Share

Bab 121 Plester!

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-10-27 12:23:30

"Lina bakal bunuh kamu kalau tahu kuasnya dipakai buat ginian!" seru Andin sambil tertawa sampai badannya berguncang. Dasi biru di matanya melorot ke arah pipi.

Javier membetulkan letak dasi itu dengan dua jari supaya mata Andin tetap tertutup. Dia menunggu sampai tawa Andin reda.

"Lina nggak akan tahu, asalkan kamu nggak ngadu," ujar Javier datar.

"Aku yang bakal kena, Javier. Kuasnya baru, dan itu punya Lina," protes Andin sambil menarik pergelangan tangannya.

"Kalau rusak, aku yang ganti. Se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 138 Aku yang Atur

    Selasa sore pukul 15.40 WIB, Andin berdiri di lantai dua mal, tepat di depan toko pakaian dalam yang sama. Dia menarik napas, mengeratkan tali tas kanvasnya, lalu masuk sendirian untuk pertama kali.Pramuniaga yang dulu melayaninya sedang menata hanger di dekat kasir. Perempuan berseragam merah muda itu mengangkat kepala dan langsung tersenyum lebar, karena dia ingat betul pelanggan yang dulu datang ditunggui pria berkemeja biru muda."Kak, selamat sore! Suaminya nggak ikut hari ini?" tanya pramuniaga itu."Saya belum menikah, Mbak. Hari ini saya belanja sendiri, pakai uang saya sendiri," jawab Andin."Wah, maaf ya, Kak. Habis waktu itu kelihatannya kompak sekali," ujar pramuniaga itu sambil menahan senyum.Andin tidak menanggapi. Dia berjalan menyusuri deretan gantungan dan berhenti di depan satu set lingerie merah tua yang tergantung agak ke dalam. Kainnya tipis dengan renda kecil di tepi, dan warnanya merah pekat yang jarang dipilih orang."Kali ini aku yang milih, dan aku yang bay

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 137 Disalahartikan

    Javier sudah duduk di ruang kerjanya sejak pukul 06.30 WIB, dan ponselnya tertelungkup di sudut meja dengan layar menghadap kayu. Dia menepati permintaan Andin sampai ke hurufnya: tidak ada panggilan, tidak ada pesan, dan tidak ada sopir yang dia kirim ke gang kos.Setiap lima menit dia melirik ke sudut meja. Setiap lima menit pula dia mengambil pulpen dan menandatangani berkas yang tidak dia baca.Pukul 08.40 WIB, Pak Jul mengantar kopi ke lantai dua, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan, dan dia berdiri di ambang pintu sambil menggenggam cangkir dengan dua tangan."Dok, Mbak Andin hari ini tidak datang ya?" tanya Pak Jul hati-hati."Tidak ada jadwal untuknya hari ini," jawab Javier tanpa mengangkat kepala."Oh, begitu. Kopinya saya taruh di sini, jangan diminum panas-panas, Dok," pesan Pak Jul, lalu mundur dua langkah dan menutup pintu.Pukul 09.15 WIB, Rendi mengetuk dan masuk dengan buku jadwal terbuka di tangan. Wajahnya menunjukkan bahwa dia sudah menyiapkan permintaan maaf sej

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 136 Kehilangan Kata-kata

    Ojek berhenti di depan klinik Jalan Senopati pukul 13.05 WIB. Andin menyodorkan dua lembar uang sepuluh ribu dan turun sebelum pengojek sempat mencari kembalian."Selamat siang, Mbak Andin!" sapa Pak Jul dari pos satpam. Andin sudah melewatinya dan tidak menoleh.Di meja resepsionis, Rendi berdiri setengah dari kursinya dengan gagang telepon masih di telinga. Dia melihat wajah Andin, lalu meletakkan gagang itu pelan-pelan, karena dia tahu tidak ada telepon yang lebih penting daripada perempuan yang baru melewati pintu depan."Mbak, Dokter ada pasien jam satu lewat seperempat!" seru Rendi."Tolong ditunda, Ren," sahut Andin tanpa memperlambat langkah.Rendi menatap punggung Andin yang menjauh, lalu menatap Pak Jul yang berdiri di ambang pintu depan."Pasien jam satu lewat seperempat saya suruh nunggu di mana, Pak?" bisik Rendi."Suruh minum teh dulu, Ren. Banyak-banyak," saran Pak Jul sambil menggeleng.Andin menaiki tangga ke lantai dua, dua anak tangga sekaligus. Di lorong, Suster Ma

