LOGIN
Yogyakarta, Tahun 2010
“Dimas! Bangun, jangan tidur terus!” Suara berat Ayah menggema dari lantai bawah rumah dua lantai yang sudah menua di kawasan Tirta Putih, Yogyakarta. Dimas, cowok delapan belas tahun yang masih terlelap, langsung terlonjak. Matanya masih sipit, rambut acak-acakan. Ia garuk kepala dan duduk setengah sadar di atas kasur tipis yang sudah kusam. Cat dinding kamarnya mengelupas di sana-sini, meninggalkan warna masa lalu yang memudar. “Mau sampai kapan kamu bangun siang terus?!” teriak Ayah lagi dari bawah. “Ah, Yah… ini aku lagi kencing,” sahut Dimas setengah kesal. Setiap pagi di rumah itu selalu ramai teriakan, langkah tergesa, dan rutinitas yang tak pernah berubah. Usai cuci muka dan gosok gigi, Dimas turun ke ruang makan. Kursinya berkarat, tapi sudah seperti bagian dari keluarga. Tak lama, Pak Roy—ayahnya—datang membawa dua piring nasi putih dengan telur pindang dan sambal kecap. “Yah…” Dimas membuka suara dengan hati-hati. “Aku pikir… kita nggak usah maksa. Uang kuliah berat, apalagi biaya sekolah Andi. Aku nggak mau nambah beban.” Pak Roy hanya melirik tanpa bicara, lalu menyodorkan piring ke Andi, adik bungsu Dimas yang baru berusia tiga belas tahun. “Mas, jangan ngomong gitu dong. Kamu kan harapan keluarga,” celetuk Andi sambil mengunyah kerupuk. “Diam, bocah,” sahut Dimas. “Yah, biarin aku bantu di pabrik aja.” Pak Roy menatapnya dalam-dalam. “Kita udah bahas ini semalam, kan? Kamu mau mundur lagi dari keputusanmu?” Suara lembut menyela dari ruang tamu. Kursi roda pelan-pelan maju, menampakkan sosok wanita paruh baya dengan wajah lelah namun teduh. “Bu! Kenapa ke sini? Ibu harus istirahat!” Dimas panik. Bu Maya hanya tersenyum tipis. Dulu ia bekerja di pabrik tekstil dekat rumah. Tapi sejak kecelakaan setahun lalu ditabrak mobil saat pulang lembur kakinya lumpuh dari pinggang ke bawah. Biaya pengobatan memang dibantu oleh keluarga penabrak, tapi jauh dari cukup untuk memulihkan keadaan. “Ibu sudah cukup istirahat, Nak,” katanya lembut. “Kenapa kamu terus ngerendahin diri? Nilai SNBP kamu bagus, kamu dapat beasiswa penuh! Kamu tahu nggak, betapa bangganya Ibu punya anak kayak kamu? Tetangga aja tiap hari ngomongin kamu dengan kagum.” Dimas menunduk. “Tapi, Bu… biaya tambahan buat ke kampus masih lima belas juta. Kita—” Pak Roy langsung memotong. “Selama Ayah masih bisa kerja, kamu nggak usah khawatir. Urus aja hidupmu, kuliah yang benar. Atau kamu sebenarnya takut ninggalin rumah, hah?” ujarnya sambil menyendok nasi dengan nada menggoda. Dimas menghela napas. “Aku nggak takut, Yah.” Dia habiskan sarapannya, lalu masuk ke kamar. Kamar itu kini penuh dengan kardus dan koper. Hari ini, Dimas berangkat ke Universitas Indonesia untuk memulai kuliah. Ia mengenakan celana jeans, kaus abu-abu, lalu memanggul ransel. Di tangannya, ia menggenggam kotak kecil berisi foto keluarga. Di depan cermin yang buram, Dimas menatap bayangannya lama-lama. Di sana berdiri seorang pemuda yang siap melangkah… tapi juga masih terikat pada rumah tua, keluarga, dan kenangan yang berat. “Bangsat, kau bisa, Dimas!” gumamnya pelan. Ia tersenyum getir, lalu turun ke bawah. Andi sudah memindahkan sebagian besar barang ke mobil Kijang tahun 1990 yang sudah penyok di beberapa sisi. “Surat penerimaan sama surat beasiswa udah dibawa?” tanya Bu Maya ketika Dimas menunggu di depan. “Iya, Bu. Semua udah siap,” jawab Dimas. Ia mendekat, berlutut di depan ibunya, lalu menyerahkan segepok uang hasil tabungannya selama setahun. “Harusnya Ibu yang ngasih kamu uang, bukan sebaliknya,” kata Bu Maya pelan, matanya mulai basah. Dimas menggenggam tangannya erat. “Ibu, liat aku. Aku anak besar sekarang. Aku janji bakal kuliah sungguh-sungguh dan cari kerja biar bisa mandiri. Tapi tolong, jangan potong uang obat cuma buat beliin aku baju baru lagi, ya.” Ia tahu, baju yang ia kenakan hari itu dibeli dari uang obat ibunya. Diam-diam, Dimas menyelipkan secarik catatan