Share

Dokter Calvin, Penyelamatku
Dokter Calvin, Penyelamatku
Penulis: Liam

Bab 1

Penulis: Liam
Sebagai seorang perawat magang, tugas sehari-hariku adalah merawat pasien.

Namun, aku tak pernah menyangka, suatu hari diriku malah menjadi pasien dan berbaring di ruang pemeriksaan tempatku sendiri bekerja.

Sementara itu, dokter sedang menatap tubuh telanjangku dengan tatapan mata yang seolah sedang menilai mangsanya.

"Jangan tegang," katanya.

"Ini bagian dari pengobatan."

....

"Kumohon cepat sedikit, aku sudah hampir nggak tahan lagi...."

Di dalam bus umum saat larut malam, di pojok baris paling belakang, aku menggigit bibirku kuat-kuat dan membenamkan wajah di antara kedua lengan. Tubuhku gemetar pelan, sama sekali tak bisa dikendalikan.

Rasa panas yang entah dari mana asalnya naik dari perut bagian bawah, rasanya seperti ada ribuan semut yang merayap di dalam pembuluh darah, membawa gelombang rasa kesemutan dan geli yang tak tertahankan.

Namaku Monica, dua puluh dua tahun, seorang perawat magang rumah sakit besar ternama di kota ini.

Di mata orang lain, aku punya penampilan yang polos, tubuh yang proposional dan sepasang mata indah yang terlihat lugu dan menyedihkan, tipe gadis yang lemah lembut di mata orang-orang satu departemen.

Namun, tak ada yang tahu kalau aku punya sebuah rahasia yang memalukan.

Aku sakit.

Aku mengidap penyakit aneh yang tak bisa didefinisikan dengan istilah medis apapun.

Penyakit ini bisa kambuh tiba-tiba tanpa kenal tempat dan waktu, membuat tubuhku menjadi sangat sensitif, mendambakan sentuhan dan ingin dipuaskan.

Persis seperti sekarang.

Hari ini aku memakai rok perawat yang panjangnya pas di bawah lutut, dengan stoking putih tipis di baliknya. Kursi bus ini dilapisi kain beludru dan setiap kali ada guncangan kecil, bagian dalam pahaku bergesekan dengan ujung rok, menghadirkan sensasi nikmat yang luar biasa menyiksa.

Aliran panas di dalam tubuhku semakin bergejolak, aku merasa seperti hampir terbakar.

Aku merapatkan kedua kakiku sekuat tenaga, mencoba meredakan rasa geli itu dengan tekanan, tapi usaha itu sia-sia.

Kulit di balik stoking sudah mengeluarkan butiran keringat halus, menempel lengket di kaki, membuat setiap gesekan terasa semakin jelas dan semakin menyiksa.

"Pemberhentian berikutnya Rumah Sakit Brosa, bagi penumpang yang akan turun harap bersiap-siap."

Suara pengumuman elektronik yang dingin itu terdengar bagai melodi indah dari surga. Aku langsung mendongak dan hampir merangkak sangking terburu-burunya menuju pintu belakang.

Aku harus segera kembali ke asrama, satu-satunya tempat di mana bisa membebaskan diriku sendiri.

Pintu bus terbuka, aku langsung melesat turun seperti sedang melarikan diri. Angin malam yang dingin agak meredakan pipiku yang terasa panas membara.

Namun, hasrat yang berasal dari lubuk tubuh paling dalam itu sama sekali tak berkurang.

Aku berlari sempoyongan menuju gedung asrama rumah sakit. Sepatu hak tinggi perawat yang kupakai mengetuk lantai semen, menimbulkan suara 'tok tok' dan setiap langkahnya terasa seperti menghentak langsung di ulu hatiku.

Cepat, lebih cepat lagi....

Tepat saat aku akan menerobos masuk ke pintu utama gedung asrama, sebuah bayangan tubuh yang tinggi besar tiba-tiba melangkah keluar dari kegelapan di sampingku, menghalangi jalanku.

Aku menabraknya langsung. Hidungku terasa ngilu, membuat air mataku hampir menetes.

"Ma... maaf...." kataku sambil memegangi hidung dan meminta maaf dengan panik. Tapi saat mendongak, pandanganku malah terkunci pada sepasang mata yang sangat dalam.

Itu dia.

Calvin.

