LOGINJika ini terjadi sebelumnya, tentu saja tidak akan ada seorang pun yang memercayai ucapan Tirta. Mereka pasti akan menganggap dia hanya sedang membual atau bermimpi di siang bolong. Atau mengira dia hanya mencari alasan untuk menenangkan semua orang.Namun, setelah pertempuran ini dan menyaksikan sendiri betapa hebatnya Tirta, tidak seorang pun lagi yang memiliki pikiran seperti itu. Apalagi, ada dua sosok besar juga selain Tirta, yaitu Tabib Suci dan Selvi.Semua orang telah menyaksikan dengan mata mereka sendiri, sehingga tidak berlebihan jika dibilang Tirta hanya menunggu waktu untuk menjungkirbalikkan Sekte Bulan Berdarah. Meskipun dia ingin menyatukan seluruh dunia awani, itu juga bukan masalah."Baik untuk kepentingan pribadi atau keadilan, membasmi Sekte Bulan Berdarah adalah kewajiban kami. Kami bersedia pergi bersamamu," kata seorang tetua yang segera maju dan menyatakan sikapnya."Setelah kejadian ini, jumlah korban di Istana Samara sangat besar. Aku sarankan para tetua sebai
Dua jam kemudian, seluruh tetua Sekte Formasi Surgawi, Tetua Agung, dan ketua sekte yang berada di lokasi itu sudah tidak ada satu pun yang masih hidup. Semuanya tewas di bawah luapan amarah para tetua dan murid Istana Samara."Ketua, kita harus bagaimana tangani para murid Sekte Formasi Surgawi ini?" tanya seorang tetua yang amarahnya masih belum reda pada Afifah.Afifah menatap seribu lebih murid Sekte Formasi Surgawi yang ekspresinya terlihat dipenuhi ketakutan dan gelisah. Usia mereka hampir sama dengan usia para murid Istana Samara yang telah gugur.Dia menghela napas panjang, lalu berkata, "Kalau bunuh mereka, terlalu kejam. Tapi, kalau nggak bunuh ... kita juga akan merasa bersalah pada para murid dan tetua yang telah gugur. Biarkan mereka tetap tinggal di sini dan jaga gerbang sekte untuk menebus dosa. Batas waktunya seribu tahun."Semua orang memang ingin membunuh para murid Sekte Formasi Surgawi itu. Namun, seperti yang dikatakan Afifah, membunuh mereka memang terlalu kejam.
"Ketua Afifah, kalau kamu membunuh kami, nggak akan ada untungnya bagi siapa pun. Lebih baik biarkan kami pergi. Aku bisa mewakili seluruh petinggi Sekte Formasi Surgawi.""Kami akan menyerahkan seluruh harta milik Sekte Formasi Surgawi. Kami pasti akan memberikan kompensasi yang memuaskan kepada Istana Samara."Akhirnya Ditto benar-benar tidak bisa lagi duduk diam. Dia berteriak dengan cemas."Benar. Bagaimanapun juga, orang yang sudah mati nggak mungkin hidup kembali. Sekalipun kalian membunuh kami, kerugian yang sudah terjadi nggak akan bisa dipulihkan.""Gimana kalau kalian ambil saja seluruh murid Sekte Formasi Surgawi yang ada di sini?"Dua pria tua lainnya juga berteriak memohon dengan penuh kepanikan."Nggak perlu. Kalian memang harus memberikan ganti rugi. Tapi nyawa hanya bisa dibayar dengan nyawa."Afifah mengaktifkan kedua artefak peninggalan leluhur pendiri secara bersamaan. Tekanan dahsyat pun menyelimuti seluruh tempat. Dengan suara berat, dia memberi perintah."Para tet
Paling lama mereka hanya bisa hidup beberapa tahun lagi, sebelum akhirnya mati akibat luka-luka yang diderita."Huh, kamu ingin tahu? Jangan mimpi! Aku lebih baik mati daripada mengatakannya." Salah seorang Panglima Iblis mencibir. Darah terus mengalir dari sudut mulutnya.Bum! Tirta langsung menghantamkan satu pukulan, menghancurkan kepala Panglima Iblis itu."Kalau begitu, nggak usah bicara.""Sekarang giliran kalian berdua. Siapa yang ingin mati dan siapa yang ingin hidup?"Salah seorang dari mereka terlalu ketakutan. Orang itu hendak mengatakan sesuatu, tetapi karena tenggorokannya sudah rusak, dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara."Bahkan bicara pun sudah nggak bisa. Orang sepertimu kalau tetap hidup juga cuma jadi orang cacat. Biar aku yang antar kamu ke alam baka."Bam! Tirta menginjaknya, menghancurkan pusat energi sekaligus jantung Panglima Iblis itu."Aku akan bicara! Jangan bunuh aku! Aku akan mengatakannya!" Melihat tindakan Tirta yang tegas dan kejam, Panglima Ibl
