Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 189 Gantian, Tanganku Pegel

Share

Bab 189 Gantian, Tanganku Pegel

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-09-29 21:55:28

Menjelang jam delapan, isi kardus sepatu itu sudah kembali digelar di lantai ruang tengah, kali ini disusun ulang dari awal. Nindy duduk bersila di tengah karpet, mengelompokkan foto demi foto menurut tahun yang dia tebak dari tinggi badannya sendiri, dan kipas angin kecil di sudut ruangan berputar pelan ke kiri dan ke kanan.

Tiap kali kepala kipas itu menghadap ke tengah, ujung foto yang paling ringan terangkat, sehingga Malik bertugas menahan barisan depan dengan kedua telapak tangan, dan ses
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 189 Gantian, Tanganku Pegel

    Menjelang jam delapan, isi kardus sepatu itu sudah kembali digelar di lantai ruang tengah, kali ini disusun ulang dari awal. Nindy duduk bersila di tengah karpet, mengelompokkan foto demi foto menurut tahun yang dia tebak dari tinggi badannya sendiri, dan kipas angin kecil di sudut ruangan berputar pelan ke kiri dan ke kanan.Tiap kali kepala kipas itu menghadap ke tengah, ujung foto yang paling ringan terangkat, sehingga Malik bertugas menahan barisan depan dengan kedua telapak tangan, dan sesekali dia terlambat sampai satu foto meluncur ke bawah sofa."Itu yang umur lima, cepet ambil sebelum ilang," ucap Nindy tanpa menoleh, masih menyusun barisan umur tiga.Malik merangkak ke bawah sofa, meraba-raba sebentar, lalu keluar lagi dengan foto itu di tangan dan sedikit debu di rambutnya. "Kipasnya matiin aja, ya?""Jangan, gerah," jawab Nindy.Mendengar jawaban itu, Malik menghela napas panjang dan bertanya lagi, "Terus aku jadi pemberat kertas sampai jam berapa?""Sampai selesai," jawab

  • Dok, Please Cukup!   Bab 188 Biar Aku Sendiri

    Malik menarik kertas itu kembali, memutarnya ke segala arah, lalu membalas, "Kucing kamu kupingnya sepanjang badannya sendiri."Tawa Nindy pecah sampai dia harus bersandar ke kaki sofa. Air matanya ikut keluar, dan waktu dia menyeka pipinya, tawanya berubah jadi tangis tanpa jeda, lalu berubah lagi jadi tawa waktu Malik menempelkan gambar kucing ungu itu di dadanya sendiri seperti papan nama. Pipit di kursi tunggal sudah tidak berusaha menyeka matanya lagi, dan tisu yang Malik sodorkan dia terima sambil tertawa juga.Lembar demi lembar dibuka Nindy di atas karpet. Ada gambar ikan dengan sisik yang diwarnai satu-satu, gambar pohon mangga yang buahnya lebih besar dari batangnya, dan gambar perempuan berdaster yang memegang sendok besar, dengan tulisan IBU di bawahnya. Huruf U-nya terbalik. Tanggal di pojok gambar itu ditulis Suryani dengan tinta yang lebih tebal dari tanggal-tanggal lain, dan di sebelahnya Suryani menambahkan satu kata kecil, pertama."Gambar Ibu pertama kamu," ucap Mal

  • Dok, Please Cukup!   Bab 187 Foto Kenangan

    Tutup kardus dia angkat. Bau kertas lama dan kapur barus langsung naik dari dalamnya.Isinya foto-foto cetak studio yang ditumpuk rapi, ukurannya macam-macam, beberapa masih di dalam sampul plastik bening dari studionya. Foto paling atas memperlihatkan seorang anak perempuan berumur sekitar tiga tahun yang duduk di pangkuan Wisnu, sedangkan Suryani berdiri di belakang mereka dengan satu tangan di bahu suaminya. Latar belakangnya kain biru bergambar awan, dan anak perempuan itu menatap kamera sambil menggigit ujung jarinya sendiri.Nindy menutup mulutnya dengan punggung tangan.Malik turun dari sofa, duduk bersila di atas karpet di sebelah kaki istrinya, lalu mengambil foto kedua dari tumpukan tanpa izin. Pipit menaruh piring kuenya di meja dan ikut mencondongkan badan."Ini kamu?" tanya Malik, mengangkat foto itu ke dekat wajah Nindy. "Ponimu kok kayak dipotong pakai gergaji?"Tangan Nindy turun dari mulutnya, dan dia menepuk kepala Malik pakai foto yang lain. "Itu Ibu yang motong, pa

