Teilen

BAB 367

last update Veröffentlichungsdatum: 03.06.2026 23:11:08

"Sofia, maafkan aku. Aku mohon, beri aku kesempatan satu kali lagi." Tonny berusaha mengeraskan suaranya agar Sofia tidak pergi dan mendengar ucapannya.

Namun nyatanya, wanita itu tidak menghentikan langkah kakinya. Ia tetap saja berjalan meninggalkan ruangan.

"Rayan, Alicia, maafkan papi. Papi mohon, beri papi kesempatan satu kali lagi."

Tonny memanggil kedua anaknya. Rayan dan Alicia, berjalan di belakang Sofia sambil berpegangan tangan.

"Rayan, tolong bebaskan papi dari sini. Papi tidak s
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 440

    Siang itu, sinar matahari menerobos lembut lewat dinding kaca sebuah restoran bernuansa elegan di pusat kota. Di salah satu sudut meja yang tenang, Rayan duduk berhadapan dengan Rebecca—wanita yang baru saja resmi menjalin hubungan asmara dengannya.Namun, alih-alih diwarnai dengan obrolan romantis layaknya sejoli yang baru dimabuk asmara, meja makan itu diliputi oleh atmosfer yang cukup hangat namun sarat akan rasa prihatin."Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sedihnya Alicia melihat kondisi Devan seperti itu," ucap Rebecca dengan raut wajah sedih yang mendalam.Suara dan sorot matanya memancarkan keprihatinan yang amat tulus dari dalam lubuk hatinya—bukan sekadar formalitas agar terlihat seperti calon kakak ipar yang baik di mata Rayan."Padahal hari pernikahan mereka tinggal menghitung hari..." sambung Rebecca pelan, lalu menatap Rayan ragu. "Apa Devan masih belum sadar sampai siang ini?""Pagi tadi belum," jawab Rayan lirih.Ia memotong steak di piringnya, lalu

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 439

    Alicia duduk di tepi tempat tidur VVIP itu dengan telaten, memegang mangkuk bubur hangat dan menyuapi Devan sendok demi sendok.Namun dasar Devan—meski baru saja lolos dari cengkeraman maut, sifat manjanya mendadak melejit naik hingga 80 persen. Pria gagah itu benar-benar memanfaatkan posisinya sebagai pasien. Ia sengaja mengunyah pelan, menatap Alicia dengan mata berbinar pasrah, lalu berpura-pura lemas hanya agar bisa mengusapkan kepala ke lengan calon istrinya."Suapannya kurang besar, Sayang..." rengut Devan pura-pura merajuk."Devan... ini bubur medis, disuap sedikit-sedikit supaya tidak mual," tegur Alicia gemas seraya mengetukkan ujung sendok pelan ke bibir Devan. "Jangan bertingkah seperti anak TK ya."Brak!Pintu kamar rawat mendadak terdorong lebar."Devan! Kamu sudah sadar, Nak?!"Luna masuk ke dalam kamar rawat dengan langkah sangat tergesa-gesa. Tanpa memedulikan tasnya yang terjatuh di sofa, wanita itu langsung menepi dan memeluk putra tunggalnya dengan penuh rasa bahagi

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 438

    Kelopak mata Devan yang amat berat perlahan-lahan terkuak. Pandangannya yang sempat kabur berangsur-angsur jernih, menatap langit-langit plafon putih kamar rawat yang beraroma antiseptik lembut. Pria itu menarik napas panjang, meresapi udara dan pasokan oksigen segar yang membasahi rongga dadanya.Detik itu juga, sebuah kesadaran menghantam jiwanya—dia berhasil lolos dari cengkeraman maut. Dia masih hidup.Bersamaan dengan rasa syukur yang membuncah, Devan merasakan kehangatan yang amat familier melingkupi jemari tangan kanannya. Ada sentuhan lembut dan napas teratur yang berembus pelan di dekat ceruk lehernya.Devan menolehkan kepalanya secara perlahan. Senyum tipis nan tulus seketika mengukir bibirnya yang masih agak kering saat melihat Alicia terlelap begitu pulas di sampingnya. Pipi lembut calon istrinya menempel hangat di atas bahunya, seolah wanita itu menjadikan tubuh Devan sebagai satu-satunya tempat teraman di dunia.Rasa bahagia dan haru meluap memenuhi seluruh ruang di dada

