공유

Dosa Bersama Kakak Ipar
Dosa Bersama Kakak Ipar
작가: Pelan-pelan Saja

Bab 1

작가: Pelan-pelan Saja
Aku adalah seorang wanita muda yang sudah menikah selama tiga tahun, tapi tanda-tanda kehamilan masih belum juga ada.

Ibu mertua memang sudah sejak awal meremehkan latar belakang keluargaku. Melihat aku yang belum juga melahirkan anak laki-laki, dia pun tiada hari tanpa menghinaku dengan berbagai kata-kata kasar.

“Apa gunanya punya wajah cantik? Bahkan bertelur saja nggak bisa!”

“Kamu nggak bisa merayu suamimu biar bermain lebih sering? Pantatmu itu hanya dipajang buat jadi hiasan saja?”

Kata-kata vulgar dan menyakitkan itu terus-menerus menusuk telingaku. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan, selain menunduk pasrah.

Bukannya aku tak mau merayu suamiku agar bermain lebih sering, tapi masalahnya… dia tak tertarik padaku sama sekali.

Aku sudah mencoba beberapa kali dan memikirkan berbagai cara, tapi sikapnya tetap saja dingin dan acuh tak acuh.

Lama-kelamaan… ibu mertuaku pun tak tahan lagi melihatnya. Dia berinisiatif memberikan sebuah resep rahasia padaku.

“Campurkan ini ke dalam teh saat menyeduhnya nanti malam, paham nggak?”

Aku mengangguk dan malam itu juga memakai gaun sexy yang tak berani kupakai sebelumnya. Dengan membawa secangkir teh yang sudah diseduh, aku berjalan ke lantai atas.

Siapa sangka, ternyata suamiku tak ada di ruang kerja dan teh itu malah diminum oleh kakak iparku, Hendra yang tak tahu apa-apa.

Melihat kakak ipar meneguk habis secangkir penuh teh itu, aku langsung membeku.

“Kak… kamu….”

Sangking gugupnya, aku sampai tak bisa berkata-kata. Mataku tanpa sadar melirik ke arah pinggangnya yang tegap dan kekar.

Di balik celana bahan yang rapi itu, seolah-olah ada seekor binatang buas yang mengerikan dan siap menerjang keluar kapan saja.

Hendra meletakkan cangkir tehnya, jakunnya bergerak naik turun menelan ludah dan langsung merasa tenggorokannya sangat kering.

“Lusy, rasa teh ini… sepertinya agak aneh….”

Melihat Hendra yang mulai merasa tak nyaman dan mengulurkan tangan untuk melonggarkan dasinya, jantungku rasanya menegang.

Aku bergegas menghampiri untuk memapahnya, lalu menjelaskan dengan suara pelan sambil menundukkan kepala.

“Kak, sebenarnya… teh ini untuk Hendi, aku nggak tahu kalau kamu malah meminumnya….”

“Aku langsung antar kamu ke rumah sakit sekarang….”

Mendengar itu, Hendra langsung mengerti.

Tatapannya ke arahku perlahan berubah menjadi rumit. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya dia hanya bergumam pelan menyetujuiku.

Aku memapahnya turun ke lantai bawah, segera membuka pintu kursi penumpang depan agar dia bisa masuk. Aku sendiri berputar menuju kursi pengemudi untuk menyetir.

Mungkin karena terlalu panik, tanganku gemetar hebat sampai-sampai kunci mobil pun tak bisa masuk ke lubangnya.

Hendra memijat alisnya dan suara beratnya terdengar dari samping,

“Jangan panik, aku masih bisa menahannya….”

Entah apa yang merasukiku, setelah mendengar ucapan itu, aku malah melirik ke bawah sekali lagi.

Lirikan itu benar-benar membuat napasku tercekat dan dalam hati berteriak panik, “Besar sekali!”

Jika dibandingkan dengan suamiku… ini benar-benar bagaikan langit dan bumi.