ke tangan ibunya catatan kecil yang ia tulis dua bulan lalu. “Sudah, ayo berangkat,” kata Pak Roy dari kursi sopir sambil memutar kunci kontak. Andi berlari membawa kotak terakhir. Dimas menatapnya lama, lalu memeluknya erat-erat. “Jaga mereka ya. Jangan nangis, bocah,” katanya sambil menyeka air mata adiknya. Mobil Kijang tua itu perlahan meninggalkan halaman rumah. Dimas menatap lewat kaca spion ibu dan adiknya melambai, tapi ia tak sanggup membalas. Air matanya menetes diam-diam. “Laki-laki juga boleh nangis, Dim,” ujar Pak Roy lembut. “Kamu anak kuat. Jangan khawatir soal rumah, Ayah urus semua sampai kamu sukses.” Lalu dengan nada bercanda ia menambahkan, “Tapi nanti beliin Ayah mobil baru, ya. Biar Ayah sama Ibu bisa touring ke lima puluh pulau.” Dimas tertawa di sela tangisnya. Kata-kata itu bukan sekadar candaan, tapi juga harapan dan motivasi. “Aku janji, Yah.” Perjalanan ke Depok memakan waktu sepuluh jam. Begitu turun dari mobil, Dimas menatap kampus barunya megah, luas, dan penuh semangat muda. Ia menarik napas dalam-dalam. Dulu, nilai SNBPnya hanya cukup untuk bermimpi. Kini, ia berdiri di sini.Dimas mencatat secepat mungkin, tangannya hampir tidak berhenti bergerak. Namun di tengah penjelasan, Lana mengangkat tangan. “Pak, tapi bukankah penerapan model NAIRU bisa jadi kurang relevan kalau kita memperhitungkan pola inflasi hibrida yang muncul setelah 2022?” tanyanya. Profesor Ernest tersenyum tipis. “Pertanyaan yang sangat bagus. Itulah detail yang sering dilewatkan mahasiswa,” katanya. “Model itu memang bisa gagal kecuali kalau ekspektasi inflasi disesuaikan secara dinamis. Sangat sedikit teori yang bisa menjelaskan hal itu dengan tepat. Karena itu, Saudari Lana, minggu depan kamu yang presentasi.” Lana berkedip sebentar, lalu mengangguk pelan. “Baik, Pak. Saya mengerti.” Dimas menatapnya dari bangkunya. Dia… mengintimidasi. Pintar. Luar biasa. Saat kelas berakhir, buku catatan Dimas sudah seperti medan perang penuh coretan, rumus, panah,
Matahari sudah mulai condong ketika Johan melakukan panggilan keduanya hari itu. Saat itu sore menjelang petang, dan sinar matahari yang hangat perlahan melembut, membentuk garis-garis keemasan di langit Dakarta. Dimas, yang masih santai di kamar hotelnya, tanpa sadar memindah-mindah saluran TV ketika ponselnya kembali bergetar. Melihat nama Johan muncul di layar, dia langsung mengangkat telepon. “Pak Johan? Ada apa? Semua aman?” “Iya, Pak Dimas,” jawab Johan dengan nada jauh lebih santai dari sebelumnya. “Saya cuma mau kasih kabar lanjutan. Tim back office kami sudah menyelesaikan proses verifikasi. Semua dana dari deposit Anda sudah bersih.” Dimas langsung duduk tegak. “Jadi semuanya sudah beres?” “Iya, Pak. Setelah perhitungan akhir, saldo Anda sekarang berada di Rp1.016.600.000.000. Kredit sebelumnya juga sudah lunas sepenuhnya. Secara resmi, Anda sudah bebas dari utang.” Dim
Dimas perlahan berdiri, brosur itu masih berada di tangannya. Ia berjalan mendekati jendela tinggi suite di The Ritz-Carlton Jakarta, Mega Kuningan, memandangi cakrawala Jakarta yang mulai berkilau oleh lampu-lampu malam. Kota itu padat dan sibuk, sementara di benaknya Depok terbayang lebih hijau dan tenang. Istana itu terasa seperti sesuatu dari dunia lain. “Aku ingin melihatnya,” katanya akhirnya. Henry mengangkat wajahnya. “Yakin? Perlu pengaturan khusus. Properti seperti itu tidak dibuka untuk semua orang.” Dimas menoleh. Suaranya tenang namun tegas. “Kalau begitu, beri tahu mereka aku bukan semua orang.” Henry tersenyum kecil. Ia pernah melihat tatapan itu sebelumnya tatapan kepastian. “Baik,” katanya sambil menyalakan ponselnya. “Aku atur.” Dimas merapikan kembali brosur-brosur rumah di Depok yang lebih sederhana dan realistis. Namun brosur istana itu tetap b
