Share

BAB 8 Pilihan Sulit

last update publish date: 2026-10-01 03:05:34

Nanda tersenyum, kompres demam itu sudah Nanda tempel di beberapa lipatan tubuh Anya, kini bayi itu sudah tegak duduk di kursi makan, nampak manis dengan apron di leher dan selalu membuka mulut lebar ketika Nanda menyodorkan sendok ke depan mulutnya.

Senyum Nanda merekah, kerinduannya sejak semalam terbayar. Bayi yang ia dengar meraung-raung tadi, kini bahkan beberapa kali tertawa ketika Nanda menggodanya. Sebuah momen yang jujur tidak ingin Nanda lupakan dan hilangkan begitu saja dari hidupn
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yelloe Duassatu
pastilah anya akan memilih mamahnya ttp tinggal bersamanya mamah....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dokter, Jadilah Ibu dari Putriku!    BAB 22 Tidak Ingin Kehilangan Lagi

    Orientasi seksual menyimpang? Chris hampir terbahak mendengar tuduhan Aston pada anak lelakinya sendiri. Namun untungnya Chris masih bisa mengendalikan diri. Ia menarik napas panjang, menjawab segala cecaran ayah dari bosnya itu dengan baik tanpa melanggar kode etik pekerjaan dan mengkhianati Bastian. "Saya kira tuan Bastian masih laki-laki normal, Tuan. Namun mengenai segala pertanyaan perihal wanita seperti apa yang tuan sukai, kenapa nanti tidak tanyakan langsung saja?"***Nanda melambaikan tangan ke arah Darren, lelaki itu balas tersenyum, bergegas mendekati pintu mobil dan membukanya begitu Nanda sampai. "Terimakasih, Darren." ucap Nanda yang selalu merasa seperti orang penting karena keberadaan Darren sebagai supir yang mengantarkannya pulang-pergi bekerja. "Kita langsung pulang, Dokter?" tanya Darren sebelum menutup pintu. "Tentu. Aku tidak ingin di pecat oleh bos kita."Darren terkekeh, segera menutup pintu mobil dan menyusul masuk ke dalam. Tidak ada percakapan yang ter

  • Dokter, Jadilah Ibu dari Putriku!    BAB 21 Sakit Kepala

    "Dokter?"Darren menyentuh bahu Nanda, membuat Nanda tersentak dan membalas tatapan khawatir itu dengan terkejut. Kepalanya menggeleng, sejenak ia berusaha membuang semua ingatan buruk yang hinggap di kepala. "Ti-tidak. Aku baik-baik saja." kilahnya dengan ekspresi gugup. "Aku izin masuk ke dalam, masih ada beberapa pasien dan presentasi kasus sore nanti.""Okay."Darren tidak bisa menghalangi Nanda pergi, ia bersandar di mobil sembari menatap sekeliling. Apa yang membuat dokter itu terkejut macam tadi? Apakah ia melihat seseorang atau ... Tidak ada orang-orang yang nampak mencurigakan, mereka ada di area parkir dan tidak banyak orang kecuali mobil yang terparkir. Darren masih berpikir keras, ia tentu harus waspada jika ada sesuatu yang mencurigakan. Kisah keluarga George setahun yang lalu cukup pedih dan dia sudah mendapat briefing untuk selalu waspada pada siapapun. Sementara itu Nanda sedikit tergesa masuk ke dalam bangunan rumah sakit, ia merogoh saku, menemukan masker dan men

  • Dokter, Jadilah Ibu dari Putriku!    BAB 20 Mobil Hitam di Rumah Sakit

    "Mama ada dipihak Bastian?"Stefani menatap Helga dengan senyum datar di wajah. Ia mengusap pipi anak gadisnya itu lalu menarik napas panjang. "Kamu perempuan, kamu akan menjadi ibu nantinya. Saat itulah, kamu akan paham apa alasan mama, Dear." jawab Stefani lirih. Nampak wajah itu tidak terima. Tentu Stefani bisa baca dan langsung pahami perubahan wajah itu. Dia yang melahirkan Helga. "Mama tahu opa akan semurka apa nanti?"Stefani terkekeh, wajahnya berubah masam. Ia berusaha tetap tenang, duduk dengan secangkir teh hijau dengan irisan lemon di sana. "Tentu mama paham, mama kenal papa mertua mama jauh sebelum kamu lahir." "Lalu?"Helga terus mengejar, sangat terlihat dia butuh Sekutu untuk mensukseskan rencananya. Ia mau, semua anggota keluarga ada dipihaknya, semua tanpa terkecuali. Stefani menyesap teh dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, ia terdiam sejenak, meletakkan cangkir pada cawan lalu menatap Helga dengan penuh pertanyaan. Cawan berisi cangkir ia letakkan di mej

