공유

Bab 2

작가: Pelan-pelan Saja
Secara moral, aku memang seharusnya membantunya.

Memikirkan hal itu, aku pun pasrah dan terpaksa menyetujuinya.

“Kalau begitu, kamu hanya boleh menyentuhnya saja… jangan melakukan yang lain….”

Hendra menyetujuinya. Sambil terengah-engah, dia mendekatkan wajahnya hingga hidung kami bersentuhan. Kata-kata yang diucapkannya berhasil membuat wajahku merona.

“Iya, aku hanya menyentuhmu, janji nggak akan macam-macam!”

Sambil berkata begitu, Hendra mengulurkan tangan untuk menarik tali gaunku.

Aku spontan menarik diri ke belakang dan mencoba menepisnya dengan pergelangan tangan.

Namun, dengan satu sentakan kuat, Hendra langsung berhasil melepaskan tali tipis itu.

Di balik gaun berpotongan dada rendah, aku bahkan tak mengenakan bra sama sekali, tujuan awalnya memang untuk menggoda suamiku.

Namun, tak disangka kalau hal ini malah memberi kemudahan bagi kakak ipar.

Tatapannya tampak bersinar. Dia menjilat sudut bibirnya, lalu menangkup asetku dengan kedua tangannya seolah sedang memegang harta karun yang sangat berharga.

“Hmm….” Aku tak pernah disentuh seperti ini oleh pria mana pun sebelumnya. Seketika, jari kakiku reflek mencengkeram erat.

“Kak… kak, pelan-pelan….”

Dengan malu dan terhina, aku memalingkan wajah ke samping dan sama sekali tak berani melihat apa yang sedang dilakukan Hendra.

Hendra meremasnya beberapa kali. Merasa masih kurang puas, dia kembali membisikkan rayuan di telingaku.

“Sayang… bolehkah aku mencicipinya?”

Panggilan sayang itu membuatku merinding, suamiku bahkan tak pernah memanggilku seperti itu.

Baru saja berniat menolaknya, Hendra sudah bergerak selangkah lebih cepat dan langsung melahapnya.

Seketika, pikiranku langsung menjadi kosong. Mengikuti insting alami, aku hanya bisa merangkul dan mendekap lehernya erat-erat.

Dengan satu tangan menopang pinggangku, dia menarikku lebih dekat dengannya.

Dengan begitu, bagian dadaku yang putih, mulus dan montok itu kini sepenuhnya terpampang nyata di hadapan matanya.

Melihat guncangannya sendiri saja sudah membuat wajahku terasa terbakar karena malu.

“Kak… kita sudah sepakat hanya menyentuh saja, kok malah bohong….”

Aku benar-benar sangat malu, air mata sudah menggenang di pelupuk mata dan rasanya ingin menangis saja.

Hendra segera mengecup sudut mataku dan membujukku dengan sangat lembut.

“Ini salahku, kamu boleh memukulku!”

Usai bicara, dia meraih tanganku dan mengarahkannya untuk memukul wajahnya sendiri.

Mana mungkin aku tega memukulnya. Aku hanya menepuknya sekali, lalu memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik tanganku kembali.

Melihat reaksiku, Hendra menajamkan senyuman tipis dengan raut wajah yang tampak menggoda.

“Kenapa? Kamu nggak tega memukulku?”

Aku tak menjawab. Dia pun kembali melanjutkan rayuannya yang memikat, “Kalau begitu, bagaimana kalau kakak buat Lusy merasa nyaman?”

Aku tak tahu apa yang akan dilakukannya. Belum sempat aku bersiap-siap, posisi tubuhku sudah digeser dan diputar olehnya. Dalam sekejap, aku sudah ditindih di atas kursi penumpang depan.

Seiring dengan sandaran kursi yang perlahan direbahkan hingga mendatar, tubuhku pun ikut telentang pasrah ke belakang.

Napas Hendra semakin memburu, lalu dia menunduk dan mulai menciumku.

Mulai dari pipi turun ke bibir… dari tulang selangka turun ke dada… dari perut bagian bawah terus turun menuju ke….

Menyadari ada yang tak beres, aku langsung merapatkan dan menyilangkan kedua kakiku kuat-kuat, sama sekali tak mau membukanya.

Karena tak punya cara lain, akhirnya Hendra memilih untuk mencium perut bawahku perlahan sambil sesekali meremas lembut pinggang sampingku yang sensitif.

Sensasi lemas dan geli yang belum pernah kurasakan sebelumnya tiba-tiba menjalar bagaikan aliran listrik, menyebar ke seluruh bagian tubuhku.

Meski sudah mengatupkan bibir rapat-rapat, tetap saja ada desahan manja yang lolos dari hidungku tanpa bisa ditahan.

“Hmm… hm….”

Hendra bertindak layaknya seorang pemburu yang luar biasa sabar. Hanya dengan permainan tiga jarinya yang kekar, perlahan-lahan pertahananku… mulai runtuh sepenuhnya.

“Anak pintar, sayang… jangan dikunci lagi, ya….”

