LOGIN[Assalamu’alaikum, semuanya, alhamdulillah istri saya tercinta sedang mengandung anak kami. Ayah dan Mamah bakalan jadi kakek nenek nih…] Begitulah isi pesan yang dikirimkan Fahmi ke grup keluarganya. Tak perlu menunggu lama, pesan itu langsung mendapat respon dari kedua orang tua dan adik-adiknya. Balasan dari mereka berisikan rasa syukur dan bahagia. Bagi Annisa dan Salma, mereka berdua senang sekali akan memiliki keponakan dan akan dipanggil dengan sebutan ‘tante atau bibi’. Setelah berbalas pesan di grup keluarga, ponsel Fahmi berdering, ada panggilan suara yang masuk dari sang ibunda. Langsung saja Fahmi menerima panggilan tersebut. “Assalamu’alaikum, Mah…” ucap Fahmi. Ia mengeraskan suara panggilannya. “Wa’alaikumussalam, mana nih anak mantu Mamah yang cantik?” langsung saja Halimah menanyai keberadaan Nabila. Nabila tertawa kecil. “Hadir, Mah…” jawabnya. “Wah, Mamah sekarang nggak nanyain Abang dulu, ya,” sela Fahmi
Dengan hati-hati, Fahmi membantu istrinya untuk berbaring di ranjang periksa. Ia membuka pakaian yang menutup bagian perut Nabila, menampilkan perut yang masih rata dan langsing. Sejenak Fahmi memandang ke arah bagian tubuh istrinya itu, ia membayangkan, perut itu akan membesar nantinya. Nabila yang berbaring memperhatikan sang suami, wajah lelakinya itu nampak serius sekali. Kemudian, Fahmi mengambil gel, lalu mengoleskannya pada perut Nabila. Ia tak pernah melakukan hal ini, karena ini adalah pekerjaan asistennya. Namun, untuk kali ini, terkhusus sang istri, ia melakukan semuanya. Tangan Fahmi memegang transduser, alat tersebut menempel pada perut Nabila. Jantung Fahmi berdebar-debar melakukan pemeriksaan ini, ia sangat berharap janin yang bersemi di rahim sang istri berkembang dengan sehat. Dari layar USG yang menghadap ke arah Fahmi, menampilkan janin berukuran 2 - 6 mm. Janin itu melengkung berbentuk seperti huruf C. Tangan Fahmi lam
Sebuah amplop putih diberikan kepada Fahmi. Ia menerima benda tersebut dengan rasa penasaran yang cukup tinggi. Apa yang sebenarnya berada di balik amplop tersebut. Jemari Fahmi membuka, lalu merogoh ke dalam amplop. Ia menemukan sebuah alat yang tidak asing, namun rasanya mendebarkan sekali. Dikeluarkannya alat tes kehamilan yang menampilkan dua buah garis. Dua garis yang amat sangat bermakna bagi setiap pasangan yang tengah menantikan kehadiran buah hati. Mata Fahmi berbinar-binar saat mendapati apa yang ada di hadapannya. “Alhamdulillah…” ucap Fahmi penuh rasa syukur dan haru. Ia langsung membawa istrinya ke dalam dekapan, lalu menghujani wanitanya dengan ciuman di wajah. Fahmi menatap Nabila dengan penuh cinta. Sungguh sebuah pagi yang dinaungi sukacita. Dua bulan pernikahan, mereka diberi amanah yang bersemi di rahim sang istri. Fahmi sendiri memang ingin sekali segera memiliki keturunan, namun tak menyangka secepat ini. “Kita mau jadi or
Mata Nabila berbinar-binar dan langsung berembun saat melihat hasil yang ditunjukkan oleh alat tes kehamilan tersebut. Ia menutup mulutnya dengan tangan kiri, dadanya terasa hangat. Rasanya ia tak percaya pada apa yang disaksikan oleh netranya sekarang. Garis dua yang ditampilkan oleh alat itu sungguh mengejutkannya di pagi ini. Rasanya ia ingin segera memberi tahu sang suami yang masih terlelap, karena sekarang memang belum waktunya pria itu bangun seperti biasa. Nabila menyeka air matanya yang mengalir di pipi. Air mata kebahagiaan yang tumpah. Ia mengandung benih cinta yang ditanamkan oleh suami dan dirinya. Pernikahan ini terasa sangat membahagiakan dan lengkap dengan kabar baik ini. Sisa urin yang ada di dalam wadah, Nabila buang ke dalam kloset. Alat tes kehamilan tersebut ia simpan rapi di dalam sebuah amplop putih. Nanti ia akan berikan amplop tersebut pada sang suami. Rasanya tak sabar untuk segera memberikan benda itu pada belahan jiwa.
