Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 151 Tinta yang Sudah Pudar

Share

Bab 151 Tinta yang Sudah Pudar

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-09-16 20:17:16

Malik melangkah masuk perlahan, tangannya tidak menyentuh apa pun, berdiri diam di tengah ruangan seolah takut satu gerakan saja bisa mengubah sesuatu yang sudah dijaga begitu lama tanpa berubah sedikit pun.

Matanya menyapu seprai biru muda yang terbentang licin sempurna di atas ranjang, tidak ada satu pun lipatan yang salah tempat, tidak ada satu pun debu yang menempel di permukaannya.

"Ibu ganti seprainya sendiri," ucap Eleanor, melangkah mendekati ranjang, tangannya bergerak merapikan sudut
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 154 Izin Tertulis

    "Makasih, Nindy," ucap Malik, akhirnya, suaranya lebih tenang dari sebelumnya.Mereka duduk sebentar lagi di bahu jalan itu, lampu hazard masih berkedip di luar, sebelum akhirnya Malik memutar kunci ke posisi mati lagi, menekan tombol jendela sedikit supaya udara malam masuk ke kabin, dan dia menunggu tanpa mengulang pertanyaannya meski hampir satu menit lewat tanpa jawaban. Dia menekan tombol lampu sein, memeriksa spion sebelum bersiap masuk kembali ke jalur, tapi tepat sebelum tangannya bergerak menekan pedal gas, sesuatu di kepalanya berhenti, seolah baru saja tersambung dengan sesuatu yang seharusnya sudah dia pikirkan sejak beberapa menit lalu."Nindy," ucap Malik, tangannya masih diam di setir, belum juga menjalankan mobil."Kenapa?" tanya Nindy, menatap suaminya."Kalau dua pencarian nggak boleh jalan bareng," ucap Malik, perlahan, "berarti pertemuan di rumah tahanan hari Senin harus dibatalin, kan?"Nindy menoleh terlalu cepat ke arah suaminya, tubuhnya sedikit tersentak di k

  • Dok, Please Cukup!   Bab 153 Gambaran Soal Ibu

    Lampu merah berganti hijau, dan mobil di belakang mereka membunyikan klakson pendek, membuat Malik tersentak sedikit, menekan pedal gas dengan gerakan yang terlambat.Nindy tidak langsung membalas, memberi jeda sebentar sebelum akhirnya bicara, memilih kalimatnya dengan hati-hati, karena dia tahu betul apa yang akan dia sampaikan berikutnya bisa jadi terlalu berat untuk ditambahkan ke beban yang sudah dipikul Malik hari itu."Eleanor nandatangan berkas itu umur dua puluh dua, Malik," ucap Nindy, pelan, "tanpa satu pun orang berdiri di sisinya."Malik tidak menjawab, tapi jemarinya di setir mengetuk pelan, tanda dia mendengarkan dengan sungguh-sungguh."Aku sendiri diserahin umur nol hari," lanjut Nindy, "sama perempuan umur dua puluh empat yang juga sendirian."Kalimat itu jatuh di dalam kabin mobil dengan bobot yang berbeda dari apa yang Malik duga, karena selama ini dia selalu memandang cerita Nindy dan cerita ibunya sebagai dua hal yang sama sekali terpisah, dua luka yang kebetulan

  • Dok, Please Cukup!   Bab 152 Alasan Logis

    Eleanor melangkah mendekat, penasaran, tapi Nindy sudah lebih dulu bergerak, matanya menyapu goresan tulisan tangan tersebut, dan dia terdiam sejenak, sesuatu di dalam kepalanya bergerak cepat, mencocokkan bentuk huruf itu dengan sesuatu yang pernah dia lihat sebelumnya."Aku pernah liat tulisan ini," ucap Nindy, suaranya pelan, matanya masih tertuju ke kertas itu. "Di berkas lama yang dikirim Hendra, waktu urusan surat perjanjian lima miliar itu. Ada lampiran tambahan yang ditandatangani orang lain, bukan cuma Ibu."Eleanor menegakkan punggungnya, wajahnya berubah pucat mendengar itu, dan dia mengulurkan tangannya, mengambil kertas itu langsung dari genggaman Malik tanpa meminta izin sama sekali.Matanya menyapu dua baris tulisan itu, cepat, kemudian lebih lambat, seolah dia sedang membaca ulang untuk memastikan matanya tidak salah menangkap apa yang tertulis di sana.Tangan Eleanor mulai gemetar, dan dia melangkah mundur satu langkah, mencari sesuatu untuk berpegangan, jarinya akhir