  • Dok, Please Cukup!   Bab 186 Barangnya

    Malik mengisi kolom jam keluar di buku tamu dekat pintu, dan Nindy menunggu di sebelahnya sambil menyampirkan tas di bahu. Mereka sudah berbalik ke arah pintu ketika Pak Sardi berdeham."Dok, ada satu hal. Tadi saya bilang jarang ada yang nanya buku registrasi, terakhir mahasiswa skripsi. Itu yang dateng baik-baik. Sebenernya setahun lalu ada juga yang nanya, cuma saya nggak ngitung, soalnya nggak saya kasih."Malik berhenti dengan satu tangan di gagang pintu. Nindy menoleh."Siapa, Pak?" tanya Malik.Sambil membetulkan letak map merah di sudut mejanya, Pak Sardi menjawab, "Katanya dari kantor pengelola sebuah yayasan. Dia nanya buku registrasi bangsal tahun-tahun itu, persis tahun yang tadi Dokter buka. Saya tanya suratnya mana, dia bilang suratnya nyusul. Ya udah, saya bilang dateng lagi kalau suratnya udah ada."Mendengar itu, Nindy bertanya, "Terus dia dateng lagi, Pak?""Nggak pernah, Bu. Sampai hari ini," jawab Pak Sardi.Malik melepas gagang pintu. Dia mengeluarkan ponselnya la

  • Dok, Please Cukup!   Bab 185 Salinan Digital

    Setelah jeda sebentar, Pak Sardi menambahkan dengan suara lebih rendah, "Kalau map resmi, lain cerita. Map resmi itu yang biasanya disesuaikan, Dok, kalau ada permintaan dari keluarga."Nindy teringat dua lubang kecil di sudut kiri lembar tunggal tadi, serat kertas yang sobek kasar di sekelilingnya. Dia melirik Malik, dan dari cara rahang suaminya bergerak, dia tahu Malik sedang mengingat lubang yang sama.Pak Sardi menatap mereka berdua bergantian, lalu berbalik tanpa berkata apa-apa. Langkahnya menuju meja panjang dekat pintu, dan dari sana terdengar bunyi laci ditarik, disusul bunyi tutup termos yang diputar.Laki-laki itu kembali membawa termos biru bergambar bunga yang catnya sudah mengelupas di bagian pegangan, dan dua gelas kaca yang bentuknya tidak sama. Gelas pertama tinggi dan ramping, ada sisa stiker harga di dasarnya, sedangkan gelas kedua pendek dan tebal, bekas wadah selai yang labelnya sudah dikerok tapi masih meninggalkan bekas lem di satu sisi."Teh manis, Dok, Bu. Bi

  • Dok, Please Cukup!   Bab 184 Kemungkinan Salah Tulis

    Kedua telapak tangan Malik menahan halaman tujuh puluh dua supaya tetap rata di atas meja, sedangkan matanya kembali ke awal baris itu dan membacanya lagi dari kolom nama. Sampai di kata pindah, dia berhenti, menarik napas lewat hidung, lalu mengulang dari kolom pertama. Ketiga kalinya, bibirnya ikut bergerak tanpa suara.Di sebelahnya, Nindy memiringkan kepala ke kanan. Di sisi paling kanan halaman, melewati kolom ket., masih ada satu kolom lagi yang lebih sempit, garisnya ditarik dengan penggaris yang agak miring dan judulnya ditulis dengan huruf kecil sekali, tuj. Isinya cuma tiga huruf kapital yang dipisah titik, disusul dua huruf kecil di belakangnya."Malik, masih ada satu kolom lagi," ucap Nindy, menunjuk ujung baris itu dengan kuku telunjuknya tanpa menyentuh tinta.Malik menggeser kedua tangannya ke kanan, menunduk sampai wajahnya hampir menempel ke kertas, lalu mengeja tiga huruf itu satu per satu dengan suara pelan. Dia mengeja sekali lagi, kemudian menegakkan punggungnya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status