بيت / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 91 Bayar Dulu

مشاركة

Bab 91 Bayar Dulu

مؤلف: NFLusica
last update تاريخ النشر: 2026-08-17 15:29:19

Nindy meraih foto yang ikut terselip di dalam amplop, tangannya mulai dingin begitu melihat gambar tersebut. Foto itu menampilkan seorang perempuan muda menggendong bayi, diambil dari sudut yang berbeda, tapi jelas berasal dari sesi pemotretan yang sama persis dengan foto yang dulu diselipkan ayahnya di amplop cokelat.

Kepala Nindy mulai berputar, telapak tangannya berkeringat dingin. Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar, langsung menekan nomor kontak Ratih tanpa berpikir panjang.

"Ratih..
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Dok, Please Cukup!   Bab 98 Surat Dari Suryani

    "Saya nggak tahu, Nindy," jawab Rania jujur, suaranya bergetar. "Tapi saya selalu ke sana tiap tanggal segini, dua puluh delapan tahun ini. Cuma buat jaga-jaga, kalau suatu hari kamu akhirnya dateng."Kalimat itu membuat dada Nindy terasa sesak.Ada sesuatu di nada suara Rania yang terdengar begitu sabar, begitu setia menunggu tanpa kepastian, sesuatu yang tidak bisa Nindy pahami sepenuhnya, tapi terasa nyata."Kami otw ke sana sekarang," ucap Nindy akhirnya. "Tunggu, ya."Setelah menutup telepon, Nindy kembali ke ruang rapat, mengabarkan kesepakatan itu ke Malik dan Hendra. Mereka berpamitan singkat ke Pak Wijaya, lalu bergegas menuju mobil.Sepanjang perjalanan menuju bank, Malik menepi sebentar di pinggir jalan, meraih ponselnya untuk menelepon rumah sakit. "Ya, tolong geser dua pasien pertama saya ke Dokter Handoko. Saya ada urusan keluarga mendadak."Nindy memperhatikan dari kursi penumpang, tidak berkata apa-apa. Biasanya, ia akan langsung protes, melarang Malik menggeser jadwal

  • Dok, Please Cukup!   Bab 97 Pemegang Kunci 

    Pukul sepuluh tepat, mereka tiba di kantor notaris Pak Wijaya.Hendra sudah menunggu di ruang rapat kecil, sebuah map cokelat tebal tergeletak rapi di depannya."Silakan duduk," ucap Pak Wijaya ramah, seorang pria tua berkacamata tebal yang duduk di ujung meja. Ia membuka map itu perlahan, menyusun lembaran dokumen dengan gerakan hati-hati."Kita mulai dengan pembacaan warisan almarhum Bapak Wisnu Prakoso," ucap Pak Wijaya, suaranya formal namun tenang. "Warisan yang beliau tinggalkan cukup sederhana. Sebuah rumah lama di kampung halaman, yang sudah lama tidak ditempati, dan satu kotak deposit di bank sesuai tanda terima yang Anda bawa."Nindy mendengarkan dengan saksama, tangannya menggenggam erat tangan Malik di bawah meja. Tidak ada kejutan besar dari poin itu, sesuai perkiraan mereka sejak awal.Pak Wijaya membalik lembar terakhir, matanya membaca sejenak sebelum akhirnya mendongak, ekspresinya berubah sedikit serius. "Ada satu klausul khusus yang perlu saya sampaikan soal kotak d

  • Dok, Please Cukup!   Bab 96 Cuma Tahu Sepotong

    Beberapa saat kemudian, Malik bangkit, berjalan menuju meja makan untuk menyiapkan map berkas yang dibutuhkan besok pagi—kartu identitas, kartu keluarga, buku nikah, surat tulisan tangan Wisnu, dan tanda terima kotak deposit.Nindy berdiri di depan cermin kamar, mengenakan piyama tidurnya sambil memainkan dua liontin separuh hati yang tergantung di lehernya.Malik kembali masuk, memeluk Nindy dari belakang, dagunya bersandar di puncak kepala istrinya. "Aneh banget ya, hidup kamu berubah total dalam hitungan bulan.""Iya," gumam Nindy pelan, matanya menatap pantulan diri mereka berdua di cermin. "Dari yang tadinya sendirian ngadepin semuanya, sekarang punya kamu, punya keluarga besar, punya anak yang bakal lahir sebentar lagi."Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati kehangatan pelukan itu. Namun, pikiran Nindy kembali melayang ke percakapan dengan Rania tadi siang, ke amplop yang menunggu jawabannya besok pagi."Malik," panggil Nindy pelan, suaranya bergetar menahan sesuatu yang suda

