LOGINSaat para anggota Sekte Bulan Berdarah menuju Puncak Elokwi, Bowo si Ketua Sekte, tokoh ambisius yang mengguncang dunia, dan iblis di zaman kekacauan tentu saja ikut keluar dari pengasingannya. Berbeda dengan orang lain, sudah terdapat sebuah formasi teleportasi di depan kediaman guanya. Selain memudahkan perjalanan, itu juga memudahkannya melarikan diri saat diperlukan.Begitu cahaya berkilat, tubuh Bowo yang tinggi besar dan kekar sudah langsung muncul di depan aula di Puncak Elokwi."Hormat pada Ketua," sapa kedua tetua yang segera berlutut memberi hormat.Saat itu, sudah satu jam berlalu sejak lencana darurat tertinggi dihancurkan, sehingga puluhan tetua telah berkumpul di tempat itu juga ikut berlutut memberi hormat. Karena Sekte Bulan Berdarah berbeda dengan tanah suci, setiap tetua wajib berlutut di hadapan ketua sekte untuk menunjukkan kekuasaan mutlak seorang ketua."Bangun. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Kalian sudah selidiki?" tanya Bowo dengan nada muram sambil menyipit
Pecahan genting berserakan memenuhi lantai."Huh. Kalau lain kali masih berani bicara kurang ajar, aku akan langsung melumpuhkannya," kata Selvi sambil menghela napas, lalu berjalan keluar dari aula dengan kedua tangan di belakang punggung dan berpura-pura tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.Ekspresi semua orang menjadi canggung.Tabib Suci dan tiga Orang Suci dunia awani merasa malu hingga hanya bisa menundukkan kepala.Wajah Irena, Yumika, dan para gadis lainnya memerah karena merasa malu dan tanpa sadar mengalihkan pandangannya.Sementara itu, Afifah menunjukkan ekspresi tercengang yang sama sekali tidak sesuai dengan citranya.Anjing hitam besar menggerutu dengan kesal. "Sialan. Bocah itu benar-benar binatang berkedok manusia!"Namun pada saat itu, terdengar suara Tirta dari kejauhan. "Ketua, tolong bantu perhatikan keberadaan kedua istriku dan adik seperguruanku, Nivia. Aku dan Senior Selvi berangkat lebih dulu ...."........Dua hari sebelumnya.Di wilayah tenggara dunia a
Di dalam aula utama, Tirta langsung berkata dengan terus terang, "Selama dua hari ini, memang banyak sekte besar dan kecil yang datang untuk selidiki keadaan Istana Samara. Untungnya, Sekte Formasi Surgawi dan Sekte Bulan Berdarah hancur tragis, jadi kita berhasil menggentarkan dan mengurungkan niat jahat sekte-sekte yang sembunyi di balik bayang-bayang untuk sementara ini.""Sekarang aku akan lakukan perjalanan jauh. Aku mohon Kak Tabib Suci memimpin ketiga Orang Suci dunia awani untuk tetap berjaga di sini sebagai antisipasi kalau terjadi sesuatu."Tabib Suci tentu saja tidak keberatan. "Itu bukan masalah. Selama aku berjaga di sini, aku akan pastikan siapa pun yang berani manfaatkan kesempatan ini untuk menyerang Istana Samara nggak akan pernah bisa kembali lagi."Afifah memanfaatkan kesempatan itu untuk mengulurkan ajakan. "Terima kasih, Senior Tabib Suci. Terima kasih juga pada ketiga senior. Mulai hari ini, Istana Samara akan perlakukan para senior seperti Tetua Agung. Nggak ada
Sama seperti melempar seseorang ke dasar laut sedalam sepuluh ribu meter dan tidak mengizinkannya muncul ke permukaan laut untuk bernapas."Aargh! Bocah, lepaskan aku. Kalau nggak, aku akan buat kamu mati mengenaskan. Kamu dengan nggak .... Lepaskan aku .... Aku bersedia ... kubur semua dendam kita .... Apa pun syaratnya ... aku akan setuju tanpa syarat ...."Rasa sesak napas dan tekanan yang begitu dahsyat terus menggerogoti jiwa spiritual Stefan yang masih sadar dan membuatnya menjerit memilukan. Dan tak lama kemudian, ancaman itu berubah menjadi permohonan belas kasihan karena dia sudah tidak sanggup menahannya lagi.Namun, Tirta sama sekali tidak menggubrisnya. Selama Stefan masih menyisakan satu napas hingga Sekte Bulan Berdarah dimusnahkan, dia merasa itu saja sudah cukup.Sementara itu, Tirta justru memberikan kematian yang lebih mudah bagi Danu yang masih tidak sadarkan diri. Dia langsung melenyapkannya."Makamkan semua tetua dan murid yang telah gugur. Biarkan mereka istirahat
