MasukTernyata, posisi Tirta dan Selvi saat ini tepat berada di atas lokasi Paviliun Ufuk yang sekarang, setelah dikirim oleh formasi teleportasi. Namun, saat mereka melihat ke bawah, formasi pelindung sudah hancur dan bangunan megah milik sekte telah dihantam hingga porak-poranda serta menjadi reruntuhan.Selain itu, sosok-sosok hitam yang bagaikan iblis itu sedang merenggut nyawa satu per satu anggota Paviliun Ufuk dengan kejam. Priya dan ayahnya bersama para tetua dan murid lainnya telah dipaksa berkumpul dalam satu kelompok di bawah Tirta dan Selvi. Dengan darah yang menggenang di mana-mana, pemandangan itu benar-benar terlihat mengerikan."Iblis! Binatang! Berhenti sekarang juga!" teriak Tirta yang sudah tidak mampu menahan diri lagi dan langsung marah.........Tepat saat Tirta dan Selvi masih sedang mencari formasi teleportasi, Sodam sudah membawa dua puluhan roh ganas dan muncul di atas Paviliun Ufuk dengan kuat. Radif juga sedang menyerahkan peta bintang untuk menyerah."Radif tua
"Tempat ini memang di wilayah timur dunia awani, tapi pasti ada mata laut jauh di bawah tanah yang terhubung dengan lokasi Paviliun Ufuk saat ini. Kalau nggak, mereka juga nggak mungkin susah payah pindahkan sekte dari sini ke wilayah utara yang begitu jauh," jelas Selvi.Mendengar itu, Tirta merasa tercengang. Namun setelah dipikir-pikir, perkataan Selvi memang bukan tanpa alasan. Meskipun terdengar cukup tidak masuk akal.Meskipun berpikir demikian, keduanya tetap tidak membuang waktu dan langsung masuk ke dalam laut. Air laut berwarna biru serta sangat jernih dan berbagai monster laut biasa berenang dengan cepat di dalam air, seolah-olah sedang menghindari dua tamu tak diundang ini.Alasan utamanya adalah kesadaran spiritual Selvi yang menyebar ke segala arah. Meskipun tidak ingin melarikan diri, para monster itu juga tidak memiliki pilihan lain."Di bawah sana memang ada mata laut. Bocah, tebakanku tepat. Formasi teleportasinya pasti ada di bawah sana," kata Selvi sambil menunjuk t
Mendengar perkataan Selvi, Tirta juga mulai merasa sedikit gelisah. Dia berpikir jika sejak awal tahu ada kemungkinan seperti ini, mungkin lebih baik membawa Lavanya bersamanya.Namun, setelah kejadian sebelumnya saat Lavanya jatuh ke tangan Dinasti Pembunuh dan hampir terjadi sesuatu yang tak bisa diperbaiki, Tirta benar-benar tidak ingin kejadian seperti itu terulang lagi. Oleh karena itu, kali ini dia hanya membawa Selvi seorang. Sementara itu, Irena dan Yumika ditinggalkan di tempat yang aman."Saat ini, Nova dan Arshala juga harusnya sudah kembali dengan selamat ke Istana Samara, 'kan?" gumam Tirta. Setelah teringat dengan Irena, dia tentu saja juga teringat dengan Nova, Arshala, dan gadis kecil bernama Nivia.Namun, Tirta tidak begitu mengkhawatirkan keselamatan ketiga wanita itu karena kini Sekte Bulan Berdarah pada dasarnya sudah musnah sepenuhnya. Dinasti Pembunuh pun sudah tidak menargetkan Istana Samara lagi dan Sekte Formasi Surgawi yang penuh ambisi itu juga telah kehilang
Namun, tepat pada saat itu, tiba-tiba terjadi perubahan yang tak terduga.Entah sejak kapan, sudah muncul satu per satu sosok aneh yang tubuhnya diselimuti aura hitam di atas formasi pelindung. Mereka sekilas terlihat seperti orang-orang dari Sekte Bulan Berdarah, tetapi mereka sangat berbeda jika diperhatikan lebih teliti. Mereka adalah para roh ganas yang sebelumnya dipenjara di reruntuhan surgawi dan telah dibebaskan Sodam. Jumlah mereka ada dua puluhan orang.Selain itu, soal tingkat kultivasi kelompok itu. Meskipun baru beberapa hari berlalu, kekuatan mereka sudah pulih hingga tingkat yang sangat mengerikan. Hampir setengah dari mereka telah kembali mencapai tingkat pencapaian agung. Sodam bahkan langsung melewati tingkat pencapaian agung tahap awal dan mencapai batas berikutnya, yaitu tahap menengah."Paviliun Ufuk ... Priya. Huh. Saatnya aku balas dendam akhirnya tiba juga. Hanya sebuah formasi pelindung seperti ini, sekarang sudah nggak mampu halangi aku lagi," kata Sodam, soso