Ketika nama Fahmi disebut, Lili mundur selangkah. Wajahnya nampak pucat pasi. Gertakan tersebut langsung membuatnya takut. “Ja—jangan…” ucapnya terbata. Nabila menatap Lili. Ia tadi sengaja tak langsung menggunakan kekuatan sang suami. Ia ingin meyelesaikannya dengan sendiri, namun ternyata Lili begitu memaksa dan cukup kuat. “Dih, langsung takut kan kamu,” ucap Merina kesal. Lili tak membalas, ia terdiam. “Nab, bentar lagi poli mulai kan?” tanya Merina. Nabila mengangguk. “Iya, Kak,” jawabnya. “Buruan balik gih,” ucap Merina menyarankan Nabila untuk segera kembali ke ruang poli. Nabila mengangguk lagi. “Makasih, ya, Kak,” ucapnya sambil melangkah pergi meninggalkan toilet. “Nab,” panggil Lili lirih menahan langkah kaki Nabila yang baru saja bergerak. Nabila menoleh dengan kaki yang siap akan melangkah lagi, tiba-tiba Lili langsung berlutut di hadapannya. “Maafin aku. Aku benar-benar
Seisi toilet semuanya berubah menjadi gelap. Tak ada cahaya remang-remang, karena memang tak ada ventilasi, sirkulasi udara dibantu dengan kipas. Tubuh Nabila seketika membeku. Pikirannya teringat dengan saat ia dikerjai oleh Lili waktu itu. Nabila berusaha untuk tenang. Ia mengatur napasnya sebaik mungkin. Di ruang sempit ini, ia merasa seperti dicekik. Selain gelap, toilet terasa sunyi sekali, tak ada orang lain yang sedang menggunakan ruangan ini. Perlahan, setelah napas yang teratur, tangan Nabila bergerak merogoh saku scrubnya. Beruntung sekali ponsel ia bawa. Fitur senter dinyalakan, cahayanya menembus gelap gulita. Tangan Nabila membuka grendel pintu bilik toilet, ia melangkah keluar. Kakinya sudah mencapai di depan wastafel, lampu toilet kembali menyala. Mata Nabila mengerjap saat cahaya lampu kembali menguasai ruangan tersebut. Cukup silau, namun perasaannya lega. Gelap sungguh mengundang rasa traumanya. Ia melihat ke sekitar, toilet benar-bena
‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i
Nabila, nanti malam keluarganya Om Abdul mau ke rumah kita, silaturahmi. Sekalian pertemukan kamu sama Fahmi. Begitulah isi pesan dari Khairul yang membuat Nabila kaget. “Malam ini?” Nabila mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Terasa dar der dor sekali.
"Dokter Fahmi?!” Nabila berseru, ia tak salah lihat nama yang tertulis di CV tersebut adalah atasannya. Khairul dan Farida saling menatap, lalu melihat ke arah anak gadisnya. “Kamu kenal?” tanya Khairul semakin antusias. Nabila mengangguk. “Iya, beliau ini atasanku di rumah sakit. Aku asist
“Enak ya jadi Nabila, bisa deket-deket terus sama dokter Fahmi,” ujar salah satu perawat di ruang jaga.“Bagi tipsnya dong, Bu Bidan Nabila,” sahut perawat lain.Nabila, gadis yang tengah memakai scrub dan kerudung berwarna merah muda itu hanya menggelengkan kepalanya sambil ter







