Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 195 Terlalu Enak

Share

Bab 195 Terlalu Enak

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-10-02 06:55:25

Nindy menaruh sendoknya di bangku. "Dari buku tulisan tangan ibu aku. Beliau udah nggak ada, tinggal bukunya."

Ruangan itu diam sebentar, dan Nindy menunggu tatapan kasihan yang biasanya muncul sesudah kalimat semacam itu. Suara Mega dari dekat pintu datang lebih dulu.

"Kalau gitu kamu bisa bikinin buat aku? Aku bayar," ucap Mega.

"Aku juga," sambar Tiara, ponselnya sudah muncul lagi. "Suami aku barusan bales, katanya pesen dua."

"Saya tiga, buat seminggu. Anak-anak saya di rumah juga pasti doy
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 195 Terlalu Enak

    Nindy menaruh sendoknya di bangku. "Dari buku tulisan tangan ibu aku. Beliau udah nggak ada, tinggal bukunya."Ruangan itu diam sebentar, dan Nindy menunggu tatapan kasihan yang biasanya muncul sesudah kalimat semacam itu. Suara Mega dari dekat pintu datang lebih dulu."Kalau gitu kamu bisa bikinin buat aku? Aku bayar," ucap Mega."Aku juga," sambar Tiara, ponselnya sudah muncul lagi. "Suami aku barusan bales, katanya pesen dua.""Saya tiga, buat seminggu. Anak-anak saya di rumah juga pasti doyan," tambah Bu Laras, mengelap sudut bibirnya dengan tisu.Yuni mengangkat satu tangan dari sudut ruangan tanpa bicara.Nindy memandangi mereka satu per satu dengan mulut setengah terbuka. Dewi menepuk pahanya keras-keras.Lima belas menit kemudian, Nindy dan Dewi duduk berhadapan di warung kopi bawah ruko, di meja pojok dekat kipas angin. Dua gelas teh manis dingin berembun di depan mereka, dan Dewi sudah mengeluarkan pulpen dari tasnya lalu membalik struk belanja minimarket yang terselip di do

  • Dok, Please Cukup!   Bab 194 Resep Darimana?

    Kelas berjalan satu jam penuh.Pemanasan leher dan bahu, lalu latihan panggul di atas bola besar, lalu latihan napas panjang yang dihitung Mbak Vira dengan suara datar. Selama itu, mata Mbak Vira jatuh ke Nindy dua kali lebih sering dari ke peserta lain, dan setiap kali Nindy bangkit dari posisi duduk, perempuan itu sudah maju setengah langkah dengan tangan siap menahan. Betis Nindy pegal di menit keempat puluh, dan dia tetap menahan tangannya di atas lutut."Nindy, bahunya turunin. Napasnya ditarik ke perut, dari tadi bahu kamu yang naik," tegur Mbak Vira dari depan."Iya, Mbak," jawab Nindy, menurunkan bahunya.Dari barisan belakang, Dewi berbisik cukup keras sampai seisi ruangan dengar, "Baru balik udah kena tegur. Selamat, Nin, kamu resmi anak kelompok utama.""Dewi, napasnya juga pakai perut, jangan pakai mulut," balas Mbak Vira tanpa menoleh, dan dua peserta di barisan tengah tertawa sampai hitungan napas mereka berantakan.Jam dua lewat lima, Mbak Vira menutup kelas dengan tepu

  • Dok, Please Cukup!   Bab 193 Kelompok Orang Normal

    Nindy tertawa, lalu duduk dan mengambil pisau kecil. Pisau kecil di tangan Nindy bergerak lebih lambat dari pisau Bi Inah. Mereka mengupas bawang dalam diam selama beberapa menit, kulit tipis berwarna ungu menumpuk di atas koran yang digelar Bi Inah di tengah meja."Bi, tadi subuh aku ngitung resep di buku Ibu," ucap Nindy, melirik buku bersampul cokelat di ujung meja dapur. "Ada empat puluh tiga."Bi Inah mengangkat alis tanpa berhenti mengupas. "Banyak juga, Bu. Mau dimasak semua?""Pengin," jawab Nindy, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan, "satu-satu, sampai abis."Sambil melempar kulit bawang ke atas koran, Bi Inah menghitung dengan bibirnya sendiri. "Kalau seminggu dua resep, berarti setengah tahun lebih dikit. Pas dedeknya lahir, bukunya udah tamat."Nindy berhenti mengupas. Hitungan itu belum pernah terpikir olehnya, dan dia memandangi bawang di tangannya beberapa detik sebelum tersenyum."Bibi mau bantuin?" tanya Nindy."Saya bantu nyuci wajannya aja, Bu. Masaknya Ibu se

