Share

Waktunya

last update Last Updated: 2026-01-02 15:10:19

Dulu sering kudengar jika di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dan itu terjadi padaku sekarang. Tak menunggu esok hari, Bas benar-benar pergi dari kos Desi malam ini. Barang-barang miliknya sudah dimasukkan ke dalam mobil, siap untuk dibawa pergi oleh sang pemilik.

Dari balik jendela kamar, aku hanya bisa menyaksikan Bas yang tengah menenangkan Aiza. Sejak tadi putriku itu langsung menangis saat tahu Bas akan pergi, menambah perih hati ini. Aiza terlihat terpukul sekali melebihi saat dia harus meninggalkan papa kandungnya sendiri.

"Nggak mau! Om Bas nggak boleh pergi!"

Teriakannya masih terdengar nyaring diiringi suara tangis. Tangan kecilnya memukul-mukul dada bidang Bas dengan sekuat tenaga. Sedang, pemuda itu dengan sabar memberi pelukan juga usapan.

"Nanti kita tetap ketemu, kok. Om Bas bisa video call sama Aiz. Ya?"

"Enggak! Aiz nggak mau!" teriak putriku. "Nanti nggak ada yang antar Aiz sekolah! Aiz juga mau diantar jemput sama Papa seperti teman-teman!"

Perih? Sangat! Apa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
lullaby dreamy
aah jd ga seru ceritanya . jgn blg nnt dimasa depan pun Bas malah dijodohkan sm pamannya n' dia nurut aja . trus konfliknya krn mrk ktmu lg n' perasaan Bas muncul lg .
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Bangunlah

    Malam yang terasa lebih panjang ini kuhabiskan di rumah sakit, menatap pada seorang laki-laki yang terbaring lemah di atas bangsal dengan kepala diperban. Sudah beberapa jam lamanya setelah berhasil melakukan operasi, tapi dia masih belum sadarkan diri. Padahal, aku benar-benar sudah menanti kedua mata itu kembali menatapku. "Kamu belum makan, kan? Makanlah!" Pak Anwar meletakkan sebuah kotak makanan di depanku. Entah dari mana dia mendapatkan itu."Saya nggak lapar, Pak." Jangankan ingin makan, minum air putih saja rasanya enggan karena pikiranku belum tenang."Tetap harus makan walau tidak lapar. Makanlah! Saya tidak mau Bas marah saat sadar karena lihat kamu sakit."Aku terhenyak. Kenapa Pak Anwar bisa bicara demikian? Apa Bas banyak menceritakan tentangku pada pria ini? Tapi, untuk apa?Pak Anwar tampak mengambil duduk pada sofa di sampingku. Tangannya dengan terampil membuka penutup kotak yang terletak di atas meja hingga aroma ayam bakar menguar pada indera penciuman. "Makanla

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Runtuh

    Duniaku kembali hancur saat menyaksikan seorang laki-laki bersimbah darah di atas aspal. Matanya tertutup rapat, denyut nadinya nyaris tak terasa.Baskara Jaya Putra. Entah apa yang terjadi padanya hingga bisa mengalami kecelakaan yang sangat parah. "Bertahan, Bas." Aku berbisik dengan suara lirih. Tanganku terus menggenggam tangan Bas yang tak sadarkan diri di atas brankar. Sekarang kami sedang berada di dalam ambulan.Aiza yang ikut bersamaku mendadak bisu saat melihat kondisi Bas dari dekat. Bibir bocah itu terkunci rapat. Beruntung dia mau duduk di pangkuan seorang perawat sembari ditenangkan.Kutatap wajah yang kini penuh dengan darah, berharap matanya terbuka walau sebentar saja. Aku hanya ingin berkata, aku ada di sini bersamanya.Tolong buka matamu, Bas ....Dadaku kian sesak mengingat saat terakhir dia berpamitan dengan hati yang hancur. Ya, aku tahu itu. Dan jika sekarang dia membuka mata, aku berjanji akan mengungkapkan semuanya. Aku tidak akan membiarkan Bas pergi dengan

