LOGINDulu sering kudengar jika di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dan itu terjadi padaku sekarang. Tak menunggu esok hari, Bas benar-benar pergi dari kos Desi malam ini. Barang-barang miliknya sudah dimasukkan ke dalam mobil, siap untuk dibawa pergi oleh sang pemilik.Dari balik jendela kamar, aku hanya bisa menyaksikan Bas yang tengah menenangkan Aiza. Sejak tadi putriku itu langsung menangis saat tahu Bas akan pergi, menambah perih hati ini. Aiza terlihat terpukul sekali melebihi saat dia harus meninggalkan papa kandungnya sendiri."Nggak mau! Om Bas nggak boleh pergi!" Teriakannya masih terdengar nyaring diiringi suara tangis. Tangan kecilnya memukul-mukul dada bidang Bas dengan sekuat tenaga. Sedang, pemuda itu dengan sabar memberi pelukan juga usapan."Nanti kita tetap ketemu, kok. Om Bas bisa video call sama Aiz. Ya?""Enggak! Aiz nggak mau!" teriak putriku. "Nanti nggak ada yang antar Aiz sekolah! Aiz juga mau diantar jemput sama Papa seperti teman-teman!"Perih? Sangat! Apa
Sebuah taman yang berada di tengah kota menjadi pilihan Bas sebagai tempat untuk kami berbicara. Entahlah, dia akan membicarakan apa. Hanya saja, dari raut wajah yang diperlihatkan sejak tadi, aku yakin jika Bas akan membicarakan hal yang serius kali ini.Sejak beberapa menit lalu kami sudah duduk berdampingan pada kursi taman. Namun, belum ada satu patah kata pun yang diucapkan. Baik aku atau pun Bas sama-sama betah dalam kebisuan."Aku mau pindah, Mbak."Degh!Aku terdiam sambil menatap Bas dengan kening yang berkerut. "Maksudnya?" tanyaku tak mengerti. Tatapan Bas yang semula lurus ke depan, kini beralih padaku. "Aku nggak tinggal di kos Mbak Desi lagi," jelasnya yang membuatku cukup terkejut.Kenapa tiba-tiba dia pindah? Bukankah dulu dia sendiri yang bilang senang tinggal di kos Desi? Aku belum merespon apa pun. Mata ini hanya bisa menatap Bas tanpa kata sambil merasakan sesak yang mulai menghantam dada. Jika Bas tak ada, bukankah hari-hari semakin tak berwarna? Lantas, dengan
Jantungku berdegup kencang hanya karena menunggu jawaban Bas. Keringat dingin mulai keluar dari tangan yang saling meremas. Sedang pemuda yang kutunggu untuk mengucapkan kata malah diam seribu bahasa."Bas—""Ya, aku datang."Seutas senyum kuterbitkan meski Bas menjawab dengan nada yang sangat datar. "Makasih," ucapku yang hanya diangguki olehnya.Tanpa berkata apa pun, Bas langsung melanjutkan langkahnya dan membuka kunci pintu. Kemudian, pemuda itu menghilang ditelan pintu kamar.Huft!Kutarik napas ini dalam-dalam sembari mendudukkan tubuh pada kursi kayu di depan kamar. Sungguh, aku sangat tak nyaman dengan perubahan sikap Bas. Apa yang harus kulakukan agar dia bisa seperti semula?Memang awalnya aku tak peduli akan hal ini. Mau Bas secuek apa pun, aku tak akan melarang. Namun, setelah kuresapi hari-hari yang sepi tanpa senyum dan candaannya, aku mulai sadar jika peran Bas sangat besar untuk mengisi kekosongan.Ya, kukira dulu aku hanya nyaman karena dia sering memberi bantuan hin
Tok, tok, tok!"Bas!"Sudah berapa kali aku memanggil sambil mengetuk pintu. Namun, pemuda itu tak kunjung muncul. Dari sejak keluar dari rumah Desi, Bas tak menampakkan batang hidungnya sama sekali."Bas!"Kupanggil pemuda itu sekali lagi. Namun, hasilnya tetap sama. Tak ada jawaban dari dalam kamar. Entah Bas sedang apa di dalam.Aku menunduk, menatap sepiring nasi goreng di tangan yang kubuat untuk Bas. Ya, aku sampai rela mengenyampingkan rasa malu saat meminjam dapur Desi demi membuat nasi goreng spesial ini. Namun, sayang. Sepertinya makanan ini tak akan sampai pada mulut Bas.Keputusasaan sudah kugenggam. Dengan perlahan aku memutar tubuh untuk membawa nasi goreng ini ke kamar. Biarlah nanti aku makan daripada terbuang. Namun, baru saja satu langkah, telingaku mendengar suara pintu yang dibuka. Sontak saja aku kembali memutar badan hingga terlihat sosok pemuda tampan di ambang pintu kamar."Apa?" tanyanya dengan raut yang biasa, sangat datar.Seketika aku merasa canggung karena
Hari berlalu tanpa ada hambatan setelah semua masalah di Kota S selesai. Kini aku, Aiza dan Bas sudah kembali ke kota asal. Namun, ketika tiba di kontrakan Desi, malah terlihat pemandangan yang tak mengenakkan. Di depan sana, ibu mertua tengah duduk di kursi kayu. Sepertinya dia sedang menungguku. Tapi, untuk apa? "Mau aku yang temui?" tawar Bas sambil menatapku.Aku menggeleng. "Aku saja," putusku. Bas sama sekali tak ada hubungannya dengan masalah keluargaku. Karena itulah biar aku sendiri yang menghadapi.Gegas aku keluar dari mobil Bas lebih dulu bersama Aiza, lalu berjalan menghampiri ibu mertua yang langsung berdiri saat melihat kedatangan kami.Sekalipun ada rasa benci di hati, aku tetap memperlakukan wanita tua ini dengan baik. Kuambil tangannya untuk disalami. Tak lupa meminta Aiza untuk menyalami juga."Ibu mau bicara, Yun."Suara mertuaku terdengar lembut, tak seperti biasa. Sontak saja hatiku bertanya-tanya, ada apa?"Ya sudah, kita bicara di dalam, Bu," ajakku. Tak enak
Niat hati pergi ke Kota S hanya untuk menjemput Aiza, nyatanya aku dan Bas harus tertahan lebih lama karena masalah baru yang menimpa. Ya, tentang laki-laki bernama Jambul yang sudah mengeksploitasi anak-anak jalanan. Bas tak terima dengan perlakuan pria biadab itu. Apalagi, hingga melibatkan Aiza. Karena itulah dia memilih untuk menunggu kasus ini selesai, baru pulang.Meski rasanya aku sudah ingin kembali, tapi tetap kutahan demi menghargai Bas. Sekali lagi, dia sudah sangat baik padaku juga Aiza. Maka dari itu aku tak mau membuatnya kecewa.Kini aku, Bas, Aiza juga Adi tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Kota S. Bas sengaja mengajak Aiza dan Adi ke sini agar mereka lupa pada hari-hari kelam sebelumnya.Sementara Aiza dan Adi bermain di timezone, aku dan Bas memilih menunggu di kursi panjang yang ada di sana. "Bas," panggilku tanpa mau menoleh pada pemuda itu. Tatapanku masih tertuju ke depan sana, pada Aiza dan Adi yang tengah bermain mandi bola."Kenapa?""Mak







