LOGINTok, tok.“Mas. Bangun. Udah jam tujuh.”Juki membuka mata. Kepalanya berat. Dia baru bisa tidur jam empat, dan suara Ayu di balik pintu membuat jantungnya langsung bangun duluan.Waktu pintu dibuka, Ayu berdiri di teras dengan rambut masih basah. Di tangannya ada dua bungkus nasi uduk.“Nasi uduk Bu Imah. Semur jengkol.” Ayu mengangkat bungkusan itu. “Dulu Mas beliin ini buat orang lain. Sekarang aku yang beliin buat Mas.”Juki tersenyum. Senyumnya terasa kaku di muka sendiri.Ayu masuk tanpa menunggu disuruh dan duduk di pinggir kasur. Dia menaruh bungkusan di pangkuan, lalu memandangi jendela yang masih terbuka lebar.“Semalem aku pulang jam tiga kurang. Kawinannya kelar cepet,” katanya. “Jendela Mas kebuka lebar. Nggak dingin?”“Gerah, Yu.”“Oh.”“Kawinannya gimana?” tanya Juki cepat.“Rame. Pengantinnya nangis pas sungkeman, aku ikut nangis di belakang pelaminan.” Ayu tersenyum sedikit. “Abis itu bosnya bilang kerjaan beres, aku boleh pulang duluan.”Ayu menggeser kakinya ke bawa
Juki menarik jarinya, melepas celana sendiri dengan cepat. Dia naik ke atas Bu Hesti, menahan berat badannya dengan siku. Kepala penisnya menyentuh bibir vagina yang basah itu. Dia masuk pelan, setengah dulu, menunggu. Bu Hesti mengerang pelan, tangannya mencengkeram bahu Juki. Dia mengangkat pinggul, menelan sisanya sampai mentok.Mereka diam sebentar. Napas keduanya bersatu. Kasur berderit sekali, lalu diam.Juki mulai bergerak. Lambat. Dalam. Setiap dorongan membuat Bu Hesti mengerang di telinga kiri Juki, napasnya panas. Tangannya turun ke punggung Juki, kuku pendeknya menggores pelan. Dia tidak menutup mata. Matanya tetap terbuka, menatap wajah Juki yang dekat sekali.“Lebih… dalam,” bisiknya. “Aku mau ngerasain semua.”Juki mempercepat sedikit. Bukan cepat, tapi lebih penuh. Setiap kali dia masuk sampai mentok, Bu Hesti mengangkat pinggulnya, bertemu di tengah. Suara kulit yang basah terdengar pelan di kamar yang sepi. Liontin lebah di leher Bu Hesti berayun kecil, menyentuh dad
Juki menutup pintu di belakangnya. Tangannya ragu di grendel, lalu dia menguncinya.“Bu, kok bisa...”“Saya udah denger semua,” potong Bu Hesti. Suaranya kalem. “Dari ujung lorong, suara Darto kedengeran jelas. Sekarang gantian kamu yang dengerin saya.”Juki duduk di kursi plastik dekat pintu. Kasurnya cuma satu, dan Bu Hesti sudah duduk di sana.Dari saku jaket ojol itu, Bu Hesti mengeluarkan amplop cokelat yang sudah lecek, lalu menaruhnya di pangkuan Juki. Kop suratnya nama bank.“Rumah Pondok Indah disita tiga puluh hari lagi,” katanya. “Suratnya dateng Senin. Mas Darma nyembunyiin di laci mobil. Saya nemu waktu nyari kunci cadangan.”Juki membaca surat itu sekilas. Angkanya panjang sekali.“Silvi tahu, Bu?”“Belum. Dia lagi sibuk milih kebaya.” Bu Hesti tersenyum tipis. “Biar dia seneng dulu tiga minggu.”“Soal Bintaro, saya udah tahu sebulan.” Bu Hesti memandangi tangannya sendiri. “Anaknya perempuan. Saya liat sendiri dari taksi, di seberang rumahnya. Dia lagi disuapin di teras
