แชร์

Bab 17

ผู้เขียน: Liazta
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-09 20:55:27

Devan merasa gelisah sejak ancaman Maminya tadi menyeruak di kepalanya. Ada sesuatu dalam nada suara Luna, dingin, datar, namun penuh ketegasan, yang membuat jantungnya terasa seperti diremas dari dalam. Luna bukan tipe wanita yang bicara dua kali. Jika dia sudah mengucapkan sesuatu, maka tindakannya sering kali di luar nalar manusia normal.

Dan itulah yang membuat Devan benar-benar frustasi.

Ia duduk, kemudian berbaring, miring kanan, miring kiri, berdiri, berjalan sambil memegang pinggang, lalu duduk lagi. Tidak ada posisi yang terasa nyaman. Ponselnya sudah entah berapa kali ia angkat dan letakkan kembali, berharap ada kabar dari Vivian.

Namun layar itu tetap gelap.

Hening.

Bisu.

Seakan-akan wanita itu menghilang tanpa meninggalkan satu jejak pun.

Devan menutup wajah dengan kedua tangan. Napasnya panas dan kacau.

“Vivian… kamu kenapa tidak menghubungiku?” bisiknya lirih.

Pikiran buruk mulai merayap, satu per satu.

Vivian bukan tipe yang sangat cuek dan tidak perduli. Kalaupun sibuk, ia pasti sempat memberi kabar singkat.

Kecuali… jika dia sedang berada di tengah sesuatu yang sangat besar.

Syuting.

Photoshoot.

Atau…

Skandal.

Pikiran itu menghantam dada Devan begitu keras, membuatnya sulit bernapas.

Ia meremas rambutnya. Bukan hanya pinggulnya yang berdenyut nyeri, kepalan

pun terasa seperti dipukul dari dalam.

“Apa mami benar-benar… melakukan sesuatu?” gumam Devan.

Jika Luna marah, dia bisa melakukan apa saja. Apa saja.

Setiap getar ponsel membuat Devan seperti orang gila.

Ia langsung meraih ponsel, berharap nama “Vivian ❤️” muncul di layar.

Tapi tidak.

Hanya notifikasi-email.

Pesan kerja.

Atau telepon dari klien , pegawai kantor dan pesan-pesan yang lain.

Sampai akhirnya, ia tak tahan lagi.

Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol video call ke nomor Vivian.

Nada tunggu terasa seperti pukulan demi pukulan yang memperlambat waktu.

Satu detik…

Dua detik…

Tiga…

Dan tiba-tiba panggilannya tersambung.

Ada napas lega.

Tapi juga kekecewaan yang menghantam sekaligus ketika wajah yang muncul bukan Vivian.

“Halo, Tuan Devan.”

Seorang wanita yang merupakan manager Vivian, muncul di layar, tersenyum canggung.

“Maaf, Nona Vivian masih syuting.”

Devan menegang.

“Syuting?” suaranya rendah, nyaris parau. “Dia baik-baik saja?”

“Baik. Sangat baik,” jawab sang manager cepat.

Lalu, seolah tahu Devan tidak percaya, ia mengarahkan kamera ke lokasi syuting.

Di sana, Vivian sedang berdiri di depan kamera, mengenakan gaun putih, tersenyum, senyum yang sama dengan yang selalu ia tampilkan di TV. Tidak satu pun ekspresi gelisah. Tidak terlihat sedikit pun tanda dia sedang sembunyi atau merasa terancam.

Seolah-olah apa pun yang terjadi di luar sana tidak ada hubungannya dengan hidupnya.

“Baiklah,” kata Devan akhirnya.

Suaranya datar, namun matanya menyimpan amarah dan rasa kecewa.

Ketika panggilan itu berakhir, Devan hanya berdiri mematung.

Ada lega.

Tapi jauh lebih besar dari itu… adalah amarah—dan rasa sakit—yang seperti menusuk ke dalam tulang.

Dia pusing memikirkan Vivian.

Takut terjadi sesuatu pada istrinya.

Takut Maminya benar-benar melakukan sesuatu yang gila.

Namun ternyata…

Wanita itu sibuk.

Syuting.

Tersenyum manis untuk kamera.

Seakan tidak ada yang menunggunya. Seakan pesan, telepon, dan kecemasan suaminya tidak berarti apa pun.

Devan menunduk, menatap ponselnya lama.

----

“Nyonya, apa Anda yakin dengan apa yang Anda lakukan?”

Suara pria di samping Luna terdengar ragu.

Tatapannya campuran antara bingung dan tidak percaya.

Karena ia tahu, Luna membenci menantunya itu.

Namun kenapa tiba-tiba dia justru terlihat seolah mensokong karier Vivian untuk semakin bersinar dan terkenal?

Luna hanya tersenyum.

Senyum tipis… licik… senyum milik seseorang yang sudah merancang sesuatu jauh sebelum orang lain memahaminya.

“Dia sangat menyukai pekerjaannya,” ucap Luna pelan.

Nada bicaranya lembut, tapi dingin.

