Share

Kembali

last update Last Updated: 2025-12-31 22:39:16

Hari berlalu tanpa ada hambatan setelah semua masalah di Kota S selesai. Kini aku, Aiza dan Bas sudah kembali ke kota asal. Namun, ketika tiba di kontrakan Desi, malah terlihat pemandangan yang tak mengenakkan.

Di depan sana, ibu mertua tengah duduk di kursi kayu. Sepertinya dia sedang menungguku. Tapi, untuk apa?

"Mau aku yang temui?" tawar Bas sambil menatapku.

Aku menggeleng. "Aku saja," putusku. Bas sama sekali tak ada hubungannya dengan masalah keluargaku. Karena itulah biar aku sendiri yang menghadapi.

Gegas aku keluar dari mobil Bas lebih dulu bersama Aiza, lalu berjalan menghampiri ibu mertua yang langsung berdiri saat melihat kedatangan kami.

Sekalipun ada rasa benci di hati, aku tetap memperlakukan wanita tua ini dengan baik. Kuambil tangannya untuk disalami. Tak lupa meminta Aiza untuk menyalami juga.

"Ibu mau bicara, Yun."

Suara mertuaku terdengar lembut, tak seperti biasa. Sontak saja hatiku bertanya-tanya, ada apa?

"Ya sudah, kita bicara di dalam, Bu," ajakku. Tak enak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Rencana Baru

    Pria tua baik hati bernama Pak Anwar itu ternyata tak main-main. Dia sungguh membeli rumahku dan Mas Bagus tanpa ba bi bu. Bahkan, kini uang yang Pak Anwar berikan lewat cek tengah Mas Bagus urus di bank. Rumah kami pun sekarang sudah resmi berpindah tangan.Huft!Tak apa. Semoga ini menjadi awal kehidupan baru yang akan lebih baik ke depannya. Aku sangat yakin, dengan uang hasil penjualan rumah ini, bisa kubelikan tempat tinggal baru yang lebih kecil. Aku sudah tak mau tinggal di kos Desi. Semua sudah kupertimbangkan dengan matang. Aku tak ingin merepotkan siapa pun lagi. Terlebih, Desi dan Mas Bakri yang selalu berbaik hati. Harapanku, semoga cara ini juga bisa membuat kenangan tentang Bas perlahan memudar.Ya, aku tak sanggup jika harus dibayangi kenangan pemuda itu setiap waktu, seumur hidupku. Sungguh, aku tidak sekuat itu."Sudah, Yun. Coba cek rekeningmu."Aku terhenyak kala mendengar suara Mas Bagus. Ternyata dia sudah selesai mengurus uang itu. Gegas aku berdiri sambil menga

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Kabar Baik

    "Yun!"Aku memutar kepala saat mendengar sebuah suara. Terlihat Mas Bagus yang tengah menghampiri. Mantan suamiku itu sudah mengenakan kemeja rapi."Ada apa, Mas?" tanyaku. Tumben sekali dia datang ke sekolah Aiza masih pagi. Biasanya kalau pun akan menjemput, pasti muncul beberapa menit sebelum putriku keluar dari kelas."Aku ada perlu," jawabnya. Laki-laki yang merupakan papa kandung Aiza itu mengambil duduk di sebelahku. "Jadi, aku mau ketemuan sama orang yang mau beli rumah kita. Kalau dia jadi beli, sih."Mulutku langsung menganga tak percaya pada apa yang baru saja Mas Bagus sampaikan. "Kamu serius, Mas?" Sudah beberapa bulan aku dan Mas Bagus memasang iklan agar rumah lama kami terjual, tapi belum ada satu pun yang berminat. Karena itulah, aku cukup terkejut saat dia membawa kabar baik ini tiba-tiba.Laki-laki yang mengenakan kemeja biru itu mengangguk sambil menatapku. "Serius, Yun. Kita sudah janji ketemu jam 10. Habis Aiza keluar, kita ke sana sama-sama, ya?"Tentu saja aku

