ログインPanggilan suami yang keluar dari mulutnya membuat jantungku berdegup kencang. Aku tak pernah menyangka kalau ternyata Hendra sudah memendam rasa padaku sejak lama.Dia bahkan rela menurunkan egonya dan memohon cinta dengan begitu rendah hati.Bohong kalau kubilang diriku tidak tersentuh. Bagaimanapun juga, di rumah ini hanya dirinyalah satu-satunya orang yang tak pernah menindasku dan selalu bersedia mengulurkan tangan untuk membantuku.Sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di keluarga ini, diriku memang menaruh rasa segan dan takut pada kakak ipar yang sulit didekati ini.Namun, dia akan pasang badan saat diriku dimaki-maki oleh ibu mertua.Dialah yang membelaku saat pembantu sengaja mempersulitku.Menatap sorot matanya yang membara penuh gairah, akhirnya hatiku pun luluh.Tanpa bisa ditahan, aku langsung menciumnya, “Hendra, biarkan aku tahu seberapa besar cintamu padaku.”Hendra sempat terdiam sejenak, tapi detik berikutnya, dia langsung merespon dengan cepat. Tangannya mengunci
Semua orang tahu kalau Hendra adalah sosok yang dingin. Kalau sudah bertindak tegas, dia bahkan tak memandang siapapun.Bagaimanapun juga dengan posisinya sekarang, kalau tak setegas itu, mana mungkin dia bisa membawa perusahaannya berhasil melantai di bursa hanya dalam waktu beberapa tahun saja?Melihat raut wajah Hendra yang begitu serius, Hendi langsung panik dan menangis tersedu-sedu, dia mulai memohon ampun.“Kak, aku sudah tahu salah. Aku janji nggak akan pernah lagi menerima uang dari orang lain! Aku benar-benar sudah tahu salah, tolong ampuni aku sekali ini saja.”Dari percakapannya, aku mulai paham inti masalahnya.Selama ini, Hendi memang pengangguran yang kerjaannya hanya berfoya-foya. Jika tidak judi bola, dia pasti pergi ke klub malam. Begitu kehabisan uang, dia tinggal meminta pada Hendra.Karena Hendra sudah mulai kesal, Hendi pun memutar otak untuk mencari cara lain yang licik demi mendapatkan uang dengan instan.Dan kali ini, Hendi bahkan berani menerima suap yang sebe
Usai sarapan, sopir Hendra pun datang. Hendra menyuruh sopirnya untuk mengantarku pulang.Di sepanjang jalan, hatiku terasa sangat gelisah. Aku benar-benar takut kalau sesampainya di rumah nanti, ibu mertua akan menginterogasiku dengan berbagai macam pertanyaan.Bagaimanapun juga, aku tidak pulang semalaman.Setibanya di rumah, aku mengganti sandal dengan sangat hati-hati dan melangkah masuk, lalu memanggil dengan pelan, “Ibu?”Ternyata, ibu mertua sedang tidak ada di rumah. Aku pun langsung menghela napas lega.Baru saja duduk di sofa, sebuah pesan dari Hendra masuk ke ponselku, [Istirahat baik-baik, nanti malam aku akan datang menjemputmu lagi.]Melihat pesan itu, aku langsung terpaku.Apa maksudnya ini? Jangan-jangan dia sudah menganggap aku adalah barang miliknya?Aku tak membalasnya.Bagaimanapun juga, kejadian kemarin hanyalah sebuah kecelakaan, tak perlu terus-menerus dipikirkan. Apalagi… Hendi sudah pulang.Hendi habis menonton pertandingan bola semalaman bersama teman-temannya
“Kok bodoh sekali, ganti napas saja nggak bisa?”Aku malu dan kesal, lalu menghentakkan kaki dengan kesal, “Kakak, kamu serigala mesum!”“Iya, iya.” Hendra langsung mengakuinya tanpa ragu, “Aku memang serigala mesum, seekor serigala mesum yang hanya ingin memangsa Lusy.”Sambil berkata begitu, kedua lengannya menyelinap ke bawah ketiakku, lalu dengan sangat mudah menggendong tubuhku.Aku pun digendong olehnya menuju kamar tidur, diriku menempel erat seperti seekor koala.Hendra merebahkan tubuhku di atas ranjang, lalu kemudian dia ikut menindihku.“Kamu mencekoki obat kuat sebanyak itu pada kakak malam ini, emangnya mau minta main berapa ronde? Hm?”Pertanyaannya berhasil membuatku terdiam seribu bahasa.Dengan lembut dia mengangkat tangannya, menggunakan punggung jarinya untuk membelai lembut pipiku, lalu berakhir dengan mencubit gemas ujung hidungku.“Kasih tahu kakak… kamu mau apa?”Menatap wajahnya yang punya kemiripan dengan suamiku, entah kenapa pikiranku berputar cepat dan langs
Siapapun tak akan menyangka kalau ponselku tiba-tiba berdering di saat seperti ini.Suara dering yang nyaring itu langsung memecahkan suasana intim yang sudah terbangun, membuat kesadaranku langsung kembali sepenuhnya.Aku langsung mendorong tubuh Hendra menjauh. Dengan tangan yang gemetar hebat, aku mengambil ponsel yang terus-menerus berbunyi itu dan menekan tombol jawab.“Halo… ibu, ada apa?”Dari balik telepon langsung terdengar suara ibu mertua yang meledak-ledak penuh amarah, “Lusy, sudah jam berapa ini, kok nggak ada di rumah?! Lagi menggoda orang lain di luar?! Kerjaanmu hanya tahu keluyuran di luar seharian, pantas saja perutmu masih tak kunjung diisi! Dasar nggak berguna!”Mendengar makian ibu mertua, air mataku langsung menetes tanpa bisa ditahan.Hendra yang tadinya memperlihatkan raut wajah tidak senang, kini langsung mengepalkan tinjunya erat-erat begitu mendengar diriku dimaki-maki oleh ibunya sendiri.Tanpa menunggu aku menjawab, dia langsung merebut ponsel dari tangank
Secara moral, aku memang seharusnya membantunya.Memikirkan hal itu, aku pun pasrah dan terpaksa menyetujuinya.“Kalau begitu, kamu hanya boleh menyentuhnya saja… jangan melakukan yang lain….”Hendra menyetujuinya. Sambil terengah-engah, dia mendekatkan wajahnya hingga hidung kami bersentuhan. Kata-kata yang diucapkannya berhasil membuat wajahku merona.“Iya, aku hanya menyentuhmu, janji nggak akan macam-macam!”Sambil berkata begitu, Hendra mengulurkan tangan untuk menarik tali gaunku.Aku spontan menarik diri ke belakang dan mencoba menepisnya dengan pergelangan tangan.Namun, dengan satu sentakan kuat, Hendra langsung berhasil melepaskan tali tipis itu.Di balik gaun berpotongan dada rendah, aku bahkan tak mengenakan bra sama sekali, tujuan awalnya memang untuk menggoda suamiku.Namun, tak disangka kalau hal ini malah memberi kemudahan bagi kakak ipar.Tatapannya tampak bersinar. Dia menjilat sudut bibirnya, lalu menangkup asetku dengan kedua tangannya seolah sedang memegang harta k







