MasukHujan turun sejak dini hari, membasahi jalanan ibu kota yang masih dipenuhi puing-puing bangunan. Di tengah kesibukan para prajurit dan pekerja yang berusaha memulihkan keadaan, Aslan justru menghabiskan waktunya di ruang arsip militer lama. Bangunan itu terletak di bagian timur istana, jauh dari pusat pemerintahan yang kini dijadikan tempat pertemuan Dewan Kekaisaran. Sebagian besar dokumennya telah dipindahkan, sementara sisanya dianggap tidak lagi memiliki nilai administratif.Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak membaca pesan anonim yang diterima Catherine. Carilah orang yang memerintahkan pembuatannya. Kalimat itu bukan sekadar petunjuk mengenai segel merah, melainkan kemungkinan adanya seseorang yang telah merancang seluruh sistem Krossvane jauh sebelum proyek tersebut diumumkan secara resmi."Anda yakin kita akan menemukan sesuatu di tempat seperti ini?" Catherine bertanya sambil memperhatikan deretan lemari besi yang dipenuhi debu.
Pagi kembali menyelimuti ibu kota dengan cahaya matahari yang pucat. Sisa-sisa kehancuran masih terlihat di sepanjang jalan, sementara para prajurit dan pekerja mulai membersihkan puing bangunan. Kehidupan perlahan kembali berjalan, meskipun ketegangan belum sepenuhnya menghilang. Di balik pemulihan tersebut, Dewan Kekaisaran masih mengawasi setiap pergerakan yang berkaitan dengan laboratorium Krossvane.Di kediaman Duke Aslan, Catherine sedang memeriksa sejumlah dokumen yang berhasil diperolehnya dari arsip lama. Sejak menemukan pesan misterius yang diduga berasal dari Ashyel, ia terus menyelidiki aktivitas ruang kontrol sebelum Krossvane-04 diaktifkan. Ada sesuatu yang tidak beres dengan catatan keamanan pada hari tersebut, dan Catherine yakin jawabannya tersembunyi di antara data yang sengaja dihapus."Aku menemukan kejanggalan dalam catatan kunjungan ruang kontrol," ujar Catherine sambil meletakkan beberapa lembar dokumen di atas meja kerja Aslan. Jemarinya menunjuk sebuah bagian
Malam belum sepenuhnya meninggalkan ibu kota ketika hujan tipis mulai mengguyur atap-atap bangunan yang tersisa. Cahaya lentera menerangi jalanan yang masih dipenuhi puing, sementara para prajurit bekerja tanpa henti membersihkan sisa kehancuran. Di balik tembok-tembok kediaman bangsawan, kehidupan perlahan kembali berjalan, meskipun bayang-bayang bencana masih terasa di setiap sudut kota.Namun, jauh dari keramaian tersebut, di ruang penyimpanan bawah tanah kediaman Marquis Valerius, sebuah perangkat kuno masih menyala. Cahaya biru pucat memantul pada dinding batu, menerangi wajah seorang pria tua yang sejak tadi duduk di hadapan meja kerjanya. Di atas meja itu, inti penyimpan data Krossvane-04 terhubung dengan perangkat pembaca sirkuit yang telah dimodifikasi secara khusus.Valerius memperhatikan layar proyeksi dengan tatapan penuh minat. Sejak berhasil mendapatkan inti tersebut, ia telah mencoba mengakses seluruh data yang tersimpan di dalamnya. Sayangnya, sebagian besar informasi
Matahari pagi menyiram ibu kota dengan cahaya yang terlalu terang untuk kota yang baru saja sekarat. Asap tipis masih membubung dari tumpukan puing, berbaur dengan deru kereta kuda militer dan denting sekop para prajurit yang mulai membersihkan jalanan. Kehidupan berdenyut kembali, namun dengan ritme yang pincang.Di bawah tanah, hawa dingin laboratorium Krossvane terasa berbeda. Bukan lagi dingin yang protektif, melainkan dingin yang mati. Langkah kaki Aslan dan Catherine bergema konstan saat mereka menyusuri lorong beton. Namun, langkah mereka terhenti tepat di depan pintu besi ruang penyimpanan utama.Dua baris rantai baja tebal melilit tuas pintu, dikunci dengan segel lilin merah berlambang burung maritim—simbol otoritas yudisial tertinggi kekaisaran. Empat orang prajurit dengan zirah perak berdiri tegak di depannya, menondongkan tombak secara horizontal."Ruang ini berada di bawah yurisdiksi penuh Dewan Kekaisaran. Siapa pun dilarang masuk,"