“Dan karena itu… aku membantunya.”

Pria itu mengerjap.

“Huh…?”

Walau tidak bersuara keras, ekspresinya memperlihatkan betapa ia tidak mengerti jalan pikiran wanita itu.

“Apa menurutmu aku ini mertua yang sangat baik?”

Luna menoleh dan menatapnya dengan tatapan yang membuat siapa pun merasa seolah-olah tulang belakang mereka diremas.

Pria itu spontan mengangguk.

“Ya, tentu, Nyonya. Hanya saja… bukankah ini sama saja tidak memberikan pelajaran untuk menantu Anda?”

Luna tertawa kecil.

Bukan tawa bahagia.

Tapi tawa yang terasa seperti cambuk yang siap menghantam.

“Kamu salah besar,” katanya, masih sambil tersenyum.

“Memberi pelajaran bukan berarti harus menghancurkan kariernya.”

Ia berdiri dari sofa empuknya, melangkah pelan menuju jendela besar tempat lampu-lampu kota berkilauan.

Siluetnya tampak anggun… namun hawa yang memancar darinya membuat bulu kuduk merinding.

Luna menyilangkan tangan.

“Jika aku menyerang kariernya, dia akan berjuang. Dan wanita seperti Vivian…”

Ia mengangkat alis.

“Akan menjadikan itu sebagai panggung untuk semakin naik.”

Pria itu menelan ludah.

“Lalu… tujuan Anda sebenarnya apa, Nyonya?”

Luna menoleh perlahan, tatapannya tajam seperti belati yang siap menusuk.

“Aku tidak ingin menghancurkan kariernya.”

Senyuman itu kembali muncul, lebih gelap dari sebelumnya.

“Aku ingin menghancurkan hidupnya.”

Pria itu membeku.

Luna mendekat, suaranya turun menjadi sangat pelan—namun efeknya membuat ruangan terasa semakin dingin.

“Biarkan dia sibuk.”

“Biarkan dia berlari mengejar kariernya.”

“Biarkan dia merasa semuanya aman.”

Kemudian Luna menutup kalimatnya dengan bisikan…

yang bahkan bisa membuat setan pun merinding.

“Semakin tinggi dia terbang… semakin indah ketika dia jatuh.”

"Devan, putraku satu-satunya, aku tidak akan membuat dia membenciku. Aku tidak akan kehilangan putraku, hanya karena Vivian."

"Ayo ke rumah sakit. Putra ku sedang sakit, istrinya sangat sibuk dan tidak bisa merawatnya. Karena itu aku akan mencari dokter yang bisa merawat putraku 24 jam." Luna tersenyum dan beranjak dari duduknya.

Sedangkan assiten pribadinya itu hanya diam dan mengikuti.

---

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (3)
goodnovel comment avatar
Lasiah Lasiah
suka dengan cerita nya
goodnovel comment avatar
Liazta
Baik sayang
goodnovel comment avatar
Farkhani Farkhani
tambah dong kak thor
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 491

    Lampu flash warna-warni membelah kegelapan klub malam yang bising oleh dentuman musik bas. Setelah menyaksikan pernikahan Alicia melalui sambungan telepon dari sudut ballroom, Charlotte langsung bergegas berganti pakaian dan berangkat menuju tempat kerjanya.Malam Minggu selalu menjadi puncak kesibukan. Pengunjung membludak, menjejali setiap sudut area VIP dan lounge. Charlotte menjalankan tugasnya seperti biasa—membawa nampan berisi deretan gelas dan botol minuman beralkohol mahal menuju salah satu meja bertuliskan reservasi khusus.Awalnya, semua berjalan tenang. Namun, saat Charlotte baru saja menaruh gelas terakhir di atas meja melingkar itu, salah seorang pria berdasi longgar menatap wajahnya lekat-lekat."Tunggu dulu... Kamu bukannya Charlotte?" celetuk pria itu, memicingkan mata.Teman di sebelahnya menoleh. "Kamu mengenalnya?""Tentu saja! Kasusnya kan sempat viral sekali beberapa waktu lalu!" seru pria itu dengan nada mengejek yang sangat kentara. Ia menyandarkan punggungnya,

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 488

    Devan kembali dari area dapur suite membawa nampan berisi sup ayam hangat beraroma harum, steak lembut yang sudah dipotong kecil-kecil, serta segelas susu hangat. Pria itu meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping ranjang, lalu duduk merapat di sisi Alicia.Alicia yang tadinya menyandarkan punggung pada tumpukan bantal langsung menegakkan tubuh. Matanya berbinar melihat makanan lezat di hadapannya, namun saat hendak meraih sendok, Devan lebih dulu menyambar alat makan itu."Eits, biar aku yang suapi," tahan Devan seraya menyunggingkan senyum menggodanya."Devan, aku bisa sendiri... Tanganku tidak sakit," cibir Alicia malu-malu."Memang tanganmu tidak sakit, tapi kan tubuhmu lemas gara-gara perbuatanku tadi," goda Devan tanpa dosa, menatap Alicia dengan binar nakal. "Lagipula, melayani istri di sepertiga malam begini dapat pahala besar, tahu."Pipi Alicia seketika memerah pasrah. Ia pun membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan sup hangat dari Devan. Usapan lembut ib

