بيت / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 101 Aturan Hari Ini

مشاركة

Bab 101 Aturan Hari Ini

مؤلف: NFLusica
last update تاريخ النشر: 2026-08-20 19:10:12

Nindy mendengarkan dengan saksama, tidak ada nada tegang di kalimat itu, hanya catatan sederhana seorang ibu yang mencatat perkembangan anaknya.

"Gigi pertamanya tumbuh hari ini," lanjut Malik, "Nindy rewel seharian, aku sampai nggak sempat masak buat Wisnu."

Nindy tertawa kecil mendengar itu, membayangkan kerepotan yang dialami Suryani mengurusnya waktu bayi.

Malik melanjutkan membaca, suaranya sesekali diselingi tawa kecil menyaksikan reaksi Nindy. "Nindy cuma mau tidur kalau digendong Wisnu.
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Dok, Please Cukup!   Bab 102 Boleh Masuk

    Siang harinya, Nindy turun ke supermarket di lantai bawah gedung apartemen, kebetulan bertemu Ratih yang juga sedang berbelanja bersama Kayla dalam gendongan."Nindy, keranjangmu isinya apaan aja sih," ucap Ratih sambil mengintip isi keranjang belanja Nindy, geleng-geleng kepala melihat tumpukan camilan manis di dalamnya. "Ibu hamil nggak boleh kebanyakan gula, tahu.""Aku cuma pengin ngemil, Ratih," protes Nindy sambil tertawa, meski akhirnya menaruh kembali beberapa bungkus camilan ke rak.Ratih mengambil alih keranjang itu, mulai memilihkan buah-buahan segar dengan teliti. "Nih, belajar milih buah yang bener. Jangan yang kelihatan mulus doang, coba tekan dikit, kalau kelewat empuk berarti udah kelewat matang."Nindy memperhatikan dengan saksama, mencoba mempraktikkan cara memilih buah seperti yang diajarkan Ratih. Mereka berjalan pelan menyusuri lorong supermarket, mengobrol ringan sambil sesekali berhenti memeriksa barang di rak."Ratih," Nindy memulai pelan, "boleh aku cerita ses

  • Dok, Please Cukup!   Bab 101 Aturan Hari Ini

    Nindy mendengarkan dengan saksama, tidak ada nada tegang di kalimat itu, hanya catatan sederhana seorang ibu yang mencatat perkembangan anaknya."Gigi pertamanya tumbuh hari ini," lanjut Malik, "Nindy rewel seharian, aku sampai nggak sempat masak buat Wisnu."Nindy tertawa kecil mendengar itu, membayangkan kerepotan yang dialami Suryani mengurusnya waktu bayi.Malik melanjutkan membaca, suaranya sesekali diselingi tawa kecil menyaksikan reaksi Nindy. "Nindy cuma mau tidur kalau digendong Wisnu. Aku udah coba segala cara, tapi dia tetap nangis sampai Bapaknya pulang kerja. Anak ini beneran anak Bapaknya."Nindy tertawa lepas mendengar catatan itu, tapi tawanya perlahan berubah menjadi isak kecil, air mata mulai menetes di sudut matanya. "Ini... ini nggak ada rahasia apa-apa, Malik. Ini cuma catatan biasa seorang ibu.""Iya," jawab Malik lembut, mengusap rambut Nindy pelan. "Tante kamu, tapi dia beneran jadi Ibu buat kamu, Nindy. Catatan ini buktinya."Nindy meraih buku itu dari tangan

  • Dok, Please Cukup!   Bab 100 Inisial R Dan D

    Di dalam mobil menuju rumah sakit, Nindy duduk diam, tas kerja Malik sudah berpindah ke pangkuannya sejak mereka keluar dari bank. Ia tidak berkata apa-apa sepanjang perjalanan, matanya menatap kosong ke luar jendela.Sesampainya di rumah sakit, Malik menuntunnya ke ruang tunggu poliklinik, memastikan Nindy duduk nyaman sebelum ia harus masuk ke ruang praktiknya sendiri."Kamu yakin nggak apa-apa nunggu di sini?" tanya Malik cemas, berlutut di depan Nindy sejenak."Aku nggak apa-apa, Malik. Pergi aja, pasienmu udah nunggu," jawab Nindy pelan, mencoba tersenyum meski jelas dipaksakan.Malik mengecup kening istrinya, lalu bergegas menuju ruang praktik setelah memberi pesan singkat ke perawat untuk mengawasi Nindy dari jauh.Ruang tunggu poliklinik itu cukup ramai, tapi Nindy duduk di sudut yang agak terpisah, tas kerja Malik masih di pangkuannya.Ia menatap tas itu lama, lalu tangannya bergerak membuka resletingnya perlahan. Map akta kelahiran, buku catatan, dan amplop tadi masih tersim

