Share

Bab 89

Auteur: Zhar
last update Date de publication: 2026-03-02 08:20:06

Wanita itu langsung menghampiri sisi pengemudi dan mengetuk kaca mobil dengan sopan. Maklum, mobil di depannya terlihat mahal dan mencolok.

Dimas, dengan raut wajah bersalah, segera menurunkan kaca jendela. Polisi yang datang adalah seorang perempuan berpenampilan dewasa, wajahnya tegas tapi enak dipandang, usianya kira-kira akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan.

“Eh, kamu ya?” katanya sambil sedikit menyipitkan mata. “Kenapa nyetir sembarangan di jalan umum?”
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 152

    Setelah Dimas dan Yaho menghabiskan semangkuk mi gratis dari Manga Cafe, mereka masih duduk tenang beberapa saat, menikmati sisa kehangatan kuahnya. Ketika jam hampir menunjukkan waktu makan siang, Yaho menoleh ke arah Dimas dan berkata, “Bagaimana kalau kita kembali ke hotel saja dan makan di sana?” Dimas mengangguk setuju. Ia melipat sumpitnya dengan rapi lalu berdiri. Keduanya meninggalkan kafe yang nyaman itu dan berjalan menyusuri jalan menuju Peninsula Hotel, tempat Dimas menginap. Sesampainya di hotel, mereka menuju ruang makan khusus tamu premium. Dimas duduk di kursi berlapis kain halus, memperhatikan cahaya lembut dari lampu gantung serta serbet yang terlipat rapi di samping piringnya. Meski ia menginap di suite kelas kekaisaran, makan siang di tempat ini tidak termasuk gratis seperti beberapa fasilitas lain. Sempat terlintas soal biaya yang jelas tidak murah namun hal itu sama sekali tidak mengganggu pikirannya.

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 151

    Dimas bangun keesokan paginya dengan perasaan segar, langkahnya terasa ringan. Tidur yang nyenyak dan latihan singkat sehari sebelumnya telah sepenuhnya menjernihkan pikirannya, membuatnya tenang, fokus, dan siap menghadapi apa pun yang menantinya. Ia berbaring sejenak, mendengarkan dengungan halus AC hotel dan suara kota yang samar-samar hidup di balik jendela. Perlahan, ia meregangkan tubuh di bawah seprai lembut, memutar bahu dan melengkungkan punggung hingga setiap otot terasa benar-benar rileks. Saat akhirnya duduk, ia meraih ponsel di meja samping tempat tidur dan mengetuk layar. Tak lama kemudian, nampan berisi telur orak-arik lembut, roti panggang keemasan, buah segar, dan segelas besar jus dingin diantarkan ke dalam suite. Dimas makan dengan tenang, menikmati hangatnya telur dan segarnya jus sambil menyusun rencana hari itu di kepalanya. Kenikmatan sederhana dari makanan yang enak mengingatkannya bahwa detail kecil sering kali justru paling berarti.

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 150

    Dimas melihat Jack yang tampak terkejut, lalu tersenyum tipis. Ia sendiri tidak terlalu kaget. Menjadi pengguna sistem membuatnya terbiasa menghadapi kejadian-kejadian di luar nalar tanpa banyak reaksi. Sepertinya sistemnya memang lebih kuat dariku? Dimas tidak berlama-lama memikirkan hal itu. Ia keluar dari toko dan melihat Yaho berdiri sendirian di luar. Pria itu langsung tersenyum lebar. “Perempuan itu memberiku gelang. Menurutku kelihatan keren.” Yaho mengangkat pergelangan tangannya, memamerkan gelang pemberian Emma. Kesan mewahnya langsung terasa. Dimas sampai harus mengertakkan gigi. Ia tahu persis benda itu Cartier, desain masa depan, elegan dan mahal. Jadi, apa dia datang ke sini hanya untuk mengingatkanku pada kesempatan yang kulewatkan? Atau ada maksud lain? Dimas kembali ke mobil dan duduk tanpa banyak bicara. Ia ingin sendirian, menenangkan pikiran, dan memikirkan semuanya dengan m

