LOGINDevan merasa gelisah sejak ancaman Maminya tadi menyeruak di kepalanya. Ada sesuatu dalam nada suara Luna, dingin, datar, namun penuh ketegasan, yang membuat jantungnya terasa seperti diremas dari dalam. Luna bukan tipe wanita yang bicara dua kali. Jika dia sudah mengucapkan sesuatu, maka tindakannya sering kali di luar nalar manusia normal.
Dan itulah yang membuat Devan benar-benar frustasi. Ia duduk, kemudian berbaring, miring kanan, miring kiri, berdiri, berjalan sambil memegang pinggang, lalu duduk lagi. Tidak ada posisi yang terasa nyaman. Ponselnya sudah entah berapa kali ia angkat dan letakkan kembali, berharap ada kabar dari Vivian. Namun layar itu tetap gelap. Hening. Bisu. Seakan-akan wanita itu menghilang tanpa meninggalkan satu jejak pun. Devan menutup wajah dengan kedua tangan. Napasnya panas dan kacau. “Vivian… kamu kenapa tidak menghubungiku?” bisiknya lirih. Pikiran buruk mulai merayap, satu per satu. Vivian bukan tipe yang sangat cuek dan tidak perduli. Kalaupun sibuk, ia pasti sempat memberi kabar singkat. Kecuali… jika dia sedang berada di tengah sesuatu yang sangat besar. Syuting. Photoshoot. Atau… Skandal. Pikiran itu menghantam dada Devan begitu keras, membuatnya sulit bernapas. Ia meremas rambutnya. Bukan hanya pinggulnya yang berdenyut nyeri, kepalan pun terasa seperti dipukul dari dalam. “Apa mami benar-benar… melakukan sesuatu?” gumam Devan. Jika Luna marah, dia bisa melakukan apa saja. Apa saja. Setiap getar ponsel membuat Devan seperti orang gila. Ia langsung meraih ponsel, berharap nama “Vivian ❤️” muncul di layar. Tapi tidak. Hanya notifikasi-email. Pesan kerja. Atau telepon dari klien , pegawai kantor dan pesan-pesan yang lain. Sampai akhirnya, ia tak tahan lagi. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol video call ke nomor Vivian. Nada tunggu terasa seperti pukulan demi pukulan yang memperlambat waktu. Satu detik… Dua detik… Tiga… Dan tiba-tiba panggilannya tersambung. Ada napas lega. Tapi juga kekecewaan yang menghantam sekaligus ketika wajah yang muncul bukan Vivian. “Halo, Tuan Devan.” Seorang wanita yang merupakan manager Vivian, muncul di layar, tersenyum canggung. “Maaf, Nona Vivian masih syuting.” Devan menegang. “Syuting?” suaranya rendah, nyaris parau. “Dia baik-baik saja?” “Baik. Sangat baik,” jawab sang manager cepat. Lalu, seolah tahu Devan tidak percaya, ia mengarahkan kamera ke lokasi syuting. Di sana, Vivian sedang berdiri di depan kamera, mengenakan gaun putih, tersenyum, senyum yang sama dengan yang selalu ia tampilkan di TV. Tidak satu pun ekspresi gelisah. Tidak terlihat sedikit pun tanda dia sedang sembunyi atau merasa terancam. Seolah-olah apa pun yang terjadi di luar sana tidak ada hubungannya dengan hidupnya. “Baiklah,” kata Devan akhirnya. Suaranya datar, namun matanya menyimpan amarah dan rasa kecewa. Ketika panggilan itu berakhir, Devan hanya berdiri mematung. Ada lega. Tapi jauh lebih besar dari itu… adalah amarah—dan rasa sakit—yang seperti menusuk ke dalam tulang. Dia pusing memikirkan Vivian. Takut terjadi sesuatu pada istrinya. Takut Maminya benar-benar melakukan sesuatu yang gila. Namun ternyata… Wanita itu sibuk. Syuting. Tersenyum manis untuk kamera. Seakan tidak ada yang menunggunya. Seakan pesan, telepon, dan kecemasan suaminya tidak berarti apa pun. Devan menunduk, menatap ponselnya lama. ---- “Nyonya, apa Anda yakin dengan apa yang Anda lakukan?” Suara pria di samping Luna terdengar ragu. Tatapannya campuran antara bingung dan tidak percaya. Karena ia tahu, Luna membenci menantunya itu. Namun kenapa tiba-tiba dia justru terlihat seolah mensokong karier Vivian untuk semakin bersinar dan terkenal? Luna hanya tersenyum. Senyum tipis… licik… senyum milik seseorang yang sudah merancang sesuatu jauh sebelum orang lain memahaminya. “Dia sangat menyukai pekerjaannya,” ucap Luna pelan. Nada bicaranya lembut, tapi dingin. “Dan karena itu… aku membantunya.” Pria itu mengerjap. “Huh…?” Walau tidak bersuara keras, ekspresinya memperlihatkan