Saat mengucapkan kalimat itu, hembusan napas hangatnya menerpa kulitku, membuat aku reflek menggeliatkan tubuhku berulang kali.

Melihat posisinya yang sudah semakin dekat dan hampir menempel, aku langsung menjepitkan kakiku.

“Jangan, kak… aku… aku belum sempat mandi, kotor….”

Hendra tersenyum nakal dan penuh pesona. Dia perlahan memegang lekuk lututku untuk membantuku rileks.

Kata-kata rayuannya terdengar seperti mantra yang menghipnotis dan merasuki pikiranku.

“Lusyku sangat bersih… sangat wangi… nggak kotor sama sekali….”

“Biar kakak cicipi… sayang….”

Aku rasa diriku pasti sudah gila. Bukannya menghentikannya, aku malah terhanyut dan menikmati setiap sensasinya.

Di bawah pengaruh cairan intim yang mulai mengalir deras itu, rasanya seluruh pori-pori di tubuhku terbuka lebar.

Beberapa saat kemudian, Hendra perlahan mencondongkan tubuhnya ke arahku dengan satu tangan bertumpu di samping tubuhku.

Melihat ada cairan bening yang tertinggal di ujung hidungku, aku merasa sangat malu hingga bokongku otomatis menegang.

“Lusy, bantu kakak….”

Hendra menatapku dengan pandangan mata yang berkobar, membuat detak jantungku berdetak cepat dan napasku agak tertahan.

Di saat masih ragu dan bimbang, aku kembali mendengar permintaannya yang mendesak.

“Lusy, kamu harus bertanggung jawab padaku….”

Merasakan sesuatu yang sangat panas dan tegang di balik bokongku, aku tahu betul bahwa dengan kondisinya yang seperti ini, dia tak akan bisa bertahan sampai di rumah sakit. Jika tak diselesaikan, tubuhnya bisa saja mengalami masalah serius.

Demi menebus kesalahan yang kuperbuat, aku pun membulatkan tekad. Aku menjulurkan kedua kaki mulusku dan berinisiatif melingkarkan di pinggangnya.

“Jangan… jangan kasih tahu siapapun….”

Pria itu terengah-engah sambil mengunci tubuhku agar tak bisa bergerak. Kemudian, dia memegang kedua kaki mulusku dan detik berikutnya, aku merasakan sesuatu yang keras sudah menempel di ujung gerbang bagian intimku, siap menerjang masuk ke dalam….

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Dosa Bersama Kakak Ipar   Bab 7

    Panggilan suami yang keluar dari mulutnya membuat jantungku berdegup kencang. Aku tak pernah menyangka kalau ternyata Hendra sudah memendam rasa padaku sejak lama.Dia bahkan rela menurunkan egonya dan memohon cinta dengan begitu rendah hati.Bohong kalau kubilang diriku tidak tersentuh. Bagaimanapun juga, di rumah ini hanya dirinyalah satu-satunya orang yang tak pernah menindasku dan selalu bersedia mengulurkan tangan untuk membantuku.Sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di keluarga ini, diriku memang menaruh rasa segan dan takut pada kakak ipar yang sulit didekati ini.Namun, dia akan pasang badan saat diriku dimaki-maki oleh ibu mertua.Dialah yang membelaku saat pembantu sengaja mempersulitku.Menatap sorot matanya yang membara penuh gairah, akhirnya hatiku pun luluh.Tanpa bisa ditahan, aku langsung menciumnya, “Hendra, biarkan aku tahu seberapa besar cintamu padaku.”Hendra sempat terdiam sejenak, tapi detik berikutnya, dia langsung merespon dengan cepat. Tangannya mengunci

  • Dosa Bersama Kakak Ipar   Bab 6

    Semua orang tahu kalau Hendra adalah sosok yang dingin. Kalau sudah bertindak tegas, dia bahkan tak memandang siapapun.Bagaimanapun juga dengan posisinya sekarang, kalau tak setegas itu, mana mungkin dia bisa membawa perusahaannya berhasil melantai di bursa hanya dalam waktu beberapa tahun saja?Melihat raut wajah Hendra yang begitu serius, Hendi langsung panik dan menangis tersedu-sedu, dia mulai memohon ampun.“Kak, aku sudah tahu salah. Aku janji nggak akan pernah lagi menerima uang dari orang lain! Aku benar-benar sudah tahu salah, tolong ampuni aku sekali ini saja.”Dari percakapannya, aku mulai paham inti masalahnya.Selama ini, Hendi memang pengangguran yang kerjaannya hanya berfoya-foya. Jika tidak judi bola, dia pasti pergi ke klub malam. Begitu kehabisan uang, dia tinggal meminta pada Hendra.Karena Hendra sudah mulai kesal, Hendi pun memutar otak untuk mencari cara lain yang licik demi mendapatkan uang dengan instan.Dan kali ini, Hendi bahkan berani menerima suap yang sebe

