Share

Bab 28

Author: Zhar
last update publish date: 2026-01-26 08:40:01

Dimas pun bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum sopan pada pria paruh baya itu.

“Jadi kamu ini anak ajaib, ya? Oke, ikut lari sama mereka. Biar aku ngomong sama pelatihmu. Cukup lari buat pemanasan saja, jangan kebablasan,” kata pria paruh baya itu sambil menunjuk para pemain Depok Thunder yang sedang jogging di lapangan GOR.

Dimas mengangguk dan berlari menyusul mereka. Walaupun ia biasa jogging tiap pagi, tak ada salahnya pemanasan sebelum uji coba serius.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 125

    Dimas, setelah mendengar bahwa kepala pelayan itu benar-benar bersikap sopan dan sudah masuk lebih dulu ke dalam mansion, sebenarnya sudah tidak terlalu bersemangat untuk bertemu miliarder yang seenaknya menghadiahkan mobil padanya. Dia hanya ingin pulang dan menenangkan pikirannya. Namun, mau tak mau, dia tetap harus bertemu pria itu. Sambil berjalan masuk, Dimas tak bisa menahan rasa kagumnya pada kemegahan rumah besar tersebut. Sinar matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi melengkung, menyinari lantai kayu mengilap dan permadani bermotif lembut dengan cahaya hangat. Sofa dan kursi berlengan mewah berwarna krem kalem dan merah anggur tua tersusun rapi mengelilingi meja marmer rendah, di atasnya terdapat cangkir-cangkir teh porselen yang halus. Seorang pelayan berdiri diam di salah satu sisi ruangan, siap melayani kapan saja. Di balik meja itu, seorang pria tua duduk tegak di kursi bersandaran tinggi, perlahan menyeruput teh dari cangkir kecil. R

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 124

    “Yah, kamu melakukan apa yang menurutmu terbaik untuk dirimu dan keluargamu. Aku juga akan melakukan apa yang menurutku paling benar. Mobil ini… jelas bukan mobil biasa.”Dimas berkata sambil tersenyum. Dia memang menyukai mobil itu, tapi di saat yang sama rasa waswas terus menggerogoti pikirannya bagaimana jika ada bom tersembunyi di dalamnya? Indonesia mungkin masih tenang sekarang, tapi Dimas merasa tahun 2021 akan mengubah banyak hal.“Ya, aku sudah menepati janjiku, jadi tugasku selesai. Lakukan apa pun yang menurutmu perlu. Mereka itu kelompok yang berbahaya.”Pak Budi berkata sambil menyeka keringat di dahinya saat melihat sebuah mobil putih memasuki area dealer. Wajahnya pucat, jelas gugup.Begitu Dimas melihat mobil itu, rahangnya langsung mengeras. Sebelum Jay datang, bahaya justru lebih dulu muncul. Dimas menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, dia menyesal tidak menyewa lebih banyak pengawal. Uang memang banyak sekarang, tapi ka

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 123

    “Tentu saja, paket ini datang dengan banyak fasilitas, seperti suku bunga tinggi, layanan perbankan pribadi, dan bonus kredit yang besar. Anda sekarang bisa mengambil kredit hingga Rp500 miliar selama tiga bulan tanpa bunga sama sekali. Setelah itu, bunganya 15% per bulan,” kata sang manajer dengan wajah berseri-seri.Ia bahkan menjabat tangan Dimas dengan antusias dan memerintahkan tiga orang staf untuk membawa uang tunai itu masuk ke dalam gedung.“Saya tidak menyangka pihak militer masih menggunakan uang tunai. Biasanya mereka selalu memakai layanan perbankan kami,” kata sang manajer dengan nada bangga.“Oh ya? Apa Anda kenal orang yang biasa menjual senjata ke militer?”tanya Dimas sambil tersenyum santai.Pertanyaannya terdengar ringan, tetapi ekspresi manajer langsung berubah, seolah menyentuh topik yang agak sensitif.“Ehm… saya tidak kenal secara pribadi,” jawabnya hati-hati. “Tapi dia jelas orang dengan kekayaan sangat b