Dokter spesialis termuda di rumah sakit kami yang mengambil spesialisasi andrologi, sekaligus sosok yang sulit didekati di seluruh rumah sakit.

Dia memakai jas dokter yang disetrika rapi dengan kemeja hitam di baliknya yang dikancing rapat sampai kerah. Di pangkal hidungnya bertengger sepasang kacamata berbingkai emas dan mata di balik lensa itu tampak dingin, tanpa emosi sedikitpun.

Rumornya dia berasal dari keluarga terpandang dan bekerja di rumah sakit hanya untuk mencari pengalaman hidup. Kepribadiannya sendiri sangat dingin dan cuek, tak pernah mengobrol terlalu banyak dengan dokter atau perawat wanita mana pun di departemennya.

“Kok buru-buru sekali, ada masalah apa?” Suaranya sama seperti kepribadiannya, dingin dan menjaga jarak, dengan nada menilai yang sulit disadari.

Jantungku berdebar sangat kencang sampai rasanya mau melompat keluar.

Gara-gara tabrakan mendadak ini, rasa panas di dalam tubuhku bukannya mereda, malah semakin menjadi-jadi.

Aku bahkan bisa merasakan dengan sangat jelas bahwa kain kecil di pangkal pahaku sudah basah kuyup sekarang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 15

    Dasar bodoh.Demi melindungiku, dia bahkan rela menghancurkan reputasi dan masa depannya sendiri.“Calvin! Kamu sadar nggak dirimu lagi bicara apa?!” Direktur rumah sakit bangkit berdiri sambil menggebrak meja sangking marahnya.“Demi wanita biasa ini, emangnya pantas?”“Pantas,” jawab Calvin tanpa ragu sedikitpun. Dia membalikkan tubuhnya, lalu menggenggam tanganku erat-erat dan menyelipkan jari-jari kami.“Dia bukan wanita biasa.”“Dia satu-satunya wanita yang ingin kunikahi seumur hidupku.”Seketika, semua rasa sesak, rasa sakit dan pergulatan batin yang kualami langsung lenyap tak berbekas.Aku membalas genggaman tangannya. Menghadapi tatapan orang-orang yang dipenuhi keterkejutan, cibiran, maupun kebingungan, aku tetap berdiri penuh keyakinan di sisinya.Fitnah dan reputasi?Aku tak peduli!Yang kutahu pasti, saat ini, aku tak ingin melepaskan genggaman tangan pria ini lagi.Selesai.Masalah itu akhirnya selesai setelah Calvin menyerahkan surat pengunduran dirinya, lalu pergi meni

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 14

    Dia berbalik, melangkah terhuyung-huyung keluar dari kamarku.Melihat punggungnya yang tampak begitu kesepian, air mataku tak bisa ditahan lagi dan langsung membanjiri pipi.Maafkan aku, Calvin.Aku mencintaimu.Justru karena mencintaimu, makanya aku tak boleh menghancurkanmu.Aku mengira semua ini akan berakhir begitu saja.Aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri dan bersiap untuk pergi dari kota yang penuh kenangan sedih ini.Namun, aku tak menyangka kalau Gwen tak berniat melepaskanku begitu saja.Tepat sehari sebelum aku mengundurkan diri, tiba-tiba sebuah unggahan muncul di forum internal rumah sakit.Judulnya, [Sungguh mengejutkan! Seorang perawat magang rela menghalalkan segala cara untuk menggoda dokter pria agar bisa naik jabatan!]Di dalam unggahan itu digambarkan secara detail ‘kasus’ antara aku dan Calvin. Meskipun namanya disamarkan, semua detail yang tertulis jelas-jelas mengarah pada kami berdua.Unggahan itu bahkan melampirkan sebuah foto yang buram.Itu adalah fot

