แชร์

Bab 104 Penderitaan Lain

ผู้เขียน: NFLusica
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-21 21:15:02

Rania melangkah masuk perlahan, matanya menyapu ruang tengah apartemen yang rapi dan hangat. Ia duduk di kursi yang ditawarkan, tapi belum sempat ia benar-benar nyaman di posisinya, tangannya sudah bergerak membuka tas kecil itu.

Ia mengeluarkan sebuah amplop, tulisan tangan yang berbeda dari yang sebelumnya tertera di permukaannya. Rania meletakkan amplop itu di meja, mendorongnya perlahan ke arah Nindy.

"Ini surat dari Bapak kamu," ucap Rania pelan. "Wisnu nitipin ini ke saya, dengan satu sya
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dok, Please Cukup!   Bab 105 Dia Masih Hidup 

    Nindy mengernyit, mencoba mencerna kalimat itu. "Maksudnya gimana? Kalau dia ayah biologisku, harusnya dia tahu.""Itu keputusan saya sendiri, Nindy," jawab Rania, suaranya mulai bergetar. "Bukan keputusan Wisnu, bukan juga keputusan Suryani. Saya yang mutusin dia nggak pernah tahu."Malik yang sejak tadi diam akhirnya bertanya, suaranya penuh rasa ingin tahu yang sama besarnya dengan Nindy. "Kenapa kamu ambil keputusan sebesar itu sendirian?"Rania menatap kedua tangannya, meremas ujung kebayanya perlahan. "Itu bagian dari cerita yang belum bisa saya sampaikan sekarang."Nindy menghela napas frustrasi, tapi mencoba mengingat pesan ayahnya di surat pertama—jangan benci siapa pun sebelum ceritanya utuh. "Terus siapa namanya?"Rania menggeleng pelan, tetap menolak. "Saya belum bisa kasih tahu namanya, Nindy."Kekecewaan itu terasa nyata, tapi kali ini Nindy tidak meledak seperti sebelumnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan diri dengan susah payah."Kalau gitu," ucap Nindy pelan

  • Dok, Please Cukup!   Bab 104 Penderitaan Lain

    Rania melangkah masuk perlahan, matanya menyapu ruang tengah apartemen yang rapi dan hangat. Ia duduk di kursi yang ditawarkan, tapi belum sempat ia benar-benar nyaman di posisinya, tangannya sudah bergerak membuka tas kecil itu.Ia mengeluarkan sebuah amplop, tulisan tangan yang berbeda dari yang sebelumnya tertera di permukaannya. Rania meletakkan amplop itu di meja, mendorongnya perlahan ke arah Nindy."Ini surat dari Bapak kamu," ucap Rania pelan. "Wisnu nitipin ini ke saya, dengan satu syarat. Cuma boleh saya kasih kalau kamu sendiri yang manggil saya dateng."Nindy menatap amplop itu, tulisan tangan ayahnya yang begitu ia kenali membuat dadanya terasa sesak seketika.Bi Inah masuk sejenak membawakan teh, meletakkannya di meja tanpa banyak bicara, lalu Malik memintanya pulang lebih awal hari itu dengan gaji penuh. Begitu pintu tertutup di belakang Bi Inah, Malik mengunci pintu utama dari dalam, lalu menyenyapkan ponselnya sendiri."Kenapa dikunci, Malik?" tanya Nindy, matanya mas

  • Dok, Please Cukup!   Bab 103 Aku Yang Gerak

    Maka, saat Rabu pagi tiba, Eleanor sudah pulang semalam setelah menjelaskan sejauh yang dia ingat—waktu Bahar menyodorkan berkas tekanan untuk Wisnu, ada satu map yang Eleanor tolak baca karena isinya bukan urusannya, dan yang tersisa di ingatannya cuma dua huruf di judul map itu. Dia tidak tahu isinya, tidak tahu siapa orangnya.Nindy duduk di meja makan, menatap Malik yang baru saja meletakkan ponselnya setelah menelepon Hendra dengan pengeras suara menyala. "Jadi Hendra bilang apa?""Semua dokumen Bahar udah disita sebagai barang bukti," jawab Malik, mengulang penjelasan Hendra barusan. "Akses ke salinannya butuh izin penyidik. Prosesnya beberapa hari, nggak bisa dipercepat."Nindy menghela napas, mengaduk kopinya tanpa benar-benar meminumnya. "Beberapa hari itu lama banget, Malik. Aku udah nggak sabar.""Aku ngerti kamu pengin cepat," ucap Malik pelan, menggenggam tangan istrinya di atas meja. "Tapi kita juga harus mikirin risiko kesehatan kamu. Setiap kali ada info baru, kamu lan