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Waktunya

    Dulu sering kudengar jika di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dan itu terjadi padaku sekarang. Tak menunggu esok hari, Bas benar-benar pergi dari kos Desi malam ini. Barang-barang miliknya sudah dimasukkan ke dalam mobil, siap untuk dibawa pergi oleh sang pemilik.Dari balik jendela kamar, aku hanya bisa menyaksikan Bas yang tengah menenangkan Aiza. Sejak tadi putriku itu langsung menangis saat tahu Bas akan pergi, menambah perih hati ini. Aiza terlihat terpukul sekali melebihi saat dia harus meninggalkan papa kandungnya sendiri."Nggak mau! Om Bas nggak boleh pergi!" Teriakannya masih terdengar nyaring diiringi suara tangis. Tangan kecilnya memukul-mukul dada bidang Bas dengan sekuat tenaga. Sedang, pemuda itu dengan sabar memberi pelukan juga usapan."Nanti kita tetap ketemu, kok. Om Bas bisa video call sama Aiz. Ya?""Enggak! Aiz nggak mau!" teriak putriku. "Nanti nggak ada yang antar Aiz sekolah! Aiz juga mau diantar jemput sama Papa seperti teman-teman!"Perih? Sangat! Apa

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Keputusan Bas

    Sebuah taman yang berada di tengah kota menjadi pilihan Bas sebagai tempat untuk kami berbicara. Entahlah, dia akan membicarakan apa. Hanya saja, dari raut wajah yang diperlihatkan sejak tadi, aku yakin jika Bas akan membicarakan hal yang serius kali ini.Sejak beberapa menit lalu kami sudah duduk berdampingan pada kursi taman. Namun, belum ada satu patah kata pun yang diucapkan. Baik aku atau pun Bas sama-sama betah dalam kebisuan."Aku mau pindah, Mbak."Degh!Aku terdiam sambil menatap Bas dengan kening yang berkerut. "Maksudnya?" tanyaku tak mengerti. Tatapan Bas yang semula lurus ke depan, kini beralih padaku. "Aku nggak tinggal di kos Mbak Desi lagi," jelasnya yang membuatku cukup terkejut.Kenapa tiba-tiba dia pindah? Bukankah dulu dia sendiri yang bilang senang tinggal di kos Desi? Aku belum merespon apa pun. Mata ini hanya bisa menatap Bas tanpa kata sambil merasakan sesak yang mulai menghantam dada. Jika Bas tak ada, bukankah hari-hari semakin tak berwarna? Lantas, dengan

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Status Baru

    Jantungku berdegup kencang hanya karena menunggu jawaban Bas. Keringat dingin mulai keluar dari tangan yang saling meremas. Sedang pemuda yang kutunggu untuk mengucapkan kata malah diam seribu bahasa."Bas—""Ya, aku datang."Seutas senyum kuterbitkan meski Bas menjawab dengan nada yang sangat datar. "Makasih," ucapku yang hanya diangguki olehnya.Tanpa berkata apa pun, Bas langsung melanjutkan langkahnya dan membuka kunci pintu. Kemudian, pemuda itu menghilang ditelan pintu kamar.Huft!Kutarik napas ini dalam-dalam sembari mendudukkan tubuh pada kursi kayu di depan kamar. Sungguh, aku sangat tak nyaman dengan perubahan sikap Bas. Apa yang harus kulakukan agar dia bisa seperti semula?Memang awalnya aku tak peduli akan hal ini. Mau Bas secuek apa pun, aku tak akan melarang. Namun, setelah kuresapi hari-hari yang sepi tanpa senyum dan candaannya, aku mulai sadar jika peran Bas sangat besar untuk mengisi kekosongan.Ya, kukira dulu aku hanya nyaman karena dia sering memberi bantuan hin

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Mau Datang?

    Tok, tok, tok!"Bas!"Sudah berapa kali aku memanggil sambil mengetuk pintu. Namun, pemuda itu tak kunjung muncul. Dari sejak keluar dari rumah Desi, Bas tak menampakkan batang hidungnya sama sekali."Bas!"Kupanggil pemuda itu sekali lagi. Namun, hasilnya tetap sama. Tak ada jawaban dari dalam kamar. Entah Bas sedang apa di dalam.Aku menunduk, menatap sepiring nasi goreng di tangan yang kubuat untuk Bas. Ya, aku sampai rela mengenyampingkan rasa malu saat meminjam dapur Desi demi membuat nasi goreng spesial ini. Namun, sayang. Sepertinya makanan ini tak akan sampai pada mulut Bas.Keputusasaan sudah kugenggam. Dengan perlahan aku memutar tubuh untuk membawa nasi goreng ini ke kamar. Biarlah nanti aku makan daripada terbuang. Namun, baru saja satu langkah, telingaku mendengar suara pintu yang dibuka. Sontak saja aku kembali memutar badan hingga terlihat sosok pemuda tampan di ambang pintu kamar."Apa?" tanyanya dengan raut yang biasa, sangat datar.Seketika aku merasa canggung karena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status