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 135 Dibayar Setengah

    Pukul 11.50 WIB, ponsel Andin bergetar di saku jaket ketika dia turun dari angkot di depan rumah sakit daerah. Notifikasi bank menampilkan satu baris pendek: honor bulan ketiga, Rp5.000.000, sudah masuk.Andin berhenti di trotoar dan membaca angka itu dua kali. Tiga bulan lalu dia masih menghitung uang receh di mesin setor tunai dengan tangan gemetar. Hari ini dia datang membawa uang sendiri untuk melunasi sisa tagihan ibunya."Semua ini hasil kerjaku sendiri. Hari ini aku bayar sendiri, tanpa pinjam siapa pun."Kelas pagi tadi dia lewati dengan setengah hati, karena telepon Suster Rahma terus terngiang di kepalanya. Dia sudah menyiapkan dua dugaan: tagihan Ibu naik, atau ada berkas yang hilang.Di bangsal saraf lantai dua, Suster Rahma duduk di balik meja jaga dengan map tebal yang menggunung di sisi kanan. Perempuan berusia lima puluhan itu mengangkat kepala, lalu tersenyum lebar begitu melihat Andin."Mbak Andin, sini duduk dulu," sapa Suster Rahma sambil menarik kursi plastik."Se

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 134 Nasi Goreng Gosong 

    Bel pintu depan berbunyi lagi, kali ini tiga kali berturut-turut. Andin langsung turun dari meja dapur dan menarik ujung kaus sampai menutup paha, dengan kaki yang masih goyah."Siapa itu?" bisik Andin panik."Kemungkinan besar satpam kompleks," jawab Javier sambil menaikkan celana training dengan satu gerakan."Mas, aku nggak pakai apa-apa selain kaus ini!" desis Andin."Kamu sembunyi di balik pintu kulkas, dan aku yang bicara," putus Javier.Andin menurut. Dia berjongkok di balik pintu kulkas yang terbuka lebar, menahan napas, dan menekan kedua lutut ke dada. Gula masih menempel di telapak kakinya, dan setiap gerakan kecil membuat butirannya berderak di lantai.Javier membuka pintu depan dengan wajah paling tenang yang bisa dia atur. Di teras berdiri seorang satpam berseragam cokelat, topinya dipegang di tangan dan napasnya terengah. Nama di dadanya tertulis Wahyu."Maaf mengganggu, Pak Dokter. Alarm asap rumah Bapak bunyi lama sekali," lapor Pak Wahyu."Tidak ada kebakaran, Pak. Ha

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 133 Mas... di situ... ahh!

    Alarm masih meraung di langit-langit, dan Andin yang duduk di tepi meja dapur harus berteriak supaya suaranya terdengar."Tetangga bakal mengira rumah ini kebakaran, Mas!" teriak Andin."Tetanggaku sudah terbiasa. Aku memang tidak pernah bisa memasak!" balas Javier dengan suara sama kerasnya."Itu nggak pantas dibanggakan!" protes Andin."Kalau satpam kompleks datang, aku bilang kita sedang latihan evakuasi," ujar Javier."Evakuasi pakai kaus kamu yang aku pakai ini?!" pekik Andin.Asap tipis masih menggantung di dekat langit-langit, dan bau gosong menempel di tirai dapur. Javier tidak peduli pada semua itu, karena perhatiannya hanya tertuju pada Andin yang duduk di meja dengan pipi merah dan rambut kusut.Javier menunduk sampai dahi mereka bersentuhan. Dia menunggu sampai Andin menatapnya, lalu menurunkan suara hingga nyaris berbisik supaya tetap terdengar di antara raungan alarm. Andin harus membaca gerak bibirnya untuk memahami kalimat itu."Kamu mau di sini, sekarang? Kalau kamu r

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status