  • Dok, Please Cukup!   Bab 192 Memang Enak

    Untuk waktu yang lama, mereka berbaring dalam posisi yang sama. Malik akhirnya menarik selimut sampai ke bahu Nindy, lalu menyalakan lampu tidur lagi supaya istrinya bisa menemukan gelas air di nakas.Nindy minum setengah gelas, lalu berbaring menghadap suaminya. Tiga foto di depan lampu tidur memantulkan cahaya kuning ke langit-langit."Malik, aku kepikiran dari jam sembilan tadi. Aku pengin masak semua resep di buku Ibu, satu per satu, sampai abis."Malik membuka matanya yang sudah setengah terpejam. "Buat siapa?""Aku belum tahu," jawab Nindy pelan, memandangi foto poni miring di atas nakas. "Aku cuma udah lama banget nggak punya satu hal pun yang aku kerjain buat diri aku sendiri."***Alarm ponsel Malik berbunyi jam setengah tujuh, dan tangannya meraba sisi ranjang sebelah kiri yang ternyata sudah dingin. Dari arah dapur terdengar bunyi tutup kotak plastik ditekan sampai berbunyi klik, disusul bunyi sendok beradu dengan pinggir wajan.Malik keluar kamar masih dengan kaus tidur, r

  • Dok, Please Cukup!   Bab 191 Terusss...

    Mendengar itu, Malik berhenti di tengah kamar, kausnya masih di tangan."Aku tetep pegang aturan aku," lanjut Nindy. "Laci itu nunggu sampai giliran kamu kelar."Malik duduk di sebelah istrinya, lalu berkata pelan, "Nindy, aturan itu kamu yang bikin. Kamu juga yang boleh ngelepasnya. Kalau kamu mau ke rumah lama minggu ini, aku anterin. Aku nggak keberatan giliran aku kepotong sehari.""Kamu yang nawarin?" tanya Nindy, menoleh."Aku yang nawarin," jawab Malik.Nindy menutup botol losion dan menaruhnya di nakas, di samping tiga foto itu. "Giliran kamu baru jalan dua hari, Malik. Aku udah nunggu dua puluh delapan tahun. Nunggu dua minggu lagi nggak bakal bikin aku mati."Malik membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia menarik napas panjang lewat hidung dan mengangguk sekali.Anggukan itu dibalas Nindy dengan senyum, lalu dia berdiri dan mendorong bahu suaminya sampai punggung Malik rebah ke kasur. Malik tertawa kaget, dan tawanya berhenti waktu Nindy naik ke atas pangkuannya, kedua lutut

  • Dok, Please Cukup!   Bab 190 Masih Ada Keraknya

    Malik mengambil alih dan mengulek dengan tenaga penuh, sampai ulekan itu bergeser setengah jengkal ke tepi meja setiap kali dia menekan."Pelan, Malik, cobeknya nggak salah apa-apa," tegur Nindy, menahan ujung cobek dengan dua tangan."Kata bukunya harus halus," jawab Malik, terus mengulek.Ayam dimasak lebih dulu dengan bumbu rujak, dan dapur mulai berbau asam manis. Nindy mengaduk wajan, menaburkan garam dari toples, mencicipi, lalu berbalik mengurus kentang yang harus digoreng untuk sambal goreng. Sepuluh menit kemudian dia kembali ke wajan ayam, mengaduknya lagi, dan menaburkan garam sekali lagi."Kamu tadi udah masukin garam," ucap Malik dari belakang, suaranya ragu.Sendok garam di tangan Nindy berhenti di udara. Isinya sudah setengah jatuh ke wajan."Kapan?" tanya Nindy."Sebelum kamu goreng kentang. Aku liat kok," jawab Malik.Nindy mencicipi kuah ayam itu, dan wajahnya berubah. Dia membuka buku resep di halaman kedua, menyusuri pinggir halaman dengan jari, lalu berhenti di sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status