Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 176 Makan Di sini aja

Share

Bab 176 Makan Di sini aja

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-09-26 06:54:32

Malik ikut berdiri lebih cepat dan mengangkat kedua tangannya. "Duduk, Bi. Biar aku yang siapin. Bibi makan sekalian sama kami."

Bi Inah berdiri tegak dengan tangan menggenggam sandaran kursi. Kakinya tidak bergerak ke arah dapur, dan tidak juga duduk kembali.

"Nggak usah, Pak. Saya makan di rumah aja nanti," jawab Bi Inah.

"Bibi udah jauh-jauh balik ke sini pakai baju rapi. Masa pulang laper," ucap Nindy.

Bi Inah memandangi kursinya sendiri seperti baru pertama kali melihat benda itu. Tanganny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 197 Batalin Semua

    Malik menatap pamannya. Sandal jepit hijau itu benar. Bi Inah memakainya setiap hari ke unit, dan meletakkannya di keset sebelah kiri pintu."Masih, Om," jawab Malik."Hebat. Orang setia itu jarang sekarang," ucap Om Bram, mengangguk puas.Om Bram melirik gelas kertas di sudut meja, bekas kopi pagi yang belum sempat dibuang, lalu menunjuknya dengan dagu."Masih kopi item nggak pake gula?" tanya Om Bram."Masih, Om," jawab Malik."Persis ayahmu. Dulu tiap pagi dia minum dua gelas, terus Ibu kamu ngomel soal lambungnya," ucap Om Bram, tertawa kecil. "Om sendiri udah berhenti. Dokter bilang jantung Om nggak kuat. Sekarang minumnya teh tawar, rasanya kayak air cucian."Malik tersenyum tipis tanpa menjawab. Pamannya tidak butuh jawaban untuk melanjutkan."Cucu Om yang paling kecil baru bisa jalan minggu lalu. Jatohnya ke depan terus, kayak kamu dulu," lanjut Om Bram, merogoh saku batiknya, mengeluarkan ponsel, dan memperlihatkan satu foto bayi berbaju kuning yang berdiri berpegangan pada k

  • Dok, Please Cukup!   Bab 196 Sepeda Pertama

    Nindy tidak bisa membantah, jadi dia ikut tertawa."Terus, modal awalnya berapa? Aku harus beliin apa aja? Kotak? Kompor tambahan? Wajan yang gede?" tanya Malik, suaranya sudah berubah jadi nada orang yang sedang mencatat."Malik, belum juga jadi," balas Nindy."Jumat itu dua hari lagi. Kamu mau masak buat berapa orang pakai satu wajan?" tanya Malik.Nindy membuka mulut untuk menjawab, tapi dari seberang telepon terdengar ketukan di pintu, disusul suara perempuan yang samar. Tawa Malik berhenti di tengah jalan."Tunggu sebentar," ucap Malik, dan suaranya berubah datar.Bunyi gesekan terdengar, seperti ponsel ditutup dengan telapak tangan. Nindy menunggu sambil memandangi kipas angin di sudut warung. Detik-detik lewat tanpa suara dari seberang, sampai akhirnya suara Malik kembali, lebih pelan dari sebelumnya."Nindy, ada tamu di depan ruang praktik aku. Nggak bikin janji, terus nolak disuruh bikin janji dulu. Perawat poliklinik barusan nyebut namanya.""Siapa?" tanya Nindy, menegakkan

  • Dok, Please Cukup!   Bab 195 Terlalu Enak

    Nindy menaruh sendoknya di bangku. "Dari buku tulisan tangan ibu aku. Beliau udah nggak ada, tinggal bukunya."Ruangan itu diam sebentar, dan Nindy menunggu tatapan kasihan yang biasanya muncul sesudah kalimat semacam itu. Suara Mega dari dekat pintu datang lebih dulu."Kalau gitu kamu bisa bikinin buat aku? Aku bayar," ucap Mega."Aku juga," sambar Tiara, ponselnya sudah muncul lagi. "Suami aku barusan bales, katanya pesen dua.""Saya tiga, buat seminggu. Anak-anak saya di rumah juga pasti doyan," tambah Bu Laras, mengelap sudut bibirnya dengan tisu.Yuni mengangkat satu tangan dari sudut ruangan tanpa bicara.Nindy memandangi mereka satu per satu dengan mulut setengah terbuka. Dewi menepuk pahanya keras-keras.Lima belas menit kemudian, Nindy dan Dewi duduk berhadapan di warung kopi bawah ruko, di meja pojok dekat kipas angin. Dua gelas teh manis dingin berembun di depan mereka, dan Dewi sudah mengeluarkan pulpen dari tasnya lalu membalik struk belanja minimarket yang terselip di do

  • Dok, Please Cukup!   Bab 194 Resep Darimana?