Sudah tiga kali Juki mengetik jawaban buat pesan itu. Jangan, Bu. Tiga kali juga dia hapus.Jam tujuh malam, dia duduk di pinggir kasur memandangi layar HP. Pesan terakhir dari Ayu masuk jam lima sore.Ayu: Mas, aku dapet job dekor nikahan di Kemayoran. Pulang jam tiga pagi. Jangan nungguin, ya. Makan yang bener.Dari rumah depan gang, suara sinetron di TV Bu Rahmi terdengar sampai ke kamar. Kamar sebelah kosong, penghuninya pulang kampung sejak Rabu. Di ambang jendela, sel ratu itu masih hangat.‘Dua puluh empat hari lagi. Bram nunggu. Bu Hesti mau dateng. Ayu lagi kerja sampai pagi.’Tok, tok, tok.Juki tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Dia berdiri, merapikan kaus, lalu membuka pintu pelan-pelan.Yang berdiri di teras ternyata Darto.Bajunya lusuh, kemejanya kusut dan kerahnya pudar. Perut buncitnya kelihatan lebih kempis. Matanya merah, dan bau rokok kretek menempel di bajunya.“Pak Darto?”“Juk.” Suaranya serak. “Boleh saya duduk?”Juki menyodorkan kursi plastik Bu Rahmi di
Jumat jam sembilan pagi, Juki menandatangani kontrak di ruang kerja Nadia. Nadia cuma bicara dua kali. “Di sini.” Lalu, “Sama di sini.” Waktu Juki berdiri, Nadia menambahkan satu kalimat tanpa mengangkat kepala.“Teman kamu, Dinda, kirim lamaran semalam. Jam sebelas.”“Diterima, Bu?” tanya Juki.“Saya baca dulu. Sama dengan lamaran yang lain.”Jam sepuluh, notifikasi BRI masuk. Uang muka tiga puluh persen, tiga ratus enam puluh juta.Juki memandangi saldonya di parkiran hotel cukup lama. Tujuh ratus empat puluh juta lebih.Lalu dia teringat meja dapur di Pondok Indah. Sambel di ujung sendok. Suara Bu Hesti yang menyuruhnya cari lahan sendiri. Perempuan yang mau menanggung delapan puluh juta buat tukang taman yang baru dia kenal sehari.Dari Jalan Veteran dia memacu motornya ke toko perak di Blok M. Kalung perak tipis dengan liontin lebah kecil seharga enam juta dia bungkus di kotak beludru biru.‘Kasih, bilang makasih, terus pulang. Itu aja, Juk.’Jam satu siang, Juki memarkir motorny
Juki menelepon nomor itu Kamis sore, di parkiran hotel, sebelum tangannya berhenti gemetar.Nadanya cuma dua kali. Suara di seberang halus dan sabar, dan dia tidak bertanya siapa yang menelepon.“Mas Juki. Saya tunggu dari Senin,” kata Bram. “Jam tujuh, ya. Kafe di Cikini, dekat stasiun. Saya traktir.”Jam tujuh kurang sepuluh, Juki duduk di pojok kafe yang lampunya kuning redup. Dindingnya bata merah. Di setiap meja ada vas kecil berisi setangkai mawar merah.Bram datang tepat jam tujuh.Bramantyo Sasmita umurnya lima puluh empat. Badannya tinggi kurus, rambutnya perak disisir rapi ke samping. Kemejanya putih bersih, disetrika sampai kaku. Dua tangannya terbungkus sarung tangan kulit cokelat tua.Persis cerita Sandra.“Mas Juki.” Dia mengulurkan tangan kanannya yang bersarung. “Bram. Akhirnya.”Juki menyambutnya. Begitu kulit sarung tangan itu menyentuh telapaknya, panas langsung naik. Panas yang menyengat, disusul rasa pahit sampai ke pangkal lidah.Sama dengan racun di pot philoden







