Share

Pemberian Bas

last update Last Updated: 2025-12-24 09:52:30

"Aku serius, Bas!" Kutatap Bas dengan tajam. Namun, pemuda itu malah tertawa renyah tanpa beban.

"Bas!" geramku.

"Iya, iya. Mereka sudah kuusir dari sini, kamu tenang saja."

Akhirnya aku bisa bernapas lega. Semoga dua orang itu tak akan kembali lagi ke sini. Biarlah Aiza aku yang urus sendiri. Bukankah sejak dulu juga begitu?

"Ya sudah, kita temui Aiz sekarang," ajak Bas. Tangannya dengan tak sopan menggenggam tanganku. Namun, segera kutepis dan berjalan lebih dulu.

Begitu masuk ke dalam ruangan, kulihat Aiza yang tengah bercerita seru dengan Devin. Ternyata bocah itu sudah kembali bersama Mas Bakri.

"Maaf, Mas, tadi saya harus usir Mas Bakri dari sini," ucapku merasa tak enak.

"Nggak apa-apa, Yun. Tapi, kami nggak bisa lama-lama, ada acara keluarga," sahut Mas Bakri sekaligus memberitahu.

"Iya, Yun. Kamu nggak apa-apa jaga Aiz sendiri? Apa mau aku temani saja di sini?" Desi bertanya sembari bangkit dari duduknya dan mendekat padaku.

"Ih, nggak apa-apa, Des. Kamu pulang saja, aku bis
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Status Baru

    Jantungku berdegup kencang hanya karena menunggu jawaban Bas. Keringat dingin mulai keluar dari tangan yang saling meremas. Sedang pemuda yang kutunggu untuk mengucapkan kata malah diam seribu bahasa."Bas—""Ya, aku datang."Seutas senyum kuterbitkan meski Bas menjawab dengan nada yang sangat datar. "Makasih," ucapku yang hanya diangguki olehnya.Tanpa berkata apa pun, Bas langsung melanjutkan langkahnya dan membuka kunci pintu. Kemudian, pemuda itu menghilang ditelan pintu kamar.Huft!Kutarik napas ini dalam-dalam sembari mendudukkan tubuh pada kursi kayu di depan kamar. Sungguh, aku sangat tak nyaman dengan perubahan sikap Bas. Apa yang harus kulakukan agar dia bisa seperti semula?Memang awalnya aku tak peduli akan hal ini. Mau Bas secuek apa pun, aku tak akan melarang. Namun, setelah kuresapi hari-hari yang sepi tanpa senyum dan candaannya, aku mulai sadar jika peran Bas sangat besar untuk mengisi kekosongan.Ya, kukira dulu aku hanya nyaman karena dia sering memberi bantuan hin

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Mau Datang?

    Tok, tok, tok!"Bas!"Sudah berapa kali aku memanggil sambil mengetuk pintu. Namun, pemuda itu tak kunjung muncul. Dari sejak keluar dari rumah Desi, Bas tak menampakkan batang hidungnya sama sekali."Bas!"Kupanggil pemuda itu sekali lagi. Namun, hasilnya tetap sama. Tak ada jawaban dari dalam kamar. Entah Bas sedang apa di dalam.Aku menunduk, menatap sepiring nasi goreng di tangan yang kubuat untuk Bas. Ya, aku sampai rela mengenyampingkan rasa malu saat meminjam dapur Desi demi membuat nasi goreng spesial ini. Namun, sayang. Sepertinya makanan ini tak akan sampai pada mulut Bas.Keputusasaan sudah kugenggam. Dengan perlahan aku memutar tubuh untuk membawa nasi goreng ini ke kamar. Biarlah nanti aku makan daripada terbuang. Namun, baru saja satu langkah, telingaku mendengar suara pintu yang dibuka. Sontak saja aku kembali memutar badan hingga terlihat sosok pemuda tampan di ambang pintu kamar."Apa?" tanyanya dengan raut yang biasa, sangat datar.Seketika aku merasa canggung karena