    Kelas berjalan satu jam penuh.Pemanasan leher dan bahu, lalu latihan panggul di atas bola besar, lalu latihan napas panjang yang dihitung Mbak Vira dengan suara datar. Selama itu, mata Mbak Vira jatuh ke Nindy dua kali lebih sering dari ke peserta lain, dan setiap kali Nindy bangkit dari posisi duduk, perempuan itu sudah maju setengah langkah dengan tangan siap menahan. Betis Nindy pegal di menit keempat puluh, dan dia tetap menahan tangannya di atas lutut."Nindy, bahunya turunin. Napasnya ditarik ke perut, dari tadi bahu kamu yang naik," tegur Mbak Vira dari depan."Iya, Mbak," jawab Nindy, menurunkan bahunya.Dari barisan belakang, Dewi berbisik cukup keras sampai seisi ruangan dengar, "Baru balik udah kena tegur. Selamat, Nin, kamu resmi anak kelompok utama.""Dewi, napasnya juga pakai perut, jangan pakai mulut," balas Mbak Vira tanpa menoleh, dan dua peserta di barisan tengah tertawa sampai hitungan napas mereka berantakan.Jam dua lewat lima, Mbak Vira menutup kelas dengan tepu

  • Dok, Please Cukup!   Bab 193 Kelompok Orang Normal

    Nindy tertawa, lalu duduk dan mengambil pisau kecil. Pisau kecil di tangan Nindy bergerak lebih lambat dari pisau Bi Inah. Mereka mengupas bawang dalam diam selama beberapa menit, kulit tipis berwarna ungu menumpuk di atas koran yang digelar Bi Inah di tengah meja."Bi, tadi subuh aku ngitung resep di buku Ibu," ucap Nindy, melirik buku bersampul cokelat di ujung meja dapur. "Ada empat puluh tiga."Bi Inah mengangkat alis tanpa berhenti mengupas. "Banyak juga, Bu. Mau dimasak semua?""Pengin," jawab Nindy, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan, "satu-satu, sampai abis."Sambil melempar kulit bawang ke atas koran, Bi Inah menghitung dengan bibirnya sendiri. "Kalau seminggu dua resep, berarti setengah tahun lebih dikit. Pas dedeknya lahir, bukunya udah tamat."Nindy berhenti mengupas. Hitungan itu belum pernah terpikir olehnya, dan dia memandangi bawang di tangannya beberapa detik sebelum tersenyum."Bibi mau bantuin?" tanya Nindy."Saya bantu nyuci wajannya aja, Bu. Masaknya Ibu se

  • Dok, Please Cukup!   Bab 192 Memang Enak

    Untuk waktu yang lama, mereka berbaring dalam posisi yang sama. Malik akhirnya menarik selimut sampai ke bahu Nindy, lalu menyalakan lampu tidur lagi supaya istrinya bisa menemukan gelas air di nakas.Nindy minum setengah gelas, lalu berbaring menghadap suaminya. Tiga foto di depan lampu tidur memantulkan cahaya kuning ke langit-langit."Malik, aku kepikiran dari jam sembilan tadi. Aku pengin masak semua resep di buku Ibu, satu per satu, sampai abis."Malik membuka matanya yang sudah setengah terpejam. "Buat siapa?""Aku belum tahu," jawab Nindy pelan, memandangi foto poni miring di atas nakas. "Aku cuma udah lama banget nggak punya satu hal pun yang aku kerjain buat diri aku sendiri."***Alarm ponsel Malik berbunyi jam setengah tujuh, dan tangannya meraba sisi ranjang sebelah kiri yang ternyata sudah dingin. Dari arah dapur terdengar bunyi tutup kotak plastik ditekan sampai berbunyi klik, disusul bunyi sendok beradu dengan pinggir wajan.Malik keluar kamar masih dengan kaus tidur, r

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status