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 149

    Dimas memberinya uang, lalu memintanya pergi dan menghubunginya lagi saat waktu makan siang tiba. Yaho langsung setuju. Ia justru senang “dipecat” sementara waktu dan segera menelepon ayahnya untuk menanyakan kondisi ibunya. Kabar baiknya, sang ibu sudah pulih dengan baik dan akan segera pulang begitu dokter mengizinkan. “Baiklah, terus Andi di mana?” Dimas bertanya tentang adiknya. Ia ingin bicara empat mata, jadi ia menanyakannya pada ayah mereka. “Andi? Dia ke hotel. Kamu bisa telepon dia langsung,” jawab Pak Roy. Pak Roy terdengar batuk kecil, lalu setelah beberapa kalimat dengan Dimas, ia menutup panggilan. Dimas mengangguk. Mendengar yang bersama ayahnya bukan Andi, ia langsung menelepon adiknya. Ada satu hal penting yang ingin ia tanyakan tentang tugas yang pernah ia titipkan sebelum meninggalkan rumah. Tu… tu… “Halo, Mas Dimas. Iya, aku nggak bareng Ayah. K

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 148

    “Tentu, kami memiliki banyak agen, jadi kami bisa mencairkan cek itu dalam satu atau dua hari. Berapa yang ingin Anda tukarkan, Pak?” Ichigo bertanya sambil tersenyum. Ia bahkan tidak menyuruh Yaho duduk. Orang Jepang memang dikenal sangat sopan dan berbudaya, kadang terasa berlebihan. “Bagaimana kalau dua ratus juta rupiah?” Dimas bertanya. Ia ingin membeli oleh-oleh untuk seluruh keluarga dan teman-temannya. Selain itu, ia juga punya dua teman baru dari kampus, jadi rasanya tak pantas jika pulang tanpa membawa suvenir. “Pak? Itu setara dengan sekitar sebelas juta yen. Saya bisa memberikannya secara tunai atau langsung memasukkannya ke rekening bank rekan Anda, jadi bisa digunakan ke mana pun kalian pergi.” Ichigo berkata sambil dengan cepat menuliskan sesuatu. Bahkan sebelum Dimas menandatangani cek, Ichigo sudah yakin dengan identitas dan dana miliknya. Ia sudah melihat sendiri bagaimana Dimas bermain, dan

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 147

    Setelah mengunjungi tempat itu, Yaho membawa Dimas ke samping dan memberinya sesuatu untuk dimakan camilan manis dan kenyal yang disebut mochi. Dimas merasa rasanya enak sekali. Setelah itu, Yaho menyuruh sopirnya menyiapkan mobil. Ia ingin membawa Dimas ke tempat lain. Dimas mengangguk setuju. Ia memang tidak terlalu tertarik pada shogun Jepang, tapi kalau sampai dihadiahi istana seperti ini, itu urusan lain lagipula, pria mana yang tidak ingin punya kastil? Yaho membawa Dimas ke area parit. Tempat itu sangat indah. Dimas menyukai betapa artistiknya hasil karya orang-orang di abad pertengahan. Tak lama kemudian, mobil tiba di jalan terdekat untuk menjemput mereka. Yaho mengatakan sesuatu pada sopir dalam bahasa Jepang, dan sopir itu hanya mengangguk. “Kita bisa pergi minum teh sekarang. Teh yang sehat dan autentik, di Taman Hama-Rikyu,” kata Yaho. Lalu ia membawa Dimas ke tepi sungai, di mana

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 37 (21+)

    "Haah..." Dimas hanya bisa mengerang puas, jari-jarinya semakin kuat mencengkeram rambut Anin yang panjang. Dimas memejamkan mata saat merasakan mulut Anin yang hangat dan basah menyelimuti seluruh batang kemaluannya, lidahnya menari-nari di sepanjang urat yang menonjol.

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 30

    Dimas kemudian mengusap bola voli itu sedikit karena seluruh permukaannya terasa licin oleh keringat. Ia menatap Raga, yang sudah menekuk lutut, siap menerima servis keras darinya. Kaki Dimas terangkat. Ia berniat melakukan jump serve cepat lagi. Dimas mengerahkan se

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 29

    Setelah semua siap, para pemain kembali ke lapangan GOR. Ketika Dimas keluar dari ruang istirahat, ia melihat Raga sudah berdiri di area serang, memegang bola voli di tangannya dengan sikap dominan seolah seluruh lapangan adalah wilayah kekuasaannya. “Teman-teman, dan para penonton

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 28

    Dimas pun bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum sopan pada pria paruh baya itu. “Jadi kamu ini anak ajaib, ya? Oke, ikut lari sama mereka. Biar aku ngomong sama pelatihmu. Cukup lari buat pemanasan saja, jangan kebablasan,” kata pria paruh baya itu sambil menunjuk para pemain

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status