Share

Bab 2

Author: Zhar
last update Last Updated: 2026-01-02 14:49:07

Dimas dan ayahnya berjalan perlahan di sepanjang jalan kampus Universitas Indonesia. Langkah Dimas selalu satu di belakang ayahnya, sementara senyum kecil tak henti-hentinya terukir di wajahnya.

Siapa sangka di tahun 2034, ia pernah menjadi gelandangan di jalanan Yogyakarta. Mengemis demi sesuap nasi, tidur di emperan toko, hampir mati kedinginan di bawah rintik hujan. Tapi enam bulan lalu, sesuatu yang tak masuk akal terjadi: ia terbangun di masa lalu dalam tubuhnya sendiri, saat masih duduk di bangku SMA.

Awalnya, Dimas mengira itu mimpi. Namun ketika hari demi hari berlalu tanpa ia terbangun, ia sadar segalanya nyata. Ia menangis dua hari dua malam di pelukan keluarganya, berterima kasih pada Tuhan yang telah memberinya kesempatan kedua. Tapi ia tak berani menceritakan asal-usul “dirinya yang baru”. Ia tahu, kalau sampai mereka tahu ia berasal dari masa depan, mereka pasti menganggapnya gila.

Keluarganya hanya bisa heran melihat perubahan drastisnya. Dimas yang dulu malas, acuh, dan suka bolos, kini belajar tanpa kenal lelah. Ia tahu betapa berharganya waktu karena di kehidupan sebelumnya, ia telah kehilangan segalanya.

Selama enam bulan terakhir, Dimas belajar siang dan malam, dua belas hingga enam belas jam sehari. Setiap kali rasa kantuk datang, bayangan malam-malam di trotoar Malioboro selalu muncul: tubuh menggigil, perut lapar, dan rasa sesal yang tak pernah hilang. Ia juga teringat wajah ayahnya, Pak Roy, yang dulu menanggung hutang besar demi menolongnya… hanya untuk melihat anaknya hancur di depan mata.

Kini, segalanya akan berbeda.

Mereka berhenti di depan asrama mahasiswa UI. Dimas mendapat kamar pribadi di lantai dua, nomor tujuh. Ia duduk di tangga sambil menjaga tumpukan kardus, sementara Pak Roy mengurus dokumen dan mengambil kunci kamar di administrasi.

Dimas memperhatikan ayahnya dari kejauhan. Pria itu tampak lebih tua dari yang ia ingat keriput di wajahnya semakin dalam, namun sorot matanya tetap hangat. Dimas menunduk pelan, menahan haru. Setelah melihat bagaimana ayahnya dulu menangis setiap malam karena dirinya, kini ia bertekad akan membalas semua itu. Ia akan membuat pria itu tersenyum bahagia sampai akhir hayatnya.

Tak lama, Pak Roy datang membawa kunci. Bersama-sama mereka memindahkan kotak ke kamar sederhana berisi tempat tidur tunggal, meja belajar, rak buku, lemari kecil, dan kamar mandi di pojok.

“Wah… kampus negeri terbaik memang beda,” gumam Pak Roy sambil menatap sekeliling.

Dimas tersenyum. Ia tahu perjuangan panjang yang membawanya ke titik ini bukan hanya perjuangan belajar, tapi juga penebusan dosa masa lalu.

Saat waktu perpisahan tiba, Pak Roy menepuk bahu Dimas dengan tangan yang hangat dan kuat.

“Buat Ayah bangga, Nak,” ucapnya pelan namun tegas. “Kalau ada apa-apa, telepon Ayah. Jangan menyerah, ya. Belajarlah sungguh-sungguh.”

“Iya, Yah… terima kasih buat semuanya,” jawab Dimas, menahan air mata.

Pak Roy tersenyum, lalu melangkah pergi menuju Kijang lamanya yang diparkir di tepi jalan. Dimas berdiri diam di depan asrama, melambaikan tangan sampai mobil itu hilang di tikungan.

Saat keheningan kembali menyelimuti, Dimas menarik napas panjang dan menatap langit biru kampus UI.

Mulai sekarang, aku akan menulis ulang takdirku sendiri, batinnya mantap.

Dengan pengetahuan tentang masa depan yang masih ia simpan, ia yakin: kali ini, ia tak akan gagal.

--

Dulu, ia ditipu, dikhianati, dan kehilangan segalanya. Tapi sekarang, ia tahu langkah apa yang harus diambil. Setiap berita di portal daring yang sesuai dengan ingatannya hanya menegaskan satu hal: ini bukan mimpi. Ini kesempatan kedua.

Dimas tersenyum getir sambil menggeleng pelan. Ia mulai menata kamarnya: merapikan tempat tidur, menyusun buku-buku di rak, lalu menaruh satu foto keluarga di atas meja belajar.