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Rencana Baru

    Pria tua baik hati bernama Pak Anwar itu ternyata tak main-main. Dia sungguh membeli rumahku dan Mas Bagus tanpa ba bi bu. Bahkan, kini uang yang Pak Anwar berikan lewat cek tengah Mas Bagus urus di bank. Rumah kami pun sekarang sudah resmi berpindah tangan.Huft!Tak apa. Semoga ini menjadi awal kehidupan baru yang akan lebih baik ke depannya. Aku sangat yakin, dengan uang hasil penjualan rumah ini, bisa kubelikan tempat tinggal baru yang lebih kecil. Aku sudah tak mau tinggal di kos Desi. Semua sudah kupertimbangkan dengan matang. Aku tak ingin merepotkan siapa pun lagi. Terlebih, Desi dan Mas Bakri yang selalu berbaik hati. Harapanku, semoga cara ini juga bisa membuat kenangan tentang Bas perlahan memudar.Ya, aku tak sanggup jika harus dibayangi kenangan pemuda itu setiap waktu, seumur hidupku. Sungguh, aku tidak sekuat itu."Sudah, Yun. Coba cek rekeningmu."Aku terhenyak kala mendengar suara Mas Bagus. Ternyata dia sudah selesai mengurus uang itu. Gegas aku berdiri sambil menga

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Kabar Baik

    "Yun!"Aku memutar kepala saat mendengar sebuah suara. Terlihat Mas Bagus yang tengah menghampiri. Mantan suamiku itu sudah mengenakan kemeja rapi."Ada apa, Mas?" tanyaku. Tumben sekali dia datang ke sekolah Aiza masih pagi. Biasanya kalau pun akan menjemput, pasti muncul beberapa menit sebelum putriku keluar dari kelas."Aku ada perlu," jawabnya. Laki-laki yang merupakan papa kandung Aiza itu mengambil duduk di sebelahku. "Jadi, aku mau ketemuan sama orang yang mau beli rumah kita. Kalau dia jadi beli, sih."Mulutku langsung menganga tak percaya pada apa yang baru saja Mas Bagus sampaikan. "Kamu serius, Mas?" Sudah beberapa bulan aku dan Mas Bagus memasang iklan agar rumah lama kami terjual, tapi belum ada satu pun yang berminat. Karena itulah, aku cukup terkejut saat dia membawa kabar baik ini tiba-tiba.Laki-laki yang mengenakan kemeja biru itu mengangguk sambil menatapku. "Serius, Yun. Kita sudah janji ketemu jam 10. Habis Aiza keluar, kita ke sana sama-sama, ya?"Tentu saja aku

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Waktunya

    Dulu sering kudengar jika di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dan itu terjadi padaku sekarang. Tak menunggu esok hari, Bas benar-benar pergi dari kos Desi malam ini. Barang-barang miliknya sudah dimasukkan ke dalam mobil, siap untuk dibawa pergi oleh sang pemilik.Dari balik jendela kamar, aku hanya bisa menyaksikan Bas yang tengah menenangkan Aiza. Sejak tadi putriku itu langsung menangis saat tahu Bas akan pergi, menambah perih hati ini. Aiza terlihat terpukul sekali melebihi saat dia harus meninggalkan papa kandungnya sendiri."Nggak mau! Om Bas nggak boleh pergi!" Teriakannya masih terdengar nyaring diiringi suara tangis. Tangan kecilnya memukul-mukul dada bidang Bas dengan sekuat tenaga. Sedang, pemuda itu dengan sabar memberi pelukan juga usapan."Nanti kita tetap ketemu, kok. Om Bas bisa video call sama Aiz. Ya?""Enggak! Aiz nggak mau!" teriak putriku. "Nanti nggak ada yang antar Aiz sekolah! Aiz juga mau diantar jemput sama Papa seperti teman-teman!"Perih? Sangat! Apa

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Keputusan Bas

    Sebuah taman yang berada di tengah kota menjadi pilihan Bas sebagai tempat untuk kami berbicara. Entahlah, dia akan membicarakan apa. Hanya saja, dari raut wajah yang diperlihatkan sejak tadi, aku yakin jika Bas akan membicarakan hal yang serius kali ini.Sejak beberapa menit lalu kami sudah duduk berdampingan pada kursi taman. Namun, belum ada satu patah kata pun yang diucapkan. Baik aku atau pun Bas sama-sama betah dalam kebisuan."Aku mau pindah, Mbak."Degh!Aku terdiam sambil menatap Bas dengan kening yang berkerut. "Maksudnya?" tanyaku tak mengerti. Tatapan Bas yang semula lurus ke depan, kini beralih padaku. "Aku nggak tinggal di kos Mbak Desi lagi," jelasnya yang membuatku cukup terkejut.Kenapa tiba-tiba dia pindah? Bukankah dulu dia sendiri yang bilang senang tinggal di kos Desi? Aku belum merespon apa pun. Mata ini hanya bisa menatap Bas tanpa kata sambil merasakan sesak yang mulai menghantam dada. Jika Bas tak ada, bukankah hari-hari semakin tak berwarna? Lantas, dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status