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 487

    Di sudut ballroom yang remang dan jauh dari perhatian para tamu, Charlotte menggenggam erat ponselnya. Di layar kaca itu, wajah Toni—sang ayah—tampak kurus dan basah oleh air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Melalui sambungan video call, pria itu menyaksikan setiap detik prosesi sakral anak perempuannya.Suara tegas Devan saat mengucapkan kalimat ijab kabul mengema hingga ke seberang telepon. Dan ketika kata "SAH" bergemuruh, tangis Toni pecah tanpa suara, bahunya berguncang hebat di balik jeruji besi yang mengungkungnya.Sewaktu pernikahan Rayan dulu, Charlotte tidak sempat melakukan panggilan video seperti ini. Toni melewatkan momen itu begitu saja. Namun hari ini, setidaknya ada sedikit penawar rindu untuk hati seorang ayah yang terlambat menyadari kesalahannya."Apa Papi melihatnya dengan jelas?" bisik Charlotte pelan, mengarahkan kamera ke panggung pelaminan yang megah.Toni mengangguk patah-patah seraya mengusap air matanya. "Iya... Papi lihat, Sayang. Terima kasih... teri

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 486

    Di kamar suite yang berbeda, suasana tak kalah tegang.Rayan berjalan mondar-mandir dengan wajah cemas, sesekali melirik Rebecca yang terbaring di atas ranjang sambil meringis menahan sakit. Satu tangannya menekan perut bagian bawah yang sejak tadi terasa nyeri.“Kenapa tadi terlalu aktif, sih? Seharusnya kamu duduk saja. Tidak perlu capek-capek berjalan ke sana kemari menyambut tamu!” omel Rayan pelan. Meski terdengar seperti sedang memarahi, kekhawatiran dalam suaranya begitu jelas.“Itu kan tamu-tamuku juga, Sayang...” jawab Rebecca dengan senyum tipis, berusaha menenangkan suaminya sekaligus menahan rasa perih yang sesekali kembali melilit perutnya.Pesta pernikahan Devan dan Alicia memang berlangsung sangat mewah dan menguras tenaga. Rebecca dan Rayan bahkan ikut terlibat hampir dalam setiap persiapannya demi memastikan semuanya berjalan sempurna.Bagi mereka, Devan dan Alicia bukan sekadar keluarga. Keduanya memiliki peran besar dalam perjalanan hingga mereka akhirnya bisa bersa

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 485

    Di dalam kamar suite hotel yang mewah, Thomas berjalan mondar-mandir dengan wajah penuh kecemasan.Sesekali, pandangannya tertuju pada Sofia yang terbaring di atas ranjang. Perempuan itu bersandar pada tumpukan bantal sambil meringis, satu tangannya menekan pinggang yang terasa pegal luar biasa.“Apa... ini karena faktor usia?” gumam Sofia lirih.Thomas yang mendengarnya langsung berhenti melangkah.“Tidak ada hubungannya dengan usia, Sayang. Jangan berpikir macam-macam dulu.”Namun, ketenangan dalam suaranya sama sekali tidak mencerminkan kegelisahan yang memenuhi dadanya.Pria paruh baya yang masih tampak gagah itu kembali melirik jam tangannya untuk kesekian kalinya.Ia sudah menghubungi dokter pribadi keluarga dan memintanya datang secepat mungkin. Tidak peduli malam telah larut, Thomas tidak ingin mengambil risiko sedikit pun jika menyangkut kesehatan Sofia.Hampir satu jam berlalu sebelum bel pintu akhirnya berbunyi.Dokter pribadi keluarga Thomas masuk sambil membawa tas medis.

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 483

    Malam kian melarut di dalam honeymoon suite yang remang dan hangat. Suasana kamar terasa begitu intim, hanya diiringi hembusan napas yang beradu pasrah. Di bawah hamparan kelopak mawar merah, Devan dan Alicia akhirnya benar-benar menyatu—melepaskan seluruh kerinduan, dahaga, dan cinta yang telah terpaut sekian lama.Peluh berkilau membasahi tubuh Devan, begitupun dengan Alicia yang kini bersandar pasrah di bawah kukungannya. Rasa perih yang sempat menghentakkan dada Alicia di awal perlahan luluh, berganti dengan gelombang kehangatan luar biasa yang memabukkan jiwa dan raganya."Devan... aku sudah tidak tahan..." bisik Alicia dengan suara yang amat lemah nan serak. Kedua matanya terpejam erat, jemari lentiknya mencengkeram bahu tegap suaminya. Tubuhnya terasa begitu lelah, namun keperkasaan dan energi Devan seolah tak ada habisnya membimbingnya melayang tinggi.Devan menunduk, mendaratkan kecupan lembut nan penuh rasa terima kasih di pelipis Alicia yang basah oleh keringat."Iya, Sayan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status