betapa ia tidak mengerti jalan pikiran wanita itu. “Apa menurutmu aku ini mertua yang sangat baik?” Luna menoleh dan menatapnya dengan tatapan yang membuat siapa pun merasa seolah-olah tulang belakang mereka diremas. Pria itu spontan mengangguk. “Ya, tentu, Nyonya. Hanya saja… bukankah ini sama saja tidak memberikan pelajaran untuk menantu Anda?” Luna tertawa kecil. Bukan tawa bahagia. Tapi tawa yang terasa seperti cambuk yang siap menghantam. “Kamu salah besar,” katanya, masih sambil tersenyum. “Memberi pelajaran bukan berarti harus menghancurkan kariernya.” Ia berdiri dari sofa empuknya, melangkah pelan menuju jendela besar tempat lampu-lampu kota berkilauan. Siluetnya tampak anggun… namun hawa yang memancar darinya membuat bulu kuduk merinding. Luna menyilangkan tangan. “Jika aku menyerang kariernya, dia akan berjuang. Dan wanita seperti Vivian…” Ia mengangkat alis. “Akan menjadikan itu sebagai panggung untuk semakin naik.” Pria itu menelan ludah. “Lalu… tujuan Anda sebenarnya apa, Nyonya?” Luna menoleh perlahan, tatapannya tajam seperti belati yang siap menusuk. “Aku tidak ingin menghancurkan kariernya.” Senyuman itu kembali muncul, lebih gelap dari sebelumnya. “Aku ingin menghancurkan hidupnya.” Pria itu membeku. Luna mendekat, suaranya turun menjadi sangat pelan—namun efeknya membuat ruangan terasa semakin dingin. “Biarkan dia sibuk.” “Biarkan dia berlari mengejar kariernya.” “Biarkan dia merasa semuanya aman.” Kemudian Luna menutup kalimatnya dengan bisikan… yang bahkan bisa membuat setan pun merinding. “Semakin tinggi dia terbang… semakin indah ketika dia jatuh.” "Devan, putraku satu-satunya, aku tidak akan membuat dia membenciku. Aku tidak akan kehilangan putraku, hanya karena Vivian." "Ayo ke rumah sakit. Putra ku sedang sakit, istrinya sangat sibuk dan tidak bisa merawatnya. Karena itu aku akan mencari dokter yang bisa merawat putraku 24 jam." Luna tersenyum dan beranjak dari duduknya. Sedangkan assiten pribadinya itu hanya diam dan mengikuti. ---Luna menoleh, lalu melirik jam di pergelangan tangannya.Ia berpura-pura berpikir sejenak.“Hmm…”Kemudian ia mengangguk santai.“Lumayan.”“Berapa lama?”“Satu jam,” kata Luna dengan sedikit tersenyum.Devan tertawa kecil.“Kenapa tidak telepon aku saja?”“Kamu sedang rapat,” jawab Luna tenang. “Lagipula Mami tidak ada urusan mendesak.”Ia mengangkat ponselnya sedikit.“Cuma sedang menonton sesuatu yang menarik.”Devan tidak bertanya lebih jauh.Ia berjalan mendekat.Lalu, tanpa banyak bicara, ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa di samping ibunya.Bram yang berdiri beberapa langkah di belakangnya masih memegang map sambil menunggu instruksi.Namun apa yang terjadi berikutnya benar-benar di luar dugaan.Devan merebahkan tubuhnya begitu saja di sofa.Kepalanya dengan santai jatuh tepat di pangkuan Luna.Luna terkejut sesaat.“Eh!”Ia menunduk melihat putranya yang tiba-tiba berbaring begitu saja.“Devan!”Namun pria itu sudah memejamkan mata.Ekspresinya terlihat jauh lebih santai daripada
Pagi itu wajah Devan tampak jauh lebih cerah dari biasanya.Padahal tadi malam ia terlihat sangat lelah dan tidak bergairah.Devan duduk dan mengambil sepotong roti.Luna yang duduk di seberangnya memperhatikannya dengan mata menyipit penuh rasa ingin tahu.“Sepertinya kamu sangat senang pagi ini,” katanya santai.Devan hanya tersenyum kecil sambil mengangguk.“Apa yang membuat kamu senang?” tanya Luna lagi.Namun sebelum Devan sempat menjawab, wanita itu langsung menambahkan dengan nada menggoda,“Jangan-jangan Vivian mau pulang ke rumah?”Senyum di wajah Devan langsung menghilang.Luna tersenyum geli melihat ekspresi wajah putranya.Ia menatap ibunya datar.“Kenapa?” Luna pura-pura tidak mengerti. “Bukannya memang begitu? Kamu kan cuma bilang benci Vivian karena sedang marahan saja. Nanti kalau dia datang, kalian pasti nempel lagi seperti perangko.”Nada suaranya ringan, tetapi jelas sengaja menggoda.Devan menghela napas panjang.“Dia bolak-balik menelepon aku,” katanya kesal. “Tap
