Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 210 Baru Bisa Makan

Share

Bab 210 Baru Bisa Makan

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-10-10 21:19:39

Dari dalam studio terdengar tawa tertahan. Nindy menutup mulutnya dengan punggung tangan, karena dia tahu pendingin ruangan di studio itu bahkan belum dinyalakan hari ini.

Lima peserta keluar satu per satu sambil memegangi punggung dan perut masing-masing. Dewi yang paling akhir, berjalan pelan dengan satu tangan menyangga punggung, dan dia langsung mengambil daftar dari tas begitu melihat meja panjang itu.

"Dewi, tolong, aku lupa nyiapin kembalian," ucap Nindy, menunjuk uang seratus ribu di ta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 211 Ditungguin

    Nindy tertawa dan tidak bisa berhenti. Di sekelilingnya, orang-orang saling menyodorkan uang, saling bertanya harga, dan saling menunjuk kotak masing-masing, sementara dia berusaha menjawab semuanya sambil memegangi buku catatan di pangkuan. Pipinya pegal karena tertawa, dan dia belum ingin ada yang menyuruh semua orang diam.Sesudah pembayaran selesai dan semua orang berpamitan membawa kotak masing-masing, ruang tunggu itu kembali sepi. Nindy duduk di kursi panjang, menumpuk uang dari dalam kantong kresek di pangkuannya, sementara Dewi duduk di sebelahnya dan ikut menghitung."Tiga ratus dua puluh," ucap Dewi pada hitungan pertamanya."Aku dapet tiga ratus lima belas. Hitung lagi," jawab Nindy, menyodorkan tumpukan lembaran itu.Dewi menghitung ulang dengan bibir bergerak, lalu mengerutkan dahi. "Sekarang tiga ratus sepuluh. Kok bisa berkurang, padahal kita nggak ngapa-ngapain?""Soalnya kamu ngitung sambil ngelirik kotaknya Fitri. Fokus dulu, Dew," jawab Nindy, menahan tawa di tenga

  • Dok, Please Cukup!   Bab 210 Baru Bisa Makan

    Dari dalam studio terdengar tawa tertahan. Nindy menutup mulutnya dengan punggung tangan, karena dia tahu pendingin ruangan di studio itu bahkan belum dinyalakan hari ini.Lima peserta keluar satu per satu sambil memegangi punggung dan perut masing-masing. Dewi yang paling akhir, berjalan pelan dengan satu tangan menyangga punggung, dan dia langsung mengambil daftar dari tas begitu melihat meja panjang itu."Dewi, tolong, aku lupa nyiapin kembalian," ucap Nindy, menunjuk uang seratus ribu di tangan Mbak Susi."Tenang, di bawah ada warung kopi, nanti aku tuker," jawab Dewi, mengambil uang itu.Tiara, peserta paling muda dengan kuncir kudanya, sudah meraih lengan Dewi sebelum ada yang menyuruh. "Biar saya anter, Mbak, tangganya licin."Mereka berdua turun pelan-pelan, sedangkan di ruang tunggu Nindy mulai membagikan kotak sesuai nama di stiker. Bu Laras menerima kotaknya, membuka tutupnya, lalu mengernyit."Ini ayamnya dada. Saya maunya paha," ucap Bu Laras, mengangkat kotak itu setingg

  • Dok, Please Cukup!   Bab 209 Nggak Sabar

    "Pelan," ucap Malik, kedua tangannya mengeras di punggung istrinya."Iya, pelan. Gini, tarik napas dulu, ikutin aku," jawab Nindy, lalu bergerak naik sedikit dan turun lagi, tempo yang sama berulang-ulang, sampai bahu Malik yang tegang mengendur di bawah dahinya.Malik menciumi leher istrinya sambil sesekali menggumamkan namanya."Hangat banget," bisik Malik di kulit lehernya."Sstt, rasain aja," balas Nindy, menempelkan pipinya di rambut Malik dan menggerakkan pinggulnya dengan lingkaran kecil yang lebih lambat dari sebelumnya."Di situ," bisik Malik."Di sini?" tanya Nindy."Iya, jangan diganti," jawab Malik, jarinya mengeratkan pegangan di pinggang istrinya.Napas Nindy mulai putus di tengah gerakannya. Satu tangannya naik ke belakang kepala Malik, menahan, sementara tangan lain bertumpu di bahu suaminya, dan dia bergerak sampai paha kirinya bergetar. Ketika tubuhnya mengejang pelan, dia menggigit bibir bawahnya dan menempelkan wajahnya ke bahu Malik, dan Malik menyusul beberapa ge

