Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 69 Surat Cerai

Share

Bab 69 Surat Cerai

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-08-09 17:01:05

Mobil sedan itu akhirnya berhenti di basement apartemen. Nindy masih menyandarkan kepalanya ke bahu Eleanor, napasnya belum sepenuhnya teratur.

"Kamu bisa jalan sendiri, Nak, atau Ibu suruh satpam bawa kursi roda?" tanya Eleanor sambil mengusap punggung Nindy pelan.

"Bisa, Bu. Cuma agak pusing aja," jawab Nindy sambil mencoba duduk tegak.

Sopir membukakan pintu, lalu Eleanor turun lebih dulu untuk membantu Nindy melangkah keluar dari mobil. Begitu kaki Nindy menapak lantai basement, Malik yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 199 Empat Tahun Nunggu

    Di seberang telepon, Eleanor menghembuskan napas panjang. "Bagus. Kalau dia udah nyebut nama, artinya dia udah nganggep Nindy bagian dari urusan ini. Selama belum, dia masih ngincer Ibu.""Ibu kok tenang banget?" tanya Malik."Soalnya Ibu udah nunggu ini dateng, Malik. Cuma nggak tahu kapan," jawab Eleanor. "Kamu denger dulu. Sejak ayah kamu meninggal, Bram udah dua kali nyoba masukin orangnya sendiri jadi pengurus harian yayasan. Dua-duanya gagal. Ada beberapa hal di yayasan yang masih butuh tanda tangan Ibu, dan Ibu nggak pernah mau tanda tangan."Malik mencondongkan badan ke arah ponsel. "Ibu nggak pernah cerita soal ini.""Ibu nggak cerita ke siapa pun. Kamu lagi sibuk izin praktik, terus sibuk sama urusan kamu sendiri. Ibu pikir bisa Ibu tahan sendiri," jawab Eleanor.Mendengar itu, Malik bertanya, "Orangnya siapa aja, Bu, yang dia coba masukin?""Yang pertama bekas sopirnya sendiri, dikasih jas terus disuruh duduk di kantor yayasan. Yang kedua anak temennya, masih muda, katanya

  • Dok, Please Cukup!   Bab 198 Nggak Disebut

    Malik kembali ke kursinya dan duduk. Kedua tangannya bertaut di atas meja, dan dia memandangi kursi pasien itu tanpa bergerak. Jarum panjang jam dinding bergeser dari angka lima ke angka tujuh. Dari koridor terdengar suara Suster Wulan menelepon pasien satu per satu, meminta maaf dengan nada yang sama berulang-ulang.Sepuluh menit lewat. Malik akhirnya membalik ponsel yang sejak tadi telungkup di meja.Ada dua panggilan tak terjawab dari Nindy dan satu pesan dari istrinya yang cuma berbunyi, kabarin aku. Di bawahnya ada satu pesan lain, dari nomor yang tidak tersimpan, masuk empat menit lalu.Pesan itu tidak berisi kalimat apa pun. Isinya satu foto, dan waktu Malik membukanya, layar ponselnya memperlihatkan tangkapan layar dari sistem rekam berkas rumah sakit. Judul berkasnya tercetak tebal di bagian atas, berkas dewan etik atas nama dirinya sendiri, lengkap dengan tanggal sidang, nomor perkara, dan cap merah bertuliskan skorsing dua minggu.***Empat kotak sisa masakan semalam masih

  • Dok, Please Cukup!   Bab 197 Batalin Semua

    Malik menatap pamannya. Sandal jepit hijau itu benar. Bi Inah memakainya setiap hari ke unit, dan meletakkannya di keset sebelah kiri pintu."Masih, Om," jawab Malik."Hebat. Orang setia itu jarang sekarang," ucap Om Bram, mengangguk puas.Om Bram melirik gelas kertas di sudut meja, bekas kopi pagi yang belum sempat dibuang, lalu menunjuknya dengan dagu."Masih kopi item nggak pake gula?" tanya Om Bram."Masih, Om," jawab Malik."Persis ayahmu. Dulu tiap pagi dia minum dua gelas, terus Ibu kamu ngomel soal lambungnya," ucap Om Bram, tertawa kecil. "Om sendiri udah berhenti. Dokter bilang jantung Om nggak kuat. Sekarang minumnya teh tawar, rasanya kayak air cucian."Malik tersenyum tipis tanpa menjawab. Pamannya tidak butuh jawaban untuk melanjutkan."Cucu Om yang paling kecil baru bisa jalan minggu lalu. Jatohnya ke depan terus, kayak kamu dulu," lanjut Om Bram, merogoh saku batiknya, mengeluarkan ponsel, dan memperlihatkan satu foto bayi berbaju kuning yang berdiri berpegangan pada k

