LOGINHemm Anna udah keluar tanduknya 🫣🫣😍😍🫶🫶
“Dia masih bernapas, Berengsek!” ceplos David akhirnya dengan suara serak yang tertahan di tenggorokan. “Saat ini dia sedang dibawa ke helipad dan ke rumah sakit swasta untuk pemulihan!” Regan terdiam seketika. Sorot mata sinisnya perlahan memudar. “Arga nggak jadi mati?” “Iya! Puas kamu sekarang?!” semprot David dengan wajah kesal, menunjuk dada Regan. “Sekarang tugasmu. Pulang, jaga Anna dan si kembar, pastikan mereka tidak membuat gerakan mencurigakan yang bisa memicu kecurigaan Hary. Dan ingat kata-kataku ....” David memajukan wajahnya, menatap Regan tajam, tapi terselip rasa percaya yang enggan dia akui. “Kalau kamu sampai berani memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati Anna lagi ... aku sendiri yang akan mematahkan lehermu sebelum Arga bangun.” Regan menyunggingkan senyum tipis, merapikan kerah jasnya. “Tergantung seberapa cepat saudaramu itu bisa bangun dari tidurnya.” — “Bagaimana pergerakannya?! Jenazah anakku sudah ketemu atau belum?!” Bentakan Hary menggelegar. D
Mobil Regan berhenti rumah sakit yang kini tampak dijaga ketat oleh sekuriti dan pihak kepolisian. Pria itu turun, merapikan jas gelapnya, lalu melangkah lebar menembus barikade dengan aura dominan yang dingin.“Maaf, Pak. Area koridor VIP di atas masih ditutup untuk penyidikan kepolisian,” panggil salah satu petugas keamanan seraya memajukan tangan, mencoba menahan langkah Regan.Regan tidak merespon dengan emosi. Dia menghentikan langkahnya, mengeluarkan kartu identitas eksekutif dari dalam saku dalam jasnya, lalu menunjukkan dokumen tersebut dengan gestur dingin dan tenang.“Saya rekan bisnis keluarga Atmaja,” ujar Regan. “Saya perlu bertemu dengan David atau Edward sekarang juga.”Petugas itu tampak ragu sejenak, tapi melihat kartu akses itu, dan aura wibawa Regan yang begitu kencang, dia akhirnya menunduk tipis dan memberi jalan. “Silakan naik lewat lift khusus eksekutif di sebelah kiri, Pak.”-‘Di mana mereka menyembunyikan Arga? Kamar mayat?’ Sebagai pria yang terbiasa membac
“Apa Papa sudah sadar? Kapan kita bisa ketemu?”“Ehem!”Yuna kembali berdeham pelan. Jarinya mengusap sudut mata yang mulai basah, lalu memaksakan senyum tipis di bibirnya. “Papa kalian ... ehm, sedang dibawa ke tempat yang sangat jauh. Jadi, kalian berdua sekarang fokus saja sekolah dan les dulu, oke?”Kaisar menatap Yuna dengan dahi berkerut dalam. “Kok Tante bicaranya begitu?”Kayla melipat tangan di dada, matanya menyipit curiga. “Jangan-jangan Tante sedang menutup-nutupi sesuatu dari kita?”Yuna mengusap tengkuknya, bingung mencari alasan lain. “Tidak ada yang ditutupi. Papa kalian butuh perawatan khusus di luar negeri.”“Lalu kenapa tempatnya dirahasiakan?” sergah Kaisar cepat, tidak percaya begitu saja. “Biasanya kalau Papa dipindah rumah sakit, Paman David pasti mengabari kita.”“Iya, Tante,” timpal Kayla dengan suara meninggi. “Mama juga tadi menangis, sampai pingsan lagi. Tante pasti bohong, kan?”Yuna menarik napas panjang, makin terdesak oleh pertanyaan dua bocah pintar it
“Arga ....” Nama itu lolos dari bibir Anna, lalu matanya terpejam. Kesadarannya runtuh total, tak sanggup lagi menahan hantaman duka yang menghujam dadanya. Tubuhnya mendadak terkulai. “Anna! Anna, bangun!” jerit Yuna panik, menepuk-nepuk pipi sahabatnya yang pucat pasi. Langkah kaki terburu-buru menghentak dari arah lorong. Regan muncul dengan wajah tegang. “Apa yang terjadi, Yuna? Aku terlambat. Kenapa Anna jadi seperti ini?” Yuna menangis menatap Regan. “Regan, Arga meninggal, dan Anna–” Dia menggeleng. Tanpa membuang waktu, Regan menyusupkan kedua lengannya ke bawah punggung, lalu mengangkat Anna ala bridal style. Pengacara berkacamata tebal itu menepuk bahu Regan pelan. “Bawa Ibu Anna menjauh dulu dari area ini. Amankan kondisinya. Sisanya di sini, biar saya yang mengurus.” Regan mengangguk. Yuna menatap pengacara dengan mata sembap. “Terima kasih banyak, Pak.” Sementara itu, kondisi di dalam kian mencekam. Tubuh Arga di atas ranjang kini sudah tertutup kain putih sepe