  • Dok, Please Cukup!   Bab 208 Biar Aku

    "Kenapa diem?" tanya Nindy."Soalnya Om Bram tahu empat belas minggu, dan aku nggak tahu dia tahu dari siapa. Aku jawab sehat, cuma itu," jawab Malik.Gelas air di depan Malik dia putar setengah putaran, lalu dia putar lagi. Kemudian, tanpa mengangkat mata dari gelas itu, dia melanjutkan, "Skorsing itu udah lewat, aku nggak takut lagi sama itu. Yang bikin aku takut, orang itu tahu persis kapan harus nyerang, dan tahu persis apa yang paling gampang diambil dari aku."Nindy membalik struk belanja pasar yang terselip di bawah toples gula, mengambil pulpen dari dekat buku resep, lalu menarik kursinya lebih dekat ke meja."Aku nggak mau denger yang kamu takutin lagi. Sekarang sebutin yang masih aman, satu-satu," ucap Nindy, ujung pulpennya sudah menempel di kertas."Surat penolakan direktur," jawab Malik, menunjuk map di bawah tangan istrinya.Nindy menulis satu baris dan mengangkat dagu. "Terus?""Kunci gembok, di lemari Ratih, dan kunci lemarinya dikalungin Ratih sendiri," ucap Malik, ka

  • Dok, Please Cukup!   Bab 207 Cuma Nasi

    Nindy mengambil ponselnya, lalu mengelilingi meja untuk memotret kotak-kotak itu dari atas, dari samping, dan dari ujung meja dengan badan merendah. Hampir lima menit dia habiskan begitu, bahkan sempat menggeser dua kotak supaya cahaya lampu dapur jatuh pas di ayamnya."Itu cuma nasi, Bu, difoto lima menit juga rasanya sama," ucap Bi Inah, menertawakannya sampai bahunya naik turun di depan bak cuci."Buat portofolio, Bi. Siapa tahu ada yang mau pesen lagi," jawab Nindy, menunduk lagi ke layar.Bi Inah masih terkekeh ketika menggosok wajan terakhir dan menaruhnya di rak. Sesudah itu dia mengelap tangan, mengambil dua sendok dari laci, dan menarik kursi di seberang Nindy.Panci ayam bumbu rujak yang tersisa di tengah meja masih mengepul tipis. Satu sendok dia sodorkan ke Nindy, lalu mereka sama-sama menyendok kuah dan sisa ayam dari dasar panci.Dapur itu masih berantakan. Kulit bawang tercecer di lantai, tiga panci berminyak menumpuk di sebelah bak cuci, dan taplak meja penuh bercak bu

  • Dok, Please Cukup!   Bab 206 Masak

    "Itu pegangnya salah, Bu. Pisau dipegang dari pangkal bilah, jempol sama telunjuk njepit, jangan di ujung gagang kayak megang pensil. Kalau gitu terus, tangan Ibu capek sebelum bawangnya habis," ucap Bi Inah, menggeser jari-jari Nindy satu per satu.Nindy mengikuti arahan itu dan irisannya langsung jadi lebih rata. Bawangnya dia tumpuk di piring, sambil sesekali melirik ke belakang untuk memastikan Bi Inah sudah puas.Ponsel di dekat gelas bergetar sekali, dan Nindy menyambarnya sebelum getarannya berhenti. Layarnya cuma menampilkan pengumuman dari grup kelas prenatal, jadi dia membalik ponsel itu menghadap meja."Dari tadi dilirik terus, Bu. Nanti irisannya miring semua," ucap Bi Inah."Lagi nunggu kabar dari Malik, Bi. Siang tadi dia dipanggil direktur rumah sakit," jawab Nindy, mengambil bawang berikutnya.Bi Inah mengangkat ayam dari panci dengan penjepit dan menaruhnya di piring besar. "Pak Malik itu kalau ada kabar pasti ngabarin, Bu. Dari kecil udah gitu, kabar baik atau jelek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status