Jika ini terjadi sebelumnya, tentu saja tidak akan ada seorang pun yang memercayai ucapan Tirta. Mereka pasti akan menganggap dia hanya sedang membual atau bermimpi di siang bolong. Atau mengira dia hanya mencari alasan untuk menenangkan semua orang.Namun, setelah pertempuran ini dan menyaksikan sendiri betapa hebatnya Tirta, tidak seorang pun lagi yang memiliki pikiran seperti itu. Apalagi, ada dua sosok besar juga selain Tirta, yaitu Tabib Suci dan Selvi.Semua orang telah menyaksikan dengan mata mereka sendiri, sehingga tidak berlebihan jika dibilang Tirta hanya menunggu waktu untuk menjungkirbalikkan Sekte Bulan Berdarah. Meskipun dia ingin menyatukan seluruh dunia awani, itu juga bukan masalah."Baik untuk kepentingan pribadi atau keadilan, membasmi Sekte Bulan Berdarah adalah kewajiban kami. Kami bersedia pergi bersamamu," kata seorang tetua yang segera maju dan menyatakan sikapnya."Setelah kejadian ini, jumlah korban di Istana Samara sangat besar. Aku sarankan para tetua sebai
Dua jam kemudian, seluruh tetua Sekte Formasi Surgawi, Tetua Agung, dan ketua sekte yang berada di lokasi itu sudah tidak ada satu pun yang masih hidup. Semuanya tewas di bawah luapan amarah para tetua dan murid Istana Samara."Ketua, kita harus bagaimana tangani para murid Sekte Formasi Surgawi ini?" tanya seorang tetua yang amarahnya masih belum reda pada Afifah.Afifah menatap seribu lebih murid Sekte Formasi Surgawi yang ekspresinya terlihat dipenuhi ketakutan dan gelisah. Usia mereka hampir sama dengan usia para murid Istana Samara yang telah gugur.Dia menghela napas panjang, lalu berkata, "Kalau bunuh mereka, terlalu kejam. Tapi, kalau nggak bunuh ... kita juga akan merasa bersalah pada para murid dan tetua yang telah gugur. Biarkan mereka tetap tinggal di sini dan jaga gerbang sekte untuk menebus dosa. Batas waktunya seribu tahun."Semua orang memang ingin membunuh para murid Sekte Formasi Surgawi itu. Namun, seperti yang dikatakan Afifah, membunuh mereka memang terlalu kejam.
Tiba-tiba, salah satu murid Sekte Mujarab memperhatikan sesuatu muncul di tangan Tirta. Namun, dia malah makin meremehkan Tirta. Dia menyindir, "Lihat barang di tangannya, cuma pedang kecil seukuran jari tangan! Haha, apa dia mau membunuh kita dengan pedang kecil itu?"Saat murid lain hendak ikut be
"Aku juga nggak bisa memastikan itu beracun atau nggak. Tapi, biasanya cerita di novel begitu," timpal Tirta sambil menggaruk kepalanya."Eee ... rupanya kamu punya waktu untuk baca novel ...." Susanti merasa agak malu. Meskipun demikian, dia tetap menutup mulut dan hidungnya."Lihat, ada sesuatu di d
"Tirta ...." Melihat Tirta yang telah bertekad, Nabila benar-benar merasa khawatir. Pada akhirnya, dia terpaksa menyetujuinya, "Boleh saja kalau kamu mau pergi. Tapi kamu harus janji padaku, langsung berhenti kalau sudah kalah. Cepat pulang. Kalau nggak, aku akan beri tahu bibimu bahwa kamu berjudi!
"Nggak apa-apa, Kak. Tenang saja!" ujar Tirta lagi sambil menepuk pundaknya saat melihat Arum terkejut."Ya ... aku akan tenang!" Tiba-tiba, muncul sebuah pemikiran dalam benak Arum! Tirta yang mengocok kartu ini dengan menggunakan tangannya! Meski Arum sendiri tidak mengerti bagaimana caranya, dia t







