LOGIN"Pikirin aku aja. Coba ingat waktu kita masih sekolah dulu... kamu pernah ngambek seharian cuma gara-gara aku telat jemput naik motor tua," celetuk Malik membawa kenangan manis masa remaja mereka ke dalam kamar tersebut.
Nindy mendengus pelan di sela-sela napasnya yang hangat. Kenangan sederhana itu seketika memicu rasa haru dan kenyamanan yang luar biasa di dalam dadanya.
"Nindy, ini bukan soal siapa yang mutusin," bantah Malik, suaranya masih terjaga meski jelas menahan sesuatu yang besar di baliknya. "Ini soal keselamatan kamu sama anak kita.""Aku tahu, Malik. Tapi selama ini semua orang yang sayang sama aku selalu bilang begitu," balas Nindy, tidak menaikkan suaranya sedikit pun. "Bapak dulu, Suryani, sekarang kamu. Semuanya sayang, semuanya mutusin buat aku, dan aku selalu jadi orang terakhir yang tahu."Malik terdiam, rahangnya mengeras, tidak langsung membalas kalimat tersebut karena dia tahu betul di dalamnya ada kebenaran yang tidak bisa dia bantah begitu saja."Coba kamu pikirin dari sisi aku," ucap Malik akhirnya, suaranya lebih pelan. "Kalau ada apa-apa sama kamu pas ketemu Bahar, aku nggak akan bisa maafin diri aku sendiri.""Aku ngerti perasaan kamu," jawab Nindy, meraih tangan Malik di atas meja, menggenggamnya. "Tapi rasa takut kamu nggak boleh jadi alasan buat nahan aku terus, Malik. Aku juga takut, tapi aku lebih takut nggak pernah ta
Nindy berhenti sejenak, menahan tangan Om Har sebelum pensiunan itu sempat berjalan lebih jauh. "Makasih, Om. Beneran, kalau bukan karena Om cerita kemarin, kami mungkin nggak bakal sadar sama sekali."Om Har tersenyum lebar, menepuk punggung tangan Nindy pelan. "Sama-sama, Nak. Namanya juga tetangga, harus saling jaga."Mereka berdua melangkah keluar dari ruang pengelola menuju lorong belakang lobi, langkah Nindy masih agak berat, pikirannya masih dipenuhi bayangan buket bunga yang sudah berakhir di tempat sampah entah di mana.Ponsel Malik berbunyi tepat di depan pintu ruang pengelola, layarnya menampilkan nama Hendra, dan Malik langsung mengangkatnya, meletakkan telepon itu di telinga dengan gerakan cepat."Hendra, aku baru mau telepon kamu, maaf semalem—""Malik," potong Hendra, suaranya terdengar terburu, tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk Malik menyelesaikan kalimatnya. "Bahar ngajuin permohonan resmi lewat kuasa hukumnya, mau ketemu Nindy satu kali di rumah tahanan."Ma
Petugas menggeser kursor mundur, memutar ulang rekaman dengan kecepatan setengah normal, matanya sendiri menyipit memperhatikan setiap gerakan laki-laki tersebut.Di detik seratus delapan, tepat sebelum berbelok ke arah pintu samping keluar, laki-laki itu berhenti sejenak, mendongak ke atas, matanya tertuju pada papan nama gedung yang tergantung di dekat pintu masuk."Berenti di situ," ucap Malik cepat.Petugas menekan tombol jeda, gambar membeku di layar. Wajah itu akhirnya kelihatan, meski buram, pecah karena resolusi kamera yang seadanya, garis rahang tua dengan kerutan di sekitar mata, kulit yang sudah mengendur dimakan usia.Nindy mencondongkan badannya, mendekatkan wajah ke layar sampai jaraknya tinggal sejengkal, matanya menyapu setiap detail yang bisa dia tangkap dari gambar buram itu."Kamu kenal?" tanya Malik pelan, menatap punggung istrinya yang menegang.Nindy menggeleng, lama sekali, matanya belum juga berpaling dari layar. "Nggak, Malik. Aku nggak kenal sama sekali muka
Malik membiarkan lampu tidur menyala beberapa menit lebih lama, memperhatikan wajah istrinya yang tenang dalam tidur, sebelum akhirnya meraih ujung selimut, menariknya sampai ke bahu Nindy, lalu mematikan lampu tersebut dengan gerakan pelan agar tidak menimbulkan bunyi.Dia berbaring di sisi lain kasur, menatap langit-langit kamar yang gelap, pikirannya masih berputar, halaman yang hilang, nama yang tadi terucap di ruang tengah, laki-laki bertopi yang belum jelas wajahnya, semua berbaris rapi menunggu giliran untuk dipikirkan ulang.Jam di ponselnya menunjukkan lewat tengah malam, kemudian lewat jam satu, sementara Malik masih terjaga, matanya belum juga terpejam meski tubuhnya sudah lelah.Getaran pelan dari nakas membangunkannya dari lamunan itu, satu kali, kemudian disusul getaran kedua tidak lama sesudahnya.Malik meraih ponselnya, menggeser layar dengan mata yang masih setengah terpejam menahan kantuk yang akhirnya datang justru di saat yang salah. Notifikasi pertama muncul dari
"Nyaman banget, Malik," jawab Nindy, tersenyum, tangannya menarik kerah kaus suaminya pelan. "Berhenti nanya terus, aku bakal bilang kalau ada yang nggak enak."Malik tersenyum mendengar itu, melepas kausnya sendiri dengan satu gerakan, melemparkannya ke lantai tanpa banyak pikir, kemudian kembali menunduk, kali ini bibirnya bergerak turun ke leher Nindy, melewati kalung dua separuh hati yang tetap tergantung di sana, tidak dia lepas sama sekali, seolah benda itu memang sudah jadi bagian dari tubuh istrinya sendiri.Sentuhan itu bergerak lambat, telapak tangan Malik menyusuri sisi tubuh Nindy dari pinggang naik ke tulang rusuk, berhenti sejenak di sana sebelum bergerak lebih jauh, membuka kancing kaus tidur istrinya satu per satu dengan kesabaran yang tidak biasa, jauh berbeda dari gerakan tergesa yang dulu pernah mereka lakukan di masa-masa awal.Nindy melengkungkan punggungnya sedikit membantu kausnya terlepas, membiarkan udara kamar menyentuh kulitnya, mengeluarkan desahan pelan be
Nindy menekan tombol kirim, meletakkan ponselnya di atas paha, menunggu tanpa banyak berharap balasan itu akan datang secepat biasanya, mengingat jam sudah menunjukkan lewat sepuluh malam.Belum genap satu menit berlalu, layar ponsel itu menyala kembali, menampilkan notifikasi balasan yang membuat Nindy langsung duduk tegak di sofa, bahunya menegang seketika.Saya udah nunggu pertanyaan itu sejak malam kita ketemu di kantor notaris, Nindy.Suara pintu balkon terkunci menutup rangkaian gerakan yang sejak tadi diperhatikan Nindy dari ambang kamar, bersandar ke kusen pintu dengan kedua tangan menyilang di depan dada.Malik menaruh buku catatan itu ke sekat kotak kayu berukir di rak, menutup penutupnya rapat, lalu mematikan lampu ruang tengah tanpa diminta sama sekali. Gerakan itu berurutan, cepat, seolah sudah tersusun rapi di kepalanya sejak beberapa menit sebelumnya."Kamu ngunci semuanya kayak biasa aja hari ini," ucap Nindy, memperhatikan suaminya melangkah mendekat."Aku pengin male