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 13

    “Nggak melakukan apa-apa?” Dia terkekeh sinis, lalu tiba-tiba mendekat ke telingaku dan berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kami berdua, “Jangan kira aku nggak tahu kasus murahan di antara kalian! Wanita jalang yang mengandalkan pria demi menaikkan posisi sepertimu, memangnya kamu punya hak apa untuk merebutnya dariku?”Seketika, wajahku menjadi pucat.Kok dia bisa tahu?“Kamu pikir rahasiamu bisa ditutup dengan sempurna?” Dia menatap puas ke arah ekspresiku yang panik, “Hari itu di dalam lift, aku melihat semuanya. Calvin memelukmu dan rokmu… tsk tsk, sungguh menarik sekali.”Ternyata, orang yang berada di dalam lift hari itu adalah dia.“Monica, dengarkan baik-baik,” ucapnya dengan nada yang kejam.“Calvin itu milikku, nggak ada yang boleh merebutnya. Kalau kamu tahu diri, cepat angkat kaki dari rumah sakit ini. Kalau nggak, aku punya cara untuk menghancurkan reputasimu!”Usai bicara, dia sengaja melabrak bahuku, lalu berbalik pergi dengan angkuh.Aku membeku di tempa

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 12

    Bagi diriku dan dirinya, proses ini merupakan sebuah siksaan yang luar biasa.Setiap kali ‘terapi’ selesai, kami berdua seperti kehabisan tenaga dan sekujur tubuh dibanjiri keringat.Beberapa kali aku melihat wajahnya memerah dan urat-uratnya menonjol karena menahan diri. Dia bahkan sampai harus berlari ke kamar mandi untuk menenangkan diri dengan air dingin.Aku pernah bertanya padanya, kenapa dia tak menyentuhku saja, padahal itu jauh lebih mudah.Dia hanya tersenyum pahit dan menjawab, “Kalau aku menyentuhmu, semua yang kita lakukan sebelumnya akan sia-sia. Aku nggak mau kamu merasa kalau dirimu bergantung padaku, bukannya bergantung pada dirimu sendiri."“Monica, kamu bisa mengalahkannya. Aku percaya padamu.”Berkat bantuannya, frekuensi kambuhnya penyakitku jadi semakin jarang dan jarak waktunya pun semakin lama.Perlahan-lahan, aku mulai bisa mengendalikan hasrat yang datang mendadak itu.Bahkan jika sesekali hasrat itu muncul kembali, aku bisa menekan dan meredakannya melalui ta

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 11

    Jika dia menyetujuinya….Maka aku mungkin bisa memberikan satu kesempatan lagi untuknya dan juga untuk diriku sendiri.Calvin membeku setelah mendengar perkataanku.Dia menatapku dengan tatapan yang penasaran dan kebingungan.Waktu berlalu lama… begitu lama hingga aku mengira dia akan pergi begitu saja. Namun, dia malah menganggukkan kepala pelan.“Iya, aku setuju.”Aku tak menyangka kalau dia benar-benar akan menyetujuinya.Terlebih lagi, aku tak menyangka kalau terapi ‘tanpa menyentuhku’ yang dia maksud akan menjadi seperti ini.Dia menyuruhku duduk di atas ranjang, memejamkan mata, lalu dia mulai menggunakan kata-kata untuk membangun skenario demi skenario yang penuh gairah di benakku.Dengan suaranya yang berwibawa, berat dan agak berat, dia berbisik di telingaku untuk menggambarkan semuanya.Menggambarkan bagaimana tangannya membelai kulitku.Menggambarkan bagaimana bibirnya mengecup seluruh tubuhku.Menggambarkan bagaimana kami saling berpelukan dan tenggelam bersama….Gambarann

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 10

    Rentetan pertanyaan itu bagaikan peluru yang menghantam dirinya.Dia terdiam seribu bahasa karena pertanyaanku, hanya bisa menatapku lekat-lekat dengan sorot mata rumit yang sepekat tinta hitam.“Iya, kuakui awalnya memang memanfaatkan penyakitmu karena ingin melihat dirimu kehilangan kendali,” ujarnya setelah terdiam lama.Suaranya terdengar sangat serak, “Aku suka melihat dirimu yang padahal sangat malu, tapi tetap nggak bisa menahan diri untuk runtuh di hadapanku. Itu memberiku kepuasan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.”“Tapi, Monica….”Dia terdiam sejenak, lalu sekilas kerapuhan dan pergulatan batin yang belum pernah kulihat sebelumnya tampak di matanya.“Aku nggak tahu sejak kapan, tapi semua ini sudah berubah.”“Melihatmu mengobrol dengan dokter pria lain saja bisa membuatku cemburu setengah mati.”“Melihatmu pulang kehujanan seperti ini membuat hatiku sangat sakit.”“Melihatmu menatapku dengan pandangan seperti sekarang… rasanya jantungku seperti diiris-iris pisau.”Dia m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status