“Kalau ini Dimas yang lama,” gumamnya kecil, “aku pasti udah keliling kampus, cari kafe atau lihat cewek fakultas sebelah.”

Tapi kali ini berbeda.

Ia duduk di kursi belajar, membuka tas, dan mengeluarkan buku tebal The Wealth of Nations karya Adam Smith. Bukan buku wajib kuliah, tapi baginya, buku itu simbol awal perubahan.

Ia membuka halaman pertama dan mulai membaca. Semangatnya membara, matanya menatap penuh fokus hingga tiba-tiba…

[Ding!! Sistem “Tajir” diaktifkan!!]

[Perhatian: Semua uang tunai akan dikenai pajak. Slip gaji akan diterbitkan.]

[Misi: Belajar selama 1 jam. Hadiah minimum: Rp10.000.000]

Dimas sontak menegakkan tubuh. Sebuah panel berwarna biru kehijauan muncul di udara, melayang tepat di depan wajahnya.

“Apa… apaan ini?” gumamnya kaget. Suara “ding” itu begitu nyata, seolah bergema di kepalanya sendiri.

Ia menatap layar transparan itu, antara heran dan tak percaya.

“Ini… sistem? Kayak di novel-novel web?” katanya terbata. Lalu ia tertawa kecil, gugup. “Haha, jadi semua waktu baca fantasy dulu nggak sia-sia juga, ya?”

Dengan hati-hati, ia berkata dalam pikirannya, Sistem, tutup.

Panel itu langsung menghilang.

Buka lagi.

Panel muncul kembali, menampilkan misi yang sama.

Dimas menarik napas panjang dan tersenyum lebar.

“Baiklah,” katanya dengan semangat membara. “Kalau begini caranya… aku akan ubah dunia ini!”

Namun sesaat kemudian, ia menggeleng sambil tertawa kecil.

“Tenang, Dim. Ingat umurmu empat puluh dua di kepala, jangan heboh kayak bocah.”

Ia kembali membaca dengan tekun. Waktu berjalan tanpa terasa. Setelah tiga jam lebih, ia membuka panel sistem lagi.

[Misi Selesai!!]

Nilai: A — Total waktu belajar: 3 jam 20 menit.

Hadiah: Rp30.000.000

Dimas membelalak. Di depan matanya, muncul tumpukan uang seratus ribuan yang berkilau seperti hologram. Perlahan, uang itu menurun dan menumpuk di atas meja belajarnya nyata.

Tangannya gemetar saat menyentuhnya. Kertasnya terasa, baunya pun khas uang baru. Di antara lembaran itu, ada selembar kertas putih:

Slip Pembayaran Gaji

Total Penghasilan: Rp30.000.000

Potongan Pajak: Rp6.000.000

Gaji Bersih Diterima: Rp24.000.000

Keterangan: Pajak telah mencakup kontribusi nasional, sosial, dan administratif sesuai ketentuan sistem.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 79

    “Apa maksudmu?” tanya Dimas, masih belum yakin dengan rencana apa yang sedang disiapkan Henry untuknya. “Maksudku, aku mau nunjukin langsung. Ikut aku,” kata Henry, lalu berjalan lebih dulu. Dimas mengikuti dari belakang. Ia sempat menoleh ke belakang untuk memastikan apakah dua pengawal itu ikut, dan benar saja, mereka masih terlihat berjalan agak jauh di belakang. “Mereka itu tipe pendiam. Aku habiskan hampir seharian bareng mereka, dan sejauh ini yang bisa kukatakan cuma satu mereka orangnya santai dan nggak ribet,” ujar Henry sambil tertawa, seolah heran karena si kembar itu hampir tidak pernah bicara. “Ya nggak masalah sih kalau mereka jago bela diri, itu aja,” kata Dimas. Dalam kehidupan sebelumnya, dia sudah terlalu sering melihat selebritas dihajar massa. Dia sama sekali nggak mau mengalami hal yang sama. “Bela diri? Emangnya kamu lagi syuting film Jackie Chan?” Henry menjawab dengan nada datar sambil

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 78

    “Itu baik banget dari anak Bapak mau bantu,” kata Dimas sambil mengelap keringatnya. “Gimana kalau kita makan malam bareng? Pilih restoran mana saja,” lanjutnya sambil mengambil handuk baru dari tangan Arif. Saat itu juga, panel transparan muncul di hadapannya. [Misi Selesai Peringkat: S Servis tercatat: 499 kali Hadiah: Rp100.000.000] Dimas membeku. Astaga... Wajahnya langsung berubah masam. Dia kesal bukan karena uangnya, tapi karena sadar satu hal. “Kurang satu…” gumamnya pelan. Kalau saja dia menghitung dari awal, satu servis lagi sudah cukup untuk tembus 500. Arif tertawa kecil melihat ekspresi Dimas. “Sebenarnya saya juga mau sekali makan bareng,” kata Arif jujur, “tapi istri saya sudah nunggu di rumah. Lagipula, kamu juga harus tidur cepat.” Ia menepuk bahu Dimas. “Beso