Dimas kembali ke The Ritz-Carlton Jakarta, Mega Kuningan menjelang sore. Cahaya matahari Jakarta yang mulai redup memantul di kaca gedung-gedung tinggi kawasan Kuningan. Perjalanan pulang terasa hening. Bahkan Jay dan Ray, yang biasanya ramai bercanda atau berdebat soal musik, ikut diam setelah kunjungan ke panti asuhan tadi pagi. Ada sesuatu dari momen itu yang mengubah suasana hati mereka. Begitu masuk ke suite-nya, Dimas meletakkan jaket dan sepatu di dekat pintu. Ia menarik napas panjang, meregangkan badan, lalu duduk di sofa. Televisi tidak dinyalakan, ponsel pun dibiarkan begitu saja. Ketenangan dari gereja kecil tadi masih terasa di dalam dirinya. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, ia benar-benar membiarkan dirinya beristirahat. Beberapa jam kemudian, bel pintu berbunyi. Masih mengenakan celana training, Dimas berjalan membuka pintu. Di sana sudah berdiri Henry coach volly-nya memegang beberapa map dan d
Pagi tiba dengan ketenangan khas hari Minggu di Dakarta pelan, hangat, dan terasa lebih lapang dari biasanya. Dimas terbangun tanpa alarm, tanpa jadwal rapat, tanpa notifikasi yang mendesak. Cahaya matahari keemasan menembus tirai tipis suite hotelnya di pusat kota, memantul lembut di lantai kayu dan dinding berwarna krem. Matanya terbuka tepat pukul 07.12. Hening seperti ini jarang ia rasakan. Ia meregangkan tubuh, menghela napas panjang, lalu bangkit dari tempat tidur. Rutinitasnya selalu presisi: menyikat gigi, membilas wajah dengan air dingin sampai benar-benar segar, lalu mengenakan hoodie navy gelap, celana training hitam ramping, dan sepatu olahraga putih bersih. Pukul 07.30, ia sudah berada di gym hotel. Hanya ada satu pria paruh baya di sana, berjalan santai di treadmill sambil menonton berita pagi tanpa suara. Dimas mengangguk sopan, lalu mulai pemanasannya. Ia fokus pada keseimbangan dan postur deadlift, rotasi inti, shoulder press. Cermin besar di depannya memantulkan s
[Ding!! Misi: Nikmati Waktu Anda di Hotel. Hadiah: Rp10.000.000] "Sial… bahkan sistem tahu aku lagi stres," gumamnya. Setelah meninggalkan kantor, Dimas bersandar di kursi kulit Mercedes, mata terpejam, menarik napas panjang. Jay dan Ray tak perlu bertanya tujuan hotel. "Pak, mau lewat rute lebih panjang? Lebih santai," tanya Jay dari kursi depan. "Nggak, langsung hotel aja," jawab Dimas lelah. "Aku mau makan, mandi air panas, lalu tidur pulas." Mobil melaju membelah lalu lintas sore Depok. Udara dingin mulai terasa, langit keperakan menggantung di atas kota. Dimas tetap memejamkan mata sepanjang perjalanan, tubuhnya akhirnya rileks dari tekanan pekerjaan. Saat mobil berhenti di parkiran bawah tanah hotel, dia hampir tertidur. Ray membuka pintu, dan Dimas keluar sambil meregangkan bahu dan leher sebelum berjalan menuju lift pribadi yang langsung menuju suite-nya. Suite itu sunyi, rapi seperti baru disentuh. Staf hotel sudah membersihkan semuanya, mengganti linen, dan meninggalk
Sementara semuanya terjadi dengan Dimas, Anin terjebak dalam kemacetan lalu lintas yang disebabkan oleh gelombang manusia yang terbentuk untuk Dimas. Dimaaaassss… Dimas…!! Dia baik-baik saja, sayang, jangan nangis… Mendengar teriakan itu
Helikopter yang membawa Dimas dan kepala keamanan mendarat di heliport umum, yang kemudian dibayar Dimas sebesar Rp 5.000.000 dengan kartu untuk menggunakan layanannya. Begitu mendarat, Dimas melihat taksi sudah siap mengantar ke mana saja. Kepala keamanan ikut masuk ke dalam bersama Dimas dan men
Dimas, yang duduk di dalam mobil, juga merasa bingung. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa terhadap situasi ini. Di satu sisi, ia penasaran dan bersemangat ingin melihat orang-orang yang datang jauh-jauh hanya untuk melihat dirinya. Tapi di sisi lain, ia harus mengikuti arahan pihak keamanan.
"Maaf, Dimas, aku menahanmu di sini. Di dalam, mereka sudah benar-benar menunggumu, jadi masuklah dan tunjukkan keajaibanmu." Henry menepuk dada Dimas dengan lembut, lalu membuka pintu untuknya. Dimas melihat ke dalam. Itu adalah lorong sempit yang mengarah ke ruang konferensi pers