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Kembali

    Hari berlalu tanpa ada hambatan setelah semua masalah di Kota S selesai. Kini aku, Aiza dan Bas sudah kembali ke kota asal. Namun, ketika tiba di kontrakan Desi, malah terlihat pemandangan yang tak mengenakkan. Di depan sana, ibu mertua tengah duduk di kursi kayu. Sepertinya dia sedang menungguku. Tapi, untuk apa? "Mau aku yang temui?" tawar Bas sambil menatapku.Aku menggeleng. "Aku saja," putusku. Bas sama sekali tak ada hubungannya dengan masalah keluargaku. Karena itulah biar aku sendiri yang menghadapi.Gegas aku keluar dari mobil Bas lebih dulu bersama Aiza, lalu berjalan menghampiri ibu mertua yang langsung berdiri saat melihat kedatangan kami.Sekalipun ada rasa benci di hati, aku tetap memperlakukan wanita tua ini dengan baik. Kuambil tangannya untuk disalami. Tak lupa meminta Aiza untuk menyalami juga."Ibu mau bicara, Yun."Suara mertuaku terdengar lembut, tak seperti biasa. Sontak saja hatiku bertanya-tanya, ada apa?"Ya sudah, kita bicara di dalam, Bu," ajakku. Tak enak

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Kamu Marah?

    Niat hati pergi ke Kota S hanya untuk menjemput Aiza, nyatanya aku dan Bas harus tertahan lebih lama karena masalah baru yang menimpa. Ya, tentang laki-laki bernama Jambul yang sudah mengeksploitasi anak-anak jalanan. Bas tak terima dengan perlakuan pria biadab itu. Apalagi, hingga melibatkan Aiza. Karena itulah dia memilih untuk menunggu kasus ini selesai, baru pulang.Meski rasanya aku sudah ingin kembali, tapi tetap kutahan demi menghargai Bas. Sekali lagi, dia sudah sangat baik padaku juga Aiza. Maka dari itu aku tak mau membuatnya kecewa.Kini aku, Bas, Aiza juga Adi tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Kota S. Bas sengaja mengajak Aiza dan Adi ke sini agar mereka lupa pada hari-hari kelam sebelumnya.Sementara Aiza dan Adi bermain di timezone, aku dan Bas memilih menunggu di kursi panjang yang ada di sana. "Bas," panggilku tanpa mau menoleh pada pemuda itu. Tatapanku masih tertuju ke depan sana, pada Aiza dan Adi yang tengah bermain mandi bola."Kenapa?""Mak

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Menemukanmu

    "Aiz!" Aku berteriak kencang hingga beberapa orang di sekitar menatap dengan heran. Namun, aku tak peduli. Aku ingin Aiza melihat jika mamanya ada di sini."Ayo, kita ke sana!" Bas menarik tanganku untuk menyeberang jalan raya yang cukup ramai. Beberapa kendaraan sampai membunyikan klakson karena Bas nekat menerobos."Mama! Om Bas!"Ya, itu putriku. Aiza ada di depan sana, tapi aku sampai hampir tak mengenalinya. Bagiamana tidak? Pakaian yang dikenakan putriku sungguh lusuh dan tak layak pakai. Rambut panjang yang selalu kurawat dengan baik itu terlihat kusut. Wajah manisnya pun sangat berdebu hingga berwarna gelap."Aiz ...."Bruk!Kujatuhkan kedua lutut ini ke bawah. Tubuhku langsung lemas ketika mendapati Aiza benar-benar ada di depan mata."Mama!" Aiza berteriak dengan seutas senyuman di wajahnya. Kedua tangan putriku itu terbuka seolah siap masuk ke dalam pelukan. Namun, saat hendak melangkah, seorang remaja laki-laki yang merupakan pengamen itu malah menarik tangan Aiza."Jangan

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Rindu Aiza

    Hari berlalu begitu cepat. Namun, satu petunjuk pun tentang keberadaan Aiza belum kudapatkan. Entah di mana putriku sekarang. Banyak tempat yang sudah aku dan Bas kunjungi, tapi tetap tak ada yang pernah melihat Aiza. Para anggota kepolisian pun belum memberi kabar apa-apa, membuatku semakin frustasi saja.Kupeluk kedua lutut ini di pojok kamar kecil yang sengaja Bas sewa untuk aku tempati. Sedangkan dia berada di kamar lain. Beginilah kegiatanku beberapa hari ini setelah berusaha mencari Aiza."Mama kangen, Sayang ...."Kutatap gambar cantik Aiza yang terdapat di layar ponsel. Terhitung sudah satu minggu aku tidak melihatnya, dan itu sangat menyiksa. Setiap pagi, siang, sore hingga malam aku tak pernah tenang. Pikiranku selalu terpaut pada Aiza. Di mana dia? Sudah makan belum? Apa dia kedinginan? Apa dia menangis? Semua kecemasan itu terus menghantuiku tanpa mau pergi. Beruntung ada Bas yang selalu setia menemani.Tok, tok, tok!"Buka pintunya, Mbak!"Aku sedikit terhenyak saat mende

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status