Wajahku langsung merona. Aku segera menggelengkan kepala untuk membuang semua pikiran kacau itu.

Setelah mobil menyala, aku langsung melajukannya ke arah rumah sakit.

Namun, belum lama mobil melaju di jalanan, Hendra di sebelah sudah mulai mengerang tertahan berulang kali.

Di dalam ruang mobil yang sempit itu, hembusan napasnya yang panas terus-menerus menerpa kulitku, membuat wajahku semakin terasa terbakar.

“Kak… kamu… kamu baik-baik saja?”

Aku mencengkeram setir dengan erat, lalu segera menepikan mobil dan berhenti untuk memeriksa keadaan Hendra dengan seksama.

Pipi Hendra tampak merah merona, dadanya bergerak naik turun dengan cepat karena napas yang memburu dan di dalam matanya terpancar gejolak gairah yang membara.

Aku baru saja berniat mengeluarkan ponsel untuk menelepon rumah sakit, tapi detik berikutnya, sebuah telapak tangan yang besar langsung mencengkeram pergelangan tanganku. Sentakan pelan darinya membuat tubuhku kehilangan keseimbangan dan langsung tersungkur ke arahnya.

“Ah….”

Setelah jeritan kaget itu, seluruh tubuhku sudah berada dalam dekapan kakak ipar.

Kedua tangannya bergerak cepat, yang satu menopang bokongku, sementara yang lain melingkar erat di pinggangku.

Seketika itu juga, aroma maskulin pria yang sangat pekat langsung menyerang indra penciumanku.

“Lusy, aku sudah nggak tahan lagi, tolong bantu aku….”

Belum sempat aku bereaksi, Hendra sudah menuntun pergelangan tanganku dan perlahan mengarahkannya ke ikat pinggang bermerek miliknya.

Bunyi klik dari gesper logam yang terbuka membuat seluruh tubuhku tersentak kaget.

Aku langsung tersadar, lalu buru-buru mendorong tubuh Hendra yang kesadarannya sudah mulai hilang.

“Kak… sadarlah, aku akan segera menelepon rumah sakit….”

Satu tanganku sekuat tenaga mendorong dada Hendra yang sangat keras, sementara tangan yang lain meraba-raba kursi untuk mencari ponsel yang terjatuh tadi.

Namun, Hendra sama sekali tak ada bedanya dengan binatang buas yang sedang mengamuk sekarang. Caranya memandangku persis seperti seorang predator yang sedang mengunci mangsanya.

Baru saja aku menyentuh ponsel, dia langsung menekan tubuhku ke bawah dengan sangat kuat.

“Uh….”

Menyadari ada yang tak beres, aku spontan menutup mulutku sendiri, tapi seluruh tubuhku tak bisa berhenti gemetar.

Hari ini, aku sengaja memakai gaun sexy dan di baliknya hanya memakai celana dalam thong yang sangat tipis.

Begitu tubuhku ditekan seperti ini, ukuran yang begitu luar biasa dan megah itu langsung terbayang jelas di benakku.

Aku bahkan merasa bagian bawah gaunku sudah terdesak dalam… oleh sesuatu yang sangat besar….

“Kak….” Napasku rasanya semakin sesak, kedua lengan mulusku bergetar hebat saat menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, sambil memohon, “Kumohon jangan… sadarlah….”

Hendra tampaknya masih memiliki sedikit sisa kesadaran. Dia menegakkan tubuhnya, lalu memelukku erat-erat.

“Lusy, aku bisa menahan diri untuk nggak masuk. Tapi, diriku benar-benar tersiksa sekarang, bolehkah… aku menyentuhnya saja?”

Menyentuhnya? Menyentuh bagian mana….

Aku sangat malu, sama sekali tak berani berpikir lebih jauh.

