LOGINDashel merapatkan tubuhnya di balik sofa, menahan napas ketika pintu ruang kerja Gina terdorong terbuka.Dua orang karyawan kebersihan melangkah masuk membawa perlengkapan sapu dan kain lap. Suara obrolan mereka terdengar samar di dalam ruangan yang hening."Minggu depan Dokter Gina ulang tahun, kamu udah siapin kado belum?" tanya salah satu karyawan sambil menyapu lantai."Belum, nih. Bingung mau kasih hadiah apa, Dokter Gina kan udah punya semuanya," sahut temannya sambil mengelap area meja kerja.Langkah kaki mereka makin mendekat ke arah sofa. Dashel menggepalkan tangannya, menyusutkan tubuhnya seminimal mungkin. Tepat saat sapu terulur nyaris menyentuh ujung sepatunya, suara dering telepon bergema dari lantai bawah."Telepon di bawah tuh, yuk turun dulu!" ajak salah satunya terburu-buru.Keduanya bergegas keluar dan menutup pintu kembali. Dashel menghembuskan napas lega yang sempat tertahan. Tanpa membuang waktu, ia bangkit dan melangkah cepat menuju lukisan besar yang menutup d
Keringat dingin membasahi pelipis Dashel. Dadanya bergemuruh, menahan amarah luar biasa yang rasanya ingin meledak saat itu juga. Jemarinya mengepal kuat ponsel di genggaman, untuk merekam setiap kata yang terucap."Jangan bahas itu lagi! Itu udah selesai!" bentak Gina dengan nada tinggi. "Lagian kamu udah dapat bayaran setimpal! Mana ada orang yang mau kasih kamu uang terus-terusan tiap bulan, cuma-cuma?!""Tetap aja kamu otak dari semua ini!" balas Bu Lia tak mau kalah, suaranya melengking. "Kalau tahu akhirnya bakal begini, dari dulu aku restui aja anakku sama Dashel! Gak bakal aku pisahin mereka! Dashel itu kaya raya, aku bisa minta uang kapan aja sama dia!""Lancang banget kamu, ya!" Gina mendelik. "Lagian keluargamu itu gak se-level sama keluarga kami! Lenor
Dashel yang sebelumnya enggan melepaskan Lenora kini perlahan menjatuhkan lengannya. Pria itu berbalik dan melangkah agak menjauh, berusaha menyembunyikan pembicaraannya. Lenora yang penasaran merapatkan pendengarannya, mencoba menyimak, namun suara Dashel yang meluncur begitu pelan dan berat sama sekali tak mampu ia tangkap."Pak, tolong ikuti ke mana Bu Lia pergi. Saya tambah bayaran Bapak," bisik Dashel dengan nada penuh penekanan.Suara pria di seberang telepon terdengar bersemangat. "Siap, Pak Dashel! Kalau ada uangnya, apa pun pasti jadi lancar!""Jangan sampai dia tahu, ya, Pak. Bapak hanya mengamati saja dari jauh. Nanti beri tahu saya posisinya ada di mana," tegas Dashel."Beres, Pak. Saya buntuti dari belakang."Sambungan telepon itu berakhir. Dashel menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana, lalu berbalik menatap Lenora yang sedang memperhatikannya dengan kening berkerut heran."Ada apa, Dash?" tanya Lenora penasaran.Dashel memaksakan senyum tipisnya agar Lenora ta
"Papa! Cepat obatin Mama! Pipi Mama merh banget!" seru Lucas sambil menunjuk wajah ibunya.Liam ikut melompat-lompat di air. "Iya, Pa! Nanti kalau Mama demam gimana? Kasih obat sekarang!"Lily mendongak dari atas pelampung bebeknya, mengedipkan mata polos. "Obat Mama itu permen manis ... atau cokelat, ya?"Dashel terkekeh rendah. Pria itu memanfaatkan riuh kepolosan anak-anaknya untuk merangsek maju.Dengan gerakan lambat dan pasti, Dashel mengunci tubuh Lenora tepat di dinding kolam. Kedua lengan kekarnya terangkat, mengepung sisi kiri dan kanan Lenora, menutup segala celah untuk melarikan diri.Napas Lenora tercekat. Kulit dadanya yang hanya terbalut pakaian renang tipis bergesekan halus dengan Dashel."Dash ... anak-anak ngelihatin," bisik Lenora yang panik, matanya bergerak-gerak mencari jalan keluar.Dashel menunduk. Bayangan tubuh jangkungnya menutupi wajah Lenora sepenuhnya. Ia memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Embusan napas hangatnya menyapu bib
"Saya tidak akan membuang waktu mendobrak pintu ini, Bu Lia," ujar Dashel. "Pemalsuan dokumen kematian, penyembunyian identitas, dan penipuan hukum ... saya pastikan Ibu di penjara."Langkah kaki Dashel terdengar menjauh, menghentak tegas.Bu Lia menyandarkan punggungnya di pintu, memegangi dadanya yang kempas-kempis oleh rasa takut yang menyengat. "Gak ... gak mungkin," gumamnya gemetar pada diri sendiri. "Dia gak akan berani. Kalau dia cinta sama anakku, dia harus sayang dan takut sama aku juga!"Bu Lia berusaha menenangkan napasnya. Namun keringat dingin makin meluncur membasahi lehernya. Bahkan untuk sekadar membuka pintu dan mengambil koper yang tertinggal di halaman saja, kedua kakinya terlalu lemas dan gemetar.Dengan jari-jari mandi keringat, ia kembali menekan tombol panggil ke nomor yang sama."Bu Gina!" celetuk Bu Lia begitu suara di seberang sana menjawab. "Dashel mengancam saya! Dia mau usut kasus pemalsuan kematian Lenora! Kalau saya masuk penjara, Ibu juga harus ikut be
Dashel menghentikan mobilnya beberapa meter dari gerbang rumah tua keluarga Lenora. Mata hazelnya yang tajam memindai sosok wanita paruh baya yang baru saja melangkah turun dari taksi. Penampilan Bu Lia tampak amat glamor dengan perhiasan menyilaukan dan pakaian bermerek, sama persis seperti era kejayaan bisnis mendiang suaminya dulu.Dashel membuka pintu mobil, melangkah mantap mendekati wanita itu."Lama tidak bertemu, Bu Lia," sapa Dashel dengan suara yang dalam dan amat dingin.Bu Lia terperanjat dan menoleh. Matanya membelalak ketika melihat ada Dashel. Namun dengan cepat, wanita itu mengubah raut wajahnya menjadi sinis dan ketus."Ada apa kamu ke sini?! Nggak puas kamu ganggu hidup saya?!" celetuk Bu Lia, melipat kedua tangannya di dada. "Saya ini sudah cukup sedih kehilangan ... anak! Harusnya kamu mikir!"Dashel tersenyum miring, melangkah selangkah lebih dekat hingga bayangan tubuh tingginya menutupi Bu Lia. "Saya lihat Ibu sama sekali tidak sedih kehilangan Lenora."Raut wa







