Senin malam, Juki mengetuk pintu rumah ibu kosnya.Bu Rahmi, enam puluhan, membuka pintu dengan daster dan rol rambut. Matanya langsung menyipit. Dua bulan ini, setiap kali Juki mengetuk, ujung-ujungnya minta diundur.“Kalau mau minta mundur lagi, Juk...”“Nggak, Bu. Saya mau bayar.”Juki menyodorkan amplop. Isinya tunggakan dua bulan plus enam bulan ke depan, dari uang tunai Sandra.Bu Rahmi menghitungnya dua kali. Lalu menatap Juki. Lalu menghitung sekali lagi.“Kamu menang undian, Juk?”“Lagi ada rezeki aja, Bu. Tanaman laku.”Bu Rahmi masih curiga, tapi amplop itu tetap masuk ke kantong dasternya. Dia tersenyum. Senyum pertamanya buat Juki dalam dua bulan.*****Di kamar, Juki menelepon emak.“Mak, Juki transfer sepuluh juta ya. Besok cek rekening Mbak Narti sebelah.”Di seberang sana, hening lama.“Le, iki duit apa? Kowe ora nyolong to?”“Mboten, Mak. Tanaman Juki payu,” jawab Juki cepat.Emak diam lagi, lalu suaranya pecah. “Dadi Emak ora usah ning sawahe wong maneh, Le?”Juki t
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-10-25 อ่านเพิ่มเติม