Namun, bagaimanapun juga, masalah ini timbul karena ulahku dan kakak ipar hanyalah korban yang tak bersalah.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Dosa Bersama Kakak Ipar   Bab 7

    Panggilan suami yang keluar dari mulutnya membuat jantungku berdegup kencang. Aku tak pernah menyangka kalau ternyata Hendra sudah memendam rasa padaku sejak lama.Dia bahkan rela menurunkan egonya dan memohon cinta dengan begitu rendah hati.Bohong kalau kubilang diriku tidak tersentuh. Bagaimanapun juga, di rumah ini hanya dirinyalah satu-satunya orang yang tak pernah menindasku dan selalu bersedia mengulurkan tangan untuk membantuku.Sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di keluarga ini, diriku memang menaruh rasa segan dan takut pada kakak ipar yang sulit didekati ini.Namun, dia akan pasang badan saat diriku dimaki-maki oleh ibu mertua.Dialah yang membelaku saat pembantu sengaja mempersulitku.Menatap sorot matanya yang membara penuh gairah, akhirnya hatiku pun luluh.Tanpa bisa ditahan, aku langsung menciumnya, “Hendra, biarkan aku tahu seberapa besar cintamu padaku.”Hendra sempat terdiam sejenak, tapi detik berikutnya, dia langsung merespon dengan cepat. Tangannya mengunci

  • Dosa Bersama Kakak Ipar   Bab 6

    Semua orang tahu kalau Hendra adalah sosok yang dingin. Kalau sudah bertindak tegas, dia bahkan tak memandang siapapun.Bagaimanapun juga dengan posisinya sekarang, kalau tak setegas itu, mana mungkin dia bisa membawa perusahaannya berhasil melantai di bursa hanya dalam waktu beberapa tahun saja?Melihat raut wajah Hendra yang begitu serius, Hendi langsung panik dan menangis tersedu-sedu, dia mulai memohon ampun.“Kak, aku sudah tahu salah. Aku janji nggak akan pernah lagi menerima uang dari orang lain! Aku benar-benar sudah tahu salah, tolong ampuni aku sekali ini saja.”Dari percakapannya, aku mulai paham inti masalahnya.Selama ini, Hendi memang pengangguran yang kerjaannya hanya berfoya-foya. Jika tidak judi bola, dia pasti pergi ke klub malam. Begitu kehabisan uang, dia tinggal meminta pada Hendra.Karena Hendra sudah mulai kesal, Hendi pun memutar otak untuk mencari cara lain yang licik demi mendapatkan uang dengan instan.Dan kali ini, Hendi bahkan berani menerima suap yang sebe

  • Dosa Bersama Kakak Ipar   Bab 5

    Usai sarapan, sopir Hendra pun datang. Hendra menyuruh sopirnya untuk mengantarku pulang.Di sepanjang jalan, hatiku terasa sangat gelisah. Aku benar-benar takut kalau sesampainya di rumah nanti, ibu mertua akan menginterogasiku dengan berbagai macam pertanyaan.Bagaimanapun juga, aku tidak pulang semalaman.Setibanya di rumah, aku mengganti sandal dengan sangat hati-hati dan melangkah masuk, lalu memanggil dengan pelan, “Ibu?”Ternyata, ibu mertua sedang tidak ada di rumah. Aku pun langsung menghela napas lega.Baru saja duduk di sofa, sebuah pesan dari Hendra masuk ke ponselku, [Istirahat baik-baik, nanti malam aku akan datang menjemputmu lagi.]Melihat pesan itu, aku langsung terpaku.Apa maksudnya ini? Jangan-jangan dia sudah menganggap aku adalah barang miliknya?Aku tak membalasnya.Bagaimanapun juga, kejadian kemarin hanyalah sebuah kecelakaan, tak perlu terus-menerus dipikirkan. Apalagi… Hendi sudah pulang.Hendi habis menonton pertandingan bola semalaman bersama teman-temannya

