Home / Urban / Disengat Lebah / BAB 26 Gelang Baru

Share

BAB 26 Gelang Baru

Author: MasBrey
last update publish date: 2026-11-03 13:08:25

“Sepuluh menit, Yu. Aku mandi dulu.”

“Lima.” Ayu duduk di kursi plastik depan kamar dan melipat tangan. “Aku itung dari sekarang.”

Juki mandi paling cepat seumur hidupnya. Kemeja kotak-kotak biru yang paling bagus dia tarik dari gantungan. Masih bau lemari. Sebelum keluar, matanya sempat melirik kolong kasur. Kaleng Bu Ratna diam di sana. Di ambang jendela, sel ratu itu masih hangat waktu dia sentuh sekali lagi.

‘Nanti, Juk. Malam ini punya Ayu.’

Dia menghitung lima juta dari amplop di laci, me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Disengat Lebah   BAB 40

    Nadia yang bergerak paling cepat. Dia turun dari sisi panggung, berdiri di depan laki-laki bertopi itu, dan bicara tanpa menaikkan suara.“Silakan lanjut di lobi, Pak. Ini acara orang.”Dua satpam menggiring mereka keluar. Pak Darma bangkit dari mejanya dan menyusul dengan muka merah padam. Separuh tamu ikut berdiri dan pura-pura mau ke toilet.Di lobi, di bawah lampu kristal, laki-laki bertopi itu tidak mau dipelankan suaranya. Namanya Pak Joni, lima puluh tahun, rentenir dari Tangerang. Topinya dia lepas, kepalanya botak licin.“Tujuh ratus juta, Pak Darma! Bunga jalan terus!” Suaranya terdengar sampai meja valet di luar pintu kaca. “Bapak bilang rumah Pondok Indah jaminannya. Rumahnya udah mau disita bank! Saya dapet apa?”“Pak Joni, kita omongin besok...” Pak Darma meraih lengannya.“Besok Bapak ngilang lagi! Saya udah sabar tiga bulan!”Salah satu laki-laki besar di belakangnya meretakkan buku-buku jarinya. Bunyinya terdengar sampai meja resepsionis.Tamu-tamu yang sedang menungg

  • Disengat Lebah   BAb 39

    Tiga minggu lewat dengan cepat.Beringin di taman dalam Hotel Hartono sekarang hijau rapat, akar-akarnya duduk di atas kerikil. Kontrak lima hotel jalan, dan Juki keliling tiap hari bersama dua tukang baru. Sisa uang lahan Darto sudah lunas, sertifikatnya sudah atas nama Marjuki. Asep mulai mendirikan rangka besi greenhouse di Parung sambil membentak tukang pakai bahasa Sunda. Ayu membuka florist sendiri di kios ujung lorong, dengan pinjaman dua puluh juta dan surat utang yang dia tulis tangan. Pak Yoga ditetapkan jadi tersangka setelah dua staf lain ikut melapor. Dinda diterima jadi staf marketing hotel lewat lamarannya sendiri. Tante Melinda belanja tanaman tiap minggu lewat Sandra. Saldo Juki sekitar enam ratus juta.Dari Bram, tidak ada kabar lagi sejak kotak hitam itu. Juki memasang teralis di jendela dan gembok baru di pintu. Sel ratu di ambang jendela tinggal dua hari lagi menetas.Rumah Pondok Indah disita minggu depan. Malam ini, anak pemilik rumah itu bertunangan.Ballroom H

  • Disengat Lebah   BAB 38

    Tok, tok.“Mas. Bangun. Udah jam tujuh.”Juki membuka mata. Kepalanya berat. Dia baru bisa tidur jam empat, dan suara Ayu di balik pintu membuat jantungnya langsung bangun duluan.Waktu pintu dibuka, Ayu berdiri di teras dengan rambut masih basah. Di tangannya ada dua bungkus nasi uduk.“Nasi uduk Bu Imah. Semur jengkol.” Ayu mengangkat bungkusan itu. “Dulu Mas beliin ini buat orang lain. Sekarang aku yang beliin buat Mas.”Juki tersenyum. Senyumnya terasa kaku di muka sendiri.Ayu masuk tanpa menunggu disuruh dan duduk di pinggir kasur. Dia menaruh bungkusan di pangkuan, lalu memandangi jendela yang masih terbuka lebar.“Semalem aku pulang jam tiga kurang. Kawinannya kelar cepet,” katanya. “Jendela Mas kebuka lebar. Nggak dingin?”“Gerah, Yu.”“Oh.”“Kawinannya gimana?” tanya Juki cepat.“Rame. Pengantinnya nangis pas sungkeman, aku ikut nangis di belakang pelaminan.” Ayu tersenyum sedikit. “Abis itu bosnya bilang kerjaan beres, aku boleh pulang duluan.”Ayu menggeser kakinya ke bawa

