"Jaga ucapanmu, Bas!" sentakku pada pemuda yang mulutnya lancang itu. Saking kesalnya, aku sampai lupa jika ada Aiza. Segera kunormalkan kembali ekspresi ini seperti biasa.Aku dan Bas saling diam. Pemuda itu tak lagi mengucap sepatah kata pun setelah kusentak. "Ayo, Aiz." Aku segera menuntun tangan Aiza untuk pergi dari sana. Namun, baru beberapa langkah, suara Bas terdengar memanggil dari belakang."Mbak, tunggu, Mbak!"Aku tak peduli pada teriakan Bas. Terus saja aku melangkah hingga tiba di pinggir jalan raya. Sambil menunggu taksi pesanan lewat, kulirik Aiza yang tengah menatap ke belakang. Menatap Bas lebih tepatnya."Mama ... itu mobil Om Bas ke sini," ujarnya sembari menarik-narik tanganku agar melihat mobil Bas yang kini sudah tiba di samping tubuhku.Aku hanya diam, tak menyahuti ucapan Aiza. Mau bagaimanapun aku menjelaskan, tak akan masuk ke kepala Aiza karena masih anak-anak. "Ayo, naik! Biar aku antar, Mbak."Suara Bas terdengar. Namun, aku sama sekali tak mau menoleh
Last Updated : 2025-12-20 Read more