“Aku sempat berpikir… mungkin lebih baik aku menjauh. Supaya kamu aman.”Napas Alicia langsung tertahan.Devan menatapnya dalam-dalam dari balik layar.“Tapi semakin kupikirkan…” lanjutnya pelan.“Aku malah makin merindukanmu.”Kalimat itu diucapkan begitu saja. Tanpa dramatis.Justru karena itulah terasa begitu nyata.Pipi Alicia langsung memanas.“Kamu ini…” gumamnya.“Apa?”“Jangan bicara seperti itu.”“Kenapa?”Alicia menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.“Karena… aku jadi salah tingkah.”Devan tertawa pelan.Tawa rendah yang hangat.Ia sedikit mendekat ke kamera.“Lucu.”“Apa yang lucu?”“Kamu.”Alicia langsung memelototinya.“Devan!”“Iya?”“Kamu sengaja ya bikin aku nggak bisa tidur lagi?”Devan mengangkat bahu santai.“Aku cuma ingin memastikan kamu masih di sana.”“Masih di mana?”Devan menatapnya lebih dalam.“Masih di tempatku.”Alicia terdiam.Hatinya bergetar.Tempatku.Bukan villa.Bukan persembunyian.Tapi… di hatinya.Untuk mengalihkan rasa gugup, Devan tiba-tib
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.Di kamar luas mansion keluarga Alexander, Devan berbaring menatap langit-langit. Lampu sudah dipadamkan, tirai tertutup rapat, pendingin ruangan berdengung stabil—semua kondisi sempurna untuk tidur.Namun matanya tetap terbuka.Ia memejamkan mata, lalu membukanya lagi dengan kesal. Bayangan wajah Alicia terus muncul di pikirannya—tatapan matanya, cara ia menggigit bibir saat gugup, dan keberanian palsu yang ia tunjukkan untuk menutupi ketakutannya.Devan menghela napas panjang.Thomas bukan orang sembarangan. Pria itu memiliki jaringan luas dan uang yang tak terbatas. Jika ia sudah mencurigai sesuatu, bukan tidak mungkin nomor ponsel Devan sedang dipantau.Itulah sebabnya ia menahan diri.Padahal ia ingin sekali menelepon Alicia. Sekadar memastikan gadis itu baik-baik saja. Mendengar suaranya saja sudah cukup.Tapi bagaimana jika panggilan itu terlacak?Bagaimana jika justru karena dirinya Alicia ditemukan?Devan membalikkan tubuh dan meli
Malam itu, udara di Mansion Alexander terasa lebih dingin dari biasanya.Langkah kaki Devan terdengar berat ketika ia memasuki ruang keluarga. Jasnya masih melekat rapi di tubuh, tetapi wajahnya jelas menunjukkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.Luna yang sedang duduk anggun di sofa, membaca buku, langsung mendongak. Tatapannya terkejut.“Kamu pulang ke rumah?” tanyanya, alisnya terangkat tipis.Devan mengangguk singkat. “Iya.”Luna menutup buku itu perlahan. “Ada apa? Bukannya kamu sedang dalam misi menjaga Alicia?”Nama itu saja sudah cukup membuat rahang Devan menegang.“Iya,” jawabnya datar. “Tapi Thomas curiga. Kalau aku terus ke villa, itu justru akan membahayakan Alicia.”Luna mengamati putranya dengan seksama. “Jadi?”“Untuk sementara aku tidak boleh ke sana. Tidak boleh bertemu dengannya.”Kalimat terakhir itu terdengar seperti pengakuan yang menyakitkan.Luna menyandarkan punggungnya ke sofa. “Berarti sekarang kamu tidak bisa melindunginya secara langsung.”Devan menge
Namun Sofia tidak boleh terlibat sedih dan rapuh apa lagi di depan Alicia. “Alicia, kamu masih ingat Bu Rini sebelah rumah?” suara Sofia terdengar ringan.Alicia tersenyum. “Yang tiap pagi menyiram tanaman tapi sambil mengawasi semua orang yang lewat?”“Iya! Dia kemarin tanya, ‘Anaknya Bu Sofia kok jarang kelihatan?’ Aku sampai bilang kamu lagi sibuk kerja.” Sofia terkekeh pelan. “Padahal dia cuma mau tahu gosip terbaru.”Setelah mengatakan hal itu, Sofia terdiam. Ia baru menyadari yang sebenarnya ditanya oleh tetangganya itu, Charlotte. Bukan Alicia. Alicia tertawa kecil. “Bu Rini tidak pernah berubah.”“Belum lagi si kucing oren itu,” lanjut Sofia. “Tadi pagi dia masuk dapur, meloncat ke meja, bawa lari ikan goreng. Satu rumah heboh.”Kening Alicia langsung berkerut mendengar cerita ibunya. Mana mungkin kucing itu bisa masuk ke rumah. Si oyen memang dipelihara dengan baik. Namun ia memiliki tempat tersendiri. Sebuah rumah kucing, yang dibuat seperti kos-kosan dengan fasilitas leng







