LOGINPanggilan telepon dari Thomas beberapa menit lalu bagaikan detektor ancaman siaga satu di kediaman keluarga Soedirja. Pasalnya, dalam sambungan singkat itu, Thomas sama sekali tidak menjelaskan secara detail apa tujuan kedatangannya. Pria itu hanya mengatakan ada hal yang sangat krusial dan mendesak yang harus dibicarakan malam ini juga, terkait dengan Rayan putranya dan juga Rebecca.Sontak saja, Letnan Jenderal (Purn.) Hartono Soedirja langsung gempar. Tanpa membuang waktu satu detik pun, sang jenderal menelepon seluruh putra perwiranya untuk pulang dan merapat ke rumah utama malam ini juga.Suasana kediaman berarsitektur megah dan bernuansa militer itu mendadak tegang luar biasa. Rebecca yang baru saja selesai mengganti pakaian santainya dibuat kebingungan setengah mati saat melihat dua abangnya—Danu dan Arya—tiba di rumah dengan seragam dinas yang masih melekat rapi di tubuh tegap mereka."Sebenarnya ada apa ini? Mengapa mereka datangnya mendadak seperti ini? Kita belum ada persia
"Mami, selama ini ketika Mami tanya kenapa aku tidak pernah bercerita tentang wanita yang aku cintai, atau wanita yang ingin aku nikahi, itu semua karena aku memang tidak memilikinya. Bukan karena aku ingin menyembunyikannya dari Mami lalu tiba-tiba bicara mendadak begini. Aku benar-benar tidak ada niat membuat Mami terkena serangan jantung," ungkap Rayan dengan jujur dan raut memelas."Maksud kamu bagaimana?" tanya Thomas yang sudah sangat penasaran, memiringkan tubuhnya di sofa."Rebecca itu adik tingkatku waktu kuliah, Pi. Bahkan waktu SMA juga dia adik kelas. Aku kelas dua belas, dia siswa kelas 10. Dulu kami sempat ketemu lagi di universitas, dan kami sangat dekat. Tapi... sempat ada kesalahpahaman di antara kami. Karena itu aku memilih pergi melanjutkan bisnis keluarga di luar negeri," beber Rayan pelan.Sofia tidak menyela. Ia memilih diam mendengarkan terlebih dahulu, membiarkan putra sulungnya menumpahkan seluruh rahasia asmara yang selama ini tersimpan rapat."Dua hari yang
Rayan akhirnya tiba di kediaman Thomas. Langkah kakinya tergesa-gesa masuk ke dalam rumah megah itu, mencari keberadaan sang Mami. Wajah tampan yang biasanya selalu memamerkan ekspresi poker face dingin itu kini tampak menanggung beban yang luar biasa berat."Mami!" panggil Rayan setengah berteriak begitu menemukan Mami Sofia di ruang keluarga.Sofia yang sedang duduk santai sambil menikmati secangkir cokelat hangat langsung menoleh. Sorot matanya memancarkan rasa kesal yang sudah mencapai ubun-ubun.Di sebelahnya, Thomas yang sedang menyeruput kopi hitamnya menghentikan cangkirnya di udara. Pria paruh baya itu tidak menguarkan sepatah kata pun, namun tatapan matanya yang tajam tampak sangat menilai dan memendam tawa melihat tingkah anak tirinya."Ada apa?!" sembur Sofia dengan raut wajah sangat kesal dan marah."M-Mami... pernikahanku bagaimana?" bisik Rayan lirih.Pria itu benar-benar bingung dan tidak tahu harus berkata apa lagi. Pada akhirnya, hanya kalimat memelas itu yang sanggu
Wajah Devan masih agak pucat. Bagaimana tidak? Setelah berjuang mati-matian melewati masa kritis, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa pernikahannya dengan Alicia kembali tertunda! Dan yang lebih menyebalkan lagi, Rayan—abang iparnya yang selama ini paling dingin, kaku, dan tak pernah sekalipun mengungkit masalah asmara—malah mendadak memotong jalur dan menguasai pelaminan yang sudah dipersiapkannya!"Tunggu dulu! Ini tidak bisa begini!" protes Devan dengan nada vokal yang dinaikkan, mencoba duduk lebih tegak meski punggungnya masih ditahan bantal. "Itu acara milikku dan Alicia! Gedung itu, konsep dekorasinya, kateringnya, semuanya aku yang pilih! Kenapa malah Rayan yang enak-enak naik pelaminan?!"Mendengar ocehan putranya, Luna memutar tubuhnya perlahan. Ia melangkah mendekati brankar dan mendelik, menatap Devan dengan tatapan tajam dan menyeramkan—tipe tatapan maut seorang ibu yang sanggup membungkam siapa saja."Biarkan Rayan yang menikah di tanggal itu!" potong Luna tegas, sua