  • Dok, Please Cukup!   Bab 151 Tinta yang Sudah Pudar

    Malik melangkah masuk perlahan, tangannya tidak menyentuh apa pun, berdiri diam di tengah ruangan seolah takut satu gerakan saja bisa mengubah sesuatu yang sudah dijaga begitu lama tanpa berubah sedikit pun.Matanya menyapu seprai biru muda yang terbentang licin sempurna di atas ranjang, tidak ada satu pun lipatan yang salah tempat, tidak ada satu pun debu yang menempel di permukaannya."Ibu ganti seprainya sendiri," ucap Eleanor, melangkah mendekati ranjang, tangannya bergerak merapikan sudut yang sebenarnya sudah rapi sekali, gerakan yang lebih terlihat seperti kebiasaan daripada kebutuhan. "Tiap dua minggu, tiga puluh empat tahun, Ibu nggak pernah sekali pun nyuruh siapa-siapa ngerjain itu."Malik menatap ibunya, matanya menyusuri gerakan tangan itu, dan Nindy yang berdiri di ambang pintu bisa melihat betapa besar usaha Malik untuk tidak bicara, seolah kalau dia mengucapkan satu kata pun sekarang, dia bisa kehilangan kendali sepenuhnya di dalam ruangan itu.Mata Malik berpindah ke

  • Dok, Please Cukup!   Bab 150 Anak Tangga Keempat

    Eleanor menatap permukaan meja, tidak berani menatap mata anaknya sendiri sewaktu menjawab pertanyaan itu."Ayah kamu larang nama anak itu disebut di rumah ini," jawab Eleanor, "sampai hari kematiannya. Larangan itu berlaku buat semua orang, Malik. Buat Ibu Marni, buat semua kerabat, buat semua pekerja rumah tangga yang pernah kerja di sini.""Bahkan buat aku," tambah Eleanor, suaranya nyaris pecah. "Terutama buat kamu.""Kenapa terutama aku?" tanya Malik, tidak mengerti."Karena ayah kamu bilang," jawab Eleanor, "kamu anak yang seharusnya cukup buat Ibu. Dia nggak mau ada bayangan anak lain yang bikin Ibu ngebandingin kamu sama sesuatu yang udah nggak ada."Malik tidak marah, tidak mengucapkan satu kata bantahan pun, dan dia juga tidak bergerak untuk memeluk ibunya, meski Nindy bisa melihat betapa besar dorongan itu tertahan di bahu Malik yang menegang. Yang Malik lakukan hanya memandangi cap kaki bayi di atas meja, matanya tidak berpindah dari sana selama waktu yang terasa sangat la

  • Dok, Please Cukup!   Bab 149 Prosedur Penyerahan Bayi

    Nindy memperhatikan cara Eleanor menjawab pertanyaan itu, cepat, pasti, dan justru kepastian itu sendiri yang membuat dadanya terasa sesak, karena hanya orang yang menghitung hari demi hari sepanjang waktu itu yang bisa mengingat angka sepasti itu tanpa jeda berpikir sama sekali."Hari kesembilan," lanjut Eleanor, kembali menatap kertas cap kaki bayi di tengah meja, "ayah mertua Ibu dateng ke rumah sakit."Eleanor berhenti sejenak, jarinya bergerak menyentuh ujung kertas itu, tidak mengangkatnya, hanya menyentuh pinggirannya saja."Dia bawa satu laki-laki muda, pakai jas," lanjut Eleanor. "Ibu nggak kenal orangnya sama sekali. Ibu inget dia bawa map, terus dia jelasin semuanya, seluruh prosedurnya, dalam waktu nggak sampai setengah jam.""Prosedur apa, Bu?" tanya Malik, suaranya masih terjaga, meski Nindy bisa melihat jemarinya mulai bergetar halus di sisi tubuh sendiri."Prosedur penyerahan," jawab Eleanor, tanpa mengubah nada bicaranya sedikit pun, seolah dia sudah melatih dirinya s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status