MasukKeputusanku sudah bulat. Tepat satu minggu setelah pertemuanku dan Bas di rumah sakit, aku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Ya, aku tahu di sana pasti akan mendapat banyak tekanan mental. Tapi, mau bagaimana? Aku tidak tahu harus pergi ke mana.Rasanya akan percuma jika masih tinggal di satu kota dengan Bas. Entah kapan, dalam waktu yang tak diduga, kami pasti kembali Tuhan pertemukan. Dan aku benar-benar tak ingin itu terjadi. Mulai sekarang hingga selamanya, aku berharap semoga tidak akan pernah lagi melihat Bas.Aku tahu, Bas juga berasal dari kota yang sama denganku. Namun, yang aku tahu dari ceritanya, keluarga dia sudah tak ada lagi di sana. Semua sudah pindah ke kota yang sama.Baiklah, semoga ini adalah keputusan terbaik untukku dan Aiza.Kutatap Aiza yang tengah melempar pandangan ke luar jendela. Sejak tadi dia tampak tak bersemangat. Bahkan, Aiza sempat menangis histeris saat Desi, Mas Bakri dan Devin mengantar kami ke terminal bis.Awalnya, Desi dan Mas Bakri su
Aku melangkah ngontai di lorong rumah sakit membawa serta hati yang hancur untuk kesekian kali. Entah kutukan apa yang menempel padaku hingga mengalami semua ini. Beberapa orang yang menatap dengan berbagai ekspresi, tak kuhiraukan sama sekali. Aku biarkan saja mereka dengan pemikiran masing-masing. Langkah ini semakin berat seiring dada yang kian sesak. Bahkan untuk sekadar bernapas pun sulit rasanya. Dan ini semua hanya karena seorang Bas.Kenapa kamu kembali di saat kondisinya sudah tak lagi sama, Bas? Kenapa kamu malah muncul dengan wanita lain yang sudah menjadi calon pendamping?Aku ingat pernah berdoa pada Tuhan agar jangan dipertemukan dengan Bas saat pemuda itu sudah memiliki pasangan. Tapi, apa ini? Apa Tuhan menolak doa yang kupanjatkan? Apa salahku, Tuhan?"Yun! Kamu mau ke mana?"Langkahku terhenti seketika saat mendengar suara Pak Anwar dari belakang. Tak ingin dia tahu jika keadaanku sedang kacau, segera kaki ini meneruskan langkah tanpa menoleh ke belakang."Yun! Yuni
Malam yang terasa lebih panjang ini kuhabiskan di rumah sakit, menatap pada seorang laki-laki yang terbaring lemah di atas bangsal dengan kepala diperban. Sudah beberapa jam lamanya setelah berhasil melakukan operasi, tapi dia masih belum sadarkan diri. Padahal, aku benar-benar sudah menanti kedua mata itu kembali menatapku. "Kamu belum makan, kan? Makanlah!" Pak Anwar meletakkan sebuah kotak makanan di depanku. Entah dari mana dia mendapatkan itu."Saya nggak lapar, Pak." Jangankan ingin makan, minum air putih saja rasanya enggan karena pikiranku belum tenang."Tetap harus makan walau tidak lapar. Makanlah! Saya tidak mau Bas marah saat sadar karena lihat kamu sakit."Aku terhenyak. Kenapa Pak Anwar bisa bicara demikian? Apa Bas banyak menceritakan tentangku pada pria ini? Tapi, untuk apa?Pak Anwar tampak mengambil duduk pada sofa di sampingku. Tangannya dengan terampil membuka penutup kotak yang terletak di atas meja hingga aroma ayam bakar menguar pada indera penciuman. "Makanla
Duniaku kembali hancur saat menyaksikan seorang laki-laki bersimbah darah di atas aspal. Matanya tertutup rapat, denyut nadinya nyaris tak terasa.Baskara Jaya Putra. Entah apa yang terjadi padanya hingga bisa mengalami kecelakaan yang sangat parah. "Bertahan, Bas." Aku berbisik dengan suara lirih. Tanganku terus menggenggam tangan Bas yang tak sadarkan diri di atas brankar. Sekarang kami sedang berada di dalam ambulan.Aiza yang ikut bersamaku mendadak bisu saat melihat kondisi Bas dari dekat. Bibir bocah itu terkunci rapat. Beruntung dia mau duduk di pangkuan seorang perawat sembari ditenangkan.Kutatap wajah yang kini penuh dengan darah, berharap matanya terbuka walau sebentar saja. Aku hanya ingin berkata, aku ada di sini bersamanya.Tolong buka matamu, Bas ....Dadaku kian sesak mengingat saat terakhir dia berpamitan dengan hati yang hancur. Ya, aku tahu itu. Dan jika sekarang dia membuka mata, aku berjanji akan mengungkapkan semuanya. Aku tidak akan membiarkan Bas pergi dengan
Pria tua baik hati bernama Pak Anwar itu ternyata tak main-main. Dia sungguh membeli rumahku dan Mas Bagus tanpa ba bi bu. Bahkan, kini uang yang Pak Anwar berikan lewat cek tengah Mas Bagus urus di bank. Rumah kami pun sekarang sudah resmi berpindah tangan.Huft!Tak apa. Semoga ini menjadi awal kehidupan baru yang akan lebih baik ke depannya. Aku sangat yakin, dengan uang hasil penjualan rumah ini, bisa kubelikan tempat tinggal baru yang lebih kecil. Aku sudah tak mau tinggal di kos Desi. Semua sudah kupertimbangkan dengan matang. Aku tak ingin merepotkan siapa pun lagi. Terlebih, Desi dan Mas Bakri yang selalu berbaik hati. Harapanku, semoga cara ini juga bisa membuat kenangan tentang Bas perlahan memudar.Ya, aku tak sanggup jika harus dibayangi kenangan pemuda itu setiap waktu, seumur hidupku. Sungguh, aku tidak sekuat itu."Sudah, Yun. Coba cek rekeningmu."Aku terhenyak kala mendengar suara Mas Bagus. Ternyata dia sudah selesai mengurus uang itu. Gegas aku berdiri sambil menga
"Yun!"Aku memutar kepala saat mendengar sebuah suara. Terlihat Mas Bagus yang tengah menghampiri. Mantan suamiku itu sudah mengenakan kemeja rapi."Ada apa, Mas?" tanyaku. Tumben sekali dia datang ke sekolah Aiza masih pagi. Biasanya kalau pun akan menjemput, pasti muncul beberapa menit sebelum putriku keluar dari kelas."Aku ada perlu," jawabnya. Laki-laki yang merupakan papa kandung Aiza itu mengambil duduk di sebelahku. "Jadi, aku mau ketemuan sama orang yang mau beli rumah kita. Kalau dia jadi beli, sih."Mulutku langsung menganga tak percaya pada apa yang baru saja Mas Bagus sampaikan. "Kamu serius, Mas?" Sudah beberapa bulan aku dan Mas Bagus memasang iklan agar rumah lama kami terjual, tapi belum ada satu pun yang berminat. Karena itulah, aku cukup terkejut saat dia membawa kabar baik ini tiba-tiba.Laki-laki yang mengenakan kemeja biru itu mengangguk sambil menatapku. "Serius, Yun. Kita sudah janji ketemu jam 10. Habis Aiza keluar, kita ke sana sama-sama, ya?"Tentu saja aku