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 77

    “Baiklah, saya belum tahu apa-apa soal kamu,” kata Coach Bisma sambil menyilangkan tangan. “Saya cuma tahu satu hal servismu barusan jauh lebih keras dari yang saya duga. Sekarang, ambil bolanya dan ulangi lagi.” Bisma mengambil bola voli yang baru saja digunakan Dimas. Ia memutarnya pelan di telapak tangan, menekannya sebentar untuk memastikan tekanan udaranya pas, lalu mengangguk puas. Setelah itu, bola dikembalikan ke Dimas, dan Bisma memberi isyarat agar dia mengikutinya ke dalam lapangan. “Barang-barang kamu taruh di mana? Dompet sama HP?” tanya Bisma sambil berjalan menuju sisi lapangan. “Saya titipkan ke Manajer Arif. Dia lagi di belakang, ngurus administrasi,” jawab Dimas jujur. Sejujurnya, dia sendiri masih bingung harus ke mana dan apa yang harus dilakukan. Untung saja Arif manajer staf tim tiba-tiba muncul dan langsung membantunya. Arif bahkan membawa Dimas ke ruang ganti resmi pemain, lalu menyimpan dompet dan p

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 76

    Dimas sebenarnya senang mendengar bahwa ia dipersilakan duduk bersama kapten di kokpit. Namun ia cukup bijak untuk tahu batasan. Ia tidak ingin terlihat memanfaatkan perlakuan khusus, jadi ia memilih tetap duduk tenang di dalam kabin. Sekitar lima menit kemudian, semuanya siap. Dimas sudah duduk di kursi pertama yang ditunjukkan kepadanya. Beberapa staf wanita melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum, namun ia hanya membalas dengan anggukan sopan, lalu kembali duduk diam. Kursi itu, jika di pesawat komersial, setara dengan kelas bisnis. Ruang kakinya lega, sangat nyaman untuk tubuhnya yang tinggi. Dimas menyandarkan punggung dan berharap penerbangan singkat ini berjalan mulus. Seorang pramugari yang sangat cantik mendekat. Ia mengenakan seragam kasual tim penerbangan dan berdiri cukup dekat dengan Dimas terlalu dekat menurutnya. “Pak, saya bantu pasangkan sabuk pengamannya ya, sebentar lagi kita lepas landas,” katanya

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 75

    Dimas keluar dari lift bersama manajer. Sebuah taksi sudah menunggu di depan. Manajer berjalan lebih dulu dan membukakan pintu untuk Dimas. Sopir taksi terlihat profesional dan serius dengan pekerjaannya. Dimas duduk di dalam, lalu mengangguk ke arah manajer dan berkata, “Aku rasa aku tidak akan menggunakan layanan gratis. Itu bukan gayaku. Aku akan membayar jasanya, jadi sampaikan terima kasihku pada ketua, dan kembalikan cek uang tunainya. Kalau nanti butuh cek lagi, bilang saja padaku.” Manajer tersenyum, mengangguk, lalu berjalan ke arah sopir dan berkata, “Antar dia ke Bandara Soekarno-Hatta. Jangan berhenti sebelum sampai. Jangan berhenti untuk siapa pun.” Setelah itu, dia mengetuk pintu taksi dua kali dan pergi dengan senyum di wajahnya. Sopir mengangguk, lalu turun untuk mengunci semua pintu taksi mobil ini masih manual. Setelah itu, ia memutar jendela di sisi Dimas dan menyalakan AC.

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 74

    Dimas membawa Anin yang masih tidak sadarkan diri ke kamar kecil. Setelah membersihkannya dengan sisa kesadarannya, ia membaringkan Anin di tempat tidur. Ranjang itu terlalu besar jika hanya dipakai berdua. Dimas mengecek jam hampir tengah malam. Ia menghela napas. Tubuhnya lelah, tapi hatinya terasa ringan. Ia memilih duduk di kursi goyang di ruang tamu, lalu menuangkan segelas anggur Vosne-Romanée Premier Cru yang tadi sempat mereka buka namun belum habis. Sambil menyesap pelan, pandangannya menatap kota di bawah sana. Meski berasal dari masa depan, ia merasa hidup seperti ini justru lebih baik. Di kehidupan sebelumnya, ia selalu cemas soal makan dan hidup terlalu egois, sampai lupa bahwa keluarganya juga membutuhkannya. Hidup memang lucu. Kalau semuanya memang berakhir seperti ini, aku bahkan tak tahu akan sampai di mana. Sambil bergumam begitu, Dimas memutar gelas anggurnya, menenggaknya dalam satu tegukan, lalu kembali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status