“Yuna, apa yang terjadi?”Suara Anna bergetar hebat. Tubuhnya membeku, matanya membelalak lebar menyaksikan kekacauan di depan mata.Tangannya mencengkeram lengan Yuna. “Kenapa mereka berlari seperti itu? Arga baik-baik saja, kan? Katakan padaku Arga tidak apa-apa!”Yuna ikut gelisah. Dadanya berdebar kencang saat melihat iring-iringan tim medis dengan troli darurat menembus pintu ruang VIP. Pikirannya langsung menyimpulkan skenario terburuk, tapi dia berusaha sekuat tenaga menahan kepanikan. Tangannya meremas bahu Anna, mencoba memberi ketenangan yang bahkan tidak dia miliki.“Tenang dulu, Anna. Jangan berpikiran buruk,” bisik Yuna dengan suara gemetar. “Mungkin cuma pemeriksaan rutin. Dan Arga sedang drop saja. Arga pria yang kuat, dia pasti bertahan.”Namun Anna menggeleng keras. Instingnya menjerit bahwa ada hal fatal yang baru saja terjadi. “Aku mau masuk! Aku mau melihatnya!”Saat Anna hendak melangkah maju, Yuna menahan pinggangnya kencang. “Tunggu dulu!”Dari arah berlawana
Tiga karangan bunga raksasa berdiri gagah dengan papan nama besar yang memajang kalimat sindiran tajam atas segala aksi bejatnya. Puluhan orang di area parkir dan jalan raya berkumpul, sedang membaca tiap kata dengan gelak tawa riuh. Logika Nadia runtuh sepenuhnya. Dia menyerbu karangan bunga pertama seperti orang kesetanan. Tangannya mencengkeram papan gabus itu, merobek bunga-bunga plastik di atasnya dan menendang penyangga kayunya hingga ambruk ke aspal. “Bohong! Ini semua fitnah! Ini semua bohong!” jerit Nadia histeris sambil terus merusak karangan bunga kedua dengan tangannya. Di sekelilingnya, puluhan orang bukannya iba, melainkan makin gencar menyorotkan kamera ponsel. “Lihat itu, malah jadi gila!” “Ayo rekam, masukkan ke medsos biar makin viral dokter pelakor ini!” Di sekelilingnya, puluhan orang bukannya iba, melainkan makin gencar menyorotkan kamera ponsel. “Lihat itu, malah jadi gila!” “Ayo rekam, masukkan ke medsos biar makin viral dokter pelakor ini!” “Dokter Na
“Dokter Arga, IGD sedang kekurangan dokter. Ada pasien banyak kecelakaan. Mohon Anda segera datang ke ruangan. Karena juga ada anak kecil yang terluka akibat terkena pecahan kaca cukup dalam.”Arga menutup panggilan, lalu menyambar masker medis dan memakainya sambil berjalan cepat keluar dari ruang
Elara Art Studio. Tempat ini dibangun Anna dari nol. Sebuah bisnis level menengah di bidang seni lukis yang merangkak dari bawah. Untuk mengenalkan karyanya, Anna masih sering mengikuti pameran bersama, menitipkan lukisan di galeri seni, hingga mengambil proyek mural dan wall printing. Bangunan du
“Bu Anna, lain kali ajari anak Anda untuk bertindak benar. Jangan cari masalah. Anak saya jadi kena mental karena trofinya hancur. Selamat mencari sekolah baru.” Anna menatap tajam. “Mereka bukan anak haram. Dan merekalah pemenang yang sebenarnya. Hanya kalah dengan uang Anda! Lain kali, ajari ana
Pagi harinya, Arga baru kembali ke rumah dengan penampilan kusut, seperti tidak tidur semalaman. Dia melangkah cepat ke kamarnya, tapi saat memegang handle pintu, dia menahan sebentar. Saat ini dadanya sedang tak karuan dan banyak hal yang ingin dikatakan pada Anna. Masuk kamar, dan sangat yaki