Bum! Bum! Bum!Pusaka-pusaka yang memenuhi langit, bersama gelombang energi dahsyat yang tak ada habisnya, menghantam ke arah Tirta tanpa henti.Bahkan orang-orang Istana Samara terlambat untuk menghentikannya. Tirta telah sepenuhnya ditelan oleh berbagai macam serangan itu."Datanglah. Bagus, memang itu yang kuinginkan."Bencana yang menimpa Istana Samara ini pasti terjadi karena dirinya. Tanpa suara, amarah dan kebencian telah lama memenuhi dada Tirta.Dia juga dipenuhi rasa bersalah. Walaupun tidak mengatakannya, keinginan untuk membunuh semua musuh di hadapannya sudah tak bisa lagi dibendung.Ilmu 18 Transformasi Jangkrik Emas dan Teknik Rahasia Delapan Gerbang dikerahkan secara bersamaan. Kekuatan tempur Tirta seketika melonjak ke tingkat yang sangat mengerikan.Aura dahsyat memancar dari tubuhnya, bagaikan iblis purba yang baru saja bangkit.Bum! Dengan satu pukulan sederhana tetapi brutal, dia melepaskan tebasan pedang sepanjang ribuan meter!Teknik itu adalah jurus yang dia pel
"Bahkan aku pun nggak berani sembarangan menyentuhnya.""Kali ini, meski perempuan siluman itu nggak mati, dia pasti akan menderita luka berat akibat terbakar." Pria tua yang mengendalikan naga api itu akhirnya memperlihatkan ekspresi lega."Hehe. Nggak kusangka, pada akhirnya kemampuanmu masih sedikit lebih unggul dariku." Pria tua yang sebelumnya ikut merasa lega, tetapi karena serangannya sendiri tidak berhasil, dia juga tidak bisa menyembunyikan sedikit rasa kecewa dan frustrasinya."Dua orang bodoh yang terlalu percaya diri! Tetua Danu, kita pergi!" Di kejauhan, Stefan melihat Selvi yang entah sejak kapan telah muncul diam-diam di belakang kedua pria tua itu, bahkan sedang menguap dengan santai.Rasa takut di dalam hatinya akhirnya tak dapat lagi dibendung. Dia segera mengeluarkan sebuah pusaka, bersiap melintasi kehampaan bersama Danu untuk melarikan diri.Adapun nasib para anggota Sekte Bulan Berdarah yang masih berada di medan perang, mana mungkin dia peduli?"Mau ke mana kali
Arum menggigit bibirnya dan mengerlingkan matanya dengan agak kesal."Cih! Aku rasa Bu Yanti punya maksud lain denganmu! Kamu cantik, putih. Kalau dia nggak menyukaimu, mana mungkin setiap hari mencarimu!""Makin kamu melindunginya, makin aku merasa kalian punya hubungan istimewa! Lihat saja kakimu
Tirta menggendong Agatha dan membawanya kembali ke klinik. Saat ini, Arum sudah kembali dari rumah Yanti dan sedang menyiapkan sarapan."Tirta, Agatha, kalian pulang tepat waktu. Cepat cuci tangan, kita makan bersama." Arum membawa sarapan dari dapur dan tersenyum kepada mereka berdua."Agatha nggak
"Aduh, maaf ... aku ...," ucap bos toko. Dia baru tersadar. Bos toko segera merapikan pakaiannya dengan ekspresi malu.Bos toko berniat mengambil tisu untuk menyeka punggung Tirta, tetapi dia mengkhawatirkan keselamatan anaknya. Dia merasa bersalah dan juga ragu. Bos toko berputar-putar di tempat.A
"Oke, aku cicipi. Rasanya memang enak," ucap Tirta. Tentu saja dia menghargai pemberian Farida.Farida mengambil kotak makanan berwarna merah muda dengan ekspresi senang, lalu menimpali, "Baguslah kalau kamu suka. Setelah kamu kembali dari ibu kota provinsi, aku bawakan makanan untukmu setiap hari."