  • Disengat Lebah   BAB 37

    Juki menarik jarinya, melepas celana sendiri dengan cepat. Dia naik ke atas Bu Hesti, menahan berat badannya dengan siku. Kepala penisnya menyentuh bibir vagina yang basah itu. Dia masuk pelan, setengah dulu, menunggu. Bu Hesti mengerang pelan, tangannya mencengkeram bahu Juki. Dia mengangkat pinggul, menelan sisanya sampai mentok.Mereka diam sebentar. Napas keduanya bersatu. Kasur berderit sekali, lalu diam.Juki mulai bergerak. Lambat. Dalam. Setiap dorongan membuat Bu Hesti mengerang di telinga kiri Juki, napasnya panas. Tangannya turun ke punggung Juki, kuku pendeknya menggores pelan. Dia tidak menutup mata. Matanya tetap terbuka, menatap wajah Juki yang dekat sekali.“Lebih… dalam,” bisiknya. “Aku mau ngerasain semua.”Juki mempercepat sedikit. Bukan cepat, tapi lebih penuh. Setiap kali dia masuk sampai mentok, Bu Hesti mengangkat pinggulnya, bertemu di tengah. Suara kulit yang basah terdengar pelan di kamar yang sepi. Liontin lebah di leher Bu Hesti berayun kecil, menyentuh dad

  • Disengat Lebah   BAB 36

    Juki menutup pintu di belakangnya. Tangannya ragu di grendel, lalu dia menguncinya.“Bu, kok bisa...”“Saya udah denger semua,” potong Bu Hesti. Suaranya kalem. “Dari ujung lorong, suara Darto kedengeran jelas. Sekarang gantian kamu yang dengerin saya.”Juki duduk di kursi plastik dekat pintu. Kasurnya cuma satu, dan Bu Hesti sudah duduk di sana.Dari saku jaket ojol itu, Bu Hesti mengeluarkan amplop cokelat yang sudah lecek, lalu menaruhnya di pangkuan Juki. Kop suratnya nama bank.“Rumah Pondok Indah disita tiga puluh hari lagi,” katanya. “Suratnya dateng Senin. Mas Darma nyembunyiin di laci mobil. Saya nemu waktu nyari kunci cadangan.”Juki membaca surat itu sekilas. Angkanya panjang sekali.“Silvi tahu, Bu?”“Belum. Dia lagi sibuk milih kebaya.” Bu Hesti tersenyum tipis. “Biar dia seneng dulu tiga minggu.”“Soal Bintaro, saya udah tahu sebulan.” Bu Hesti memandangi tangannya sendiri. “Anaknya perempuan. Saya liat sendiri dari taksi, di seberang rumahnya. Dia lagi disuapin di teras

  • Disengat Lebah   BAB 35: Darto Ngetuk Pintu

    Sudah tiga kali Juki mengetik jawaban buat pesan itu. Jangan, Bu. Tiga kali juga dia hapus.Jam tujuh malam, dia duduk di pinggir kasur memandangi layar HP. Pesan terakhir dari Ayu masuk jam lima sore.Ayu: Mas, aku dapet job dekor nikahan di Kemayoran. Pulang jam tiga pagi. Jangan nungguin, ya. Makan yang bener.Dari rumah depan gang, suara sinetron di TV Bu Rahmi terdengar sampai ke kamar. Kamar sebelah kosong, penghuninya pulang kampung sejak Rabu. Di ambang jendela, sel ratu itu masih hangat.‘Dua puluh empat hari lagi. Bram nunggu. Bu Hesti mau dateng. Ayu lagi kerja sampai pagi.’Tok, tok, tok.Juki tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Dia berdiri, merapikan kaus, lalu membuka pintu pelan-pelan.Yang berdiri di teras ternyata Darto.Bajunya lusuh, kemejanya kusut dan kerahnya pudar. Perut buncitnya kelihatan lebih kempis. Matanya merah, dan bau rokok kretek menempel di bajunya.“Pak Darto?”“Juk.” Suaranya serak. “Boleh saya duduk?”Juki menyodorkan kursi plastik Bu Rahmi di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status