  • Dosa Bersama Kakak Ipar   Bab 5

    Usai sarapan, sopir Hendra pun datang. Hendra menyuruh sopirnya untuk mengantarku pulang.Di sepanjang jalan, hatiku terasa sangat gelisah. Aku benar-benar takut kalau sesampainya di rumah nanti, ibu mertua akan menginterogasiku dengan berbagai macam pertanyaan.Bagaimanapun juga, aku tidak pulang semalaman.Setibanya di rumah, aku mengganti sandal dengan sangat hati-hati dan melangkah masuk, lalu memanggil dengan pelan, “Ibu?”Ternyata, ibu mertua sedang tidak ada di rumah. Aku pun langsung menghela napas lega.Baru saja duduk di sofa, sebuah pesan dari Hendra masuk ke ponselku, [Istirahat baik-baik, nanti malam aku akan datang menjemputmu lagi.]Melihat pesan itu, aku langsung terpaku.Apa maksudnya ini? Jangan-jangan dia sudah menganggap aku adalah barang miliknya?Aku tak membalasnya.Bagaimanapun juga, kejadian kemarin hanyalah sebuah kecelakaan, tak perlu terus-menerus dipikirkan. Apalagi… Hendi sudah pulang.Hendi habis menonton pertandingan bola semalaman bersama teman-temannya

  • Dosa Bersama Kakak Ipar   Bab 4

    “Kok bodoh sekali, ganti napas saja nggak bisa?”Aku malu dan kesal, lalu menghentakkan kaki dengan kesal, “Kakak, kamu serigala mesum!”“Iya, iya.” Hendra langsung mengakuinya tanpa ragu, “Aku memang serigala mesum, seekor serigala mesum yang hanya ingin memangsa Lusy.”Sambil berkata begitu, kedua lengannya menyelinap ke bawah ketiakku, lalu dengan sangat mudah menggendong tubuhku.Aku pun digendong olehnya menuju kamar tidur, diriku menempel erat seperti seekor koala.Hendra merebahkan tubuhku di atas ranjang, lalu kemudian dia ikut menindihku.“Kamu mencekoki obat kuat sebanyak itu pada kakak malam ini, emangnya mau minta main berapa ronde? Hm?”Pertanyaannya berhasil membuatku terdiam seribu bahasa.Dengan lembut dia mengangkat tangannya, menggunakan punggung jarinya untuk membelai lembut pipiku, lalu berakhir dengan mencubit gemas ujung hidungku.“Kasih tahu kakak… kamu mau apa?”Menatap wajahnya yang punya kemiripan dengan suamiku, entah kenapa pikiranku berputar cepat dan langs

  • Dosa Bersama Kakak Ipar   Bab 3

    Siapapun tak akan menyangka kalau ponselku tiba-tiba berdering di saat seperti ini.Suara dering yang nyaring itu langsung memecahkan suasana intim yang sudah terbangun, membuat kesadaranku langsung kembali sepenuhnya.Aku langsung mendorong tubuh Hendra menjauh. Dengan tangan yang gemetar hebat, aku mengambil ponsel yang terus-menerus berbunyi itu dan menekan tombol jawab.“Halo… ibu, ada apa?”Dari balik telepon langsung terdengar suara ibu mertua yang meledak-ledak penuh amarah, “Lusy, sudah jam berapa ini, kok nggak ada di rumah?! Lagi menggoda orang lain di luar?! Kerjaanmu hanya tahu keluyuran di luar seharian, pantas saja perutmu masih tak kunjung diisi! Dasar nggak berguna!”Mendengar makian ibu mertua, air mataku langsung menetes tanpa bisa ditahan.Hendra yang tadinya memperlihatkan raut wajah tidak senang, kini langsung mengepalkan tinjunya erat-erat begitu mendengar diriku dimaki-maki oleh ibunya sendiri.Tanpa menunggu aku menjawab, dia langsung merebut ponsel dari tangank

  • Dosa Bersama Kakak Ipar   Bab 2

    Secara moral, aku memang seharusnya membantunya.Memikirkan hal itu, aku pun pasrah dan terpaksa menyetujuinya.“Kalau begitu, kamu hanya boleh menyentuhnya saja… jangan melakukan yang lain….”Hendra menyetujuinya. Sambil terengah-engah, dia mendekatkan wajahnya hingga hidung kami bersentuhan. Kata-kata yang diucapkannya berhasil membuat wajahku merona.“Iya, aku hanya menyentuhmu, janji nggak akan macam-macam!”Sambil berkata begitu, Hendra mengulurkan tangan untuk menarik tali gaunku.Aku spontan menarik diri ke belakang dan mencoba menepisnya dengan pergelangan tangan.Namun, dengan satu sentakan kuat, Hendra langsung berhasil melepaskan tali tipis itu.Di balik gaun berpotongan dada rendah, aku bahkan tak mengenakan bra sama sekali, tujuan awalnya memang untuk menggoda suamiku.Namun, tak disangka kalau hal ini malah memberi kemudahan bagi kakak ipar.Tatapannya tampak bersinar. Dia menjilat sudut bibirnya, lalu menangkup asetku dengan kedua tangannya seolah sedang memegang harta k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status