  • Dok, Please Cukup!   Bab 102 Boleh Masuk

    Siang harinya, Nindy turun ke supermarket di lantai bawah gedung apartemen, kebetulan bertemu Ratih yang juga sedang berbelanja bersama Kayla dalam gendongan."Nindy, keranjangmu isinya apaan aja sih," ucap Ratih sambil mengintip isi keranjang belanja Nindy, geleng-geleng kepala melihat tumpukan camilan manis di dalamnya. "Ibu hamil nggak boleh kebanyakan gula, tahu.""Aku cuma pengin ngemil, Ratih," protes Nindy sambil tertawa, meski akhirnya menaruh kembali beberapa bungkus camilan ke rak.Ratih mengambil alih keranjang itu, mulai memilihkan buah-buahan segar dengan teliti. "Nih, belajar milih buah yang bener. Jangan yang kelihatan mulus doang, coba tekan dikit, kalau kelewat empuk berarti udah kelewat matang."Nindy memperhatikan dengan saksama, mencoba mempraktikkan cara memilih buah seperti yang diajarkan Ratih. Mereka berjalan pelan menyusuri lorong supermarket, mengobrol ringan sambil sesekali berhenti memeriksa barang di rak."Ratih," Nindy memulai pelan, "boleh aku cerita ses

  • Dok, Please Cukup!   Bab 101 Aturan Hari Ini

    Nindy mendengarkan dengan saksama, tidak ada nada tegang di kalimat itu, hanya catatan sederhana seorang ibu yang mencatat perkembangan anaknya."Gigi pertamanya tumbuh hari ini," lanjut Malik, "Nindy rewel seharian, aku sampai nggak sempat masak buat Wisnu."Nindy tertawa kecil mendengar itu, membayangkan kerepotan yang dialami Suryani mengurusnya waktu bayi.Malik melanjutkan membaca, suaranya sesekali diselingi tawa kecil menyaksikan reaksi Nindy. "Nindy cuma mau tidur kalau digendong Wisnu. Aku udah coba segala cara, tapi dia tetap nangis sampai Bapaknya pulang kerja. Anak ini beneran anak Bapaknya."Nindy tertawa lepas mendengar catatan itu, tapi tawanya perlahan berubah menjadi isak kecil, air mata mulai menetes di sudut matanya. "Ini... ini nggak ada rahasia apa-apa, Malik. Ini cuma catatan biasa seorang ibu.""Iya," jawab Malik lembut, mengusap rambut Nindy pelan. "Tante kamu, tapi dia beneran jadi Ibu buat kamu, Nindy. Catatan ini buktinya."Nindy meraih buku itu dari tangan

  • Dok, Please Cukup!   Bab 100 Inisial R Dan D

    Di dalam mobil menuju rumah sakit, Nindy duduk diam, tas kerja Malik sudah berpindah ke pangkuannya sejak mereka keluar dari bank. Ia tidak berkata apa-apa sepanjang perjalanan, matanya menatap kosong ke luar jendela.Sesampainya di rumah sakit, Malik menuntunnya ke ruang tunggu poliklinik, memastikan Nindy duduk nyaman sebelum ia harus masuk ke ruang praktiknya sendiri."Kamu yakin nggak apa-apa nunggu di sini?" tanya Malik cemas, berlutut di depan Nindy sejenak."Aku nggak apa-apa, Malik. Pergi aja, pasienmu udah nunggu," jawab Nindy pelan, mencoba tersenyum meski jelas dipaksakan.Malik mengecup kening istrinya, lalu bergegas menuju ruang praktik setelah memberi pesan singkat ke perawat untuk mengawasi Nindy dari jauh.Ruang tunggu poliklinik itu cukup ramai, tapi Nindy duduk di sudut yang agak terpisah, tas kerja Malik masih di pangkuannya.Ia menatap tas itu lama, lalu tangannya bergerak membuka resletingnya perlahan. Map akta kelahiran, buku catatan, dan amplop tadi masih tersim

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status