat, wanita itu telah keluar pantry dengan langkah cepat.
Keenan menggeleng lemah. Ia mengusap kasar wajahnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih mendekap pinggang Aruna dengan posesif. "Aku tidak tahu pasti isinya, Sayang. Tapi sepertinya itu dokumen yang bisa menghancurkan jaringan bisnis gelap musuh papa kamu. Rizal tidak pernah bicara detail padaku di luar negeri, dia hanya bilang punya 'asuransi' untuk melindungimu kalau terjadi sesuatu padanya." Aruna menghela napas panjang. Ia merasa seolah seluruh energinya telah terkuras habis. "Aku ingin pulang, Keenan. Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang. Terlalu banyak masalah yang kita lalui hari ini, aku lelah..." Keenan menatap Aruna dengan tatapan penuh permohonan. "Ayo kita pulang ke penthouse. Kita selesaikan ini bersama. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian dalam kondisi seperti ini." "Tidak," tolak Aruna tegas sambil melepaskan pelukan Keenan. "Aku butuh waktu sendiri. Aku tidak ingin melihatmu, tidak ingin melihat Tante Sofia, atau siapa pun. Aku hanya ingin pul
Tangan Aruna gemetar hebat saat merasakan dinginnya logam pistol dan tajamnya mata pisau yang diserahkan Keenan ke telapak tangannya. Ia menatap benda-benda mematikan itu, lalu beralih menatap mata Keenan yang merah dan basah. Di dalam ruangan itu, Aruna merasa oksigen di sekitarnya seolah menipis. "Bunuh aku, Aruna," bisik Keenan lagi, suaranya pecah. "Kalau kematianku bisa membuatmu merasa adil atas kepergian Rizal, lakukan. Aku tidak akan melawan. Aku sudah menyiapkan semuanya agar kamu tetap aman." Aruna menatapnya dengan pandangan hancur. "Kamu pikir dengan mati, semuanya selesai? Kamu pikir rasa sakitku akan hilang kalau kamu jadi mayat di depanku?" "Aku tidak punya cara lain untuk membuktikan kalau aku sangat mencintaimu!" Keenan berteriak frustrasi. Ia menarik tangan Aruna yang memegang pisau, menempelkan ujung tajamnya tepat di atas jantungnya sendiri. "Tekan, Aruna! Tekan sedikit saja, dan semua penderitaan ini berakhir!" "Keenan, hentikan!" Aruna menarik tangan
Gedung perusahaan itu tampak gelap, hanya lantai teratas yang lampunya menyala. Aruna masuk menggunakan kartu akses pemberian Keenan. Begitu pintu lift terbuka di lantai eksekutif, ia melihat Keenan sedang duduk di lantai, bersandar pada meja kerjanya. Ada beberapa botol alkohol di sampingnya. Kemeja putihnya sudah berantakan, kancing atasnya terbuka, memperlihatkan dada bidangnya yang naik turun tidak teratur. "Kamu datang..." suara Keenan terdengar serak, ia mendongak dengan mata merah. Aruna berdiri di ambang pintu, masih dengan gaun putih yang kotor dan basah. "Aku kesini tidak untuk memaafkan mu, Keenan. Aku ke sini untuk mendengar penjelasan apalagi yang akan kamu katakan atau mungkin kebohongan mu.." Keenan berdiri dengan susah payah. Ia melangkah mendekati Aruna, setiap langkahnya terasa berat. Saat jarak mereka hanya tinggal satu jengkal, Aruna bisa mencium aroma alkohol yang kuat bercampur dengan parfum maskulin yang selalu membuatnya kehilangan kendali. "Aku tidak
Tangan Aruna menggenggam kalung berlian pemberian Sofia begitu kuat hingga permata itu seolah menusuk telapak tangannya. Ia menatap kosong ke arah aspal jalanan, tempat mobil sport hitam Keenan baru saja melesat pergi meninggalkan kepulan asap dan suara decitan ban yang menyayat hati. Kalimat terakhir Keenan terus terngiang di tengah suara petir yang menggelegar di sekitarnya. ’Aku akan membayar nyawa kakakmu dengan nyawaku kalau itu bisa membuatmu memaafkan aku…’ "Brengsek kamu, Keenan..." bisik Aruna dengan suara serak. Air matanya mengalir, menyatu dengan air hujan yang membasahi di pipinya. "Kenapa kamu harus melakukan ini padaku, Keenan?" Dada Aruna terasa sesak. Kebenaran yang dilemparkan Felicia terasa seperti belati yang tidak hanya menusuk jantungnya, tapi juga mengoyak semua kenangan manis yang baru saja ia bangun dengan Keenan. Mandi bersama yang hangat di penthouse, sentuhan posesif Keenan di ruang ganti, hingga janji-janji manis tentang masa depan, semuanya kini te
Keenan terdiam. Ia tidak menjawab. Sebaliknya, ia menarik Aruna masuk ke dalam mobil. "Kita harus ke pergi sekarang, Aruna.. Kita sudah ditunggu untuk gladi bersih untuk pernikahan. Kita akan bicara nanti, aku janji." Di dalam mobil, suasana terasa sangat dingin meski AC menyala rendah. Keenan mencoba meraih tangan Aruna, namun Aruna menariknya perlahan. Ia berpura-pura melihat keluar jendela, sementara di dalam tasnya, tangannya mencengkeram foto rumah sakit itu. Gladi bersih itu berlangsung dengan sangat khidmat, namun penuh dengan ketegangan yang tak terlihat. Alexander dan Sofia duduk di barisan depan, memperhatikan setiap langkah Keenan dan Aruna menuju altar. Saat mereka berdiri di depan altar dan diminta untuk saling berpegangan tangan dan mengucapkan sepintas janji sebagai latihan. Keenan menatap mata Aruna. "Aku, Keenan Ignazio Arkana, bersumpah untuk melindungimu, mencintaimu, dan memberikan segalanya untukmu... Bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku sendiri
Keenan tiba-tiba merasa gelisah setelah membaca kertas yang diberikan papanya. Ia mengambil ponsel untuk menghubungi Aruna. “Kenapa ponselnya mati?!” gamenya cemas. Keenan mencoba menelpon Nando dan Zaskia tapi tidak ada satupun jeng menjawab. “Sial! Kenapa ponsel mereka semua?! Tidak mungkin aku diam-diam pergi lagi ke penthouse, kan?!”gumamnya. Ia pun mengirim pesan pada Aruna. [Aruna : Sayang, apa kamu baik-baik saja? Kenapa ponselnya mati?! Hubungi aku secepatnya kalau sudah baca pesan ku.] pesan itu terkirim tapi hanya centang satu. “Hhhh.. Ini benar-benar menyiksaku!” gerutu Keenan sambil mondar mandir di samping ranjangnya. Sementara itu, setelah Alexander meninggalkan kamar Keenan dengan ancaman, ia tidak langsung tidur. Ia menuju ruang kerja pribadinya, di mana Sofia, istrinya, sudah menunggu dengan wajah pucat dan mata sembab. ”Pa, aku tidak tahan lagi," isak Sofia saat pintu tertutup. "Felicia terus menerorku. Dia meminta bagian saham lebih banyak, atau dia akan b