Semua mata seketika tertuju padanya."Kecuali gaun yang sudah dipesan," lanjut Rayan mantap. "Seluruh biaya gedung, katering, dan dekorasi yang sudah dibayar oleh Devan... akan aku ganti rugi seluruhnya."Sofia yang sejak tadi diam terperanjat. Ia menatap putra sulungnya tak percaya. Begitu pula Thomas yang menaikkan alisnya heran."Kamu yakin ingin membayar semuanya, Ray?" tanya Sofia ragu. "Untuk apa kamu mengeluarkan uang miliaran hanya untuk menanggung pesanan acara Devan? Bukankah itu rugi besar?"Rayan menarik napas panjang, menetralkan ritme jantungnya yang berdegup gila-gilaan di balik kemejanya. Ia melirik Rebecca yang berdiri di sampingnya dengan tatapan penuh kepastian, lalu kembali menatap keluarganya."Semuanya sudah dipesan dan rangkaian acaranya sudah matang," jawab Rayan dengan binar mata yang begitu tajam dan berani. "Karena itu... biar aku yang mengambil alih seluruh biaya dan jadwalnya. Dan acara pernikahan di tanggal itu... akan menjadi acara pernikahanku."DEG!Ke
Mobil Rayan akhirnya berhenti di area parkir VIP rumah sakit. Namun, Rayan tidak langsung turun. Ia bergeming sejenak, memegang kemudi dengan erat sambil memikirkan bagaimana cara menjelaskan kehadiran Rebecca di sampingnya kepada seluruh keluarganya nanti."Kenapa tidak turun?" tanya Rebecca lembut, menyadari kegugupan pria di sampingnya.Rayan menoleh, tersenyum nyengir lalu menganggukkan kepalanya. "Ayo turun."Pria itu melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobilnya, diikuti oleh Rebecca. Begitu kaki mereka melangkah di koridor rumah sakit, Rayan berjalan seraya menggenggam erat jemari Rebecca. Pria yang biasanya berwajah dingin itu mendadak bersikap seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta—memegang tangan Rebecca dengan senyum malu-malu yang menggemaskan.Rebecca tersenyum gemas melihat tingkah pria di sampingnya. Apa kata dunia jika publik mengetahui bahwa Rayan—tuan muda yang disegani, kaku, dan terkenal berdarah dingin—memiliki sisi manis dan menggemaskan seperti in
Khusus hari ini, sipir memberikan sedikit kelonggaran di lorong blok tahanan tersebut. Sebuah televisi tabung berukuran 21 inci diletakkan di atas meja luar, tepat di depan deretan jeruji besi sel, menayangkan siaran langsung pesta pertunangan megah Alicia dan Devan Alexander.Bagi Tonny, kelongg
Di tengah riuhnya ucapan selamat dari para tamu undangan, Luna berdiri menyendiri di dekat meja bar. Jemarinya menggenggam tangkai gelas jus dengan erat, namun tatapannya lurus terkunci pada sosok wanita bergaun gelap di seberang ruangan.Sofia.Begitu pandangan mereka berbenturan, keduanya lang
Ruangan mendadak sunyi senyap seketika.Lima detik. Sepuluh detik. Thomas hanya diam menatap Tonny dengan pandangan yang sulit diartikan.Lalu..."Hahahahahahaha!"Thomas meledak dalam tawa. Bukan sekadar tawa kecil, melainkan tawa lepas yang menggema di seluruh ruang kunjungan. Bahunya bergerak-ge
"Sofia, maafkan aku. Aku mohon, beri aku kesempatan satu kali lagi." Tonny berusaha mengeraskan suaranya agar Sofia tidak pergi dan mendengar ucapannya. Namun nyatanya, wanita itu tidak menghentikan langkah kakinya. Ia tetap saja berjalan meninggalkan ruangan. "Rayan, Alicia, maafkan papi. Papi m