  • Dok, Please Cukup!   Bab 196 Sepeda Pertama

    Nindy tidak bisa membantah, jadi dia ikut tertawa."Terus, modal awalnya berapa? Aku harus beliin apa aja? Kotak? Kompor tambahan? Wajan yang gede?" tanya Malik, suaranya sudah berubah jadi nada orang yang sedang mencatat."Malik, belum juga jadi," balas Nindy."Jumat itu dua hari lagi. Kamu mau masak buat berapa orang pakai satu wajan?" tanya Malik.Nindy membuka mulut untuk menjawab, tapi dari seberang telepon terdengar ketukan di pintu, disusul suara perempuan yang samar. Tawa Malik berhenti di tengah jalan."Tunggu sebentar," ucap Malik, dan suaranya berubah datar.Bunyi gesekan terdengar, seperti ponsel ditutup dengan telapak tangan. Nindy menunggu sambil memandangi kipas angin di sudut warung. Detik-detik lewat tanpa suara dari seberang, sampai akhirnya suara Malik kembali, lebih pelan dari sebelumnya."Nindy, ada tamu di depan ruang praktik aku. Nggak bikin janji, terus nolak disuruh bikin janji dulu. Perawat poliklinik barusan nyebut namanya.""Siapa?" tanya Nindy, menegakkan

  • Dok, Please Cukup!   Bab 195 Terlalu Enak

    Nindy menaruh sendoknya di bangku. "Dari buku tulisan tangan ibu aku. Beliau udah nggak ada, tinggal bukunya."Ruangan itu diam sebentar, dan Nindy menunggu tatapan kasihan yang biasanya muncul sesudah kalimat semacam itu. Suara Mega dari dekat pintu datang lebih dulu."Kalau gitu kamu bisa bikinin buat aku? Aku bayar," ucap Mega."Aku juga," sambar Tiara, ponselnya sudah muncul lagi. "Suami aku barusan bales, katanya pesen dua.""Saya tiga, buat seminggu. Anak-anak saya di rumah juga pasti doyan," tambah Bu Laras, mengelap sudut bibirnya dengan tisu.Yuni mengangkat satu tangan dari sudut ruangan tanpa bicara.Nindy memandangi mereka satu per satu dengan mulut setengah terbuka. Dewi menepuk pahanya keras-keras.Lima belas menit kemudian, Nindy dan Dewi duduk berhadapan di warung kopi bawah ruko, di meja pojok dekat kipas angin. Dua gelas teh manis dingin berembun di depan mereka, dan Dewi sudah mengeluarkan pulpen dari tasnya lalu membalik struk belanja minimarket yang terselip di do

  • Dok, Please Cukup!   Bab 194 Resep Darimana?

    Kelas berjalan satu jam penuh.Pemanasan leher dan bahu, lalu latihan panggul di atas bola besar, lalu latihan napas panjang yang dihitung Mbak Vira dengan suara datar. Selama itu, mata Mbak Vira jatuh ke Nindy dua kali lebih sering dari ke peserta lain, dan setiap kali Nindy bangkit dari posisi duduk, perempuan itu sudah maju setengah langkah dengan tangan siap menahan. Betis Nindy pegal di menit keempat puluh, dan dia tetap menahan tangannya di atas lutut."Nindy, bahunya turunin. Napasnya ditarik ke perut, dari tadi bahu kamu yang naik," tegur Mbak Vira dari depan."Iya, Mbak," jawab Nindy, menurunkan bahunya.Dari barisan belakang, Dewi berbisik cukup keras sampai seisi ruangan dengar, "Baru balik udah kena tegur. Selamat, Nin, kamu resmi anak kelompok utama.""Dewi, napasnya juga pakai perut, jangan pakai mulut," balas Mbak Vira tanpa menoleh, dan dua peserta di barisan tengah tertawa sampai hitungan napas mereka berantakan.Jam dua lewat lima, Mbak Vira menutup kelas dengan tepu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status