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 437

    Melihat rona wajah Alicia yang kian redup, Sofia tahu betul putrinya itu berada di ambang batas kelelahan ekstrem. Namun, membujuk Alicia untuk melangkah pergi dari ruangan ini jelas sebuah hal yang mustahil. Jika ruangan VVIP ini terus disesaki banyak orang, Alicia tidak akan pernah bisa merebahkan tubuhnya dengan tenang. Padahal, ia butuh stamina yang kuat untuk mendampingi masa pemulihan Devan nanti.Sofia menoleh ke arah Luna, lalu berbisik pelan menyampaikan rencananya.Luna yang mengerti maksud calon besannya itu langsung mengangguk paham. Tanpa membuang waktu, wanita itu berdiri dan meraih tas genggamnya yang terletak di atas nakas."Alicia, Mami lelah sekali, Nak. Mami mau pulang dulu untuk beristirahat. Kamu jaga Devan baik-baik, ya?" pancing Luna dengan raut wajah yang sengaja dipasang lelah."Iya, Mami," jawab Alicia lembut. "Nanti kalau Devan sudah sadar, aku akan langsung menghubungi Mami."Luna melangkah mendekat, menatap lingkaran hitam yang kontras di bawah mata calon

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 436

    "Alicia, kamu belum sarapan, kan? Kamu sarapan dulu ya, Nak," ucap Luna penuh kelembutan seraya meletakkan semangkuk bubur ayam hangat di atas meja samping tempat tidur.Alicia bergeming sesaat, menatap uap tipis yang membumbung dari mangkuk tersebut. Tenggorokannya terasa menyempit dan selera makan yang ia miliki seolah menguap tanpa sisa. Bagaimana mungkin ia bisa menelan makanan sementara Devan—pria yang paling dicintainya—masih terbaring kaku tak sadarkan diri?Sebagai seorang dokter, ada fakta medis yang terus menggerogoti pikirannya secara brutal. Jika dalam waktu 36 jam Devan tak kunjung membuka mata, risiko pasien jatuh ke fase koma jangka panjang sangatlah tinggi. Meski perkembangan tanda vital Devan menunjukkan tren positif pascaoperasi, bayang-bayang kemungkinan terburuk itu tetap menari-nari liar di benak Alicia, menyuntikkan rasa takut yang teramat dingin."Alicia, suhu tubuh Devan sudah hangat, kan?" tanya Sofia pelan seraya melangkah mendekat dan membetulkan letak selim

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 435

    Sentuhan dingin masa kritis akhirnya perlahan memudar seiring berjalannya waktu. Selama dua puluh empat jam penuh tanpa memejamkan mata sedikit pun, Alicia setia bergeming di samping brankar Devan di ruang ICU. Ia terus memantau setiap grafik EKG, mengukur tekanan darah, dan mengusap jemari calon suaminya tanpa lelah."Sayang, apa kamu tidak bosan tidur terus?" bisik Alicia lembut, suaranya parau menahan sengau. Tangannya terulur mengusap pipi Devan yang perlahan mulai terasa hangat. "Mata kamu biasanya paling tidak bisa diam kalau lihat aku dekat-dekat begini. Sekarang kenapa betah sekali meram?"Alicia terkekeh tipis, meski matanya berkaca-kaca menatap wajah calon suaminya yang tertutup selang oksigen."Sayang, kamu harus cepat bangun, ya. Kalau kondisi kamu sudah membaik, kita akan pindah ke kamar rawat. Di sana jauh lebih enak, tidak berisik dengan bunyi mesin bip... bip... ini terus. Kamu juga bisa lihat pemandangan luar," sambungnya penuh harap. "Aku tidak akan ke mana-mana. Aku

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status