Teriakan itu membuat banyak tetua secara refleks mengira Radif sedang mempermainkan mereka. Mereka mengira dia ingin memanfaatkan kesempatan saat perhatian semua orang teralih untuk langsung melarikan diri.Namun, di antara tujuh Tetua Agung itu, tetap ada yang tidak bisa menahan diri untuk menoleh ke belakang. Mereka melihat sosok-sosok yang datang itu memang para tetua yang sebelumnya keluar dari aula utama dan sedang bergegas ke arah sini dengan ekspresi penuh amarah."Gawat, mereka benar-benar datang.""Dan jumlah mereka ada empat belas orang. Tetua Radif, kita harus segera pergi."Karena pihak lawan unggul dalam jumlah dan pihak mereka sendiri berada di posisi yang kalah, Radif dan kelompoknya tentu saja tidak ada yang berani bentrok secara langsung. Mereka yang mulai panik pun buru-buru berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu untuk menghindari konflik. Namun, saat mereka berbalik, Radif sudah tidak berada di tempat semula.Swoosh!"Sialan! Orang tua itu benar-benar menipu kit
"Penyebab utama berakhirnya era surgawi kemungkinan besar adalah roh-roh ganas yang tersegel di dalam buku rahasia, seperti yang diceritakan Priya. Kalau mau tahu detail sebenarnya sekarang, mungkin kita hanya bisa dapatkan jawabannya dari Pegunungan Belantara atau wilayah terlarang Laut Utara. Tapi, itu sama sekali nggak mungkin dilakukan."Setelah mendengar penjelasan tetua itu dalam diam, Zuhair mengepalkan jemarinya erat-erat. Dengan perasaan tak berdaya dan penuh penyesalan, dia berkata, "Kalau begitu ... apa yang dikatakan Priya pada dasarnya memang benar. Menghadapi sosok sekuat itu, Paviliun Ufuk yang merupakan salah satu dari tiga tanah suci dan punya kedudukan luar biasa pun nggak mampu melawannya.""Kita hanya bisa bekerja sama dengan tanah suci lainnya atau tinggalkan sekte untuk sementara waktu, lalu bersembunyi."Tetua senior lainnya yang adalah gurunya Zuhair pun ekspresinya terlihat tidak santai. Sambil mondar-mandir, dia berkata, "Zuhair, meskipun kamu ikuti perkataan
"Dasar jalang ...." Melati memegang kepalanya yang terasa agak pusing sambil kembali ke ruang privat dengan wajah berlinang air mata.Ketika melihat air mata Melati dan bekas tamparan di wajahnya, Tirta segera bertanya, "Kak, kamu kenapa? Siapa yang menamparmu?"Wanita lainnya bergegas menghampiri. Me
"Hahaha ...." Putro tidak segan-segan mengejek keputusan Afrian. Aina juga tidak mungkin melewatkan kesempatan ini untuk mengejek Tirta.Dia menyindir Tirta, "Kalau mau mati, langsung bilang saja. Kenapa malah nyeret orang lain? Kamu ini benar-benar orang baik ya."Bahkan beberapa orang di samping mer
Irene malah menyetujui persyaratan yang begitu tidak adil. Hal ini membuat Afrian tertegun sejenak, lalu menoleh pada Tirta. "Tirta, bagaimana menurutmu?"Tirta mengangguk. "Aku nggak keberatan. Lagi pula aku nggak akan kalah. Biarkan orang kampungan ini membuka wawasannya." Bisa memenangkan satu tri
Aina berlari sambil menangis. Dia benar-benar menyesal telah menyinggung Tirta. Tirta adalah tipe orang yang pasti akan membalas dendam jika disinggung. Pelajaran dari kejadian sebelumnya seharusnya membuatnya berhati-hati, tetapi sekarang sudah terlambat.Yang membuatnya semakin putus asa adalah dil