  • Dok, Please Cukup!   Bab 99 Ayah Biologis

    Surat itu jatuh dari ujung jari Nindy, tergantung setengah lepas dari genggamannya. Wanita itu berdiri mematung, matanya kosong menatap ke depan, tidak benar-benar melihat apa pun di ruangan bank yang dingin itu.Ketukan pelan terdengar dari kaca ruang deposit. Petugas bank memberi isyarat dari luar, mengingatkan bahwa kuota waktu penggunaan ruangan sudah hampir habis.Malik langsung bergerak, mengambil alih situasi tanpa banyak bicara. Ia menandatangani berita acara pengeluaran barang yang disodorkan petugas, memasukkan map akta kelahiran, buku catatan, amplop, dan kotak beludru itu ke dalam tas kerjanya satu per satu dengan hati-hati."Kita pindah dulu," ucap Malik pelan, merangkul bahu Nindy yang masih terpaku diam.Ia menuntun Nindy dan Rania keluar dari ruang bawah tanah itu, meminta izin petugas untuk menggunakan ruang tunggu nasabah prioritas yang kosong di lantai dua. Ruangan itu lebih luas, dengan sofa empuk dan pencahayaan yang lebih hangat dibanding ruang deposit tadi.Nind

  • Dok, Please Cukup!   Bab 98 Surat Dari Suryani

    "Saya nggak tahu, Nindy," jawab Rania jujur, suaranya bergetar. "Tapi saya selalu ke sana tiap tanggal segini, dua puluh delapan tahun ini. Cuma buat jaga-jaga, kalau suatu hari kamu akhirnya dateng."Kalimat itu membuat dada Nindy terasa sesak.Ada sesuatu di nada suara Rania yang terdengar begitu sabar, begitu setia menunggu tanpa kepastian, sesuatu yang tidak bisa Nindy pahami sepenuhnya, tapi terasa nyata."Kami otw ke sana sekarang," ucap Nindy akhirnya. "Tunggu, ya."Setelah menutup telepon, Nindy kembali ke ruang rapat, mengabarkan kesepakatan itu ke Malik dan Hendra. Mereka berpamitan singkat ke Pak Wijaya, lalu bergegas menuju mobil.Sepanjang perjalanan menuju bank, Malik menepi sebentar di pinggir jalan, meraih ponselnya untuk menelepon rumah sakit. "Ya, tolong geser dua pasien pertama saya ke Dokter Handoko. Saya ada urusan keluarga mendadak."Nindy memperhatikan dari kursi penumpang, tidak berkata apa-apa. Biasanya, ia akan langsung protes, melarang Malik menggeser jadwal

  • Dok, Please Cukup!   Bab 97 Pemegang Kunci 

    Pukul sepuluh tepat, mereka tiba di kantor notaris Pak Wijaya.Hendra sudah menunggu di ruang rapat kecil, sebuah map cokelat tebal tergeletak rapi di depannya."Silakan duduk," ucap Pak Wijaya ramah, seorang pria tua berkacamata tebal yang duduk di ujung meja. Ia membuka map itu perlahan, menyusun lembaran dokumen dengan gerakan hati-hati."Kita mulai dengan pembacaan warisan almarhum Bapak Wisnu Prakoso," ucap Pak Wijaya, suaranya formal namun tenang. "Warisan yang beliau tinggalkan cukup sederhana. Sebuah rumah lama di kampung halaman, yang sudah lama tidak ditempati, dan satu kotak deposit di bank sesuai tanda terima yang Anda bawa."Nindy mendengarkan dengan saksama, tangannya menggenggam erat tangan Malik di bawah meja. Tidak ada kejutan besar dari poin itu, sesuai perkiraan mereka sejak awal.Pak Wijaya membalik lembar terakhir, matanya membaca sejenak sebelum akhirnya mendongak, ekspresinya berubah sedikit serius. "Ada satu klausul khusus yang perlu saya sampaikan soal kotak d

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status