Se connecterHaiii... Selamat datang di buku kedua aku. Semoga suka yaaaw... jangan lupa tinggalkan komen dan like nya biar aku semangat update! Terima kasih Pembacaku yang baik hati dan budiman 🫶🫶
Setelah panggilan telepon dari Arjuna selesai, Marilyn masuk ke dalam ruang kerja Sinta sembari membawa sebuah flashdisk."Nona, meskipun kita berhasil mendapatkan rekaman suara Nona Renata, tapi untuk kembali membuka kasus kematian Ibu Anda yang sudah berlalu lebih dari 10 tahun lalu, sepertinya akan sulit. Kecuali, kita bisa mengumpulkan bukti-bukti lainnya."Sinta mengangguk. Tentu saja ia tahu akan hal itu.Itu sebabnya ia sudah memiliki rencana lain."Aku sudah punya rencana sendiri, Kak Marilyn. Keluarga Jayadi sedang terpuruk. Meskipun mereka tampak kompak di permukaan, itu hanya karena mereka sama-sama memusuhiku. Sedangkan di dalamnya...""Mereka saling menyalahkan.""Tepat sekali. Kita cukup memasang umpan untuk beberapa anggota keluarga mereka. Setelah memakan umpan itu, mereka akan saling menyerang satu sama lain."Marilyn tersenyum tipis. Dia dengan cepat memahami maksud Sinta."Kalau begitu, kita mulai dari siapa, Nona...?"Sinta menatap foto sang ibu, Utari Saraswati, y
Keheningan seketika menyelimuti ruang kerja Sinta, menyisakan suara napas Renata yang memburu ketakutan.Sinta mematung di tempatnya. Kata-kata Renata barusan seperti petir di siang bolong yang menghantam ulu hatinya.Melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan pada ibumu...Cengkeraman tangan Sinta pada rambut Renata perlahan melonggar. Matanya yang tajam menatap lurus pada wajah Renata yang kini dipenuhi kebasahan air mata dan noda darah."Apa maksudmu?" suara Sinta terdengar begitu dingin, menusuk hingga ke tulang. "Apa yang mama dan papamu lakukan pada ibuku dulu?"Renata terbatuk-batuk, menghirup udara sebanyak-banyaknya seolah baru saja lolos dari cengkeraman maut. "A-aku tidak tahu! Aku bersumpah aku tidak tahu detailnya!" jerit Renata dengan suara serak. "Aku cuma tidak sengaja mendengar Mama bicara di telepon kemarin! Mama bilang... Mama bisa membuatmu mengalami kecelakaan seperti Utari dulu, karena tidak mau menyerahkan sahamnya pada keluarga kami."Marilyn yang dudu
Malam itu, Sinta menginap di rumah sakit, sementara Arjuna terpaksa harus pulang karena esok harinya masih ada pertemuan di Bandung. Sementara Sinta masih bisa dibackup oleh sekretarisnya, Marilyn. Malam itu, di tengah tidurnya, Sinta tiba-tiba bermimpi. Ia seolah kembali ke masa-masa kecilnya. Dalam mimpinya itu, ia melihat sang ibu, Utari Saraswati, tengah bersama dengan seorang anak laki-laki. Sekujur tubuh anak itu penuh dengan luka lebam. Sinta merasa sangat kasihan dan menghampiri ibunya. "Ma, dia siapa?" "Mama juga tidak tahu. Anak ini sudah beberapa hari ini selalu ada di taman. Kasihan, sepertinya dia dianiaya oleh orang tuanya." "Halo..." Sinta kecil melambaikan tangannya, namun anak itu malah tampak ketakutan. Sinta kecil kemudian merogoh kantong celananya yang bermotif kelinci berwarna merah muda, lalu mengeluarkan beberapa bungkus cokelat bulat dengan kemasan warna-warni. "Ambillah, kata Papa makan cokelat bisa membuat hati yang sedih jadi senang." An
Sinta punya alasan sendiri kenapa ia mencurigai sang ayah. Kejadian di acara lamaran kemarin pasti membuat Krisna, Ambar, serta Renata sangat murka. Mereka adalah orang yang tinggi hati dan menomorsatukan kehormatan keluarga. Meskipun mereka pada akhirnya pergi saat itu, namun alasannya hanyalah karena mereka tidak berani pada Tuan Prabu. Setelah itu, mereka pasti akan melakukan banyak cara untuk membalas dendam. Dan sasaran yang paling empuk adalah neneknya. Nenek Gayatri hidup sendiri. Meskipun bibinya akan datang ke rumah Nenek setiap hari, tapi di waktu-waktu tertentu, bibinya juga sibuk membuat kue untuk dititipkan di toko-toko terdekat di wilayah itu, dan biasanya baru ada waktu senggang menjelang jam makan siang. Selama kurun waktu itu, neneknya hanya sendirian di rumah. Sepertinya, Krisna juga takut kalau kediaman neneknya dijaga oleh orang-orang dari Pandawa Group. Itu sebabnya Sinta mencurigai bahwa Krisna menyerang neneknya melalui sambungan telepon. Tapi biasanya, ne
Abimanyu terdiam mendengar ucapan Arjuna. Pria itu sepertinya masih syok dengan semua pernyataan Arjuna. Sebelum pergi, pemuda itu kembali berkata, "Aku mencintai Sinta lebih dulu darimu, Bima. Aku sudah mau mengalah karena dia sangat mencintaimu, tapi kamu malah menyakiti dan menyia-nyiakannya." Arjuna tersenyum sinis, kemudian melanjutkan, "Tapi aku harus berterima kasih atas itu, karena aku jadi punya kesempatan untuk memilikinya." Nyonya Anjani tidak tahu apa yang telah Arjuna katakan. Namun setelahnya, Abimanyu mengusirnya pergi dan berkata bahwa dia butuh waktu untuk menenangkan diri. Setelah dari rumah sakit, Arjuna datang ke Saraswati Corp. Kebetulan, Sinta masih ada rapat saat itu, jadi Arjuna menunggu di ruang kerja Sinta. Wajahnya tampak gelisah. Ia ingin menceritakan segalanya pada Sinta tentang semua yang terjadi di masa lalu. Namun, Arjuna merasa takut. Takut kalau Sinta akan marah dan salah paham, kemudian membencinya. Ceklek. Suara pintu ruang kerja Sinta terbuk
Sinta mencoba memanggil Abimanyu, "Mas Bima...? Mas?" Namun Abimanyu tetap tidak bergerak. Sinta menekan bibirnya ke dalam, kemudian mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening pria itu. Panas. Tidak, suhu tubuhnya terlalu panas. Sinta menoleh ke sekelilingnya. Ia ingin meminta tolong pada tetangganya, namun rasa malu mencegahnya. Sinta ingin menghubungi Arjuna, tapi tunangannya itu ada pekerjaan penting pagi ini ke Bandung dan Sinta tidak ingin mengganggunya. Akhirnya, Sinta menelepon Lula dan menceritakan semuanya. Sambil menunggu Lula, Sinta memperhatikan Abimanyu yang benar-benar tidak bergerak, sedikit pun. Detik demi detik terasa begitu lama. Sinta takut Abimanyu meninggal di depan apartemennya dan ia akan dijadikan tersangka. "Lula, cepatlah." Untungnya, jarak apartemen Lula dengan Sinta hanya sekitar 1 km, jadi tidak sampai 20 menit Lula sudah sampai. Begitu pintu lift berdenting, Sinta mendongakkan kepalanya. "Sin!" "Lula!" Begitu melihat Abimanyu te