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 122

    Dimas harus membayar Rp550.000.000 untuk melunasi utang Bella. Setelah utang itu lunas, Bella merasa sangat bahagia dan akhirnya bisa bernapas lega, seolah beban besar di dadanya terangkat. Setelah bermalam bersamanya, Dimas berangkat menuju Depok keesokan paginya.Bella tetap tinggal di hotel karena dia membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi dan menenangkan dirinya.Dimas mengambil mobil yang sebelumnya dibawa Jay dari garasi rumahnya di Depok. Mercedes itu terlihat mewah, bersih, dan berkilau. Dari sana, Dimas langsung menuju bank. Dia membawa terlalu banyak uang tunai, dan karena sistem tidak memungkinkan penarikan atau pengelolaan uang secara langsung, satu-satunya pilihan adalah menyetorkannya ke bank.Dimas lalu mengecek persediaan uang tunai di sistemnya fitur yang hanya menampilkan jumlah uang yang ia miliki. Saat melihat angkanya, dia sampai terdiam.“Aku punya uang tunai Rp1.130.100.000.000… gila!”Meskipun dia sudah tahu ju

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 121

    Mata Bella berkaca-kaca saat kepalanya didorong hingga ke pangkal, hidungnya hampir menyentuh kemaluan Dimas. Maskaranya sudah meleleh mengalir di pipi, tapi dia tak peduli. Fokusnya hanya satu menggerakkan kepala naik-turun sambil mendengarkan erangan Dimas yang semakin dalam.Rasa puas menyelimuti dirinya ketika Dimas semakin erat menggenggam rambutnya, geraman dan erangannya semakin terdengar jelas. Gigi Bella sesekali menyentuh ringan sisi batangnya, sementara lidahnya menggoda bagian bawah yang sudah membengkak.Dia sangat menginginkan Dimas melepaskan semuanya langsung ke tenggorokannya, seperti sebelumnya. Dengan menahan refleks muntah, Bella berusaha sekuat tenaga untuk deepthroat, air liur dan ludah menetes di bibir serta dagunya.“Plop!”Dia melepaskan kemaluan Dimas dengan bunyi basah, lalu membelainya sambil meludahi kepalanya agar lebih licin. Batang itu terasa berdenyut kuat di tangannya. Tanpa menunggu lama, Bella segera memasukkann

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 120

    Dimas tercengang melihat tangisan Bella, tapi lebih dari itu, dia justru semakin terangsang. Darahnya langsung mengalir deras ke selangkangannya. Tanpa buang waktu lagi, dia melangkah mendekati Bella.Saat sudah berdiri di depannya, pandangan panas Dimas menyapu seluruh tubuh Bella dari atas sampai bawah. Bella menggigit bibirnya sendiri, menatapnya dengan mata memelas, seolah memohon agar Dimas tidak terlalu menggoda atau menggertaknya.Dimas mengangkat dagu Bella agak kasar, lalu langsung menciumnya dengan penuh dominasi. Lidahnya memaksa masuk, bermain-main dengan lidah Bella dalam ciuman yang dalam dan liar. Sementara itu, tangannya merayap ke belakang, meremas keras pantat Bella yang montok di balik gaun ketat itu, sebelum akhirnya melepaskannya dengan satu tamparan ringan tapi tegas.Dimas perlahan berlutut dengan satu kaki, sambil mengangkat dan menggulung rok Bella ke atas, memperlihatkan gundukan basah yang sudah berkilau karena cairan gairahnya.

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 33

    "Iya, mereka bakal urus semuanya buat kamu," jawab Henry santai."Itu bagus. Ayo kita temui mereka setelah makan di sini," kata Dimas sambil berusaha menghabiskan burger raksasa yang hampir tidak muat di tangannya."Udah, kasih sini aja burgernya," kata Henry. Setelah burgernya

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 32

    Dimas terkejut luar biasa karena kabar itu bukan hanya tentang film yang akan menjadi hit, tetapi juga karena cerita yang sangat menyentuh. “Ya, aku bakal main bareng Vino G dan Tian,” kata Anin penuh semangat. Ini adalah terobosan pertamanya sebagai aktris. “Wah, se

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 31

    Dimas menatap Pak Edwin dengan tidak percaya. Dia tidak yakin apakah dia mendengarnya dengan benar. Apa pria ini sedang bercanda? “Yah, aku sudah menduga reaksi seperti itu darimu,” kata Pak Edwin sambil tertawa kecil, lalu kembali duduk di meja bundar. Dimas begitu

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 30

    Dimas kemudian mengusap bola voli itu sedikit karena seluruh permukaannya terasa licin oleh keringat. Ia menatap Raga, yang sudah menekuk lutut, siap menerima servis keras darinya. Kaki Dimas terangkat. Ia berniat melakukan jump serve cepat lagi. Dimas mengerahkan se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status