MasukSetelah Malik pergi, Eleanor menggeser kursinya lebih dekat ke Nindy, menggenggam tangan menantunya itu. "Kamu harus banyak istirahat mulai sekarang, Nindy. Kehamilan udah masuk bulan kedua, biasanya di fase ini tubuh masih penyesuaian.""Iya, Bu. Nindy bakal jaga diri baik-baik," jawab Nindy sambil tersenyum. "Apalagi sekarang ada Malik yang selalu siaga."Eleanor tertawa kecil, mengusap punggung tangan Nindy. "Ibu seneng banget lihat kalian berdua akhirnya bahagia. Setelah semua yang kalian lewatin, kalian pantas dapetin ini."Percakapan hangat itu berlanjut sampai akhirnya Malik kembali sekitar setengah jam kemudian, membawa kantong plastik berisi es krim rasa mangga yang diminta Nindy. Wanita itu langsung menyambut dengan mata berbinar, membuka tutup es krim tersebut tanpa menunggu lama."Makasih, Malik! Kamu emang suami paling baik," ucap Nindy sambil menyendok es krim itu dengan penuh semangat.Malik duduk di sampingnya, menghela napas lega. "Untung tokonya masih buka. Kamu maka
Nindy mengangguk pelan, matanya mulai terasa berat menahan kantuk. "Kita bahas lagi lain waktu ya, Malik. Sekarang aku beneran udah nggak kuat mikir apa-apa lagi."Malik tersenyum, mengecup kening Nindy lembut. "Iya, Sayang. Istirahat dulu, kita lanjutin obrolan ini besok atau kapan-kapan aja."Nindy memejamkan mata, merasakan kehangatan pelukan Malik yang perlahan menghantarkannya ke alam mimpi. Namun, tepat sebelum benar-benar tertidur, samar-samar ia mendengar ponsel Malik yang tergeletak di meja nakas bergetar pelan, menampilkan notifikasi pesan singkat dari nomor yang tersimpan dengan nama "Fajar".Malik meraih ponselnya dari meja nakas, membuka notifikasi yang baru masuk. Layar menampilkan pesan dari Fajar."Malik, makasih banyak udah nerima aku sama Sari dengan tangan terbuka hari ini. Aku sama Sari udah otw pulang. Sekali lagi selamat buat kalian berdua. Semoga langgeng sampai tua."Malik tersenyum tipis membaca pesan itu, jarinya cepat mengetik balasan singkat. "Makasih juga
Nindy tertawa kecil mendengar itu, menoleh ke arah Malik. "Kedengerannya masih aneh di telinga aku.""Nanti juga terbiasa," balas Malik sambil mengecup pelipis Nindy lembut. "Kamu udah mikir belum, kita bakal tinggal di apartemen ini terus, atau cari rumah baru?"Nindy mengernyitkan dahi, memikirkan pertanyaan itu sejenak. "Kamu ada rencana pindah, Malik?""Aku cuma mikir, sebentar lagi anak kita lahir. Apartemen ini nyaman, tapi mungkin kurang cocok buat anak kecil yang butuh ruang main," jelas Malik sambil mengusap perut Nindy pelan. "Aku pengin punya halaman kecil, tempat dia bisa lari-larian nanti."Nindy tersenyum membayangkan itu, hatinya terasa hangat. "Aku suka ide itu, Malik. Tapi kita nggak buru-buru, kan? Aku masih pengin nikmatin apartemen ini dulu, apalagi banyak kenangan kita di sini.""Nggak buru-buru," jawab Malik sambil menggenggam tangan Nindy. "Mungkin kita cari-cari dulu pelan-pelan, sambil nunggu anak kita lahir. Kalau udah nemu yang cocok, baru kita pindah."Nind
Tepuk tangan riuh dari para tamu memecah momen haru tersebut. Fajar yang berdiri di barisan depan bersama Sari ikut bertepuk tangan paling keras, senyumnya tulus tanpa secuil pun rasa canggung."Selamat ya, Nindy, Dokter Malik," ucap Fajar sambil melangkah maju, menggandeng tangan Sari di sampingnya. "Kalian pantas banget dapetin kebahagiaan kayak gini."Nindy tersenyum lebar, memeluk Fajar sejenak sebagai ucapan terima kasih. "Makasih banyak, Mas. Aku seneng banget kamu dateng."Ia lalu menoleh ke arah Sari, mengulurkan tangan dengan ramah. "Kamu pasti Sari. Makasih udah jagain Mas Fajar waktu di rumah sakit kemarin."Sari tersenyum malu, membalas jabatan tangan Nindy dengan hangat. "Saya yang harusnya makasih, Nindy. Fajar sering cerita betapa baiknya kamu, meskipun kalian udah nggak bareng lagi."Malik ikut menjabat tangan Fajar, senyumnya tulus tanpa jejak kecanggungan yang dulu sempat ada. "Makasih udah dateng, Fajar. Kehadiran kamu di sini artinya besar banget buat kami berdua."
Malik yang berdiri di samping Nindy langsung menangkap tubuh wanita itu sebelum sempat limbung. "Nindy? Kamu kenapa?""Perutku... sakit dikit, Malik," rintih Nindy pelan, tangannya mencengkeram lengan Malik untuk menopang badan.Suasana tamu yang tadinya riuh mendadak sunyi, beberapa kepala menoleh cemas ke arah pengantin baru itu. Malik dengan sigap memapah Nindy ke kursi terdekat, memberi isyarat pada Eleanor untuk membubarkan kerumunan tamu yang mulai mendekat."Kasih jarak dulu, biar dia bisa napas," ucap Malik tegas, lalu berlutut di depan Nindy, memeriksa denyut nadinya.Dokter Ratna yang kebetulan diundang ke acara tersebut segera bergegas mendekat, membawa tas kecil berisi alat pemeriksaan darurat. "Coba saya periksa dulu, Malik. Minggir sebentar."
Nindy menyandarkan kepalanya ke bahu Malik, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar kencang. "Aku cuma bingung, Malik. Selama ini aku pikir aku sebatang kara, cuma punya kenangan sama almarhum Bapak. Tapi kalau ternyata ada keluarga lain yang selama ini nggak pernah muncul...""Kita cari tahu pelan-pelan," potong Malik, mengusap punggung Nindy dengan gerakan menenangkan. "Yang penting sekarang kamu istirahat dulu. Besok kita bisa mikir lebih jernih."Hendra menutup map di tangannya, lalu melangkah mendekat. "Saya pulang dulu, Malik. Besok pagi saya kabari lagi kalau ada perkembangan dari penyidik soal rekening itu."Malik mengangguk, menjabat tangan Hendra sekilas. "Makasih banyak, Hendra. Buat semuanya, malam ini juga."Setelah Hendra berlalu, Malik mem