  • Dokter, Jadilah Ibu dari Putriku!    BAB 19 Protes

    "Jangan terlalu memanjakan dia."Bastian mendengus, menoleh ke arah Helga yang terus berada di sisinya. Wajah adik perempuannya itu nampak kesal, entah apa yang terjadi padanya, Bastian tidak peduli. "Cia? Lalu menurutmu siapa yang harus memanjakan dia?"Helga menghentakkan kaki ke lantai, Bastian menghentikan langkah, menatap adiknya itu dengan tatapan tidak mengerti. "Sebenarnya ada apa?" ia bosan, setiap mengobrol dengan Helga, ujungnya mereka hanya saling ribut dan bertengkar. "Perempuan itu sudah kurang ajar padaku!"Alis Bastian berkerut, ia lirik Chris yang nampak angkat bahu dan memggeleng perlahan sebagai kode bahwa dia tidak mengerti apapun tentang ini. "Siapa yang kamu maksud?"Sorot mata Helga berubah tajam, nampak jelas terlihat dia marah pagi ini. "Perempuan yang kamu punggut dan pekerjakan."Bastian mendengus, ia mengusap wajahnya lalu menatap baik-baik sang adik. "Dia tidak pernah cari gara-gara padaku." ucap Bastian santai. "Dan kamu lebih percaya pada topeng y

  • Dokter, Jadilah Ibu dari Putriku!    BAB 18 Obrolan Pagi Bersama Darren

    "Mama. Mama."Nanda tersenyum ketika langkah kaki itu menghampirinya, pagi ini Cia sudah wangi dan cantik dengan dress gambar kelinci dan rambut dikucir dua. Tangan Nanda terentang, membuat Cia makin mempercepat langkah dan menjatuhkan diri ke dalam pelukan Nanda. "Cia sama onty Tiana, ya? Mama mau kerja." pamit Nanda berusaha membiasakan diri memanggil bayi itu dengan nama aslinya. Patricia. Tiana, gadis yang menjadi partner kerja Nanda nampak tersenyum, ia sudah rapi dengan setelan seragam khusus. Tiana akan bekerja sampai Nanda pulang dari rumah sakit, setelahnya semua keperluan dan perawatan Cia akan Nanda ambil alih. "Mama kerja?"Celotehan Cia makin jelas. Kosa katanya makin banyak dan itu jujur membuat Nanda cukup bangga. Cia bayi yang cerdas dan tentu saja menggemaskan. "Iya, mama mau kerja. Cia sama onty Tiana, ya?"Kepala itu mengangguk patuh. Tidak drama seolah sudah paham dan terbiasa dengan rutinitas Nanda selama ini. Bukankah satu tahun kebelakang kemarin sudah cuku

  • Dokter, Jadilah Ibu dari Putriku!    BAB 17 Momen Haru Bastian

    "Bukan begitu, Tuan."Nanda dengan sigap membantu membetulkan tangan Bastian, menjadi sangat canggung ketika menyentuh dan memposisikan tangan lelaki itu ke tempat yang benar. Bastian tidak banyak protes, menurut saja Nanda mengajarinya melakukan ini dengan benar. Di balik sikap tegas dan wajah datarnya ini, jujur hati Bastian tengah berbunga-bunga. Cia mulai bisa menerima kehadirannya. Setelah makan malam, mandi malam dan kembali lanjut bermain sebentar, Cia nampak sudah tidak tahan lagi dengan rasa kantuknya. Ia pasrah, tanpa banyak drama ketika Bastian membawanya ke dalam gendongan. Kepalanya bersandar di bahu Bastian, dengan tangan memeluk tubuh itu dan mata hampir terpejam. Bastian patuh ketika Nanda memberi kode padanya agar mengusap-usap punggung Cia dengan lembut, sembari mengayunkan pelan tubuhnya sembari berdiri tegak di depan kaca besar yang ada di kamar. Nanda beringsut mundur, menatap sosok lelaki itu dengan senyum di wajah. Bukankah tidak ada pemandangan yang manis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status