  • Dok, Please Cukup!   Bab 95 Nggak Boleh Keluar

    "Kenapa harus nunggu sampai besok?" tanya Malik, sedikit tidak sabar."Karena kita nggak tahu berkas itu isinya apa," jawab Hendra tegas. "Bisa aja semua jawaban yang kalian cari udah ada di sana. Lebih baik satu pintu resmi dulu, daripada kalian ambil kesimpulan sendiri dari cerita orang yang belum jelas niatnya."Malik menghela napas, mengakui logika itu. "Bahar gimana? Masih ditahan?""Masih, dan bisa dimintai keterangan lewat jalur penyidik kalau memang perlu," jawab Hendra. "Tapi itu belakangan aja. Fokus kalian besok pagi ke notaris dulu."Setelah menutup telepon, Malik berdiri sejenak di balkon, menatap langit pagi yang mulai cerah. Ia kembali masuk, lalu dengan sengaja mematikan ponselnya tepat di depan Nindy."Hari ini nggak ada yang boleh keluar rumah," ucap Malik tegas, meletakkan ponsel yang sudah mati itu ke meja. "Dan nggak ada satu nama pun yang boleh disebut. Hari ini murni buat kita."Nindy menatap Malik lama, akhirnya mengangguk pelan, menghargai usaha suaminya untuk

  • Dok, Please Cukup!   Bab 94 Suryani Itu Kakakku

    Nindy menatap mata Rania lama, mencoba mencari kebohongan di sana, tapi yang ia temukan hanya raut ketulusan yang sulit dibantah. "Terus, hubungan Anda sama saya sebenarnya apa? Saya butuh jawaban jujur sekarang."Rania terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca. "Itu bukan jawaban yang bisa saya ucapin sendiri, Nindy.""Kenapa nggak bisa?" desak Nindy, suaranya mulai bergetar."Karena itu udah dititipin sama Bapak kamu, di satu tempat," jawab Rania pelan. "Dan saya udah nunggu dua puluh delapan tahun, supaya kamu sendiri yang buka jawabannya, bukan dari mulut saya."Kepala Nindy langsung terlempar ke ingatan soal tanda terima kotak deposit yang masih tersimpan rapi di laci Malik. Jantungnya berdebar kencang, mencoba menyambungkan semua kepingan yang mulai terasa saling berkaitan.Waktu terasa berjalan cepat, dan sebelum sepuluh menit itu benar-benar habis, Rania kembali membuka mulut, kali ini dengan suara yang jauh lebih pelan."Ada satu nama yang harus kamu tahu, Nindy," ucap Rania hati

  • Dok, Please Cukup!   Bab 93 Perjanjian Tertulis

    "Nggak nyangka aja, secepat itu kamu move on dari Fajar," lanjut Yanti sambil menyeringai. "Apa kabar tuh mantan suami kamu? Denger-denger udah punya pacar baru juga, ya.""Fajar baik-baik aja, malah lebih bahagia sekarang," jawab Nindy tegas, tidak menunjukkan sedikit pun rasa terpancing. "Kalau nggak ada urusan lain, aku mau lanjutin aktivitasku."Yanti terlihat sedikit kecewa karena tidak berhasil memancing emosi Nindy seperti dulu. Malik yang berdiri di samping istrinya akhirnya angkat bicara, suaranya tenang namun tajam."Kalau ada waktu senggang buat ngomongin orang lain, mungkin lebih baik dipakai buat hal yang lebih berguna, Bu," ucap Malik sopan namun telak, membuat Yanti langsung terdiam tanpa bisa membalas.Yanti mendengus kesal, akhirnya membalikkan badan dan berjalan pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Nindy menghela napas lega, merasakan kemenangan kecil yang terasa begitu besar setelah semua yang pernah ia alami."Kamu keren banget tadi," puji Malik sambil tertawa kecil b

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status