Bau mint dan belerang perlahan terbawa angin sore, digantikan oleh aroma tanah basah dan debu beton yang memenuhi udara. Di sepanjang jalan utama ibu kota, jutaan serpihan kristal dimensi yang sebelumnya memenuhi langit kini jatuh perlahan, berkilauan ketika terkena cahaya matahari yang mulai menembus awan. Pemandangan itu terlihat indah. Namun semua orang tahu, keindahan tersebut lahir dari sesuatu yang hampir membawa mereka menuju kematian. Pintu-pintu bunker bawah tanah dan tempat perlindungan sihir mulai terbuka dengan suara derit yang berat. Satu per satu, warga keluar dengan langkah ragu. Beberapa masih gemetar. Sebagian lainnya bahkan belum berani percaya bahwa semuanya benar-benar sudah berakhir. Kemudian terdengar tangisan. Seorang ibu berlari memeluk anaknya yang ditemukan di dekat barikade. Beberapa prajurit saling merangkul dengan pelindung dada yang retak. Ada pula warga yang langsung berlutut di jalan, mengucap syukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup. Ta
Suhu di dalam laboratorium bawah tanah Krossvane terasa pengap, kontras dengan hawa sedingin es yang melanda permukaan ibu kota. Getaran akibat pusaran dimensi di atas membuat dinding-dinding beton berlapis timbal di ruang riset itu retak, menjatuhkan debu-debu putih ke atas meja laboratorium. "Duke Aslan, tahan pipa hidrolik utama ini! Jangan biarkan tekanannya turun!" teriak Catherine di antara kebisingan mesin. Gadis itu tidak lagi menangis. Rambut pirangnya diikat asal-asalan ke belakang, wajahnya coreng-moreng oleh oli hitam dan keringat. Jemarinya bergerak dengan kecepatan gila, menyatukan sirkuit-sirkuit perak kompresor cadangan Krossvane generasi terbaru yang ukurannya dua kali lebih besar dari yang digunakan Ashyel di Oakhaven. Aslan berdiri di sisi mesin, kedua tangan kekarnya mencengkeram pipa besi raksasa yang bergetar hebat. Mengabaikan sirkuit mananya yang menjerit kesakitan karena dipaksa menjadi penahan beban mekanis, sang Duke mengalirkan mana kegelapannya untuk m
Pagi itu, langit di atas kediaman Liora tampak abu-abu, seolah turut merasakan beratnya perpisahan. Di depan gerbang utama, sebuah kereta kuda hitam mewah dengan ukiran singa perak khas keluarga Krossvane telah menunggu. Di sampingnya, berdiri seorang ksatria tegap dengan zirah yang berkilau tert
Suara roda kereta kuda yang menggilas jalanan berbatu menuju kediaman Liora terdengar seperti detak jam kematian bagi siapa pun yang mendengarnya. Langit sore yang berwarna jingga kemerahan menambah kesan dramatis pada bangunan megah bergaya Gothic tersebut. Biasanya, kediaman ini penuh dengan ta
Suasana di dalam tenda utama mendadak mencekam, hanya menyisakan suara deru napas berat sang Duke dan dentingan alat medis darurat yang dibawa Ashyel. Bau anyir darah yang tadinya menusuk, kini perlahan tertutup oleh aroma peony yang tenang dari tubuh gadis di depannya. Aslan mencengkeram pingg
Setelah keributan di depan cermin mereda, Ashyel-yang jiwanya kini telah ditempati Labella-melangkah keluar dari kamar. Ia harus segera menyusun rencana sebelum algojo datang mengetuk pintu. Di ruang tamu utama, ia disambut oleh suasana yang lebih mirip rumah duka. Viscount Bastian van de Liora