  • Dosa Bersama Kakak Ipar   Bab 4

    “Kok bodoh sekali, ganti napas saja nggak bisa?”Aku malu dan kesal, lalu menghentakkan kaki dengan kesal, “Kakak, kamu serigala mesum!”“Iya, iya.” Hendra langsung mengakuinya tanpa ragu, “Aku memang serigala mesum, seekor serigala mesum yang hanya ingin memangsa Lusy.”Sambil berkata begitu, kedua lengannya menyelinap ke bawah ketiakku, lalu dengan sangat mudah menggendong tubuhku.Aku pun digendong olehnya menuju kamar tidur, diriku menempel erat seperti seekor koala.Hendra merebahkan tubuhku di atas ranjang, lalu kemudian dia ikut menindihku.“Kamu mencekoki obat kuat sebanyak itu pada kakak malam ini, emangnya mau minta main berapa ronde? Hm?”Pertanyaannya berhasil membuatku terdiam seribu bahasa.Dengan lembut dia mengangkat tangannya, menggunakan punggung jarinya untuk membelai lembut pipiku, lalu berakhir dengan mencubit gemas ujung hidungku.“Kasih tahu kakak… kamu mau apa?”Menatap wajahnya yang punya kemiripan dengan suamiku, entah kenapa pikiranku berputar cepat dan langs

  • Dosa Bersama Kakak Ipar   Bab 3

    Siapapun tak akan menyangka kalau ponselku tiba-tiba berdering di saat seperti ini.Suara dering yang nyaring itu langsung memecahkan suasana intim yang sudah terbangun, membuat kesadaranku langsung kembali sepenuhnya.Aku langsung mendorong tubuh Hendra menjauh. Dengan tangan yang gemetar hebat, aku mengambil ponsel yang terus-menerus berbunyi itu dan menekan tombol jawab.“Halo… ibu, ada apa?”Dari balik telepon langsung terdengar suara ibu mertua yang meledak-ledak penuh amarah, “Lusy, sudah jam berapa ini, kok nggak ada di rumah?! Lagi menggoda orang lain di luar?! Kerjaanmu hanya tahu keluyuran di luar seharian, pantas saja perutmu masih tak kunjung diisi! Dasar nggak berguna!”Mendengar makian ibu mertua, air mataku langsung menetes tanpa bisa ditahan.Hendra yang tadinya memperlihatkan raut wajah tidak senang, kini langsung mengepalkan tinjunya erat-erat begitu mendengar diriku dimaki-maki oleh ibunya sendiri.Tanpa menunggu aku menjawab, dia langsung merebut ponsel dari tangank

  • Dosa Bersama Kakak Ipar   Bab 2

    Secara moral, aku memang seharusnya membantunya.Memikirkan hal itu, aku pun pasrah dan terpaksa menyetujuinya.“Kalau begitu, kamu hanya boleh menyentuhnya saja… jangan melakukan yang lain….”Hendra menyetujuinya. Sambil terengah-engah, dia mendekatkan wajahnya hingga hidung kami bersentuhan. Kata-kata yang diucapkannya berhasil membuat wajahku merona.“Iya, aku hanya menyentuhmu, janji nggak akan macam-macam!”Sambil berkata begitu, Hendra mengulurkan tangan untuk menarik tali gaunku.Aku spontan menarik diri ke belakang dan mencoba menepisnya dengan pergelangan tangan.Namun, dengan satu sentakan kuat, Hendra langsung berhasil melepaskan tali tipis itu.Di balik gaun berpotongan dada rendah, aku bahkan tak mengenakan bra sama sekali, tujuan awalnya memang untuk menggoda suamiku.Namun, tak disangka kalau hal ini malah memberi kemudahan bagi kakak ipar.Tatapannya tampak bersinar. Dia menjilat sudut bibirnya, lalu menangkup asetku dengan kedua tangannya seolah sedang memegang harta k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status